
Keluar dari Pulau Panjang, Agler beranjak pergi kembali menuju bangunan berupa kura-kura besar.
Pengunjung yang masih ada di Pulau Panjang menjadi sangat ramai karena kejadian Saviorman datang di pulau itu.
Bahkan banyak para reporter dari berbagai awak media dengan cekatan datang ke sini hanya ingin meliputi kejadian perkara.
Membuat Pulau Panjang yang sekecil itu padat dengan orang-orang yang penasaran dan ingin tahu tentang Saviorman.
Sejujurnya Agler masih ingin menikmati pemandangan di Pulau Panjang lebih lama lagi, karena banyak sekali reporter media yang datang kepadanya untuk wawancara dan memberi saksi atas kejadian yang baru saja terjadi.
Dari banyaknya orang yang berdiri di Pulau Panjang, mengapa harus dirinya yang dimintai wawancara, Agler telah menduga bahwa ini karena dia terlalu menarik untuk dipandang.
Dipikir lagi, para reporter yang datang ke dirinya kebanyakan dari kaum wanita.
Kurang dari setengah jam, Agler diantarkan kembali oleh bapak yang sebelumnya mengantar dia ke Pulau Panjang.
Bapak yang mengantarkan dirinya mempunyai sikap yang ramah dan juga pintar mengobrol, dia selalu mengajaknya berbicara dan memberitahu informasi mengenai tempat Pantai Kartini ini.
Cukup nyaman dan seru menggunakan perahu bapak ini, tetapi ada yang membuat dia tidak enak dari pertanyaan dan obrolan Agler dengan Bapak pemilik perahu, yakni ketika pertanyaan si bapak yang ingin mengenalkan putrinya kepadanya.
Seketika Agler bingung saat mendengar pertanyaan yang muncul mendadak seperti itu, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa.
Dengan wajah yang canggung dan tawa kecil yang aneh, dia hanya menjawab "Iya" dari pertanyaan yang diajukan oleh bapak pemilik perahu.
Sesampainya di pinggiran pantai, Agler turun dari perahu dan menunggu si bapak turun dari perahu untuk Agler membayar uang sewa perahu.
Tangan Agler masuk ke saku celananya dan merogoh mencari dompetnya.
Membuka dompetnya, dia mengeluarkan tiga puluh lembar kertas uang berwarna merah tanpa berpikir panjang, dan ia kepal agar orang tidak melihat uang yang dikeluarkan olehnya.
"Saya sudah bilang untuk membayarnya setelah sampai di sini sebelumnya bukan, Pak?" Agler bertanya kepada pria tua di depannya.
"Iya, mas," jawab Bapak pemilik perahu sambil sedikit mendongak ke atas untuk melihat dengan jelas wajah Agler.
"Ini uangnya, pak." Agler mengambil tangan kanan si Bapak dan memberi uang dengan cara bersalaman.
"Eh?" Bapak ini terkejut dan segera melihat banyak kertas merah yang ada di tangan kanannya.
"Ini ...." Wajah Bapak itu terlihat bingung, tidak tahu harus berbuat apa, "...Ini kebanyakan, mas!"
Bapak itu hendak mengembalikan uang yang telah diberikan oleh Agler, namun dengan cepat Agler tolak dengan cara menghindari tangan Bapak pemilik perahu yang ingin meraih tangannya.
Mengambil tangannya untuk mengembalikan dengan paksa uangnya.
"Tidak-tidak, Pak. Ini untuk bapak dan keluarga, terima kasih sudah membantu mengantarkan saya." Agler berkata sambil menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya.
"Tapi, mas! Ini terlalu banyak, harga sewa perahu saya tidak segini." Bapak tetap bersikeras untuk menolak uang yang diberikan oleh Agler.
Melihat ini, Agler tersenyum dan menepuk pundak si Bapak pemilik perahu, dan berkata, "Tidak mengapa, hitung-hitung untuk membantu bapak jika job sepi. Bapak pasti punya anak, kan? Anggap saja saya memberi uang ini untuk jajan anak bapak."
"Tapi ...."
"Saya pergi dulu ya, pak!" Agler memotong perkataan si bapak, melambaikan tangan dan berbalik meninggalkan pinggiran pantai.
Setelah Agler pergi, seorang wanita cantik berbaju hitam datang menghampiri si bapak pemilik perahu.
Wanita ini adalah wanita yang memberitahu Agler untuk tidak melamun sebelumnya.
"Ada apa, Pak?" Wanita itu bertanya kepada si bapak pemilik perahu dengan ekspresi khawatir.
"Tidak ada apa-apa, Nak. Ini kita kedapatan rezeki lebih dari seseorang," ucap Bapak seraya tersenyum kepada wanita di depannya yang ternyata adalah anaknya.
"Rezeki?" Wanita ini heran dengan Bapaknya, bukannya setiap hari bapak sering mendapatkan rezeki dari bekerja sebagai perahu.
Apalagi, dia juga bekerja di luar kota dan sering memberikan uang untuk Bapak dan Ibu.
Kenapa Bapak bisa tersenyum lebar seperti ini.
"Iya, rezeki dari seorang pemuda yang baik dan sopan, dia meminta bapak untuk mengantarkannya ke Pulau Panjang dan kembali lagi ke sini ...." Bapak terdiam sejenak sambil melihat uang yang ada di tangan kanannya. "Kemudian dia memberi bapak uang sebanyak ini."
Bapak itu menyodorkan uang yang ada di tangannya kepada anaknya, dan menunjukkannya.
Mata wanita ini terbelalak, uang yang didapatkan oleh bapaknya kali ini terlalu banyak.
Sebagai anaknya dia tahu berapa penghasilan bapaknya dalam sekali mendapatkan penumpang.
"Bapak sudah bilang terima kasih kepada orang itu?" tanya Wanita itu sedikit memiringkan kepalanya.
Senyum canggung muncul di wajah si Bapak, lalu dia berkata, "Anu ... belum, nak."
"Ya ampun si Bapak!" Wanita ini menggelengkan kepalanya tanpa daya.
"Pemuda itu langsung pergi begitu saja, jadi Bapak tidak sempat mengucapkan terima kasih," tambah si Bapak.
"Bapak masih ingat ciri-ciri pemuda itu?"
"Ingat! Pemuda itu tinggi, Bapak saja harus melihat ke atas untuk berbicara dengannya, lalu memakai baju serba hitam dan membawa jaket hitam di pundaknya ...." Bapak itu terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "Pemuda itu ganteng, sama seperti bapak waktu masih muda."
Mendengar kalimat Bapaknya yang terakhir, wanita itu memutar matanya, Bapaknya terlalu percaya diri.
Bapak itu langsung menunjuk ke arah bangunan kura-kura, karena melihat arah kepergian Agler menuju ke bangunan kura-kura yang besar.
"Oke, pak! Aku ingin ke sana untuk mengucapkan terima kasih dari Bapak." Wanita itu segera mencium tangan si Bapak sebelum bergegas berjalan cepat menuju bangunan kura-kura.
"Kenapa anak itu bersemangat sekali?" Bapak pemilik perahu bingung seraya menggaruk-garuk kepalanya.
Ekspresi Bapak pemilik perahu seketika berubah, senyum kecil muncul di wajahnya, nampaknya bapak ini tahu kenapa anaknya bertingkah seperti itu.
"Dasar anak muda."
Si Bapak kembali menaiki perahu untuk memeriksa keadaan perahu.
Pada saat ini, Agler yang sedang berada di lantai dua bangunan kura-kura tidak tahu mengenai anak bapak pemilik perahu yang sedang mencarinya ke sini.
Mata Agler terus fokus pada akuarium besar yang ada di depannya, terdapat banyak sekali tanaman serta ikan yang sesuai dengan habitatnya di sini.
Sambil melihat Agler juga membaca informasi yang sertakan pada kertas yang tertempel dekat dengan akuarium.
"Banyak sekali ikan di sini .... Selain itu juga perawatannya bagus, terawat dengan baik."
Melihat akuarium yang besar dan bersih, Agler tidak bisa tidak memuji pekerja yang merawat bangunan ini, kerja mereka cukup bagus, pantas untuk diberi bonus.
Sepanjang mata memandang, Agler selalu bertemu anak kecil dengan orang tuanya yang datang ke sini, terkadang anak sekolah dasar bersama teman-temannya melihat ikan-ikan di sini, tetapi kebanyakan dari mereka hanya melihat dengan sekilas.
"Haha lihat itu! Ikan badut, sama kaya kamu badut, padahal dia ga suka kamu! Tapi kamu malah rela jadi badutnya!"
Seorang anak laki-laki menggunakan seragam olahraga dari sebuah sekolahan tiba-tiba celetuk berbicara kepada temannya yang ada di sebelahnya.
Mendengar kalimat yang dimuntahkan anak ini, membuat Agler tertegun sejenak, tidak hanya Agler tetapi pemuda yang datang ke sini sendiri juga terdiam terpaku tidak bergerak.
Sepertinya mereka merasakan apa yang dikatakan bocil kematian ini.
'Apakah anak jaman sekarang seperti ini? Sudah mengenal cinta sejak dini.' Agler berkata di dalam hatinya sambil menutup mata sekejap.
"Halo kamu!"
Suara seorang wanita muda terdengar di balik punggung Agler.
Setelah mendengar suara ini, Agler segera membuka matanya dan melihat ke belakang.
"Itu? Wanita yang tadi?" Agler berkata spontan setelah melihat seseorang yang memanggil dirinya.
"Emm ... iya~" Wanita itu menundukkan kepalanya sambil bertingkah malu-malu dengan menyatukan lengannya ke bawah sambil menggesekkan kedua kakinya.
"Ada apa?" tanya Agler dengan wajah tanpa ekspresi memandang Wanita cantik di depannya.
"I-itu terima kasih sudah memberi Bapak uang lebih," jawab Wanita itu yang masih menundukkan kepalanya tidak ingin melihat wajah Agler.
"Bapak? Bapak siapa?" Agler bingung dengan apa yang dimaksud wanita ini.
Ucapan Agler membuat Wanita itu membeku sejenak, lalu mengangkat kepalanya menatap Agler, "Bapak aku, penyewa perahu. Kamu tidak tahu?"
Wajah Wanita itu berubah menjadi tidak malu lagi, dan berbicara dengan lantang.
Perubahan tingkah Wanita ini membuat Agler sedikit terpana, wanita dengan cepat berubah termasuk sikapnya.
"Oh ... bapak itu. Aku tahu ...." Agler mengingat kembali Bapak pemilik perahu yang bersikeras menolak uangnya. "Iya, sama-sama."
"Lalu ... kamu itu anaknya?!" Agler sontak terkejut ketika mengingat kalimat sebelumnya yang dikeluarkan oleh Wanita ini.
"Eh? Iya, memangnya kenapa?" tanya Wanita itu dengan bingung dan penasaran.
"Haha ... tidak apa-apa," jawab Agler sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Bapak tadi ingin memperkenalkan anaknya kepadaku. Apakah ini anaknya? Kalau iya, aku tidak begitu masalah,' ucap Agler di dalam hati.
Namun, ketika dia berbicara di dalam hati, tatapan matanya masih tertuju pada wajah Wanita di depannya.
Hal itu membuat Wanita di depannya kembali malu dan menundukkan kepalanya lagi.
Agler tersadar di detik berikutnya, melihat wanita ini kembali menjadi pemalu, Agler tidak tahu ingin melakukan apa.
"Maaf ... aku ingin kembali dahulu. Salam untuk bapak kamu, ya." Agler berkata dengan lembut, mengucapkan perpisahan.
Setelah mengatakan itu, Agler pergi meninggalkan wanita yang masih bingung dan tidak bergerak sambil melihat sosoknya yang semakin lama semakin hilang.
"Iya, aku sampaikan nanti," jawab Wanita ini tanpa sadar seraya menatap jejak sosok Agler yang telah menghilang.
"Eh!"
Wanita ini segera menggelengkan kepalanya, kemudian matanya melihat ke sekelilingnya.
Orang-orang di sini memandang dirinya secara bersamaan, ini membuat dia terasa sangat malu.
Berjalan cepat sambil menutupi wajahnya, dia pergi dari lantai ini dengan cepat.