Savior System

Savior System
Bab 142 : World Tour PT 05


Empat hari berlalu, Agler dan Alyona pergi bersama, Alyona memutuskan untuk menemani Agler berlibur di negara ini.


Pada keesokan harinya setelah mereka pergi ke paviliun, Alyona mengabarkan ke Agler bahwa dia akan menemani dan menjadi Tour Guide pribadinya.


Karena menawarkan diri untuk menjadi pemandu wisatanya secara gratis, tentu saja Agler tidak menolak, dia menerimanya tanpa keberatan.


Di hari itu juga mereka berdua berencana pergi ke Incheon untuk pergi melihat-lihat dan tentunya berbelanja.


Bukan Agler yang berbelanja, melainkan Alyona. Walau dia juga berbelanja beberapa barang untuk anak-anak, seperti sepatu yang disesuaikan dengan gambar dari foto anak-anak dan karakter kartun yang disukai anak-anak di rumah.


Tidak tahu dari mana duit yang dia hasilkan, Alyona ini memiliki kemampuan untuk membeli sesuatu barang dengan massive dan besar-besaran.


Agler berasumsi bahwa ini mungkin dari dia mengiklankan sebuah produk dari perusahaan tertentu melewati Instagrem.


Kemarin juga Alyona memakai baju yang bermerek terkenal yang berasal dari merek sport terkenal.


Satu hari itu, Agler serasa menjadi pacar sekaligus bodyguard dan alat pembawa tas barang belanjaan.


Karena hubungan mereka semakin dekat, Agler tidak masalah karena ini.


Seharian penuh itu, Agler dan Alyona berjalan bersama ke keliling kota Incheon, menikmati pemandangan sungai Han dari sudut yang berbeda, tertawa mengobrol nampak asyik dan seru, banyak orang yang iri dengan hubungan mereka, karena terlihat asik.


Tampan dan Cantik tentu ini menarik perhatian orang, terlebih lagi Agler yang terang-terangan tidak memakai kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya. Tapi, Alyona masih memakai masker hitamnya dan tidak membukanya, orang-orang sudah tahu bahwa Alyona adalah wanita yang cantik. Bisa dilihat dari mata dan rahang yang sedikit terlihat.


Tepatnya bukan Agler yang asyik melainkan Alyona, dia benar-benar cerewet seperti Adena tetapi memiliki tipe karakter yang berbeda, namun sedikit.


Terkadang Agler memandang Alyona ini seperti Adena, karena sifatnya yang sama, tapi ini terlalu over dan percaya diri, terlepas dari melihat fotonya dengan terang-terangan di depannya.


Agler merespon dengan seharusnya ketika Alyona bertanya atau apapun itu. Dia tidak sedingin awal.


Hari selanjutnya Agler bersama Alyona jalan-jalan lagi ke kota Busan.


Ada alasan kenapa Agler ingin ke sana, karena dia ingin tahu stasiun yang menjadi latar cerita zombie dari negara ini di kehidupan sebelumnya.


Benar, di sini tidak ada film itu. Seakan-akan film action di Bumi belum pernah muncul, dan tidak akan pernah ada.


Alyona terheran ketika Agler meminta dia untuk pergi ke stasiun kereta di Busan.


Dikarenakan dia adalah Seorang pemandu wisata sekarang, Alyona mengantarkan Agler ke sana.


Di Stasiun itu Agler dan Alyona menaiki kereta ke tujuan terdekat yang masih ada di jangkauan kota Busan.


Setelah puas memandangi atmosfer atau getaran suasana di dalam kereta ini, Agler dan Alyona pergi ke Oryukdo Skywalk.


Pergi ke sini bukan karena permintaan Agler, melainkan permintaan Alyona sendiri.


Saat di sana, keduanya berkesempatan untuk berjalan di jembatan di ketinggian puluhan meter dengan lantai transparan.


Skywalk ini dibatasi hanya beberapa orang saja yang boleh berjalan di jembatan tersebut.


Kuotanya adalah 120 orang pengunjung dan keduanya Agler dan Alyona mendapatkan kesempatan itu.


Sebelum mulai berjalan di atas jembatan transparan ini, Alyona berlagak menjadi wanita yang pemberani, dia dengan candaannya mengejek Agler yang disangka olehnya sebagai penakut.


Namun, apa yang dikatakan Alyona sebaliknya. Wanita ini menjerit ketakutan, bahkan kakinya gemetar hebat sambil berpegangan pada pagar jembatan.


Sementara Agler, ia berjalan santai tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Ketakutannya semakin menjadi-jadi, hingga alam bawah sadarnya membuat dia tidak tahu dirinya sedang memeluk Agler dengan erat.


Alyona memeluk Agler dari belakang sembari menutup matanya karena takut.


Tubuh Agler dijadikan penopang berjalan bagi Alyona, melihat kakinya gemetar semakin kuat.


Agler memutuskan untuk mengakhiri berjalan di jembatan ini.


Setelah itu, mereka pergi ke Pasar Jagalchi, dan Taman Yongdusan, diakhiri dengan melihat Jembatan Gwangan pada malam hari sebelum jam set tujuh. Mau tidak mau mereka berdua menginap di hotel terdekat. Pastinya berbeda kamar.


Hari berikutnya atau hari ketiga, Agler dan Alyona pergi lagi ke kota yang sudah direncanakan di malam harinya, yakni Kota Jeju.


Di sana mereka ke berbagai tempat wisata seperti Manjanggul Cave, Pantai Hyeopjae, Air terjun Cheonjiyeon, dan diakhiri dengan Jeju Love Land.


Mereka berdua asyik bersama, makan bersama, melihat pemandangan yang sama, dan menikmati perjalanan ini bersama.


Hari terakhir, Agler dan Alyona sepakat untuk pergi bersama ke Rusia setelah hari ke enam.


Pada hari terakhir ini mereka kembali lagi ke Seoul, mereka berdua bersepakat untuk pergi ke Seongsu-dong dan duduk di bangku tepi danau kecil.


Mereka berdua datang, tetapi kali ini Alyona memiliki penampilan yang berbeda.


Dia tidak lagi memakai masker hitam seperti hari-hari sebelumnya. Wajah cantiknya benar-benar ditampilkan tanpa halangan.


Wanita berubah tentu saja bukan tanpa alasan. Alyona memutuskan untuk tidak memakai masker hitam karena Agler, dia tidak ingin menutupi wajahnya lagi di depan Agler.


Tujuannya adalah agar Agler tidak mengenal seluruh wajahnya melalui Instagrem, melainkan tatap muka atau secara langsung.


Agler terpesona dengan wajah ini, kecantikan Alyona memang setara dengan kecantikan wanita-wanitanya, Agler kagum dengan itu.


Aslinya lebih baik berkali-kali lipat dari foto yang ada di sosial media.


Keduanya mengobrol bersama membicarakan sesuatu atau kejadian acak, mereka berdua semakin dekat.


Saat hari ingin menjelang sore hari, Alyona tiba-tiba meminta Agler untuk datang ke rumah temannya.


Merasa bingung kenapa Agler tiba-tiba diminta untuk pergi ke rumah teman Alyona, wanita ini memberikan alasan dan tujuannya.


Secara kasar yang Agler tangkap dari perkataan Alyona yaitu ternyata dia ingin membawa dirinya sebagai bukti bahwa Alyona benar-benar pergi bersama Agler kepada temannya, dan bukan sendirian.


Alyona mengaku bahwa dia tidak pernah berhubungan cinta bersama Pria saat di kuliah, di Rusia juga dia belum pernah memiliki kisah cinta dengan Pria. Apalagi wanita, dia bukan orang yang menyimpang.


Oleh sebab itulah, temannya ini mengganggap dia sebagai penyuka sesama, padahal tidak. Saat dikabarkan bahwa dia berjalan-jalan bersama seorang pria, temannya ini tidak percaya, dan berkata dia itu hanya halusinasi dan khayalan, intinya berbohong.


Jadi, Alyona meminta Agler untuk pergi ke rumah temannya.


Penjelasan yang disampaikan oleh Alyona cukup masuk akal, Agler setuju untuk pergi ke rumah temannya.


Sesampainya di sana, temannya Alyona ini tercengang saat pertama kali berjumpa dengan Agler, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Selama ini dia kira Alyona yang adalah temannya kuliah ini hanya berhalusinasi karena efek dari banyak membaca novel dan drama romantis, nyatanya dia salah.


Pria ini ... benar-benar tampan.


Agler mengetahui bahwa temannya ini terkejut saat bertemu dengannya, ekspresi yang ditampilkan terlihat jelas dan dibaca dengan sangat mudah olehnya.


Dua jam berselang, Agler dijamu di rumah temannya, mereka berdua bersenang-senang bersama Agler, seperti berfoto bersama, bermain tebak-tebakan.


Di sana juga Alyona menunjukkan keahlian memasaknya, tak disangka Alyona cakap dalam membuat masakan Korea.


Alyona belajar memasak saat tinggal di sini, hitung-hitung dia mendapatkan ilmu tambahan setelah pergi dari sini.


Masakan yang dibuat wanita ini bisa dikatakan enak, bahkan cocok di mulut Agler.


Alyona tiba-tiba memberitahukan ke temannya bahwa mereka berdua akan pergi ke Rusia. Ia mengajak temannya, tetapi dia tidak bisa, disebabkan oleh adanya kepentingan di sini.


Besok dia harus pergi bersama, jadi dia harus menginap di tempat yang sama agar tidak memakan waktu lebih untuk berangkat dan tidak terlambat.


Agler dan Alyona izin pamit pada teman Alyona, dan mereka berdua pergi ke tempat hotel tempat Agler menginap.


Saat sampai di hotel, Alyona tidak menyangka bahwa Agler menginap di sini.


Bukan hanya sehari semalam melainkan beberapa hari, dan dia juga baru tahu bahwa saat mereka menginap di kota yang mereka kunjungi, kamar ini kosong dan tidak diisi oleh Agler.


Pria ini sudah check ini beberapa hari dengan langsung.


Malam ini adalah pertama kali Alyona mendapatkan kejutan yang sangat-sangat di luar perkiraannya.


Kenalannya ternyata seseorang yang kaya, bahkan dia tidak pernah berpikir bahwa Agler adalah orang yang kaya.


Saat berbelanja di kota-kota, Agler hanya mengeluarkan uang seperlunya.


Ternyata, diam-diam Agler orang kaya.


Alyona bukanlah wanita penggila materi, jika dia penggila dan pecinta pria kaya, mungkin Agler tidak akan pernah dia kenal.


Sempat dia berpikiran kalau Agler itu ialah orang yang sederhana, dan dia ingin membiayai kehidupan Agler dengan syarat menjadi pasangan dan teman hidupnya selamanya.


Agler membayar kamar presidential suite juga untuk dirinya tidur malam ini, dia sudah menolak berkali-kali, tetapi Agler tidak mendengar penolakannya.


Mau bagaimana lagi, Alyona menerimanya.


Satu malam mereka berdua tidur di hotel yang sama, dengan kamar yang berbeda.


Hari ini, hari mereka pergi ke Bandara Gimpo.


Mereka berdua sedang bersiap-siap di kamar mereka masing-masing.


"Hmm? Masih belum selesai?" Agler keluar dari kamar dengan pakaian sederhana tanpa membawa barang bawaan.


Semua barang belanja yang pernah dia beli telah diberikan pada anak-anak dan wanitanya.


Pakaian hari ini tetap sama pada saat dia datang ke negara ini, yaitu memakai kemeja hitam dengan dua kancing paling atas dilepas, juga celana panjang krem, serta jam Yollex mahal.


Tak lupa satu Aerpod yang terpasang di telinga kirinya, dan kacamata hitam.


Penampilan Agler sangat sederhana, tetapi mewah dan elegan. Harga pakaian dikenakan juga tidak main-main, tentu itu mahal.


Berdiri di depan pintu kamar hotel Alyona, Agler menunggu Alyona selesai bersiap-siap.


Kurang dari lima menit, pintu kamar Alyona terbuka, dan sesosok wanita keluar dengan membawa satu koper dorong besar dan jinjing.


Wanita ini sangat cantik, memakai kemeja hitam panjang wanita dengan celana krem sedikit ketat, juga jaket yang telah sering dia gunakan untuk berjalan-jalan kemarin.


Kacamata juga dia kenakan.


Tampilan wanita ini sangat cantik dan dewasa.


"Bagaimana? Apakah bagus pakaian yang aku pakai?" tanya Alyona sambil berputar-putar untuk Agler dapat melihat lebih jelas.


"Bagus, cocok untukmu yang cantik," kata Agler yang sangat jujur.


"Emm~" Alyona menundukkan kepalanya karena malu lalu menjawab, "Terima kasih, kamu juga tampan."


"Omong-omong pakaian kita serasi." Agler memindahkan topik.


Mendengar ini, Alyona mendongak dan melihat sosok Agler dari ujung sepatu hingga ujung kepala.


Benar, mereka berdua memiliki gaya pakaian yang sama, layaknya sebuah pasangan.


"Eh, iya benar." Alyona berkata sedikit malu, sambil sesekali menatap Agler.


Sekarang Agler benar-benar tampan, semua anggota wajah terbentuk sangat indah, dan juga presisi, rahang tajam tanpa cacat.


Pria ini benar-benar tipe Alyona.


"Sudah semuanya? Ada yang tertinggal?" Agler memastikan Alyona.


"Tidak ada, aku sudah memeriksanya berkali-kali." Alyona menggelengkan kepalanya.


Agler merespon mengangguk. "Ayo kita turun ke bawah."


"Ayo!"


Tepat saat Alyona hendak mendorong koper dorongnya, Agler meraihnya lebih cepat darinya dan membawa kopernya berjalan.


"Biar aku saja," ucap Agler pada Alyona.


"Terima kasih." Alyona menjawab tersipu.


"Sama-sama."


Agler dan Alyona berjalan berdampingan berdua menuju lift.


Baru sejenak mereka sampai di depan lift, salah satu pintu lift terbuka dan arahnya ke bawah sesuai dengan tujuan mereka yang ingin turun ke bawah.


Keduanya menuruni lantai menggunakan lift, lalu Agler check out.


Saat keluar dari hotel, mereka berdua berdiri seolah sedang menunggu sesuatu.


Pada saat ini juga Alyona tersadar bahwa Agler tidak membawa tas atau koper sama sekali.


Dia hanya membawa jaket dan diletakkan di bahunya.


"Kamu tidak membawa baju dan beberapa barang yang kita beli waktu itu?" tanya Alyona penasaran sambil melihat Agler di sebelahnya.


"Membawanya, tapi barang itu semua telah dibawa oleh pengawal," jawab Agler dengan ringan.


"Pengawal? Kamu punya pengawal?"Alyona berkata dengan terheran dan sedikit tidak percaya sembari menatap wajah samping Agler.


"Benar, pengawal. Di depan kita adalah pengawalku." Agler menunjuk ke depan tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.


Mobil Rolls-Royce phantom berwarna hitam dari jauh melaju ke arah mereka dan akhirnya berhenti tepat di hadapan mereka.


Alyona masih tak mengerti apa yang terjadi, dia melihat dengan seksama mobil ini, hingga dia tersadarkan saat orang berbadan hitam dan berkulit hitam kekar berbadan besar keluar dari mobil mewah di depannya.


"Selamat pagi, Bos." Orang ini menyapa hormat pada Agler dan Alyona sedikit membungkukkan badan.


Ketika berdiri tegak, Orang itu terdiam setelah melihat Alyona, lalu membungkuk lagi dan berkata, "Selamat pagi, Nyonya Bos."


"Eh!" Alyona tersentak terkejut dan malu.


Pipinya memerah perlahan dapat terlihat oleh mata telanjang.


"Jet telah siap, Bos." Orang itu menambahkan.


"Oke, ayo kita berangkat, dan tolong masukkan koper-koper ini ke dalam bagasi." Agler menyerahkan Koper yang dia pegang dan dijinjing oleh Alyona pada pengawal di depannya.


"Baik, Bos." Dengan gerakan yang sopan pengawal itu mengambil tas di tangan Agler dan pergi membawanya ke dalam bagasi mobil.


"Kita masuk," ajak Agler tersenyum pada Alyona.


Alyona mengangguk tidak berbicara, dia masih terpana dengan kejutan ini, butuh waktu untuk mengolah dan menerima kenyataan ini.


Agler membukakan pintu belakang mobil untuk Alyona. Lalu, dia masuk ke dalam mobil.


Pengawal ini langsung masuk ke dalam mobil setelah memasukkan koper.


Mobil mewah ini melaju meninggalkan hotel, dan melesat pergi menuju Bandara Gimpo, Korea Selatan.