Savior System

Savior System
Bab 123 : Touring PT 01


"Iya, aku pulang siang atau sore nanti, sayang!" Agler menyahut dengan nada tinggi tapi tidak terlalu berisik sambil menutup pintu rumah.


Memandangi halaman depan rumah penuh dengan tanaman dan beberapa bunga, udara di sini sedikit lebih segar dibanding yang lain.


"Aku harus memakai kacamata hitam manusia super agar tidak ada yang melirik diriku." Agler mengeluarkan kacamata hitam dari saku celana olahraga hitamnya, lalu memakainya.


"Ya, sekarang aku siap keluar rumah."


Kaki kanan Agler keluar, dia melangkahkan kakinya berjalan menuju gerbang rumah, membuka kunci gerbang rumah, lalu dia menutupnya kembali setelah keluar dari gerbang.


Setelah kemarin membunuh makhluk besar melata yang mempunyai sayap tapi tidak bisa digunakan, hari ini dia ingin pergi keluar untuk melihat pemandangan alam atau kota di Indonesia.


Hitung-hitung dia pergi liburan, melepaskan penat karena masalah yang ekstrem dan di luar nalar manusia.


Sama seperti sebelumnya ketika dia berjalan ke Jakarta pusat, dia berjalan tanpa menaiki kendaraan. Ia memilih seperti ini untuk bisa mendapatkan perasaan yang lebih ketika menjelajah dan berpergian.


"Setelah mengantarkan anak dan kembali ke rumah, lalu sekarang pergi ke suatu tempat acak, waktu masih ada di pagi hari," gumam Agler sambil berjalan santai di dekat perumahannya.


Tidak lama kemudian Agler sampai di jalan besar dekat perumahannya. Menoleh ke kiri dan ke kanan, Agler bingung ingin pergi di mana.


Ia mencari warung kecil di pinggir jalan untuk menumpang duduk sambil mencari destinasi wisata atau tempat yang bagus sekarang ini.


"Bu, saya pesan kopi hitam kapal berapi satu gelas." Agler duduk di bangku yang terbuat dari plastik yang diberi warna hijau.


"Tunggu, ya." Si Ibu pemilik warung segera membuat kopi pesanan Agler.


"Iya, bu."


Agler mengambil ponsel pintar dan mencari tempat yang bagus dan pas untuk dia kunjungi di internet.


"Emm ... tempat ini terlalu ramai, lalu tempat yang satu lagi juga ...." Agler bergumam sambil melihat satu per satu tempat yang ditampilkan di layar ponsel pintarnya. "...Ini sepertinya cocok untuk sekarang ke sana."


Pada layar ponsel pintarnya yang bermerek apel yang telah dimakan terdapat beberapa gambar dari tempat objek wisata.


"Tapi, ini cukup jauh dari sini," pikir Agler sambil melihat alamat dari tempat tersebut.


Lokasi tujuan yang ingin Agler kunjungi adalah di daerah Kuningan, Jawa Barat. Lebih tepatnya dia ingin pergi ke Telaga Biru Cicerem.


"Ini kopinya, Mas." Suara ibu pemilik warung terdengar di telinganya.


Agler mematikan ponsel pintarnya, menoleh dan mengambil kopi hitam pesanannya.


"Terima kasih, bu," kata Agler dengan senyum ramahnya.


"Sama-sama," jawab Ibu pemilik warung, kemudian dia kembali ke warungnya untuk melayani pembeli yang lain.


Kopi hitam Agler letakkan di mejanya, lalu dia kembali menyalakan layar ponsel pintar untuk mencari rute untuk tiba ke sana.


Sambil melihat destinasi yang lain, Agler sesekali menyeruput kopinya. Suasana yang enak untuk bersantai.


"Kurang cocok jika aku pergi naik ojek atau transportasi umum untuk ke sana."


Setelah dipikir lagi, menurut Agler jika dia ke sana menggunakan transportasi umum itu kurang cocok. Ia pasti ke sana dengan orang lain yaitu pemilik kendaraan yang mengantarkan ke sana.


Lebih baik dia ke sana dengan kendaraannya sambil menikmati keramaian di jalan serta pemandangannya.


"Aku sepertinya harus ke tempat yang sepi," gumam Agler dengan nada yang kecil.


Ia dengan cepat menghabiskan kopinya, waktu terus berjalan takut dirinya pergi terlambat.


"Ini uangnya, bu." Agler memberi selembar kertas uang dengan nilai lima puluh ribu rupiah kepada Ibu pemilik warung.


Ibu pemilik warung menerimanya dan mulai mencari kembalian.


"Tidak usah, bu. Kembaliannya buat Ibu," kata Rai sambil melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Ibu pemilik warung.


Ibu ini langsung menggelengkan kepalanya lalu terus mencari kembali dan berkata, "Jangan-jang ...."


"Tidak usah, bu. Terima kasih kopinya, saya pergi dulu, bu." Kemudian Agler berjalan meninggalkan Ibu pemilik warung tanpa melihat ke belakang.


Senyum muncul di wajah tua Ibu pemilik warung, dia memandangi punggung Agler yang semakin lama mengecil dan sampai akhirnya menghilang.


Ibu pemilik warung berbalik dan melanjutkan melayani pembelinya.


Di sisi lain, Agler sedang mencari gang sempit di daerah tidak jauh dari warung tadi, dia ingin mengeluarkan kendaraan dari Mall System.


Agler akhirnya menemukan gang yang tidak terlalu sempit, akan tetapi sepi. Ia melihat ke sekitarnya dan mencari cctv yang mengarah ke sini. Namun, dia tidak menemukan sama sekali.


"Sistem, aku ingin membeli motor sport Mv Agusta F4 CC!" Agler berbicara kepada Sistem dan ingin membeli motor sport dari Mall System.


Ding!


[Apakah Anda yakin ingin membelinya?]


[Iya/Tidak]


"Beli sekarang," Agler menjawab tanpa ada keraguan sedikitpun.


Harga kendaraan terbilang cukup murah, dia tidak harus menggunakan uang di dunia nyata untuk membeli barang, bisa dikatakan Agler menghemat.


Tetapi untuk mendapatkan Savior Coin tidaklah mudah seperti mendapatkan uang di kondisi Agler sekarang ini, dia harus mengalahkan monster dan musuh yang cukup beresiko, bukan cukup tetapi sangat beresiko. Agler harus bijaksana dalam menggunakan Savior Coin.


Ding!


[Pembelian berhasil!]


Sebuah motor hitam mendadak muncul dari udara tipis dan itu terparkir di hadapan Agler.


Motor yang keren dengan tubuh hitam mengkilap, model gaya tubuh motor ini nampak keren, Agler cukup puas dengan motor ini.


Agler menghampiri motor mewah ini, di atas jok motor terdapat surat-surat kelengkapan seperti STNK BPKB dan lain-lain. Selain itu juga terdapat jaket hitam bersama helm hitam yang cukup tampan.


Segera Agler mengambil surat kelengkapan dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan terlebih dahulu, kemudian dia memakai jaket hitam dan juga helm hitam.


Kacamata hitam dia letakkan di dalam saku jaket.


Penampilan Agler terlihat menarik, apalagi jika dia membuka kaca helm nya, mata yang indah terpampang jelas, itu akan menarik perhatian lawan jenis hanya dalam satu kali lirikan.


Tangan Agler menjangkau kaca helm, lalu menyalakan motornya, siap berangkat ke lokasi tujuan.


Sebelum itu dia menyalakan ponsel pintarnya untuk mengaktifkan navigasi tercepat, lalu menempelkannya di tempat ponsel yang telah disediakan oleh Sistem.


Cukup melihat ke bawah untuk melihat arah tujuan, tidak perlu mengambil ponsel dari saku untuk melihat arah.


"Perjalanan dimulai!"


Agler menarik gasnya, dan motornya melaju ke depan meninggalkan gang sempit.


....


Di jalan raya Kabupaten Kuningan.


Agler sedang mengendarai motornya melaju di jalan raya, sebentar lagi dia sampai di lokasi tujuan.


Jalan semakin lama semakin kecil, kemudian dia menyusuri jalan hingga akhirnya sampai di lokasi wisata.


Sesampainya di sana banyak sekali perempuan yang sedang berfoto bersama temannya, ada juga yang berfoto sendirian dengan latar belakangnya pohon rindang.


Tempat ini dikelilingi pohon rindang dengan di tengahnya terdapat telaga berair sedikit biru dan jernih, suasananya nyaman dan asri.


Menaruh sepeda motor di tempat parkir, Agler segera membayar tiket masuk yang cukup murah per orangnya.


Agler berjalan santai melihat-lihat pemandangan sekitar, suasananya cukup damai dan cukup indah.


Namun, saat Agler mengitari area tempat wisata ini, ia merasakan bahwa banyak orang yang melirik dirinya.


Ketika Agler melewati segerombolan orang atau beberapa orang yang berkelompok dari asap yang sama, pasti mereka menoleh dan melirik dia. Terlebih mereka tidak hanya melirik, tetapi menggosip dan membicarakan dirinya.


Sebenarnya Agler tidak mempermasalahkan itu, namun mereka ketika bergosip dan membicarakan dia, pasti isi percakapannya memuji dia bahkan lebih dari memuji.


Sebagian orang yang membicarakan Agler itu dari kalangan perempuan, juga mereka kalau mengomentari dirinya terlalu berlebihan, sampai-sampai Agler tersedak angin ketika mendengarnya.


Agler berjalan menuju dua ayunan yang terkenal, ayunan ini sering dijadikan orang-orang untuk berfoto ria karena pemandangan di sini cukup cantik.


Di ayunan tersebut sedang digunakan oleh dua orang wanita, dan satu orang wanita yang mengambil foto mereka berdua.


Paras dan penampilan mereka bertiga cukup cantik, mungkin jika diberi nilai dari satu sampai sepuluh, akan Agler beri nilai delapan.


Sebab, mereka akan kalah jika dibandingkan kesembilan wanitanya.


Agler berdiri tidak jauh dari mereka untuk menunggu sampai mereka selesai berfoto.


'Mengambil foto saja lama sekali! Apakah mereka menangkap pemandangan seribu kali sesi?' Agler membatin, menunggu mereka selesai mengambil foto membuat tekanan hidup baginya.


''Haa ... terlalu lama.'