
"Cepat kirim pemberitahuan kepada Saviorman!"
"Segera tarik kembali pasukan angkatan darat dari zona berbahaya!"
"Para prajurit cepat mundur ke area aman sambil usahakan untuk mengevakuasi warga yang masih ada di dekat area yang dilarang!!!"
"Lakukan penyerangan jika ada monster yang muncul, tahan hingga bantuan datang!"
"Ini Perintah!"
"Cepat laksanakan!"
"Siap Jendral!" xN
Tentara segera beroperasi seperti yang diperintahkan Jendral Besar kepada mereka.
Jendral Angkatan Darat Negara Belanda sedang menatap layar monitor di depannya, ekspresi wajahnya panik, urat-urat diwajahnya terlihat jelas bahkan setelah dia memerintahkan anggota tentaranya di luar markas tadi.
Pada layar monitor di Markas memperlihatkan pemandangan di langit kota Amsterdam yang telah muncul satu buah portal hitam yang sangat besar.
Dia pernah melihat portal ini dari video yang beredar di internet, bukan hanya dia yang tahu, tapi semua orang langsung tahu jika diperlihatkan portal itu.
Ya, itu portal yang bisa memunculkan monster berkepala banteng bertubuh hitam yang sebelumnya pernah datang ke dunia ini.
Selama memperhatikan monitor dada Jendral naik turun, dia merasa sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di sana.
Di layar monitor, dia melihat anggota tentaranya dengan gesit mengevakuasi warga dan selalu siap berhadapan dengan apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.
Semua jenis kendaraan tempur seperti Tank, pesawat dan helikopter dikirim oleh tentara angkatan udara dan angkatan darat belanda.
Tank berjalan menuju daerah yang ditandai oleh komando teratas, tank itu berhenti di radius satu kilometer dari tempat adanya portal.
Beberapa helikopter tempur milik angkatan udara mengelilingi portal itu untuk mengawasi dan mengeksekusi para monster yang akan muncul.
Semua pasukan tentara siap siaga untuk, jika dilihat dari atas kota tentara ini membentuk lingkaran yang mengelilingi pusat portal.
Para warga dalam waktu yang singkat sudah mereka pindahkan ke tempat yang aman dari wilayah ini.
Beberapa menit kemudian.
Bum! Bum! Bum!
Suara benda besar yang terjatuh terdengar hingga sudut kota, satu persatu Draith keluar dari portal dan jatuh mendarat di pusat kota Amsterdam.
Beton lantai di jalan retak ketika para Draith jatuh dari ketinggian, bangunan di bawahnya menjadi alas untuk mereka mendarat hinga hancur.
Graaaahhhhh....!
Semua Draith berteriak meraung kencang, ke arah para pasukan militer Belanda yang ada jauh di depan mereka.
Setiap menit para Draith terus bertambah hingga hampir memenuhi sebagian kota.
Pasukan militer mundur sambil menembaki para Draith yang terus maju ke area pertahanan mereka.
Dor! Dor! Dor!
Ratusan ribu peluru dimuntahkan dari senapan para tentara militer, para Draith ditembaki oleh ribuan tentara tanpa ampun.
Semua Draith berteriak kesakitan, tetapi mereka terus maju berlari ke arah pasukan tentara Belanda.
Swooshh...... Booommm!!!
Rudal diluncurkan dari helikopter meledakkan Draith yang berlari maju menyerang para tentara di bawah.
Portal masih terus mengeluarkan Draith ke kota Amsterdam.
Tank juga menembakan peluru penembus energi kinetik dari meriam besarnya.
Bau bubuk mesiu menyelimuti mereka semua yang ada di kota Amsterdam.
Dentuman keras dari ledakan peluru dan rudal menggetarkan kaca bangunan yang ada di dekat medan tempur.
Waktu berlalu, Pasukan Belanda mulai kewalahan, para pasukan militer tidak bisa mengimbangi kecepatan Draith yang maju ke arah mereka.
Beberapa Draith ada yang lolos dari serangan para tentara manusia, lalu dia langsung menyerang tentara yang paling dekat.
"Sial kita tidak bisa bertahan lama jika seperti ini!!"
Jendral memukul meja monitor dengan keras, dia terlihat sangat panik, butiran keringat terus menetes dari dahinya, tangannya yang berurat terkepal sangat kencang, dia benar-benar panik saat ini.
"Terus kirim persenjataan kita!!"
"Kita harus menahan Draith ini hingga bantuan datang dari Saviorman!"
Para perwira yang lebih rendah pangkatnya mengangguk dan mulai beroperasi.
Perwira tinggi dan ahli strategi lainnya mulai menenangkan Jendral Besar, mereka membicarakan dan mendiskusikan strategi yang efektif yang bisa meraih kemenangan dalam pertempuran ini.
Gruoaahhhhhh!!!!
Di langit kota Amsterdam suara raungan yang bergemuruh tiba-tiba muncul, mereka semua termasuk para Draith berhenti bergerak sementara.
Bayangan yang sangat besar datang menutupi mereka semua.
Kota menjadi gelap seketika, mereka semua menoleh ke atas dan melihat sosok besar berwarna hitam memiliki sayap yang lebar sedang terbang di atas kota.
Buuummm..!
Asap dan debu terhempas oleh angin yang dihasilkan dari makhluk besar itu ketika mendarat di sisi tenggara kota, tepat di tengah-tengah pertempuran.
Tempat mendaratnya makhluk besar ini menjadi cekung dan terkoyak tak beraturan, karena saking beratnya dan besarnya makhluk ini.
Makhluk itu adalah Ancalagon The Black, dia datang jauh-jauh dari Ukraina ke sini untuk menghabisi para Draith ini, juga karena diperintahkan oleh Agler untuk menahan sementara di sini.
Golem yang diletakkan oleh Agler bermunculan di kota ini, ada sekitar puluhan Golem yang mulai membantu.
Dia menghadap ke arah Draith, lalu Ancalagon membuka moncong mulutnya lebar-lebar, semburan api yang sangat panas membakar Draith di depannya.
Tentara Belanda langsung tersadar dari keterkejutannya barusan, lalu melanjutkan menembaki para Draith dan tidak menyerang Ancalagon juga Golem.
Para perwira tinggi yang melihat ini dari kamp darurat di tepi kota terkejut, makhluk-makhluk besar ini tiba-tiba membantu manusia.
Seorang tentara datang menghampiri Jendral, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
Jendral besar itu mengangguk, dia mengerti bahwa mahluk Naga dan golem itu adalah bantuan dari Saviorman.
Mereka membasmi melawan para monster Draith bersama Ancalagon.
Dengan berani Si besar ini mengobrak-abrik Draith hingga ke tempat pusat Draith mendarat.
Portal di langit mulai mengecil, tampak para Draith yang keluar menjadi sangat sedikit.
Beberapa saat kemudian, Draith tidak ada lagi yang muncul keluar, dan portal itu pun menghilang.
Gruoaahhhhhh!!!
Ancalagon meraung keras karena kesakitan, karena dia dipukul oleh para Draith yang ada di tubuhnya, Draith memanjat dan menebas kapaknya membuat banyak luka sayat timbul di sekujur tubuh Ancalagon.
Energi penghancur berwarna merah mampu menembus pertahan kulitnya jika diserang berkali-kali di tempat yang sama.
Mengepakkan sayapnya, Ancalagon terbang di langit, menghindari serangan Draith ini.
Dia terus menerus menyemburkan nafas api ke arah Draith dari atas.
....
Pada saat yang sama, Agler terbang sambil memandang Terrain of Earth berbentuk bola di atas langit yang di bawahnya adalah Bundara HI Jakarta Pusat.
Agler membuat Terrain of Earth yang didalamnya terdapat portal yang mengeluarkan jutaan Draith.
Para Draith yang keluar langsung terpanggang dan meleleh di dalam Terrain of Earth, karena Agler mengisinya dengan lautan api serta sambaran bola petir yang jatuh ke segala arah 360 derajat di dalam bola tanah itu.
Setelah beberapa menit Agler tidak mengaktifkan sihirnya.
Kemudian dia mendekati bola tanah itu, dan langsung meninju, membuat lubang untuk dirinya bisa masuk ke dalam.
Saat di dalam dia melihat portal Draith sudah menghilang, hanya menyisakan tubuh jutaan Draith yang mati sepenuhnya.
Agler terbang keluar dari Terrain of Earth, lalu mengepalkan jarinya ke arah Bola tanah besar itu.
Detik berikutnya, Terrain of Earth mengecil sambil menghancurkan tubuh Draith tanpa ada sisa satu tetes darah pun.
"Jarvis ada berapa pesan yang masuk selain dari Belanda?"
{Ada satu pesan, itu berasal dari Presiden Negara Argentina yang memberi tahu bahwa portal muncul di Gurun Patagonia}
"Terima kasih Jarvis atas informasinya!"
{Sama-sama, Tuan}
Setelah itu, Agler mengirim perintah melalui telepati kepada Great Red untuk menahan terlebih dahulu pasukan Draith di Gurun pasir itu.
"Baru tiga portal yang muncul, aku harus cepat menghancurkan Draith ini, pasti Czar Draith datang di salah satu portal ini."
"Portal yang aku selesaikan tidak ada Czar Draith yang keluar, seharusnya ada di portal lain," Agler bergumam sambil memikirkan dimana Czar Draith muncul.
"Pertama aku ke Ancalagon yang lebih dekat, selanjutnya menuju Great Red."
Whooshhh....
Dengan kecepatan sangat tinggi, Agler menghilang di langit Jakarta dan terbang menuju Amsterdam.
....
Di sisi lain, dua tentara bersamaan sedang menembaki Draith yang ada di depannya, dan berlari ingin menyerang mereka.
"Ayo saudara! kita terus berjuang melawan monster sialan ini!"
Salah satu tentara Belanda menyemangati teman seperjuangannya yang ada di samping dirinya sambil menembaki para Draith.
Ribuan teman seperjuangannya ada yang gagal dalam pertempuran kali ini, dari puluhan ribu tentara sekitar 20% dari mereka terluka parah dan 3% yang telah gugur.
"Itu pasti!"
"Kita harus mempertahankan kota dan Negara kita bahkan jika aku mati di peperangan ini ... aku yakin negara kita bisa akan menang melawan monster ini ...," ucap temannya yang terlihat sedih dan matanya telah kehilangan rasa semangat.
Mendengar perkataan temannya ini, dia menepuk bahunya, memandang mata temannya dengan ketegasan yang kuat, lalu berkata dengan tegas, "Aku tidak akan membiarkanmu mati kawan, aku pastikan negara akan menang tanpa kematianmu!"
Temannya tersenyum, lalu menjawab, "Terima kasih kawan ...."
Tapi, detik berikutnya.
Graaaaaahhhhh....!
Salah satu Draith entah dari mana berlari menuju mereka.
Kapak yang dipegang Draith dengan cepat diayunkan ke arah mereka berdua.
Seketika tubuh mereka membeku melihat pemandangan ini, ketakutan akan kematian memenuhi hati dan pikirannya hingga dia lupa untuk kabur dan menghindar.
Bam!
Kapak itu seperti menabrak sesuatu dengan keras.
Mereka berdua melihat perisai berlian menahan serangan kapak, kemudian Draith itu terpotong menjadi dua oleh Golem yang ada di depannya.
Langsung mereka terbangun, dan berterima kasih kepada KrystalGolem, lalu segera berlari menjauh, menjaga jarak dari pasukan Draith.
Agler mengerahkan Golem yang ada di sekitar kota untuk berkumpul di sana, semakin berlakunya waktu semakin banyak golem yang membantu.
Salam satu detik Agler sampai di atas kota Amsterdam, dia bisa mencium asap bubuk mesiu dan darah dari kota ini, memandang ke bawah dia melihat bangunan menjadi hancur karena serangan dari kedua belah pihak.
Hanya tersisa ratusan ribu Draith yang masih hidup, Agler berniat untuk memberikan serangan terakhir kepada Draith ini.