Savior System

Savior System
Bab 136 : Pemain Baru Lagi


Di tengah istana besar dengan ruangan besar, terdapat seorang wanita dengan kostum hitam, tampak seperti kostum untuk perang, dan dia sedang menggenggam sebuah helm kostum hitam beserta pedang besar dan panjang di tangan lainnya.



(Penampilan atau Visual Beliau)


"Tempat apa ini? Kenapa aku ada di sini?" Taylor melihat ke sekitar, terlintas rasa penasaran di wajahnya.


Perlahan kaki Taylor melangkah, dan dia melihat ke sekelilingnya.


Sebuah istana megah yang berkelap-kelip dengan bahan bangunan permata, ini sesuatu hal yang indah pernah dilihatnya.


Tangannya yang ditutupi oleh sarung tangan mencoba menyentuh tiang besar istana, dan dia perlahan berjalan menuju halaman depan istana yang terdapat air mancur serta beberapa tanaman hias.


Pupil matanya perlahan membesar, berdiri di tengah halaman depan Istana, Taylor menikmati udara yang sangat segar di sini.


Wajahnya terlihat menikmati keindahan pemandangan di sini.


"Selama aku berjalan di sekitar sini, aku tidak melihat satu pun orang di sini."


Mata biru Taylor terus mencari-cari seseorang di sini, dia berjalan dan mulai mengitari Istana yang besar dan mewah ini.


"Istana ini lebih indah dibanding istana kerajaan, tapi aku sudah lama tidak melihatnya lagi." Taylor berkata dengan ekspresi sedih. "Orang yang aku lindungi sudah tidak ada lagi."


Tap! Tap! Tap!


Saat berada di dalam istana, di tengah aula, Taylor mendengar sebuah langkah kaki dari luar ruang.


Bunyi dari kaki yang melangkah terdengar semakin cepat dan kuat, suara sedang berlari, nampak sesuatu yang melangkah itu sedang menuju ke tempatnya.


Pintu masuk istana yang besar bergerak dan perlahan terbuka sedikit demi sedikit.


Dengan sigap dan tanggap, Taylor memakai helmnya, dan memegang pedang besar dengan kedua tangan.


Lalu memasang postur bertarung dengan tatapan fokus ke depan.


Celah kecil terlihat, mengeluarkan cahaya terang dari luar, sebuah bayangan kepala manusia terlihat di lantai yang bersih dan mengkilap, dan akhirnya pintu besar itu terbuka lebar, menampilkan sesosok orang yang belum pernah Taylor lihat.


Beberapa menit sebelumnya, Agler telah masuk ke istana dewi dan ditempatkan di kamar utama istana.


Dia berlari mencari keberadaan Taylor, namun tidak ada di dalam istana saat dia keluar juga dia tidak menemukannya, akhirnya dia kembali ke istana lagi karena memiliki firasat bahwa Taylor ada di istana.


Benar saja, ketika dia mendorong pintu pelan-pelan, dia merasakan keberadaan seseorang di dalamnya.


Pintu terbuka lebar-lebar, dan dia melihat sesosok wanita berambut hitam dengan pupil mata biru laut sedang memasang kuda-kuda untuk bertarung.


"Kamu Taylor?" tanya Agler sekali lagi sambil melihat wajah Taylor yang cantik.


"K-kamu?"


Taylor membatalkan sikap bertarungnya dan dia berdiri tegak.


Kewaspadaannya diturunkan, dan dia membuka helmnya untuk melihat dengan jelas seseorang di depannya.


"K-kamu Agler?" Matanya sedikit bergetar saat melihat wajah Agler dengan jelas.


"Iya, aku Agler." Agler merespon dengan wajah yang terdapat senyum begitu lembut.


Langkah demi langkah Agler berjalan ke depan, dia menghampiri Taylor secara bertahap.


Ingat, pendekatan itu harus dilakukan dengan sabar dan perlahan, jangan terburu apalagi terlalu agresif, orang yang ingin kamu dekati akan pergi menghindarimu.


Cara ini Agler lakukan dengan sikap terbuka dan senyum yang lembut penuh kehangatan.


Melihat Agler seperti ini, Taylor pun menaruh pedang dan helmnya di lantai, dan berjalan mendekati Agler.


Mereka saling mendekat, dan dalam beberapa langkah mereka telah berdekatan hanya tersisa jarak sepuluh sentimeter di antara wajah keduanya.


"A-aku ...." Taylor ingin berkata sesuatu, namun dua terlalu gugup.


"Ya?" Agler masih tersenyum dan menatap dalam-dalam mata biru indah milik Taylor.


"A-aku ...." Tangan Taylor sedikit bergetar, dan dia mengepal untuk meringankan getaran.


Agler memberanikan diri untuk memegang tangan Taylor, dia menggapainya dan mengusap lembut jari-jari tangan yang terbungkus sarung tangan hitam.


"Aku selama ini ingin bertemu dengan seseorang yang akur butuhkan, dan ternyata itu kamu, Agler," kata Taylor sambil tersenyum memandangi Agler dengan air mata yang sedikit keluar dari kelopak mata.


Senyum lebar muncul di sudut mulut Agler, tiba-tiba dia memeluk Taylor dengan kehangatan.


Karena telah ditanamkan bahwa Agler adalah orang yang perlu diberi kesetiaan oleh Sistem, Taylor dapat bereaksi seperti itu saat bertemu Agler.


'Hatiku yang dingin ternyata membutuhkan kehangatan dari seseorang yang aku cintai.' Taylor bergumam di dalam hatinya sambil memeluk Agler dengan erat.


Kehangatan di dalam pelukan pria ini membuatnya melayang dan ingin merasakannya untuk selamanya.


"Aku di sini, Taylor." Agler berkata lembut di dekat telinga Taylor.


Angin yang berhembus dari mulut dan hidung Agler mengenai leher dan belakang telinga Taylor, tanpa sengaja Taylor merasakan sesuatu yang aneh dari tubuhnya.


Setelah sekian lama mereka berpelukan, mereka akhirnya berpisah dan saling memandang satu sama lain.


Mata menawan Agler terlalu candu untuk wanita, bahkan Taylor yang berwatak dingin itu pun meleleh.


Mendadak Taylor mengeluarkan tangannya dan mengambil telapak tangan Agler.


Berjalan satu langkah untuk semakin dekat, wajah Taylor dan wajah Agler hanya terpisah jarak lima sentimeter saja.


Hembusan nafas mereka saling terasa satu sama lain.


Tatapan Taylor terpaku pada sepasang mata yang indah ini.


Beberapa detik diam tak berbicara, akhirnya Taylor menggerakkan mulutnya.


"Hatiku yang dingin ini tidak bisa dilelehkan oleh apa pun, bahkan matahari pun tak bisa mencairkan hatiku yang beku ini ...." Taylor terdiam sejenak dan mengulurkan tangannya untuk memegang pipi Agler dengan satu tangan sebelum melanjutkan, "Namun, bukannya tidak ada, melainkan aku baru menemukan seseorang yang dapat mencairkan hatiku, yaitu kamu, Agler."


Detik selanjutnya, hal tidak terduga terjadi.


Dengan inisiatif dan dorongan perasaan menggebu-gebu, Taylor mencium bibir Agler dengan penuh cinta dan gairah.


Agler membelalak terkejut oleh tindakan tiba-tiba ini, namun dia segera sadar dan membalas serangan Taylor dengan perasaan yang sama.


Awalnya Taylor harus sedikit berjinjit untuk mencapai Agler, karena peka akan hal ini Agler yang sedikit menunduk kepalanya dan memberikan balasan serupa.


Seperti biasa, saat momen seperti ini tangan Agler akan menjelajah ke mana-mana, bahkan bukit bawah milik Taylor dia pegang dan remas.


Kenyal dan lembut terasa pada telapak tangan Agler, meski ditutupi oleh kain kostum hitam ini.


Pipi Taylor semakin memerah, matanya terbuka lebar karena gerakan Agler. Akan tetapi, dia membiarkan Agler memegangnya dan tidak melarang.


Mereka berdua semakin intens, hawa di sekitar mereka memanas, keduanya mulai sedikit berkeringat, perasaan satu sama lain semakin memuncak setiap detiknya.


Tidak lebih dari lima belas menit mereka saling berikatan mulut, mereka akhirnya memisahkan diri.


Air liur bekas keduanya masih terjalin dan melambai.


Melihat ini, Taylor langsung menunduk kepalanya karena malu akan tindakan yang mendadak tanpa persiapan.


"Aku tidak sengaja tadi, itu bukan ak ...."


Agler tidak membiarkan Taylor berbicara sampai habis, dia bergantian untuk menyerang, dan menggendong Taylor di dalam pelukannya.


Sambil melakukan hal bergairah ini, Agler berjalan ke suatu arah, yakni kamar utama istana dewi.


Pedang besar dan helm milik Taylor juga mengikuti keduanya dan terbang di belakang mereka, itu akibat kekuatan telekinesis Agler dan membawanya untuk ikut bersama mereka.


Kurang satu menit, mereka berdua sampai di kamar, dan Agler meletakkan Taylor di kasur empuk.


"Kita ingin melakukan apa?" tanya Taylor dengan wajah yang tersipu.


Taylor dengan pose tidur telentang dan menopang tubuhnya untuk melihat Agler di depan kasur sedang melepaskan pakaian.


"Kita akan memulai bermain sebuah permainan." Agler menjawab sambil membuka celana hitam bahannya.


"Permainan?" Taylor bingung dengan permainan yang diucapkan Agler.


"Ya, permainan yang dapat membuatmu melayang ke luar angkasa." Senyum aneh muncul di wajah tampan Agler dan terlihat dari sudut pandang Taylor.


Kemudian sosok Agler melompat dan menekan tubuh Taylor di atas kasur.


"Sekarang kita mulai permainan," ucap Agler menatap Taylor dengan panas.


"Yes, papa!" Taylor mengubah ekspresinya seketika dan menjerit kesenangan.


Seolah-olah Taylor memang menginginkannya.


Di dalam Istana Dewi suara kegaduhan dan erangan wanita terdengar, macam-macam jeritan kesakitan, permohonan, keinginan diucapkan oleh suara wanita di sana.


Suara itu membuat lingkungan istana yang sepi kini menjadi ramai.


Mereka berdua menikmati perasaan indah saat ini.


Waktu tetap berjalan konstan, tidak melambat atau mempercepat.


Tidak terasa, malam gulita di Aquater telah muncul menyelimuti kegelapan pada dunia.


Setelah bermain di Istana Dewi, Agler membawa Taylor ke dunia nyata dan memperkenalkan kepada semua wanitanya.


Reaksi serta respon mereka seperti normalnya ketika dia memperkenalkan wanita baru, mereka marah dan mendiamkan Agler satu hari lamanya.


Tidak satu hari, tapi satu malam tanpa permainan.


Hari esoknya, mereka pasti akan baik lagi dan akan semakin manja pada Agler, serasa Agler sedang memelihara kucing yang ingin minta dielus-elus.


Benar dugaan Agler, besok paginya dia dilayani bagaikan raja dari suatu kerajaan yang penuh permaisuri cantik.