
"Lama banget sih kamu~"
Adena mengeluh kepada Agler dengan mulut cemberutnya, karena menurutnya Agler terlalu lama pergi.
"Iya benar!" Rem mengangguk setuju sambil menatap Agler yang dia peluk.
Mulut Agler terangkat, membentuk senyum ramah, lalu dia mengusap kedua kepala wanitanya ini.
"Iya-iya maaf, kan aku sebelumnya udah izin sama kalian berdua untuk pergi 4 hari."
"Tapi aku kira sebentar kamu cuma sebentar perginya."
Agler hanya bisa tersenyum dan mengalah, walaupun dia tidak melakukan kesalahan tetapi sebagai pria dia harus mengalah kepada wanita.
"Maaf ya sayang~"
"Iya gapapa, Sayang."
"Aku sama Rem bikin makanan buat kamu, ayo kita kita makan bareng!"
"Ayo tuan~"
Mereka berdua menarik Agler ke ruang makan, lalu Agler duduk di kursi makan dan dia duduk dijepit diantara mereka berdua.
Melihat makanan yang begitu banyak disajikan di atas meja, terlihat sangat menggiurkan di mata.
Ini waktu yang tepat untuk mengenalkan kakak tertua dan kakak GS kepada mereka berdua.
"Ekhem! aku ingin memberitahu kalian berdua sesuatu."
Adena dan Rem langsung menoleh, menatap Agler ingin tahu.
"Apa itu?"
"Sesuatu apa, Sayang?"
"Ada saudara perempuan baru yang ingin datang ke sini."
Mereka berdua tidak mengerti apa yang dimaksud Agler tentang saudara perempuan baru, Adena mengingat lagi sepertinya dia tidak mempunyai saudara perempuan.
"Apakah itu Ram saudaraku?!"
"Emm itu ..."
Menggaruk kepalanya, ekspresi Agler menjadi kaku, dia merasa tidak enak kepada Rem, karena belum membawa saudara perempuannya.
"Bukan, tapi nanti aku usahakan membawa ram ke dunia ini."
"Tidak apa-apa tuan Agler, jangan terlalu dipikirkan, aku akan menunggu~"
Rem mengetahui mungkin belum saatnya, majikannya membawa pulang saudaranya ke dunia ini, dia tidak ingin Agler terbebani olehnya.
"Baik Rem, aku akan membawa saudara perempuan yang lain, kemungkinan kalian akan suka dengan mereka ...."
Setelah mengucapkan itu Agler bangkit dan berdiri di tempat yang agak luas di ruang makan, lalu menghilang.
"Apakah aku tidak salah dengar Agler mengucapkan 'Mereka'?
Adena menoleh, lalu memandang Rem dan bertanya kepadanya.
"Tidak, aku juga mendengarnya ...."
"Sepertinya kita mendapatkan mitra untuk melawan keganasan Agler."
Menghela nafas lega, tetapi di dalam hati Adena dia merasa khawatir jika dia tersisihkan oleh wanita lainnya.
Rem yang melihat Adena seperti ini, raut wajahnya seperti orang yang tidak baik-baik saja, Rem tersenyum lalu menghibur Adena.
"Tenang, aku percaya tuan Agler tidak akan meninggalkan kita, aku bisa bicara begini karena aku merasakan energi atau sesuatu yang mengikat kita, tapi ini sesuatu ini membuat kita menjadi lebih baik, mungkin ini hanya bisa dirasakan oleh wanitanya saja."
Rem menjelaskan secara jelas tentang dia rasakan, dan menganalisis kemudian hasilnya adalah kemungkinan besar Agler tidak akan meninggalkan mereka.
"Aku juga merasakan energi yang membuatku tidak cepat lelah tadi saat kita memasak, seperti ada yang mengubah tubuh kita."
"Itu benar, sebaiknya kita bertanya kepada tuan Agler."
Adena mengangguk, dia akan bertanya kepada calon suaminya ini.
Beberapa detik berjalan setelah mereka mengobrol sebentar, tiba-tiba cahaya putih bersinar di ruang makan kemudian perlahan cahaya menghilang, meninggalkan tiga sosok yang berdiri di ruang makan tepat di hadapan mereka berdua.
Tiga sosok berdiri di depan mereka berdua, satu pria dua wanita yang cantik.
Pria ini adalah Agler sang pemilik Harem.
Satu wanita berambut panjang berwarna coklat yang dikuncir di ujung rambutnya dan disampingkan ke pundak kanannya, pupil matanya berwarna coklat, bulu mata yang lentik, wajahnya terlihat cantik dan dewasa, memakai pakaian seperti pada abad pertengahan eropa.
Satu wanita lagi memiliki rambut kuning terurai panjang, rambutnya membentuk tiga belahan poni menutupi dahinya, matanya sedikit tajam terlihat seperti wanita yang kejam, pupil matanya berwarna kuning yang indah dan tubuhnya lebih seksi dari wanita satu lagi, dia juga memakai pakaian yang sama dengan wanita yang lain.
"Apakah ini duniamu?"
Kakak GS bertanya kepada Agler yang ada di sampingnya.
Agler mengangguk sebagai tanda jawaban.
Mereka berdua mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat dua sosok perempuan yang cantik tidak kalah dengan mereka berdua.
Menoleh dan merea menatap Agler dengan tajam, meminta sebuah penjelasan.
Agler menggaruk kepalanya canggung, lalu memaksakan untuk tersenyum. "I-itu ...."
.....
"Fiuh~ ...untungnya mereka mengerti apa yang aku jelaskan tapi sepertinya aku sedang dimusuhi sementara"
Melirik ke arah mereka berempat sedang asik mengobrol dan berbincang layaknya teman lama, Agler diasingkan sendiri di tempat makan.
Mereka berempat berkumpul di sisi lain di meja makan, bangku mereka berdempetan seperti ingin lebih dekat satu sama lain.
Agler fokus memakan makanannya tanpa melihat mereka berbicara dan mengobrol dengan asik.
"Anak-anak sepertinya sedang sekolah, lebih baik aku melihat anak-anak selagi diasingkan sementara oleh mereka."
Setelah selesai makan, Agler segera bangkit dari tempat bangku makannya, kemudian mencuci piring bekas dia makan, lalu berkata kepada mereka bahwa dia ingin keluar melihat anak-anak di sekolah.
Mereka berempat asik mengobrol dan seperti mengabaikan Agler, melihat ini Agler langsung berbalik dan berjalan keluar rumah dan berangkat dengan mobil Lamborghini Aventador-nya menuju sekolah anak-anak.
"Sepertinya kita sudah keterlaluan ...."
Rem berkata kepada mereka bertiga.
"Iya, aku takut Agler marah kepada kita karena mengabaikannya."
Juga Adena merasa bersalah dan takut kepada Agler.
"Tapi, tadi kita sudah setuju untuk mengabaikan dia sementara karena tidak memberitahu kita masalah ini."
Kakak tertua berbicara tentang kesepakatan mereka tadi.
"Aku punya ide!"
Tiba-tiba Kakak GS berkata bahwa dia mempunyai ide.
Mereka bertiga menjadi ingin tahu dengan usulan kakak GS.
"Menurutku kita mengabaikan dia hingga malam hari, jangan ada yang berbicara kepadanya anggap saja tidak ada, saat malam datang kita tarik dia ke dalam kamar dan menidurinya sebagai permintaan maaf~"
Mendengar usulan sus dari kakak GS, mereka semua menjadi tersipu, pipi mereka memerah bersamaan.
"Ekhem ...aku setuju dengan usulan kakak GS~"
Rem setuju dengan usulan Kakak GS menurutnya ini memang solusi tepat untuk mendapatkan permintaan maaf darinya.
Melihat Rem setuju, Adena dan Kakak tertua juga ikut setuju.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya lagi.
"Apakah di sini ada anak-anak?"
Kakak GS ingat dengan ucapan Agler yang dia ingin pergi menemui anak-anak di sekolah.
Mendengar pertanyaan itu, Adena menjawab dengan bangga, "Benar, Aku dan dia merawat anak-anak yang terlantar tanpa seorang ibu dan ayah, dan membawanya ke sini sebagai tempat tinggal mereka. Aku sangat bangga memiliki pria yang baik hati seperti dia."
Mereka bertiga mengangguk setuju dengan ucapan Adena bahwa Agler adalah orang yang baik, mereka juga tiba-tiba memiliki kebanggaan tersendiri di hatinya memiliki seorang pria yang sama dan baik hati.
Walaupun terdengar aneh pada awalnya, tapi mereka memahami Agler, seorang pria yang kuat seperti Agler pasti akan diincar oleh banyak wanita dan tidak mungkin dimiliki oleh satu orang saja.
......................
Pada saat ini, Agler sudah sampai di tempat anak-anak sekolah, saat dia berjalan banyak sekali orang tua anak-anak yang sekolah di sini melihat dia dari awal masuk gerbang hingga berdiri di depan kelas anak-anak.
Ketampanan ini memang sungguh merepotkan, Agler takut dia tiba-tiba di serang oleh wanita yang sudah berumur.
Dia dengan cepat berjalan mencari ibu Komariyah dan ibu Naimah serta suaminya yang menunggu anak-anak pulang sekolah.
Kebetulan dia melihat seorang kenalannya di sini, lalu dia menghampirinya.
"Yo bro Agler, nunggu anak-anak sekolah juga?"
Rafly Mamad melihat Agler terlebih dahulu lalu berjalan menghampiri Agler.
"Iya nunggu anak-anak pulang sekolah, Afathar sekolah di sini juga?"
"Iya bro, lupa ngasih tau kalo Afathar juga sekolah di sini."
"Ouh gitu ...."
"Mobil baru lagi nih?"
Rafly Mamad melihat kunci mobil yang tergantung di celana Agler dan segera mengenali kunci mobil itu.
"Udah lama, ini mobil pertama."
"Mobil pertama udah segahar itu."
"Hahaha Iya ...."
Mereka berdua berbincang lama, tapi Agler diganggu oleh suara sistem yang kembali muncul di benaknya.
[Ding! Tugas Sistem Tersedia]
[Tugas : Selamatkan nenek yang menyebrang jalan dari tabrakan mobil]
[Deskripsi: 1 menit kemudian seorang nenek yang sedang menyeberang jalan tiba-tiba dari arah kanan ditabrak oleh pengendara bermotor yang ugal-ugalan]
[Lokasi : 790 kilometer dari posisi tuan rumah]
[Hadiah : 1 Tiket Lotere, 30 Savior Coin]
[Kegagalan Tugas : Nenek itu tewas]
[Apakah menerima tugas?]
Tanpa berpikir, Agler segera menerima tugas tersebut dan izin untuk ke toilet kepada Rafly Mamad.
Agler segera terbang cepat menuju tempat lokasi tugas.
Dia memakai setelan olahraga biasa berwarna hitam yang seperti dibeli dari pasar, dia merubah setelan superman hitam untuk membentuk baju olahraga.
Tidak lupa wajahnya ditutupi dengan topeng hitam bercorak garuda putih di dahinya.