Savior System

Savior System
Bab 125 : Touring PT 03


Agler berjalan menuju tempat motornya berada, dia hendak pergi dari tempat ini.


Hari sudah memasuki waktu siang, perjalanan ke sini memakan waktu beberapa jam jika menggunakan sepeda motor cukup lama, padahal kendaraan yang Agler pakai termasuk kendaraan yang memiliki kecepatan yang tinggi.


Walau begitu jika dibandingkan kecepatan dia berlari, motor tercepat di dunia pun tidak akan bisa menandinginya.


Hanya perlu waktu satu detik untuk dirinya sampai ke tempat ini.


Bukan tempat di Indonesia saja, tetapi seluruh dunia, Agler mampu ke sana hanya dalam satu detik saja. Tidak-tidak, itu kurang dari satu detik.


Di perjalanan menuju tempat parkir, Agler melihat beberapa orang yang secara terus menerus melihatnya tanpa berkedip.


Sebagian dari mereka adalah wanita, wajah Agler terlalu menarik bagi lawan jenis, bahkan ada beberapa pria yang menatapnya tampak genit, seketika bulu kuduk Agler merinding melihat orang yang seperti itu.


Mengangkat tangan kirinya, Agler melihat jam yang telah dia pakai ketika di pertengahan jalan ke sini.


Jam menunjukkan jam satu lebih sekian menit, masih cukup untuk bisa kembali ke rumah sebelum malam datang.


Di jalan, Agler menemukan banyak penjual oleh-oleh sepertinya dia tertarik untuk membeli beberapa barang.


Agler akhirnya mampir ke salah satu pedagang oleh-oleh yang ramai akan pembelinya. Jika banyak pembeli, seharusnya kualitas barang dagangan tidak terlalu buruk.


Baru sampai di tempat pedagang itu, orang-orang segera meliriknya hampir berbarengan dalam satu waktu. Agler tercengang melihat ini, namun ia berusaha tampil dingin seolah tidak peduli dengan orang sekitar yang bereaksi seperti itu. Di luar terlihat tenang, tetapi di dalam hatinya sebaliknya.


Sifat introvert masih tertanam pada jiwanya, namun jika dia memakai wujud fisik Flugel sepertinya berbeda, dia akan percaya diri layaknya superstar.


Semua orang berjalan ke samping seolah memberi jalan kepada Agler, padahal ia tidak meminta dibuatkan jalan. Agler ingin mengantri seperti orang biasa.


Agler tidak bergeming sedikitpun melihat orang-orang depannya menyampingkan diri, dia tetap diam tidak bergerak sama sekali.


Untungnya ia memakai kacamata hitam, jadi tatapan canggungnya tidak terlihat oleh orang sekitar.


Orang-orang di sini tetap berdiri di meminggirkan dirinya dan masih memberi Agler antrian terdepan. Melihat ini Agler menggelengkan kepalanya, lalu menyodorkan tangannya ke depan memberi isyarat untuk orang yang di depan kembali mengantri.


Gerakan Agler dapat dimengerti oleh orang-orang dan mereka kembali mengantri. Suasana yang sunyi menjadi ramai kembali, seperti sebelum Agler datang ke tempat ini.


Beberapa menit kemudian, satu per satu orang meninggalkan tempat penjual oleh-oleh ini, namun kebanyakan dari mereka memotret Agler sebelum pergi, bahkan ada yang meminta untuk berfoto bersama. Ingin menolak tetapi tidak enak, takut digoreng oleh orang-orang di internet, terlebih netizen.


Setiap orang yang datang untuk meminta foto pasti akan Agler sambut dengan senyuman, karena senyuman Agler terlalu mematikan bagi lawan jenis, semua wanita di sini langsung berteriak histeris seperti orang yang sedang kerasukan siluman ular.


Setiap detik, setiap menit, Agler berupaya untuk bertahan dari siksaan ini. Untung saja dia selamat dan segera membeli oleh-oleh lepet khas kuningan dan kopi luwaknya dengan jumlah banyak.


Secepat mungkin Agler berlari menuju ke tempat sepeda motornya, para wanita di belakang Agler banyak yang mengejar bak zombie yang haus akan otak manusia.


Sesampainya di parkiran, Agler dengan cepat membayar uang parkir dan segera menancapkan gasnya tanpa ragu.


Vrooom!


Dengan bunyi motor sport yang terdengar garang dan renyah, Agler melesat sangat cepat bersama motornya meninggalkan tempat rekreasi ini.


Sosok Agler menghilang selama beberapa detik, dan orang-orang memandangi Agler dengan memasang wajah yang kecewa.


Antusias yang berlebihan.


Pada sebuah jalan raya di daerah Bandung.


Sebuah motor hitam yang memiliki tubuh ramping dan menawan sedang melaju membelah jalan. Di atasnya terdapat seseorang menggunakan jaket hitam dengan helm hitam sedang fokus mengendarai sepeda motornya.


"Besok, sepertinya aku ingin pergi ke tempat lain. Tetapi, aku harus meminta izin kepada mereka di rumah untuk pergi selama beberapa hari ...." Agler merenung sejenak memikirkan ini.


Jikalau ia pergi selama beberapa hari, kemungkinan besar wanitanya akan bersedih dan juga jatah di malam har .... Uhuk! maksudnya makan di malam hari bersama mereka harus diliburkan duhulu.


Nampaknya Agler akan meminta izin menginap, juga meminta izin untuk tidak pulang ke rumah selama beberapa hari untuk bepergian kepada mereka.


Ketika berpikir sesaat sambil berkendara, tiba-tiba saja mata Agler membesar dan mulutnya langsung tersenyum misterius, dia mendadak memiliki ide untuk rencananya.


"Aku tidak akan izin kepada mereka untuk pergi selama beberapa hari tanpa pulang. Aku akan meminta izin untuk bepergian seperti sekarang ini, di malam hari aku akan pergi dari tempat aku menginap di suatu tempat dengan kecepatan terbangku dan kembali ketika fajar tiba." Agler berkata dengan wajah senang sambil memandangi jalan raya di depannya.


Ia berencana untuk terus bepergian ke tempat yang dia tuju dengan menggunakan sepeda motornya. Namun, ketika malam tiba dia akan pulang sendirian ke rumah tanpa membawa motornya, pulang ke rumah dengan cara terbang cepat.


Selanjutnya, saat pagi datang dia akan terbang ke tempat menginap di daerah yang dia datangi atau tempat motornya berada, dan melanjutkan lagi perjalanan ke tempat lain menggunakan sepeda motornya.


Sepeda motornya berbalik arah, melaju kembali menjauh dari tujuan sebelumnya yaitu ke rumah.


Agler ingin pergi ke suatu tempat yang ada di sekitar daerah Jawa Tengah sebelum waktu menunjukkan pukul jam lima sore.


Sosok hitam melaju cepat menuju Tol Cikopo-Palimanan, Agler bergerak cepat mengejar waktu, sebelum jam yang telah ditentukan olehnya datang.


Ia memutuskan untuk melewati jalur jalan tol yang lebih cepat sampai ke tujuan dibandingkan jalan alternatif yang berbelit-belit.


Beberapa jam Agler dalam perjalanan, tak terasa dirinya sudah sampai di daerah Pekalongan, Jawa Tengah.


Waktu sudah melebihi jam lima sore, Agler harus cepat mencari tempat penginapan untuk memarkir motor sportnya di sana.


Keluar dari jalan tol, Agler sibuk dan terburu-buru mencari tempat penginapan yang sekiranya aman untuk dia meletakkan motor ini.


Setengah jam kemudian, dia akhirnya menemukan tempat menginap di salah satu hotel yang cukup bersih dan aman, terdapat beberapa fasilitas yang cukup bagus dan bersih.


Akan tetapi, saat dia masuk dan mencari kamar yang dia pesan, Agler seringkali bertemu dengan para orang tua yang berjalan lalu-lalang di hotel ini, tampaknya sedang ada sebuah acara meeting atau sejenisnya, ramai sekali di sini.


Tidak hanya itu, beberapa anak muda seperti dirinya juga menginap di sini, kebanyakan dari mereka telah berpasangan, Agler sendiri tidak yakin apakah mereka sudah bersuami istri atau tidak, mereka cukup mencurigakan.


Tak lama, Agler menemukan kamarnya, segera dirinya masuk ke dalam.


Ia tidak membawa barang bawaan seperti baju dan yang lain, jadi dia ke sini hanya membawa oleh-oleh khas kabupaten Kuningan saja tanpa membawa yang lain.


Melihat jam sudah hampir menunjukkan jam enam sore hari, ini sudah saatnya Agler pergi dari sini dan terbang menuju rumah yang ada di Jakarta Selatan.


Besok pagi dia akan kembali ke sini dan melanjutkan perjalanannya yaitu ke sebuah pantai yang ada di daerah Jawa Tengah, Agler cukup tertarik.


Agler mendekati jendela sambil membawa oleh-oleh di tangan kirinya, tangannya terulur dan membuka jendela. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi sekitar.


"Oke, suasana sepi, saatnya pergi menemui mereka."


Detik berikutnya...


Siluet hitam melesat sangat cepat, mata orang normal tidak dapat menemukan siluet ini karena saking cepatnya. Agler terbang menuju rumah di Jakarta Selatan memakai kecepatan yang dia kurangi sehingga membutuhkan beberapa menit untuk sampai di rumahnya.


"Aku pulang!"


Agler mendorong pintu rumah, berjalan masuk ke dalam rumah, di ruang keluarga anak-anak sedang bermain dengan asyik ditemani Adena, Rem dan Ram serta Ibu Naimah dan suaminya.


Ghinava, Svalia dan yang lain belum pulang dari pekerjaannya, mereka semua wanita pekerja keras.


Nanti malam sebelum jam makan malam dia harus menjemput Mirage dan Ada Wong untuk membawanya ke sini, itu sudah menjadi kesibukan keseharian Agler, kadang dia memakai bayangannya untuk menjemput mereka.


Sedangkan Svalia, Ghinava, dan Cass juga dikawal oleh bayangannya yang menjaga mereka, Cass selalu membawa mobilnya, jadi mereka bertiga berangkat dengan membawa mobil. Sementara Svalia dan Ghinava ikut mobil Cass, mereka berdua kurang suka berkendara.


Melihat Agler sudah pulang, Ram dan yang lain menghampiri Agler dengan senyum terbaik mereka. Ciuman dilontarkan oleh ketiga wanitanya ini, selain itu juga dia mendapatkan ciuman pipi dari anak-anak perempuan ini, sebenarnya Agler tidak mau, namun takut mereka kecewa dan sedih Agler harus menuruti kemauan mereka.


"Lihat ini! Abang Agler bawa oleh-oleh, kalian mau?" Agler berkata sambil menunjukkan barang-barang yang ia beli.


"Aku mau, bang!"


"Aku juga!"


Seketika anak-anak menjadi berisik memperebutkan oleh-oleh dari Agler.


Menghadapi situasi seperti ini, Agler harus tetap lembut dan tersenyum kepada mereka.


"Kalau mau oleh-oleh, kalian harus menyelesaikan tugas sekolah terlebih dahulu. Abang janji akan kasih oleh-oleh ini kalau kalian sudah nyelesain pekerjaan rumah kalian," ucap Agler dengan nada bujukan kepada anak-anak.


"Oke, bang!"


"Ayo kita kerjakan tugas sekolah!"


"Ayo-ayo ...."


Anak-anak seketika berbalik memasuki kamarnya masing-masing, mereka mengambil buku yang berisikan tugas sekolah.


Agler tersenyum melihat tingkah anak-anak ini, lalu dia berjalan bersama wanitanya pergi ke ruang keluarga dan meletakkan buah tangan di atas meja.