
[Tugas Sistem Tingkat Berbahaya!]
[Tugas : Lindungi Manusia dari Serangan Gycleps]
[Hadiah : 5 Tiket Lotere, 700 Savior Coin]
[Hukuman : Umat Manusia Musnah]
[Tugas wajib dilakukan!]
[Otomatis menerima tugas tingkat berbahaya!]
Agler tertegun sejenak setelah melihat panel tugas di depannya.
Panel berubah menjadi merah, tugas sistem tingkat berbahaya persis sama dengan tugas yang pernah dia selesaikan beberapa waktu yang lalu.
"Gycleps? Monster apa itu?" tanya Agler kepada Sistem.
Tidak ada informasi sama sekali tentang monster ini, Agler pun bertanya kepada sistem.
[Gycleps adalah monster yang satu tingkat lebih kuat dari Draith, monster yang pernah tuan rumah kalahkan]
[Harap berhati-hati, Tuan Rumah]
Mendengar informasi singkat dari Sistem, wajah Agler berubah menjadi sedikit murung.
"Sama seperti sebelumnya, sistem tidak memberitahu dengan jelas dan terperinci tentang monster yang akan dihadapi," keluh Agler pada jawaban Sistem.
Sistem selalu saja tidak menjelaskan secara rinci tentang monster ini, Sistem hanya bisa menjawab informasi dasar dari monster ini.
Kekuatan yang dimiliki monster tidak Sistem beritahu kepadanya, padahal itu sangat membantu dirinya untuk lebih mudah mengalahkan monster dan menyelesaikan misi.
Agler berpikir positif, mungkin saja Sistem tidak ingin dirinya terlalu manja.
Selama ini dia sangat dimanja oleh Sistem, bahkan kekuatannya pun terlalu dianak bungsukan olehnya.
Sekarang Sistem sepertinya ingin dirinya lebih mandiri tanpa bantuan sistem.
Nampaknya dia harus menunda untuk memutar lotere pada kesempatan kali ini.
Lebih penting menyelesaikan tugas daripada memutar lotere.
Dia harus cepat kembali ke planetnya, mempersiapkan diri dan memberitahu semua negara terhadap penyerangan monster satu ini.
Whoooshh!
Kecepatan terbang yang sangat cepat, Agler bergegas menuju Aquater.
•••••
{Jarvis segera laksanakan, Tuan!}
Di atas langit pada ketinggian 100 km dari permukaan langit, Agler melayang tepat di perbatasan antara atmosfer bumi dengan luar angkasa.
Baru saja Agler meminta Jarvis untuk menyebarkan berita tentang akan terjadinya invasi monster kepada pemimpin Negara.
Semoga saja mereka bisa bergerak dengan cepat untuk mempersiapkan menghadapi kedatangan para monster ini.
"Aku juga harus bersiap-siap!"
Kumpulan sepuluh asap muncul di sekeliling Agler, sepuluh klon Agler terbang mengelilingi Agler.
Klon Agler memakai tubuh flugel bersayap enam, jadi mereka tidak perlu memakai kostum yang menutupi wajahnya.
Setiap klon memiliki 10% dari semua kekuatan Agler, cukup untuk menahan sementara para monster yang datang.
"Kalian segera pergi ke penjuru Dunia, berjaga di setiap benua, kalian bisa atur sendiri.
Jika ada monster yang datang di kawasan yang kalian lindungi, kalian lawan monster itu beberapa saat hingga bantuan datang dan beritahu aku dengan cepat."
Agler meminta sepuluh klonnya untuk berjaga di daerah yang sudah ditetapkan, pastinya mereka semua ada untuk melawan para monster.
Whoooshh... Whoooshh...
Sepuluh klon menerima perintah Agler lalu terbang menuju ke tempat mereka berjaga.
Setelah melihat para klonnya sudah pergi, Agler menurunkan ketinggian dia melayang.
Di ketinggian ini tidak baik untuk mengeluarkan naga-naganya.
Kecuali Great Red, dia pasti hidup di tempat yang minim oksigen.
Di langit Kota Jakarta di ketinggian 30 kilometer, Agler berdiri di udara yang dingin.
Mengaktifkan mata Tenseigannya dan pandangan matanya turun ke bawah, dia bisa melihat sangat jelas para tentara yang sedang menertibkan para warga yang ada di jalan untuk segera masuk ke dalam ruangan.
Terlihat banyak sekali mobil polisi dan tank telah diturunkan ke jalan.
"Cukup bagus dan cepat untuk bersiap menghadapi keadaan darurat seperti ini," puji Agler kepada tentara negara Indonesia.
"Sekarang masih pagi ingin menjelang siang hari, masih banyak waktu untuk melakukan persiapan."
Agler memanggil para binatang psikisnya untuk muncul di sini.
Portal besar ukuran 1 kilometer terbentuk perlahan, dan makhluk seperti naga keluar satu demi satu.
'Tuan, Ada apa?' tanya Great Red yang belum mengetahui keadaan sekarang.
"Ada keadaan darurat, aku butuh bantuan dari kalian semua untuk melawan para monster lagi," jawab Agler sambil memandang mereka.
'Monster jelek itu menyerang lagi? bukannya pemimpin mereka sudah mati oleh tuan?' kata Great Red.
"Bukan Red, monster ini bukan Draith, kali ini monsternya lebih kuat dari monster yang kita kalahkan sebelumnya, kalian jangan menganggap remeh mereka," balas Agler dengan ekspresi wajahnya menjadi serius sambil menatap semua naganya.
Naga-naga ini mengangguk mengerti dengan ucapan Agler.
"Baiklah, kalau gitu kalian berpencar, Ancalagon dan Great Red kalian sama seperti sebelumnya, kalian berdua segera pergi berjaga di tempat yang sebelumnya saat melawan Draith," perintah Agler kepada Ancalagon dan Great Red.
Gruuoooooaaahhhh!
Ancalagon meraung sangat bersemangat, dia sudah lama sekali tidak bertempur.
'Siap tuan!' Great Red menjawab dengan patuh.
Mereka berdua mengepakkan sayapnya dan terbang menuju tempatnya dia bertugas.
"Ghidorah kau berjaga di Antartika, aku akan mengarahkan kamu ke tempat itu," ucap Agler kepada naga berkepala tiga ini.
Graaahhh!
Grrrr!
Ghidorah meraung bersemangat, dia tidak sabar menampilkan kekuatannya yang dahsyat kepada monster yang dimaksudkan oleh Agler.
"Oke, segera pergi ke arah utara, Ghidorah," ucap Agler sambil menunjuk ke arah utara.
Gruoaahh!
Setelah meraung, sayapnya bergerak dan dia terbang menuju arah yang ditunjuk oleh Agler.
"Terakhir, Drogon kamu pergi ke negara Jepang, aku akan mengarahkanmu ke sana."
Drogon mengangguk lalu pergi menuju tempat dia menjaga daerahnya.
Melihat semua para naganya pergi, Agler sedikit merasa lega sekarang.
"Oke, sekarang aku hanya menjaga kawasan daerah Indonesia saja," gumam Agler pada dirinya sendiri.
Di sisi lain, para tentara dari berbagai negara melihat keajaiban ini, mereka semua memandangi makhluk besar yang terbang di kawasan mereka.
Pemandangan ini juga disiarkan oleh televisi berita swasta dan negeri dari berbagai negara.
Helikopter tempur dan milik perusahaan berita mengelilingi Ancalagon dan juga Great Red.
Mereka berdua merasa kesal oleh manusia ini, karena baling-baling helikopter mereka sangat berisik.
Juga mereka berdua tidak diizinkan untuk menyerang manusia oleh Agler, jadi dia berdua hanya bisa menahan kekesalannya.
"Hewan apa itu, Mah?" Seorang anak kecil berumur 4 tahun bertanya kepada mamahnya yang duduk bersama di sampingnya sambil menunjuk ke arah televisi.
Melihat anaknya bertanya, Mamahnya dengan lemah lembut menjawab pertanyaan putranya, "Itu hewan peliharaan Saviorman, itu mainan yang kamu pegang."
Anak kecil ini langsung melihat ke mainan yang dipegangnya, boneka berbentuk manusia memakai kostum emas bersayap.
"Keren! aku mau punya hewan itu, dedek boleh punya itu nda mah?"
Mata polos berair mengungkapkan tatapan tulus memohon agar Mamahnya bisa mewujudkan keinginannya.
Melihat putranya seperti ini, Mamahnya menghela nafas tidak berdaya, dan dia berkata, " Nanti Mamah beliin mainannya, tapi dedek harus mau sekolah TK, mamah akan beliin mainan Saviorman yang banyak."
Anak kecil ini memikirkan sebentar tawaran mamahnya, dan dia menjawab, "Oke, Mah!"
Akhirnya berhasil juga membuat anaknya bersekolah, setelah sekian lama Mamahnya membujuk agar putranya masuk sekolah TK.
Senyum senang terdapat di raut wajah mamahnya.
Mereka berdua kembali fokus menonton televisinya.
Agler masih menunggu, dan tidak ada laporan satu pun dari para naga dan klonnya.
Dua jam telah berlalu, matahari sudah mendaki ke puncak Bumi, posisi matahari benar-benar ada di atas kepalanya.
"Mana monster ini?"
"Apa mereka terjebak macet, dan tidak jadi untuk datang ke sini?" gumam Agler sambil mengusap dagunya yang tidak berjenggot.
Tiba-tiba, pusaran hitam muncul di belakang Agler, satu lengan besar keluar dari pusaran hitam itu.
Agler masih tidak mengetahui ini, dan masih menatap kosong ke bawah.
Tangan itu mengepal sangat keras, lalu meluncurkan pukulan ke arah Agler dari arah belakang.