
"Bisakah aku hidup bersamamu!"
Ayu berkata sambil menatap wajah Agler dengan ekspresi yang serius.
Kedua tangannya perlahan mengepal kuat, sambil menatap wajah Agler penuh keberanian.
"Kamu yakin dengan keinginanmu itu?" Agler tidak menjawab, melainkan bertanya kembali atas pernyataan yang diucapkan Ayu.
"Jika aku tidak yakin, aku tidak akan mungkin mengungkapkan isi hatiku kepadamu." Ayu menjawab tegas menatap mata Agler tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Kalau memang seperti itu .... Baiklah."
Agler berkata ambigu, membuat Ayu tidak mengerti apa maksud dari ucapan Agler.
"Baiklah apa?" Ayu mendekati mobil Agler dan melihat dengan lekat wajah Agler.
Alih-alih menjawab, Agler keluar dari mobil dan menatap Ayu dengan tatapan mata yang tidak bisa dijelaskan. Mata yang indah dan menawan ini mengandung banyak rasa yang bercampur di dalamnya.
Sepasang mata inilah yang membuat Ayu terus terjerumus ke dalam perasaan menyukai seseorang yang tidak begitu lama dia kenal.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah, dan meminta izin untuk membawamu ke rumahku," ucap Agler tanpa aba-aba pada Ayu.
"Eh?!" Mata Ayu membesar dan mulutnya terbuka. "Be-benar, kan?"
"Iya benar." Kini Agler menjawab pertanyaan Ayu sambil tersenyum.
"Kamu tidak berbohong, kan?"
"Tidak, ini kebenaran aku memperbolehkan dirimu."
"Tapi, sekarang kamu tidak membual, kan?"
Agler tidak menjawab pertanyaan Ayu yang memiliki arti yang sama ini, mungkin Ayu terlalu tidak percaya dan memiliki ekspektasi di bawah realita ini.
Jadi, Agler hanya diam dan memperhatikan Ayu yang masih mempertanyakan kebenaran ini.
"Agler, kamu tidak berbohong sama sekali, kan?"
Tatapan Ayu semakin melemah, tidak begitu bersemangat seperti sebelumnya.
Terlebih melihat Agler yang diam hanya memandanginya.
"Agler? Kamu kenapa diam?" Ayu bertanya, namun kali ini memiliki ekspresi wajah yang sedih dan khawatir.
"Agler? Kamu baik-baik sa ... emmm~"
Sebelum menyelesaikan semua kalimatnya, mulut Ayu tertahan oleh sesuatu yang lembut.
Ayu melebarkan matanya, ia melihat mata Agler yang sedang tertutup. Gerakan lembut di mulutnya membuat dia tertarik dan mengikuti.
Kenikmatan ini baru pertama kali Ayu rasakan, dan dia dengan mudah beradaptasi terhadap adegan ini.
"Eummm~"
Tangan Agler meraba-raba bagian bawah Ayu, lalu dia mengangkat Ayu tanpa melepaskan ikatan mulut dan lidah ini.
Tidak sadar bahwa dirinya sedang digendong ke dalam mobil oleh Agler, Ayu terus menikmati perasaan ini.
Duduk di pangkuan Agler, mulut dan bibirnya telah terbiasa dengan gerakan ini, ia semakin lihai.
Selama lebih dari lima belas menit, akhirnya mereka berdua berpisah, ikatan mulut dan lidah terlepas.
Namun, air liur dan ludah mereka masih terhubung hingga melambai-lambai di udara.
Seketika mereka berdua saling bertatap-tatapan, cinta di antara mereka berdua mulai bertumbuh pesat.
Tepat ketika Agler ingin melanjutkan lagi, jari telunjuk Ayu menghalangi bibir seksi Agler.
"Jangan di sini, oke?"
"Kita harus ke orang tua aku, nanti terlambat dan kita berlarut malam."
Ayu berkata dengan wajah serius menatap Agler yang sedang memandangi dia.
"Oke," jawab Agler singkat.
Wajah Agler terlihat sedikit kecewa, ini membuat Ayu merasa bersalah.
Dengan ide yang muncul spontan tanpa permisi. Ia menyeka air liur yang menempel di sekitar mulut Agler dengan lap kain yang selalu dia bawa.
Setelah mengelap mulut Agler, dia mencium sekilas pipi Agler, dan pindah ke bangku yang ada di sampingnya.
Perilaku ini memunculkan senyum di wajah Agler, rasa senang terlintas jelas dari ekspresinya.
Kemudian dia mencium kembali pipi Ayu, dan hal yang mendadak ini membuat Ayu semakin memerah karena malu.
Tanpa banyak omong lagi, Agler menginjak pedal gas dan keluar dari tempat parkir kendaraan yang sedikit dekat dengan Pantai Kartini, untungnya tempat ini sepi, tidak seperti tempat parkir Pantai Kartini.
Mobil mewah itu melaju cepat mengarah ke suatu tempat di daerah Jepara, Jawa Tengah.
Matahari pun tenggelam digantikan dengan bulan yang memantulkan sinar matahari yang menerangi malam yang gelap.
"Ini?"
Adena terpana dan juga terheran melihat Agler yang membawa seorang wanita dengan level manis yang berbeda.
"Anu ...." Agler tersenyum kaku sambil menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal.
"Agler!" Adena menggeram marah pada Agler.
Raut wajah yang menekuk dengan matanya yang berubah menjadi sangat tajam, Agler merasakan bahaya dari Adena.
Wanita yang dibelakangnya hanya diam dam menonton Agler tanpa ada niat menolong sekalipun.
"Ayo kamu, ikut kita." Adena mengambil Ayu segera.
Mereka meninggalkan Agler yang diam berdiri di depan pintu masuk sambil menatap mereka semua pergi ke dalam rumah tanpa melihat dirinya lagi.
"Terjadi lagi~" Menghembuskan nafas kecewa, Agler masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang sedikit lesu.
Saat ke dalam, Agler disambut oleh anak-anak yang sedang belajar dan bermain bersama Ibu Naimah.
"Abang Agler kenapa?" tanya Nayla saat melihat penampilan Agler yang sedang duduk lesu di sofa keluarga.
"Tidak apa-apa, Nayla. Abang hanya butuh asupan vitamin." Agler melambaikan tangannya menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Tapi, Abang Agler kelihatan lemas begini," ucap Nayla yang tanpa sadar naik ke tubuh Agler dan duduk di pangkuannya.
"Tidak apa-apa, Abang hanya capek karena habis keluar rumah," balas Agler yang mulai menyatu dengan sofa.
"Benar, 'kan?" Nayla memanjat tubuh Agler dan menatap cukup dekat wajah Agler.
Sehingga Agler dapat melihat dengan sangat jelas kulit lembut yang dimiliki oleh wajah Nayla.
"Iya, Nayla." Agler segera memeluk Nayla dan mengangkatnya.
Agler merasa tidak nyaman ketika Nayla ada di atas tubuhnya, bukan karena jijik atau tidak suka, melainkan kaki Nayla saat ada di atas tubuhnya menginjak adik kecilnya.
Tidak menyakitkan, namun takut bangun dan berdiri, Agler tidak memiliki kelainan, dia normal.
Meletakkan Nayla di lantai, Agler mengusap lembut pipi Nayla, "Abang baik-baik saja. Nayla sudah mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah?"
Mencoba mengganti topik agar Nayla tidak begitu khawatir kepadanya.
"Belum, tapi sedikit lagi selesai." Nayla menjawab sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu Nayla selesaikan sekarang, kita akan makan malam sebentar lagi," kata Agler dengan nada penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Oke, Abang!"
Nayla segera pergi ke kamarnya untuk mengambil buku tulis.
Melihat ini Agler hanya tersenyum, pura-pura tidak apa-apa, namun hatinya sedikitpun kecewa.
Bayangkan saja, hari ini tidak mendapatkan jatah.
Kabar ini membuatnya sangat sedih.
....
Beberapa hari berlalu semenjak Agler tidak mendapatkan jatah.
Kini Agler sudah diberikan jatah lagi oleh para wanitanya, bahkan Ayu yang pemain baru ikut pada sesi jatah.
Awalnya dia malu, namun lama-kelamaan dia asyik dan paling bersemangat.
Meski demikian, pemain baru tidak akan membuat Agler kalah dalam permainan, kubu Adena dan kawan-kawan tetaplah kalah, dan diakhiri oleh mereka yang meminta ampun keenakan.
Ayu pun sama, pada permainan dimulai dia sangat bersemangat, mengingat dia termasuk yang memiliki boba terbesar keempat di antar kesepuluh wanitanya ini.
Pada akhirnya dia kalah dan berteriak meminta ampun saat Agler membombardir dia dengan getaran super cepat saat menari di atas ranjang tidur.
Mereka hanya diawal terlihat mendominasi, tapi saat dilawan oleh Agler, mereka semua kalah hanya dalam belasan ronde.
Omong-omong bicara mengenai Ayu, sekarang dia sudah resmi tinggal di rumah Agler.
Pekerjaannya cukup dekat dengan rumah jika menggunakan kendaraan mobil, Agler membelikannya mobil kesukaannya.
Itupun bukan suatu yang mudah saat membelikan barang untuk wanita ini.
Ayu selalu menolak dan ingin memakai sesuatu yang sederhana, ini juga telah ditampilkan saat Agler dan Ayu berwisata bersama. Ia selalu menolak jika dibelikan sesuatu, padahal dia sudah tahu bahwa Agler bukan orang yang biasa.
Mungkin prinsip bagi sederhana sudah tertanam dalam jiwa dan tubuhnya.
Agler tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan dia cukup senang bahwa Ayu bukanlah wanita yang cinta materi.
Wanita ini tetap ingin bekerja walaupun prianya sudah kaya raya.
Tak ada rasa menyesal menjadikan Ayu sebagai wanitanya, ternyata orang pribumi juga tidak kalah hebat dan cantik dibanding dengan orang luar.
"Apakah aku harus mencari wanita dari berbagai negara?" Agler berkata sambil mengelus dagunya yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu janggut.
"Sepertinya menarik!"
Dengan cepat Agler memutuskan untuk mencari wanita yang tepat dari berbagai negara.
"Sebelum memulai mencari wanita, lebih baik aku memutar tiket lotere."
Dipikir lagi, Agler telah hidup di dunia selama tujuh bulan. Beberapa hari kemarin dia hanya mendapatkan satu tugas sistem, lalu saat berwisata setelah membunuh Wormdes Cean dia mendapatkan lagi satu tugas yang sama.
Total tiket yang didapat adalah tujuh buah. Sesuai dengan lamanya dia hidup di dunia ini.
Terbilang cukup banyak.
Mengingat kembali bahwa lotere ini tidak memiliki probabilitas untuk mendapatkan hadiah istimewa, jadi Agler memutuskan untuk memutar hadiah sekarang.
Selagi cerah di permukaan matahari, Agler tidak akan menyia-nyiakan momen yang cocok untuk menggacha.
"Sistem! Gunakan semua tiket lotere sekarang!"
Ding!
[Memulai memutar lotere ....]