Savior System

Savior System
Bab 158 : Berolahraga Selesai


"Wow! Ramai sekali!"


"Ramainya~"


"Woahh banyak orang yang berlari dan berjalan untuk olahraga."


"...."


Anak-anak sangat terpesona setelah sampai di Bundaran HI, banyak sekali orang yang datang berniat untuk olahraga dan juga hanya memamerkan apa yang mereka punya, tapi pada hakikatnya orang yang datang memiliki tujuan berolahraga dan menikmati hiburan serta bersantai.


Kedatangan puluhan anak-anak serta beberapa orang tua juga wanita cantik dengan baju yang sama membuat pandangan orang-orang teralihkan.


Keluarga Agler seketika menjadi fokus orang-orang yang ada di Bundaran HI. Pada saat orang-orang yang datang dan melihat anak kecil serta wanita cantik dengan spesifikasi layaknya seorang artis membuat orang-orang berhenti berolahraga dan memandangi sejenak.


Tidak hanya itu saja, banyak para wanita yang terpincut oleh ketampanan Agler yang melebihi no 1 pria tertampan di dunia.


Tapi tidak ada satu pun yang berani untuk mendekati, apalagi mencoba menyentuh dan berteman dengan Agler, lagipula posisi Agler ada di sekeliling wanitanya yang cantik-cantik, para wanita yang ingin berkenalan harus mengurungkan niatnya.


Mereka langsung sadar diri dan hanya bisa mengagumi dari jauh sembari memohon untuk mendapatkan pria yang memiliki wajah setampan Agler.


"Permisi, kita ingin pergi."


Agler berjalan ke depan dan berkata pada orang-orang yang menutupi jalan, karena orang-orang yang berkumpul membuat anak-anak dan keluarganya tidak bisa ikut berjalan dan berolahraga.


Setelah melihat Agler datang dan meminta mereka untuk menepi dengan cara yang tidak arogan, orang-orang secara otomatis memberikan jalan untuk Agler.


"Ayo kita pergi." Agler menoleh pada anak-anak sambil tersenyum, dan dia berkata dengan nada yang lemah lembut.


"Ayo!"


Anak-anak pada awalnya sedikit malu dan takut karena banyak orang yang menatapnya, tapi setelah Agler berkata dan memandangi mereka dengan wajahnya yang cerah dan hangat, rasa malu dan takut menghilang, kini dengan percaya dirinya mereka berjalan keluar dari orang-orang yang berkumpul menonton mereka.


Wanitanya dan para pengurus panti asuhan ikut berjalan dan menjaga anak-anak agar tidak ada yang celaka atau terkena kejahilan orang jahat, tentunya mata Agler memperhatikan semua gerakan orang yang ada di sini.


Dengan baju berwarna ungu yang seirama dan kompak, Agler dan keluarganya berjalan menuju ke arah Monumen Nasional.


Rasa ingin tahu terlihat jelas di wajah setiap anak-anak, mereka menoleh untuk melihat sekitarnya yang dikelilingi oleh gedung tinggi dan mewah.


Kerap kali mereka bertanya pada dirinya tentang bangunan apa yang ditunjuknya, seperti...


"Abang! Itu gedung apa?" Nayla menunjuk sebuah gedung dekat dengan Bundaran HI.


"Itu namanya Hotel Kempinski," jawab Agler sembari tersenyum.


"Aaaa! Ganteng banget!"


"Melebihi Idol!"


"Sayang jangan senyum gitu, aku ga kuat pengen meleleh, aaa~"


Agler yang mendengar ini hanya terdiam, dan juga menghiraukan teriakan dan jeritan yang mengagumi ketampanannya.


Hal yang sudah biasa Agler temui, bukan sebuah kejutan lagi baginya, itu sudah makanan sehari-hari jika dia keluar rumah.


Wanitanya secara bersamaan berjalan di sampingnya, tanpa sadar Agler berada di posisi paling tengah di antar para wanita yang cantik tanpa make up.


Banyak para Pria yang iri dengan Agler, entah mereka iri karena direbutkan oleh para wanita atau iri karena ketampanannya yang melebihi manusia normal.


Berjalan bersama dengan anak-anak, sesekali Agler mengajak anak-anak untuk lari pelan atau Joging, hitung-hitung mereka terasa berolahraga tak hanya karena berjalan saja.


"Tunggu aku abang!"


"Hahaha kamu lama sih."


"Ayo kejar Abang Agler!"


"Yang paling cepat juaranya!"


Anak-anak berseru kesenangan saat berlari-lari dengan Agler, terkadang ia iseng untuk mempercepat larinya sehingga anak-anak tertinggal jauh di belakang, anak-anak mencoba untuk mengejarnya, tapi tak bisa mereka capai, tapi hal itulah yang membuat olahraga kali ini menyenangkan, tidak monoton dan membosankan.


Pemandangan Agler yang berlari-larian diabadikan oleh wanitanya dengan ponselnya masing-masing, mereka semua secara bersamaan merekam momen yang menyenangkan ini.


Tidak lama mereka berjalan, akhirnya Agler dan keluarganya sampai di air mancur di depan pintu masuk Monumen Nasional atau Monas.


Melihat banyak orang yang duduk untuk beristirahat atau sekadar melihat-lihat, dengan itu Agler memutuskan untuk duduk terlebih dahulu sebelum melanjutkan untuk masuk ke dalam taman Monumen Nasional yang luas.


"Lihat itu ikan oranye!"


"Wah ada yang berwarna hitam putih!"


"Lucu!"


"Jangan dekat-dekat nanti jatuh ke air."


"Iya tahu, kamu jangan terlalu maju ke depan nanti jatuh."


"...."


Orang-orang segera melihat Agler dan anak-anak, mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sini.


Semua orang kira, Agler dan keluarganya seorang artis hingga banyak sekali orang yang ingin melihat.


Banyak ibu-ibu yang ingin meminta foto Agler, mulanya ia tidak mempermasalahkan hal ini, tapi karena semakin banyak yang ingin meminta foto, mau tidak mau wanitanya bertindak dengan cara mengelilingi Agler oleh mereka.


Beruntungnya cara itu berhasil, dan orang yang meminta foto menjadi menyimpan niatnya kembali.


Setelah beberapa menit beristirahat, merasa sudah cukup untuk duduk di pinggiran air mancur, anak-anak dan yang lainnya dibawa oleh Agler ke dalam taman Monumen Nasional.


"Abang, di atas itu emas?" Nayla bertanya pada Agler sembari memegang tangan kiri Agler.


Agler mengerti apa yang dimaksud oleh Nayla, memberikan senyuman dan berkata, "Benar, itu emas, totalnya ada 72 kilogram."


"Wah, keren." Nayla menenggak ke atas melihat ujung atas dari Monumen Nasional.


Matanya berbinar saat memandang ujung monas sambil kakinya terus berjalan dan bergandengan tangan dengan Agler.


Melihat Nayla yang senang dengan emas, di dalam lubuk hatinya Agler ingin memberikan kalung emas kepada anak-anak yang berkelamin perempuan ini. Untuk anak laki-laki Agler akan memberikan sesuatu yang lain.


Mereka semua bersenang-senang di sana, berlari dan bercanda, tidak lupa untuk duduk di atas rumput melihat orang-orang yang berjalan lalu-lalang di taman.


Tidak lupa anak-anak membeli jajan, tapi Agler memastikan dahulu bahwa jajanan tersebut tidak mengandung zat yang berbahaya.


Satu jam di Monas, merasa sudah puas bermain di area taman, Agler mengajak mereka untuk berjalan kembali menuju Bundaran HI.


"Kita pulang, bang?" Nayla bertanya pada Agler yang berada di depannya.


Agler yang sedang duduk di rumput bersama Adena dan wanita yang lainnya, melirik Nayla dan menjawab, "Iya, kita harus pergi, mumpung masih ada waktu sebelum acara car free day bubar."


Bangkit dari tanah yang berumput, membersihkan kotoran yang sempat menempel, Agler memegang tangan kecil Nayla di tangan kanannya.


Anak-anak yang lain segera berkumpul, Ibu Naimah dan yang lain memeriksa keberadaan anak-anak takut ada yang tertinggal.


"Oke semuanya sudah ada, kita kembali lagi ke Bundaran HI." Agler berkata pada semua anggota keluarganya. "Ayo pergi!"


"Ayo!"


"Yeay kita jalan lagii!"


"Aku ingin lihat orang yang membawa hewan reptil, aku sudah memberi tahu kamu sebelumnya, kan?"


"Iya, aku juga tidak sabar."


"Reptil? Apa itu cicak?"


"...."


Anak-anak mulai mengobrol satu sama lain dengan topik yang berbeda-beda.


Ada anak yang membahas reptil, badut, orang yang membawa sepeda, orang yang berlari santai, dan masih banyak lagi.


Mereka tidak ada habisnya membahas sesuatu yang ada di sini, wanita-wanitanya juga tak terkecuali, mereka juga asik mengobrol satu sama lain, tapi Agler tidak mengerti apa yang mereka bahas, para pengurus pun sama, tapi mereka membahas perabotan kebutuhan rumah dan anak-anak, serta baju murah yang bagus kualitasnya.


Semuanya bahagia, tapi hanya Agler sendiri yang berjalan dengan santai memandang orang yang juga memandangnya.


Begitu orang yang meliriknya ditatap lagi olehnya, orang tersebut memalingkan pandangannya ke arah lain, kebanyakan dari mereka itu wanita.


Para wanita ini memang selalu tertarik dengan wajah Agler yang mulus tanpa cacat, putih bersih dan kenyal seperti kulit bayi.


Sesampainya di Bundaran HI, Agler mengarahkan anak-anak untuk pergi berjalan ke taman menteng, seingatnya di sana ada taman bersama dengan beberapa permainan juga tempat bangku yang cukup banyak, cocok untuk beristirahat sejenak sebelum pergi ke rumah.


"Wah! Perosotan!"


"Aku ingin naik ayunan!"


"Aku juga!"


"Lihat aku ada di atas!"


"..."


Begitu anak-anak melihat taman bermain dengan beberapa permainan, mereka langsung bersama dan tak sabar ingin mencoba.


Sebagian kecil anak-anak tidak ikut bermain, tapi mereka berjalan ke lapangan yang ada di samping taman bermain, di sana ada yang sedang bertanding sepak bola, tidak tahu sepak bola atau futsal.


Pada saat Agler sedang menikmati pemandangan damai anak-anak yang bermain, suara prompt sistem mendadak muncul di benaknya.


[Ding! Misi Sepuluh Ribu Dunia Telah Terdeteksi!]