Savior System

Savior System
Bab 24 : Pergerakan Militer


Membawa barang belanjaan anak-anak ke dalam mobil bersama Kotet dan Cuprut, mereka bertiga menyusul Adena dan anak-anak ke cabang Bank MANJA di Mall ini.


Setelah melihat Adena membantu membuat rekening tabungan untuk anak-anak, Agler langsung mengisi 5 juta di masing-masing rekening tabungan mereka.


Uang yang telah di berikan oleh Agler kepada Nayla dan Farid, dimasukan juga ke dalam tabungan. Tabungan Nayla dan Farid terdapat uang 6,5 juta rupiah, dan yang lainnya 5 juta rupiah.


Tujuan Adena mengajari mereka menabung adalah untuk mereka lebih menghargai uang yang didapat dan menyisihkan sebagian uang yang mereka punya untuk keperluan di masa depan.


"Makasih kakak Adena dan Abang Agler!"


Anak-anak berterima kasih kepada Agler dan Adena yang mau merawat mereka semua, memberi mereka tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang lebih baik.


Adena dan Agler memandang mereka semua dan tersenyum.


"Sama-sama, Sayang," jawab Adena sambil tersenyum.


Pergi ke restauran Kaepsi dan mereka semua makan siang di sana.


Setelah makan siang mereka semua segera memasuki mobil dan pulang kembali ke rumah.


.....


Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.


Para perwira tinggi sedang melakukan pertemuan untuk membahas langkah apa yang akan dilakukan dalam menghadapi sosok yang seminggu ini sering muncul menyelamatkan warga di Indonesia. Karena mereka mengetahui para petinggi negara lain sedang memantau dan mengorek informasi tentang sosok pahlawan ini dalam diam-diam. Para panglima TNI takut pertahanan dan keamanan wilayah Indonesia terancam.


"Apa yang harus kita lakukan kepada Sosok yang bernama Saviorman itu? apa pendapat bapak Letjen dan lainnya?"


Jenderal Besar TNI Anjayani D Stronger meminta pendapat kepada Letjen, Mayjen, Brigjen dan Kolonel serta jajaran lainnya.


Letjen TNI Afa'an Tugan sebagai koorsahli kasad segera mengeluarkan pendapatnya, "lapor Jendral! Pendapat saya kita harus bisa melakukan kontak komunikasi terhadap sosok itu dan bekerjasama dalam melindungi negara."


Mendengar pendapat Letjen Afa'an Tugan, Jendral Andika Perkasa setuju dengannya. Menurutnya lebih baik mencari teman dari pada mencari musuh.


"Saya setuju dengan bapak Letjen Afa'an ini."


"Apakah ada yang tidak setuju? boleh angkat tangan dan jelaskan alasannya," tanya Jenderal.


Tidak ada satu pun yang mengangkat tangannya, dan artinya mereka semua setuju.


"Lapor Jenderal! Saya ingin bertanya tentang bagaimana cara bertemu sosok itu? sedangkan kita saja tidak tahu dimana sosok itu berada sekarang."


Seorang Kolonel bertanya tentang cara bisa berkomunikasi dengan sosok itu.


Para perwira tinggi berpikir keras tentang masalah ini.


Jenderal Besar Anjayani D Stronger tahu caranya, lalu ia berkata, "Coba periksa Radar Shikra kita dan lihat dari mana arah sosok itu muncul di Gunung Halimun."


Segera mereka memeriksa Radar Shikra melalui Control View dan mereka menangkap sosok Agler yang terbang cepat dari Jakarta di layar pemantau.


"Kecepatan terbang Saviorman mendekati 30 kali kecepatan suara, untungnya kita masih bisa mengetahui dari mana asal Saviorman," Jenderal Anjayani D Stronger bergumam setelah melihat hasil pemantauan.


"Lapor Jenderal! Dari semua bukti yang ada, Peristiwa pertama penyelamatan Saviorman berada di Jakarta barat. Dan dari video yang sekarang banyak beredar, penyelamatan yang dilakukan paling banyak terjadi di kawasan sekitar DKI Jakarta."


Kolonel melaporkan semua bukti kuat bahwa Saviorman berasal dari DKI Jakarta.


Jenderal Besar Anjayani D Stronger dengan perwira tinggi lainnya membuat keputusan untuk segera memerintahkan anggota TNI AD untuk mengawasi di setiap sudut kota Jakarta bila adanya Saviorman dan dilarang untuk menyerang.


.....


Di sisi lain.


"Makasih bang, boleh lewat transfer ga bayarnya?"


Agler ingin membayar dua supir Gokar yang ia pesan seharian.


"Bentar saya cek dulu mas pembayarannya pake apa."


Kotet memeriksa aplikasi Gokar-nya dan melihat pesanan atas nama Agler, tertulis pembayaran lewat ATM.


"Lewat ATM Bank MANJA mas," kata Kotet.


"Oke, gua transfer sekarang."


Agler mentransfer uang 10 juta ke masing-masing supir.


"Sip, makasih bang ye."


Agler berbalik lalu masuk ke rumah, meninggalkan dua supir yang masih di luar rumah.


Ting! Ting!


Suara notifikasi pembayaran terdengar dari handphone mereka. Kotet dan Cuprut membukanya dan terdapat transferan dari Agler sebesar 10 jt rupiah.


"Engga salahkan nih?" tanya Kotet kepada Cuprut.


Cuprut menggosok matanya dan melihat handphone-nya lagi.


"Engga mas," jawab Cuprut yang tercengang.


"Terima kasih Mas Agler!"


Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada Agler di depan rumah. Segera mereka pergi dengan mobilnya sendiri.


.....


"Minggu depan kakak mau daftarin kalian buat sekolah, kalian mau sekolah kan?" tanya Adena.


"Mau kak!" Farid bersemangat mendengar dirinya akan bersekolah.


"Yang mau sekolah tolong angkat tangannya!" kata Adena.


Mendengar ucapan Adena, semua anak-anak langsung mengangkat tangannya dengan cepat.


"Oke anak pintar, Minggu depan kakak anterin kalian ke sekolah untuk daftar."


Agler segera meminta Jarvis untuk membeli rumah yang ada di sebelah dan juga mobil Alphard. Serta merekrut 1 supir pribadi dengan gaji 30 juta perbulan.


{Segera Jarvis pesan tuan}


Suara Jarvis terdengar dari aerpod-nya.


"Oke kalian boleh coba pakaian yang tadi beli di kamar kalian, nanti kakak ke kamar kalian satu satu."


Anak-anak segera berlari ke kamarnya sendiri untuk mencoba pakaiannya di sana.


Melihat mereka berlari ke arah kamarnya masing-masing, Agler menoleh ke Adena dan tersenyum. "Kamu mau nginep di sini atau pulang ke rumah?"


"Aku belum izin ke Bapak sama ibu buat tinggal di sini sayang," jawab Adena.


Adena belum meminta izin kepada orangtuanya untuk tinggal disini bersama Agler.


"Kamu pulang?"


"Iya sayang, nanti maghrib aku pulang."


"Mau aku anterin?"


"Gausah sayang, aku naik Gocek aja."


Mengambil tangan Adena lalu menyerahkan kunci Lamborghini-nya ke Adena.


"Pake mobil aku, kamu bisa bawa mobil kan sama punya SIM juga, Kan?" tanya Agler.


"Iya, aku bisa bawa mobil, ini kartu SIM aku." Adena mengeluarkan kartu SIM-nya dari dompet.


"Yauda kamu pake mobil aku aja sementara, besok lusa kita beli mobil buat kamu," kata Agler.


"Emm.. iya sayang."


"Ouh iya, ini kartu ATM kamu." Adena ingat kartu ATM Agler ada di dirinya, lalu menyerahkan kartu ATM ke Agler.


Agler mengambil kartu ATM miliknya dan berkata kepada Adena, "No rekening kamu berapa? aku isi buat anak-anak besok, buat kalo ada keperluan yang mendadak."


"Oke sayang, sebentar."


Mentransfer uang 1 Miliar ke Adena. Segera Adena mendapatkan notifikasi penerimaan transfer dari Agler.


"Sayang, ini banyak banget tau!" Adena kaget dengan jumlah nominal yang ditransfer oleh Agler.


"Aku tambahin lagi nanti kalo kurang," kata Agler.


"Ini udah banyak sayang, lebih dari cukup."


"Nanti bilang aku, kalo kurang. jangan diem-diem."


"Iya sayang."


Adena meloncat terbang ke pelukan Agler dan mencium bibirnya dengan penuh semangat.


Untungnya anak-anak ada di kamar dan sedang sibuk mencoba bajunya. Jadi mereka tidak melihat ini.


.....


Malam pun tiba, Anak-anak sudah makan malam dan Adena juga sudah pulang ke rumahnya.


"Sekarang kalian tidur, besok abang mau ajak kalian main," kata Agler.


"Iya bang Agler!" jawab mereka serempak.


"Yauda, kalian pergi ke kamar kalian masing-masing."


"Oke bang." Anak laki-laki langsung berlari menuju kamarnya.


Sedangkan anak perempuan berdiam diri di depan Agler yang sedang duduk di sofa.


Melihat anak-anak ini yang agak aneh, alis Agler terangkat dan merasa heran.


"Kenapa sayangku yang imut?" tanya Agler sambil tersenyum ramah.


Mereka tidak menjawab pertanyaan Agler akan tetapi Nayla yang pemalu tiba-tiba meloncat ke arah Agler.


Refleks memeluk Nayla takut dia terluka atau jatuh. Agler terkejut dengan tingkah Nayla, tapi sebelum dia sadar, Nayla mencium pipi kiri Agler dengan cepat dan berlari menuju kamarnya yang ada di atas.


Tidak sampai di situ, Agler kembali dicium pipinya oleh empat anak perempuan lainnya dan langsung berlari menuju kamarnya setelah mencium Agler.


"???"


Memegang kedua pipinya yang sehabis dicium oleh bocah kecil 6 tahun dan bergumam ngeri.


"Anak kecil jaman sekarang kaya gini semua?"


Agler menggelengkan kepala, bangkit dari sofa dan menaiki tangga menuju kamarnya.