
Pemandangan yang awalnya lubang reruntuhan kini disulap menjadi pemandangan alam yang sangat indah dan cantik. Entahlah, Alam yang dibuat Agler ini termasuk alam murni atau alam buatan.
Berdiri di tepi danau, Agler sedang memandangi genangan air yang tenang. Tatapan matanya terlihat sangat melankolis, kesedihan sangat menonjol pada matanya.
Tidak lama, tatapan sedih itu menjadi tatapan mata yang kosong. Nampak Agler yang sedang memikirkan sesuatu di dalam pikirannya atau dirinya sedang menenangkan perasaannya.
Agler berbalik badan membelakangi danau. Di depannya terdapat banyak sekali bunga yang bermekaran sangat cantik.
Kemudian dia melangkahkan kakinya ke depan, dan berjalan menyusuri tempat yang berbunga ini.
Saat Agler melewati setiap bunga di depan maupun di sampingnya, batang bunga itu meliuk dan menghindar seolah mereka semua memberikan jalan untuk Agler.
Semua tanaman yang akan dilewati olehnya, akan menyingkir dan membuat jalan agar Agler bisa melewati tempat ini dengan mudah.
Tampak Agler sedang membelah lautan bunga yang berwarna-warni sangat indah ini.
Kakinya terus melangkah, sembari tangannya menyentuh bunga yang ada di dekatnya. Tangannya membelai setiap bunga yang ada di jalannya.
Tidak tahu berapa lama dirinya berjalan, saat ini dia sudah sampai di tempat yang tumbuhi pohon yang besar dan tinggi. Tampilannya seperti pohon yang sudah berumur ratusan tahun.
Daunnya yang lebat dan lebar membuat cahaya matahari sulit untuk masuk. Melihat ini, Agler segera mengeluarkan tangannya untuk membuat pohon besar ini merenggang agar daun yang lebar itu tidak saling bersentuhan.
Udara segar banyak terkandung dari sini, orang-orang pasti senang datang ke sini untuk menikmati indahnya alam.
Setelah dirinya lama berjalan, Agler keluar dari kawasan pohon besar ini dan sekarang dia sedang ada di sebuah perumahan yang belum pernah ia kunjungi.
Sangat aneh jika orang melihat ini. Sebab, pohon besar dan perumahan ini tidak menyatu sama sekali, seperti dua tempat ini dari dunia yang berbeda.
Agler tidak mempedulikan masalah ini, dia membiarkan pemerintah setempat yang mengurus ini. Dia sekarang sedang memiliki hati yang sedang tidak baik, dan malas untuk berpikir banyak.
Sosok Agler bergerak, perlahan dia melayang di udara, dan saat berikutnya dia menghilang tanpa meninggalkan jejak ataupun lintasan saat dia pergi menghilang.
"Sungguh hebat! Aku tidak tahu dari mana asal kekuatan Saviorman dan juga bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan itu."
"Sudah lama kita mencari identitas Saviorman, tetapi hasilnya nihil, bisa dibilang mustahil."
"Walaupun dirinya sekarang masih dikategorikan sebagai orang yang baik, sewaktu-waktu bisa saja dia hilang kendali. Pada akhirnya dia menjadi jahat dan memusnahkan kita semua."
"Untuk saat ini, kita harus berbuat baik kepadanya, jangan sampai dia merasa terprovokasi dan memusuhi kita semua."
"Seperti tradisi kita, ramah lah kepada sesama dan saling menolong satu sama lain. Jauhi permusuhan dan dekatkan dengan namanya pertemanan."
Jenderal TNI berbicara kepada perwira tinggi yang ikut ke dalam helikopter tempur ini.
Dia berkata setelah melihat tempat terakhir Agler berdiri. Ekspresi wajahnya terlihat rumit ketika ia melihat ekspresi Saviorman sejak terjadinya ledakan yang menghilangkan sebagian besar wilayah Bogor.
Sebagai manusia biasa, dia tidak bisa membantu membantu Saviorman. Dia hanya bisa berharap untuk Saviorman, semoga Saviorman bisa terus berjuang untuk manusia dalam melawan para monster yang datang.
"Ayo kita kembali!"
Jenderal berkata sambil berbalik ke kursinya untuk duduk.
"Baik! Jenderal!"
Mendengar perintah Jenderal, Pilot segera menjalankan tugasnya sesuai dengan arahan.
Helikopter tempur itu terbang kembali menuju markas besar.
Lalu diikuti oleh helikopter tempur milik negara terdekat, karena mereka sudah melewati batas wilayah negara. Kejadian ini khusus untuk waktu seperti sekarang saja.
Mungkin ke depannya mereka tidak akan seenaknya asal masuk wilayah negara lain hanya untuk melihat Agler bertarung melawan monster.
...ΩΩΩΩΩΩ...
"Aku pulang ..."
Agler mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam.
Tapi saat Agler masuk ke dalam rumah, dia segera disambut oleh pelukan hangat.
Pelukan hangat ini berasal dari Adena dan wanita lainnya.
Wajah mereka semua terlihat sangat khawatir ketika melihat Agler.
"Jangan bersedih... Masih ada kita semua di sini... Berhenti murung seperti itu... Kita semua sangat khawatir padamu," rintih Adena begitu sedih dan juga takut.
Mereka semua melihat berita live yang menampilkan pertarungan Agler dan Ciberlyps. Pada adegan ledakan yang terjadi di atas kota Bogor yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Bogor hilang dan serta Agler pun menghilang karena mengorbankan diri untuk menahan ledakan ini, mereka semua ketakutan akan kehilangan sosok Agler.
Agler adalah orang yang paling berharga bagi mereka semua. Jika Agler terluka mereka pun tidak rela.
Selain Adena, mereka semua bingung ketika Agler menangis begitu pedih dan sifatnya menjadi berbeda setelah wilayah Bogor menghilang.
Adena menjelaskan semua sambil menangis tersedu-sedu kepada mereka, bahwa Agler masih mempunyai keluarga yaitu Bibi dan Pamannya, dan mereka semua tinggal di tempat yang sekarang diledakkan.
Seketika wanita yang lain menjadi sedih. Pasalnya mereka tahu betapa sakit dan perihnya ketika orang-orang yang dia sayangi pergi dan tidak akan pernah kembali.
Agler segera memeluk mereka semua. Tetesan air mata tak terasa berjatuhan membasahi pipinya.
Wanita-wanita ini memeluk Agler dari segala arah. Mereka berpelukan hampir 2 menit lamanya sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Jangan menangis lagi, kamu pahlawan kami semua, pahlawan anak-anak ini. Semua akan selalu ada untukmu, jangan pernah merasa sendiri lagi, Oke?" kata Adena tersenyum cerah sambil mengusap air mata Agler.
Senyuman Adena yang begitu cerah seakan menghilangkan semua kejahatan di dunia. Kesedihan yang Agler rasakan telah berkurang karena satu senyuman ini.
Tindakan begitu lembut membuat Agler semakin sayang kepada mereka semua.
Agler berjanji tidak akan ceroboh lagi, Agler benar-benar tidak ingin melihat orang yang dia cintai pergi begitu saja.
Lebih baik dia mati daripada orang yang dia cintai mati meninggalkannya.
Tapi sekali lagi, Agler kembali mengingat kejadian tadi.
"Agler! Lihat aku!"
Tiba-tiba, Cass yang jauh lebih tua dari Agler memegangi pundak Agler, membuat Agler menatap lemah ke arah Cass.
"Relakan semua yang telah terjadi! Jika kamu telah melakukan kesalahan, segera kamu perbaiki dan jangan pernah kau ulangi!"
"Kami semua di sini selalu ada untukmu di kala kamu senang maupun sedih! Aku mohon jangan seperti ini, kamu harus kuat!"
Cass segera memeluk penuh kehangatan tiada tara. Kekhawatiran yang mendalam berubah menjadi rasa sayang yang tak terbilang. Beginilah kondisi Cass dan wanita Agler yang lain sekarang.
Agler membalas pelukannya, air mata kesedihan menetes satu persatu.
Mereka berdua berpelukan sebentar, dan Cass melepaskan pelukan.
Anak-anak yang melihat ini ikut bersedih, mereka ingin sekali membantu Agler untuk keluar dari rasa kesedihan.
"A-abang Agler jangan nangis, kan masih ada Nayla di sini ..."
"Nayla sama Bang Farid dan yang lain sayang banget sama Abang Agler..."
Nayla berkata kepada Agler dengan ekspresi yang terlihat khawatir.
"Iya Bang! Kata Mamah aku 'laki-laki itu tidak boleh menangis' laki-laki itu harus kuat!" Farid menambahkan.
Mendengar ucapan anak kecil ini, Agler membalas tersenyum lalu memeluk anak-anak ini bersama.
Hati Agler telah merasa lega kali ini. Agler sangat bersyukur mempunyai keluarga seperti ini yang selalu support dan memberikan semangat.
...
Waktu berjalan begitu cepat, matahari mulai terbenam dan digantikan oleh bulan untuk menyinari malam.
Agler dan yang lain menjalankan kegiatannya di rumah seperti biasanya. Setelah mereka makan malam dan saling mengucapkan selamat malam satu sama lain, mereka segera tidur di kamarnya masing-masing.
Pada saat ini, Agler sedang berdiam diri di dekat jendela kamar sedang memandangi tenangnya malam.
Adena, Rem, Ghivana dan lainnya menghampiri Agler.
"Kamu masih sedih, Sayang?" tanya Adena yang berdiri di belakang Agler bersama wanita yang lain.
Mendengar ucapan Adena, Agler berbalik menghadap mereka semua.
"Tidak.. Aku hanya ingin menikmati dinginnya malam," Agler menjawab sambil menatap wajah wanitanya.
"Kenapa begitu?" tanya Adena dengan ekspresi wajahnya yang penasaran. Agler tidak biasanya melakukan hal ini. Dia biasanya tanpa basa basi langsung bermain dengan mereka, akan tetapi kali ini dia berbeda.
"Tidak apa-apa... Aku baru tahu rasanya jika hidup tanpa adanya keluarga. Rasanya sama seperti malam ini, dingin dan gelap tanpa adanya kehangatan dan cahaya dalam kehidupan."
Setelah Agler mengatakan itu, para wanitanya segera memeluk Agler bersama-sama penuh rasa kehangatan, lalu mencium pipi Agler dengan penuh rasa sayang.
"Bagaimana kalau sekarang?"
Adena, Rem, dan wanita yang lain menatap Agler dengan senyum tulus di wajahnya.
Melihat ini, Agler mengangkat kepalanya sambil memejamkan matanya, lalu dia menghembuskan nafas dan kembali menatap para wanita yang ada di depannya.
"Hah~.... Dasar kalian... benar-benar membuatku tidak tahan."
Agler menggelengkan kepalanya tidak berdaya sambil menutupi mukanya. Mereka hebat sekali dalam membuat adik kecilnya terbangun. Rasa kesedihannya telah berkurang banyak, jadi dia siap untuk membantai para wanita yang cantik dan seksi ini.
Saat dia menatap Adena dan yang lain lagi, dia tersadar bahwa mereka sedang mengenakan baju haram. Dua gunung dan Goa itu tidak lagi terjaga, dia bebas menjelajahinya sepuas hati.
"Aku mulai dari kamu dulu, Adena~"
Kemudian Agler menarik Adena ke atas ranjang dan memulai sesi pertarungan yang MENEGANGKAN.
Dilanjutkan dengan wanita yang lain secara berurutan.
...ΩΩΩΩΩΩ...
[Bavdrago Sword Legend (S-Rank)]
[Bavdrago Level S : Exp (0/1.000.000)]
[Efek Kemampuan: 2/5]
[1. Meningkatkan kerusakan pada makhluk jahat]
[2. Pedang tidak akan rusak]
[3. Beregenerasi jika rusak]
[4. Terkunci]
[5. Terkunci]
"Aku kira ada peningkatan yang signifikan setelah melakukan upgrade. Ternyata hanya fitur penyembuhan ketika pedang ini mengalami kerusakan."
Agler berkata sambil melihat-lihat pedang Bavdrago di tangannya. Dia memperhatikan setiap sudut pada pedang ini tetapi dia tidak menemukan tampilan baru. Hanya ada aura putih yang semakin banyak yang menyelimuti bilah pedang ini. Selain itu, tidak ada lagi yang spesial, bisa dibilang peningkatan pedang Bavdrago termasuk agak hambar dari yang lain.
[Ding!]
[Terdeteksi terdapat dua bahan yang dapat melakukan fusion!]
[Tubuh Ciberlyps + Tubuh Marshall D Teach \= ???]
[Apakah tuan ingin melakukan penggabungan sekarang?]
[Iya/Iya]