
Hari pertama setelah kemarin sampai di kota Seoul, Korea Selatan. Agler berniat untuk jalan santai menikmati suasana kota di sini.
Setelah bermain bersama Dewi-Dewi tercinta di rumah, tepat jam setengah tujuh pagi dia pergi kembali ke hotel yang dia inap selama beberapa hari.
Melalui jendela, dia masuk ke dalam kamar tanpa satu pun yang melihatnya. Sebab Jarvis sudah menjanjikan keamanan dan privasinya.
Agler menggunakan baju manusia super hitam, dan mengubahnya menjadi setelan olahraga hitam yang biasa dia pakai, set celana olahraga panjang dengan jaket hitam bahan parasut.
Untuk kali ini dia tidak memakai kaca mata. Kemungkinan pagi hari orang tidak begitu ramai di jalan. Seharusnya ramai orang di jalan, menuju ke tempat kerja dan anak-anak pergi ke sekolah.
Tapi, itu tidak mengapa.
Membuka pintu kamar dengan perasaan yang seakan tidak pernah keluar kamar semenjak semalam, dia melangkah keluar kamar.
"Bagus, dua binaragawan maniac telah pergi." Agler tidak melihat lubang hidung mereka berdua di sekitar lorong di depan kamarnya.
Ini berarti mereka disetujui oleh pusat perusahaannya untuk tidak mengawal dirinya lagi. Memang seharusnya seperti itu, dia masih memiliki saham di perusahaan mereka bekerja.
Tentunya mereka tidak akan menyinggung dirinya dan bersikeras untuk mengawal.
Bukan karena tanpa alasan Agler meminta mereka pergi dan jangan mengawal, jika mereka berdua selalu ada di sampingnya ke mana pun dia pergi itu sudah mencampuri privasinya. Agler tahu mereka akan menutup apa yang dia lakukan, tapi tetap saja Agler tidak akan percaya sepenuhnya pada manusia, terkecuali orang tua yang telah tiada dan wanita-wanitanya.
Wanitanya telah dijamin oleh sistem bahwa kesetiaan mereka telah mencapai seratus persen, itu berarti dia dapat mempercayai mereka semua.
"Pagi hari ini enaknya meminum kopi," gumam Agler kecil sambil berjalan ke depan pintu lift.
Pagi hari enak untuk kopi santai, tapi harus sarapan terlebih dahulu sebelum ingin meminum kopi, khususnya kopi hitam. Jika tidak, perut akan sakit.
Tidak berlaku untuk Agler yang memiliki tubuh super.
"Kopi di sini kurang cocok untukku, aku akan pergi mencari cafe di sekitar kota seoul." Agler mengingat kembali kopi cappucino yang dia minum dari hotel mewah ini.
Bukannya tidak enak kopi yang disediakan oleh hotel ini untuknya, namun dia tidak cocok dengan kopi ini, serasa bukan tipenya.
Orang-orang pasti memiliki selera makan atau minum masing-masing, tidak terkecuali Agler, dia juga memilikinya. Mau seenak apa pun makanan atau minuman tersebut, apabila bukan seleranya, dia tidak akan mengkonsumsinya lagi.
Tak lama kemudian, lift sampai di lantai tempat kamar Agler berada.
Pintu lift terbuka dan dia masuk sambil menatap Ipon 14 Promek di tangannya tanpa melihat ke depan, dia sudah tahu orang yang ada di dalam lift, bahkan sebelum pintu lift terbuka.
Agler menggunakan kekuatan matanya yang baru, dia sesekali menggunakan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari seperti orang biasa, misal membuka pintu atau menaruh barang dengan kekuatan telekinesisnya, mengintip wanitanya, dan sebagainya.
Terkadang dia malas, terlalu malas untuk bergerak.
Memasuki lift, Agler tanpa melihat orang di dalam lift, lalu melirik tombol lantai pada lift. Ternyata sudah ada orang yang menekan tombol lantai dasar.
Agler tak perlu lagi menekan tombol pada lift.
Menundukkan kepalanya, Agler melihat sesuatu di ponsel pintarnya dengan pandangan fokus tanpa peduli dengan sekitar.
Padahal di dalam lift ini terdapat kumpulan wanita cantik yang menginap di hotel ini. Tak ada pria satu pun di lift ini, hanya ada wanita dengan pakaian yang mewah dan elegan.
Sekitar lima wanita yang ada di lift ini bersama dengan Agler, mereka semua memakai gaun dan baju mewah, setidaknya ada merek terkenal yang dipakainya.
Wanita-wanita ini sedari tadi melirik Agler, bahkan ada dari mereka yang menatap secara terang-terangan pada wajah Agler.
"Pria ini .... Tamwpawn sekawli!" Seorang wanita yang tanpa sadar berseru setelah melihat Agler, namun untungnya ditutup mulutnya oleh wanita di sebelahnya.
Suaranya teredam dan menghasilkan suara saat orang sedang disekap oleh penculik.
"Hmm?" Agler tersadar saat mendengar suara ini.
Kemudian dia berhenti bermain ponselnya, dan menoleh pada wanita yang mengeluarkan suara itu.
Dua wanita cantik mengenakan gaun panjang berwarna biru laut, pakaian mereka berdua sama dan serasi, tapi keduanya memakai aksesoris berbeda.
Wanita yang menutupi mulut wanita memakai anting di telinganya, sedangkan wanita yang disekap memakai kalung di lehernya.
Keduanya cantik bagi orang yang melihat, tapi bukan tipe Agler, juga nilai kecantikan mereka tidak mencapai para wanitanya menurut sudut pandang dirinya.
"Ooo ...." Wanita yang menutupi mulut temannya yang kini terpana dan terpesona dengan keindahan wajah Agler.
Akan tetapi, tidak seperti temannya yang bisa berkata sesukanya, dia hanya bisa tergagap dengan mulut yang membentuk huruf O.
Bukan hanya mereka berdua, tiga wanita yang ada di sini juga bereaksi sama, dan dengan cara yang berbeda.
Ada wanita yang memalingkan wajahnya dengan pipi memerah, ada yang tertunduk dengan pipi yang tersipu malu, juga ada yang mencuri pandangan pada Agler secara terus terang.
Agler melirik satu per satu wanita-wanita di sini, mereka hanya memalingkan pandangan tidak berani menatap kembali pada wajahnya.
Hanya ada satu wanita saja yang berani, wanita ini memang sejak awal selalu menatap dia, hingga saat ini pun masih, walau terlihat malu.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan?" Agler berkata pada wanita yang berpakaian seperti instruktur senam.
"T-tidak ...." Wanita ini menjawab sedikit gugup.
Agler salut dengan keberanian wanita ini. Namun, dia tidak tertarik dengan wanita ini. Jadi dia mengabaikannya, menganggapnya seperti orang pad biasanya.
"Oh, oke." Agler kembali menatap ponsel pintarnya dan melihat unggahan yang ada di sosial media.
Tidak lama Lift sampai di lantai dasar hotel ini, dan lift terbuka.
Agler keluar terlebih dahulu karena dia yang paling dekat dengan pintu lift.
Setibanya di lantai dasar, Agler melihat banyak orang yang sedang sarapan di sini, karena hotel ini menyediakan makan pagi untuk tamu pelanggan.
Tidak tertarik dengan ini, Agler terus berjalan menuju pintu keluar hotel.
Berdiri di depan hotel, Agler menatap lalu lintas yang mulai ramai di jalan di depan hotel ini.
Menarik nafas dalam-dalam, Agler menghilang udara segar di pagi hari yang tentram.
Agler melihat ke arah kiri jalan dan bergerak ke sana.
Haru ini dia ingin meminum kopi di pagi hari, di kota Seoul ada jalan cafe yang terkenal.
Lumayan jauh dari hotelnya, tetapi itu bukan masalah.
Niat dia ke sini adalah untuk memandangi suasana di sini dan menikmati apa saja yang ada di kota ini, dan ini waktunya untuk melakukan itu.
Satu setengah jam lebih, hampir dua jam berlalu ketika dia berjalan, Agler akhirnya sampai di tempat yang dia tuju.
Ternyata tempat ini adalah sebuah jalan yang cukup satu mobil, terdapat rumah-rumah di sisi jalan. Lokasi ini memang berada di perumahan penduduk.
Agler berjalan santai di jalan ini. Di sini banyak sekali pengunjung yang datang, padahal ini baru jam sembilan.
Banyak para wanita bersama kawan wanitanya berkunjung di sini, tidak sedikit juga pasangan yang datang ke sini untuk mencari barang atau makan.
Tempat ini tidak hanya ada makanan dan minuman, namun ada barang seperti baju yang dijual di sini.
"Pria putih ini terlalu tampan, aku tidak tahan." Suara wanita yang sedang bisik-bisik terdengar oleh telinga Agler.
"Benar, pria ini kemungkinan besar dari luar negeri bagian barat, mungkin eropa. Lihat wajah yang tampan itu, seperti gabungan antara tiga negara penghasil pria tertampan di dunia." Seseorang wanita membalas ucapan wanita sebelumnya.
"Iya, aku sepertinya telah jatuh cinta pada pria ini."
Agler menonaktifkan pendengarannya secara paksa, dia tidak mau mendengar percakapan ini lagi oleh telinganya.
Sebenarnya bukan dua wanita itu saja, banyak sekali wanita yang memandangi wajahnya sembari berkomentar mengenai tampilannya.
Kebanyakan dari mereka itu berkomentar memuji, dan berkata ingin menjadi pacarnya. Tentu saja, Agler akan menolak.
Sebisa mungkin Agler tahan dari serangan opini dan komentar orang lain padanya, walau itu bersifat positif kepadanya, tetap saja itu terdengar risih saat hinggap di telinganya.
Agler terus berjalan sambil menatap ponselnya untuk mengikuti jalan yang sesuai dengan peta pada aplikasi dalam ponsel.
Melewati berbagai bentuk rumah dan toko makanan minuman, Agler akhirnya sampai di tempat kafe yang direkomendasikan oleh seseorang yang pernah ke sini pada unggahan di suatu aplikasi sosial media.
Kafe sederhana yang tidak begitu "Wah", cukup simpel dan bagus, paling tidak ini masih nyaman ditempati untuk bersantai di waktu yang lama. Tidak hanya bersantai saja, untuk mengerjakan pekerjaan dan tugas kuliah di sini cukup nyaman, terlebih ada WiFi gratis.
Agler duduk di sebuah kursi di sana dan langsung memesan kopi mocha latte beserta kue penutup andalan mereka.
Karena di sini banyak sekali orang asli negara ini berkunjung untuk meminum kopi, dan juga banyak yang duduk di kursi dalam ruangan, dia akhirnya pindah ke luar ruangan dan duduk di kursi yang memiliki meja bundar di depannya. Tempat duduk yang cocok untuk bersama teman-teman atau kerabat berjumlah empat orang.
Agler duduk di luar ruangan atau outdoor . Lalu menunggu sampai pesanannya datang. Sebelum pindah meja, dia melakukan konfirmasi dengan pelayan kafe terlebih dahulu agar tidak peristiwa salah membawa pesanan.
Pelayan di sini cukup ramah. Di sini yang Agler lihat hanya ada karyawan pria saja.
Bisa saja shift karyawan perempuan belum saatnya jam ini.
"Permisi ...."
"Ini pesanannya," Seorang Pria berbaju pelayan kafe ala kafe ini, membawa nampan dengan di atasnya terdapat minuman dan kuenya.
Dengan perlahan pria itu menurunkan makanan dan minuman di meja Agler.
Setelah itu, pelayan itu kembali ke dalam kafe sambil membawa nampan.
Agler segera menyesap kopinya sedikit demi sedikit, sesekali dia membelah dengan sendok sepotong kue cokelat yang ada di sebelah kopi.
"Cukup enak kue ini," gumam Agler sambil mengambil potongan kecil kue dengan sendok.
Setelah itu dia masukan potongan kecil kue ke dalam mulutnya.
"Kue ini memiliki tekstur yang lembut dan cepat meleleh dalam mulut."
Pujian terlontar dari mulut Agler untuk kue cokelat yang dia pesan ini.
Rasa dan tekstur kue ini cocok dengan Agler. Walaupun ini cokelat dan banyak mengandung krim, rasa manis ini tidak berlebihan, ini cukup pas takarannya untuk Agler.
Layak untuk dijadikan kue andalan, memang rasanya enak saat dimakan.
Srupp!
Bunyi seruput kopi terdengar, Agler meminum kopi sambil melihat ponselnya.
Tanpa disadari, saat Agler duduk bersantai sambil menikmati kopi di luar kafe, banyak orang yang melirik dan menatapnya.
Tampilan Agler ketika meminum kopi memanglah sangat menarik mata, khususnya para wanita yang melewati jalan di depan kafe ini.
Sudah terlalu dalam dan sangat fokus bermain ponsel, Agler tak menyadari ini. Jikalau Agler tahu pun dia tidak akan peduli dengan ini.
Setelah meminum kopi, Agler pergi ke Seoul Forest Park. Pagi yang cerah ini sepertinya cocok dipadukan dengan bersantai dekat hutan.
Di jalan Seongsu-dong ini benar-benar banyak sekali orang, terlebih orang yang berpacaran. Tempat ini memang ditujukan untuk orang berkencan.
Berjalan selama hampir setengah jam, Agler sampai di hutan ini.
Pertama kali melihat hutan kesan pertama dia adalah nyaman dan sunyi.
Mungkin orang yang pendiam dan membutuhkan ketenangan sangat senang di sini.
Agler menulusuri hutan ini mencoba melihat ada apa saja di sini. Pohon-pohon tinggi, danau kecil dengan air mancur, sungai kecil, pohon ginkgo, bunga tulip yang indah, dan juga rusa, semua itu ada di sini, udara segar masih cukup mudah di dapatkan.
Ia berjalan ke dekat danau kecil dengan air yang memantulkan cahaya matahari, membuat efek berkilauan yang menarik.
Terdapat bangku piknik dan bangku kecil di sana, jadi dia pergi dan duduk di salah satu bangku di sana menghadap danau.
Danau kecil dengan air mancur di tengah-tengahnya, pemandangan ini cukup enak dipandang mata.
Agler duduk diam di bangku dekat danau itu, dan dia memandang danau di depannya.
Sesekali dia melihat ponselnya untuk membuka sosial medianya.
"Udara segar sangat mudah didapatkan, pemandangan asri di sini juga cukup bagus." Agler memuji tempat ini.
Tepat ketika dia fokus melihat ponselnya, suara wanita terdengar di samping kanannya.
"Ha-halo ...."