
Pangkalan militer AS di Negara bagian Alabama, di sebuah ruangan terdapat 10 pria dan wanita duduk dibalik tumpukan layar monitor.
Rangkaian layar di depan mereka menampilkan foto Aquater, grafik dan punggung astronot.
Ruangan ini adalah pusat pengendali eksperimen sains stasiun luar angkasa internasional. Staf di sini berkerja untuk memantau kehidupan setiap menit para astronot dan ilmuwan yang berada d luar angkasa.
Staf menerima laporan itu dan segera mengirimkan kepada Pemerintah Amerika Serikat.
Di sisi lain, pelaku yang ada di laporan itu sedang bersantai, menutup mata menikmati perasaan hangat matahari yang menerpa dirinya.
"Hoaamm~.. gua perhatiin nih stasiun luar angkasa kaya ngawasin gua dah."
Agler memandang stasiun luar angkasa internasional yang sangat besar, dan ia merasa sedang diawasi oleh beberapa orang.
Dia tidak suka dipantau oleh seseorang dan segera mengeluarkan jari tengahnya ke arah stasiun itu.
Dengan kilatan cahaya hitam-ungu, Agler terbang menukik menuju rumahnya
......................
"Bu Naimah lihat Adena ga?"
"Tadi keluar, katanya ada jam kuliah siang."
Setelah kembali ke rumahnya, Agler tidak menemukan Adena di kamar lalu segera bertanya kepada Ibu Naimah yang ada di rumah.
Adena memiliki jam kuliah di siang hari ini, padahal Agler ingin bertempur sekali lagi.
Menghabiskan waktunya untuk berjemur di halaman yang terkena sinar matahari, sesekali anak-anak bermain di halaman bersamanya.
Tak terasa hari mulai gelap dan matahari digantikan oleh bulan, Agler sangat puas dengan kemampuan penyerapan energi matahari yang membuat semakin kuat.
"Sayang, gimana kuliahnya?" tanya Agler pada Adena yang duduk di sofa lantai 1.
Agler menanyakan bagaimana kuliahnya Adena berlangsung, apakah seru atau malah bikin kesal.
"Biasa aja sayang."
Raut wajah Adena seperti tidak senang, dan menjawab pertanyaan Agler-pun terlihat malas
Mendengar jawaban Adena, Agler merasa ada yang tidak beres. Duduk di samping Adena lalu bertanya lagi, "Bilang ke aku, ada kejadian apa kamu di kampus?"
Pipinya mengembung dan berkata kepada Agler, "Gara-gara kamu tuh aku di ledekin sama temen aku, katanya cara jalan aku sekarang keliatan aneh hmm."
Agler tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban Adena.
"Hahaha-..."
Tiba-tiba Agler berhenti tertawa.
[Tugas Sistem Dikeluarkan!]
[Misi : Hancurkan Para Draith yang datang di atas langit kota Tokyo]
[Deskripsi : 3 menit kemudian para Draith muncul di atas kota Tokyo, tolong tuan rumah hancurkan para Draith dan selamatkan kota Tokyo]
[Hadiah : 3x Tiket Lotere]
[Hukuman Gagal : Tokyo musnah]
[Apakah menerima tugas?]
"Draith?"
[Betul tuan]
"Apa itu?"
[Monster yang jahat dan berkeinginan untuk menghancurkan segalanya]
"Demi kesejahteraan bersama, monster ini harus dibasmi!" kata Agler di dalam hati.
"Sayang!"
Suara Adena masuk ke dalam telinganya, lalu Agler kembali sadar dari keadaan berbicara dengan sistem.
Melihat wajah Adena yang dekat sekali dengan wajahnya, terlihat sangat khawatir dengannya.
Agler merasa hangat dan dia mencium bibir Adena dengan lembut beberapa detik.
"Tunggu di sini, kalau ada apa-apa telpon aku," kata Agler terburu-buru.
"Ada apa sayang?"
Agler mengabaikan Adena lalu berkata kepada Jarvis di depan Adena. "Jarvis tolong jaga anak-anak dan orang di rumah ini dan beritahu saya segera bila terjadi penyerangan oleh sesuatu."
{Siap Tuan, Jarvis akan menjaga nyonya dan orang-orang di sini}
Suara Jarvis terdengar dari rumah ini.
Adena tercengang dia tidak tahu dari mana asal suara itu.
"Itu Jarvis kecerdasan buatan, kamu boleh meminta apa saja lewat Jarvis."
Agler menjelaskan dengan singkat, berlari keluar dari pintu rumah dan berkata, "Aku keluar dulu, kamu jaga diri di sini selagi aku keluar!"
"Iya sayang!" Adena tidak tahu apa yang terjadi dengan Agler jadi dia hanya bisa menuruti permintaan Agler.
Ikut berlari keluar rumah dan dia melihat ke sekeliling halaman rumahnya dan tidak menemukan siapapun di luar rumah, semua mobil masih di sini yang artinya Agler tidak membawa mobil ketika pergi keluar rumah.
Adena hanya bisa berdoa semoga Agler baik-baik saja, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
......................
Angin menderu kencang di langit, sentuhan cahaya ungu-hitam melintasi langit malam seperti komet yang melintasi bumi dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Kilatan cahaya hitam-ungu itu menghilang di atas kota Tokyo Jepang. Jika diperhatikan baik-baik di atas langit kota Tokyo ada seseorang yang melayang di ketinggian 700 meter dari permukaan tanah.
"Jarvis berapa lama saya terbang?"
{Hanya memakan waktu kurang dari 2 detik untuk terbang dari rumah sampai tempat ini}
"Masih ada sekitar 1 menit untuk Draith datang."
Agler mendarat di Tokyo tower dan menunggu monster itu datang.
"Jarvis tolong beritahu polisi tokyo untuk mengamankan warga Jepang dari kota tokyo selama saya membersihkan monster ini."
{Siap tuan, Jarvis laksanakan}
30 detik tersisa Agler segera melayang di udara, dia merasa gugup dan senang karena akan melawan monster yang tidak pernah ia bayangkan.
Hitungan mundur dimulai.
10...
9...
8...
...
5...
4...
3...
1...
Retakan ruang seperti kaca yang pecah muncul di atas langit kota Tokyo.
Agler mendekat dan berhenti di jarak 100 meter dari retakan itu.
Warga masih tidak menyadari adanya retakan itu dan masih beraktivitas seperti biasanya dan para polisi baru memulai untuk mengevakuasi warga.
Retakan semakin meluas dan menjalar hingga melebar sampai 100 meter dan tinggi 20 meter.
Pecahan retakan dimensi terbuka memperlihatkan ruang yang kacau begitu besar.
Warga Tokyo berhenti dari segala aktivitas nya dan para polisipun ikut berhenti melakukan evakuasi, mereka semua mendongak ke atas melirik retakan itu.
30 detik berlalu, tidak ada sesuatu apa pun yang keluar.
Tetapi Agler waspada dan bersiap karena ia merasakan momentum yang berbahaya dari sana.
Momentum itu semakin besar dan kuat, Agler segera berteriak dengan kencang hingga jarak 5 km masih bisa terdengar. "Run!!!"
Semua warga Jepang di tokyo segera berlari menjauh dan di bantu dengan para polisi, Agler fokus dengan ruang spasial besar yang aneh.
Agler melihat sesosok Monster seperti manusia yang berdiri dengan dua kakinya, berkepala banteng dengan dua tanduk yang aneh, seluruh tubuh berwarna hitam dan ada sedikit cahaya merah mengelilingi-nya, monster itu muncul di bibir ruang spasial berdiri dengan kapaknya lalu melihat ke bawah kota.
"Draith? tapi gua ga ngerasain hawa yang menakutkan dari monster itu."
Dia tidak dapat merasakan hawa yang sangat kuat dari monster itu, Agler memadatkan embun es menjadi bentuk tombak sepanjang 2 meter dan melesat cepat menuju Draith itu.
Draith itu merasakan krisis kematian dan melihat tombak yang cepat menuju dirinya.
Segera mengangkat kapaknya dan menangkis tombak itu.
Dentang!
Kapaknya berbenturan keras dengan tombak es Agler.
Melihat aksi draith ini, Agler sudah menilai kekuatan Draith, cukup kuat setara dengan 10 kali kekuatan manusia dewasa.
Membuat 10 tombak masih dengan ukuran yang sama terbuat dari es berkilau, dengan silauan cahaya putih, tombak itu melesat menunjuk ke arah Draith itu.
Tidak bisa menghindari tombak es, monster itu langsung hancur menjadi daging cincang tanpa berteriak.
"Cuma segitu?"
Apakah hanya satu monster Draith seperti ini saja yang menghancurkan Tokyo, sepertinya tidak, mungkin satu Draith.
Mungkin puluhan.
Tidak!!! Mungkin Ratusan Ribu!!!
Dia melihat para Draith keluar dari portal itu seperti semut yang bergerombol keluar dari sarangnya.
Draith loncat dari ketinggian 100 meter, tubuhnya masih utuh tidak terluka sedikitpun
Agler dengan cepat menggunakan kekuatan pikiran membentuk penghalang setengah lingkaran yang mengelilingi pusat portal Draith dengan diameter 1 kilometer.
Para Draith menghancurkan semua yang ada di depannya termasuk Mall dan hotel yang berada 1 kilometer di dalam penghalang yang Agler buat. Dia sudah memastikan tidak ada warga di dalam penghalang.
Draith melirik ke atas langit dan melihat sesosok yang melayang di atas mereka. Berteriak bersama hingga membuat suara dengungan yang kencang.
Kraaahhhh...!
Portal itu masih mengeluarkan pasukan Draith yang begitu banyak sampai mereka saling tertimpa satu sama lain.
Berusaha memecahkan penghalang pikiran Agler dengan kapaknya tetapi tidak berpengaruh apa-apa.
Para Draith meloncat dari portal, yang semakin lama semakin mengecil lebar ruang spasial itu, hingga akhirnya Draith terakhir terjun ke bawah.
Portal itu pun menghilang.
"Banyak banget Draith-nya!"
Momentum menakutkan yang dirasakan Agler berasal dari jutaan Draith yang bergerombol.
Draith saling menumpuk tinggi seperti semut yang dikumpulkan di sebuah gelas.
Para warga bersorak melihat ini, mereka diselamatkan oleh Saviorman.
Seorang pemuda dengan berani mendekati Draith, ingin sekali melihat dengan jelas monster-monster ini.
Mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh salah satu dari Draith.
Energi hitam-merah mengandung sedikit kekuatan penghancur dengan kilat meraih tangan pemuda itu.
Dang!!!
Kekuatan pikiran Agler menahan energi itu.
Pemuda itu terhuyung kebelakang dan jatuh di sana.
Terkejut dengan pemandangan yang terjadi barusan.
"Tolong menjauhi 2 km dari tempat ini"
Perintah Agler menggunakan Bahasa Jepang.
Polisi menyeret pemuda itu menjauh dari Barrier, warga pun ikut mundur ke tempat jauh dikawal oleh para polisi dan tentara Jepang.
Setelah melihat warga ini sudah cukup jauh dari pusat Draith, Agler segera meluncurkan serangannya.
Mengangkat tangan kanan nya di depan, mulai mengeluarkan energi sihir dari jarinya, Bola api berdiameter 100 meter muncul melayang di dalam penghalang.
Suhu api itu 100.000 derajat Celcius, segera menurunkan tangannya dan Bola api besar itu jatuh menabrak pada tumpukan Draith.
Graaaaahhhhh!
Para Draith berteriak kesakitan dan mulai mencoba melawan bola api itu menggunakan energi hitam penghancur dari semua Draith
Energi hitam memadat membentuk bola raksasa yang sebesar 150 meter, dan mulai bertabrakan dengan bola Api milik Agler.
Suara nyaring terdengar dari benturan kedua bola ini.
Mengangkat alis kanannya, Agler sedikit tertarik dengan cahaya hitam yang mengandung kekuatan penghancur ini.
Menambah output sihir ke bola api miliknya dan bertambah besar menjadi 170 meter.
Kedua bola masih bertabrakan seperti tidak mau kalah, efek yang dihasilkan membuat penghalang kekuatan pikiran Agler sedikit bergetar.
"Kelamaan kalo gini terus!"
Dengan perasaan kesal, Agler membakar sepertiga kekuatan cosmo-nya untuk memanipulasi gravitasi di sekitar tumpukan Draith dan membuatnya 10 kali dari gravitasi Aquater.
Boom...!
Tanah dibawah Draith menjorok kedalam hingga 10 meter dalamnya.
Draith merasakan sakit yang luar biasa, tubuhnya seperti ditumbuk oleh palu besar, organ dalam yang hancur dan berantakan.
Energi hitam mulai menunjukkan kelemahan, semakin kecil hingga akhirnya tertelan oleh Bola Api milik Agler.
Bola Api terus turun kebawah dan menghantam Jutaan Draith yang sekarat.
Duaarrr Nmek...!