
Sinar emas dengan sinar hitam saling bertemu, dan saling beradu satu sama lain dengan keras.
Suara dengungan yang sangat dahsyat terdengar nyaring.
Segala sesuatu yang di jangkauan beberapa ratus meter dari titik tempat bertemunya dua sinar yang kuat itu hancur berkeping-keping.
Darah para Gycleps menghilang menjadi ketiadaan.
Pertemuan dua sinar ini menghancurkan tanah yang ada di bawahnya.
Semua orang tercengang melihat ini, dan tanpa sadar mulutnya terbuka lebar serta matanya membelalak terkejut.
Detik waktu berlalu begitu saja, sinar emas Agler menunjukkan tanda-tanda melemah di setiap detiknya.
Output chakra yang dia keluarkan untuk melakukan serangan sangat besar, hampir semuanya ia gunakan.
Tetapi, serangan Agler yang begitu kuat untuk membelah bulan pun kalah dengan sinar hitam ini.
Sinar hitam ini seperti tidak terkalahkan.
Ekspresi yang ditunjukkan Agler tidak benar, dia merasakan sesuatu yang buruk dengan ini.
Benar saja. Sinar emas Agler kalah dalam melawan sinar hitam ini, dan seperti didorong oleh sinar hitam ini kembali kepada Agler.
Sinar hitam Ciberlyps menelan sinar emas Agler dan terus maju dengan kilatan yang sangat cepat mengarah ke Agler.
Agler bergerak sangat cepat, dia segera melepaskan serangan laser emas, dan langsung membentuk dinding yang terbuat dari beberapa elemen. Diakhiri dengan dinding dari kekuatan pikiran telekinesisnya.
Namun sayang, pertahanan yang Agler buat tidak absolut di hadapan sinar hitam ini.
Sinar hitam itu menghancurkan dinding-dinding yang menghalangi dan melindungi Agler dengan mudahnya, bagaikan menghancurkan wafer yang renyah.
Bukannya dinding ini tidak berguna sama sekali. Nyatanya dinding ini tidak sia-sia Agler ciptakan, setidaknya itu mampu untuk mengubah arah sinar hitam ini berbelok agar tidak mengenai dirinya.
Akan tetapi…
Apa yang Agler lakukan adalah kesalahan yang sangat fatal.
Sinar hitam itu melesat hampir mengenai Agler, tetapi sinar itu tidak menghilang setelah melewati Agler begitu saja.
Tapi, sinar itu terus meluncur bahkan menghancurkan Mind Barrier yang telah dipasang oleh Agler untuk mengelilingi Terrain of Earth.
Dan pada akhirnya sinar itu keluar dari Terrain of Earth dengan cepat, dan bergerak menuju Gunung Salak.
“TIDAK!!!“
Agler segera mengerahkan seluruh kecepatannya untuk mengehentikan sinar ini.
Dia melesat dengan cepat, mencoba sebisa mungkin menyusul kecepatan sinar hitam yang terbang sangat cepat ini.
Kedua sudut mulut Ciberlyps naik, dia tersenyum jahat sambil menatap Agler yang bersusah payah untuk menghentikan tembakan sinar hitamnya ini.
Lingkaran birunya bertambah terang menyiratkan bahwa Ciberlyps meningkatkan output energi sinar hitamnya, dan itu membuat sinar semakin cepat dan kuat.
Dan lingkaran birunya berhenti mengeluarkan sinar hitam lagi.
Dalam gerakan lambat, Agler berhasil menyusul sinar hitam ini. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan sinar ini untuk tidak menabrak Gunung Salak karena keterbatasan waktu yang dia punya.
Tanpa berpikir panjang, dia mengaktifkan sihir raksasanya, dan mengorbankan tubuhnya untuk menghadang sinar hitam ini.
"Bodoh!"
Ciberlyps mencemooh tindakan Agler ini. Menurutnya apa yang dilakukan Agler sekarang adalah sesuatu tindakan yang bodoh, dia bisa bilang seperti itu bukan tanpa sebab.
Sinar hitam itu menghantam Agler dan meledak sangat dahsyat.
Tapi Agler seolah tidak peduli dengan tubuhnya dan sempat-sempatnya bergerak pada saat ini, dia memeluk ledakan sinar hitam ini memakai tubuhnya, bertujuan untuk tidak menghancurkan daerah yang ada di bawahnya.
Sangat disayangkan, apa yang Agler lakukan itu masih belum cukup untuk membatalkan ledakan ini.
Sinar hitam itu meledak dengan kekuatan yang cukup menghancurkan satu planet kecil.
Segera tubuh Agler mengembang seperti balon udara.
Seluruh tubuhnya semakin membengkak, hingga wajahnya yang besar tidak berbentuk seperti wajah manusia lagi.
BOOOMMM...!
Detik berikutnya, tubuhnya tidak mampu menahan efek ledakan dan menghilang ditelan oleh ledakan ini.
Di atas daerah Bogor dan sekitarnya bola ledakan yang sangat besar melayang, dentuman yang kencang, serta gelombang kejut ditampilkan pada saat ini.
Ledakan itu terus mengembang hingga menghancurkan kawasan Bogor.
Bumi seakan terguncang, orang-orang yang berada di dekat daerah bogor merasakan tanah bergetar seperti gempa, termasuk Jakarta.
Melihat ini, semua orang berdiam diri terpaku di tempatnya masing-masing, menatap kosong ke arah televisinya di Rumah.
Dunia menjadi sunyi dalam sekejap, semua orang tidak berhenti bergerak, tidak percaya apa yang mereka lihat sekarang.
Terlihat kawah yang sangat luas menggantikan sebagian besar daerah Bogor. Segala sesuatu yang ada di lubang besar dan dalam ini lenyap tak tersisa.
Lubang ini sedikit menyerempet ke area kaki Gunung Salak. Hanya terdapat bongkahan batu tanah di lubang ini, bahkan puing-puing bangunan hancur tanpa ada sisa.
Tidak ada yang tahu hidup dan matinya penduduk yang tinggi di daerah itu, kemungkinan besar mereka telah tiada.
"Saviorman gagal...?"
"Apa dia mati oleh ledakan itu?!"
Jenderal besar TNI AD bertanya kepada prajurit tentara dan rekannya yang ada di sampingnya.
Tapi, tidak ada satupun yang menjawab. Hanya ada ekspresi yang sedih, dan keengganan di setiap wajah mereka.
"Lihat itu!"
Salah satu anggota tentara, menunjuk pada monitor yang menampilkan kondisi terkini pada lubang besar yang menghilangkan Saviorman bersama daerah Bogor.
Segera semua orang kembali menonton layar kacanya sendiri.
Mereka semua melihat sosok yang berdiri di tengah-tengah lubang yang dalam itu.
Kamera acara berita memperbesar tampilan itu hingga semua orang dapat melihat dengan jelas apa sosok itu.
Sebuah gambar foto yang terlihat sedikit rusak, tergeletak di tanah tepat di depannya.
Foto itu menampilkan gambar dari sebuah keluarga besar yang lengkap.
"Aku sedang bermimpi kan?"
Sosok itu berkata lemah, wajahnya sangat pucat sambil menatap foto yang ada di atas tanah.
Kemudian dia membungkukkan tubuhnya untuk meraih foto ini.
Mata sosok itu terbuka lebar serta pupil cokelatnya bergetar, Sosok itu melihat foto ini sambil mengelus dengan jari jempol tangannya.
Tanpa sadar air matanya menetes ke pipinya, semakin lama air matanya berjatuhan. Beberapa tetesan mata mendarat di atas foto itu sebelum mengalir dan jatuh ke tanah.
"Maafkan aku, Bibi dan semuanya... Aku gagal menjaga kalian ..."
Sebuah ucapan kesedihan terdengar dari sosok itu dengan sangat lirih penuh penyesalan.
Sosok itu adalah Agler yang beregenerasi kembali dari satu sel yang tersisa di udara.
Apa yang dia pegang adalah sebuah foto keluarga Agler sebelumnya yang disimpan oleh Bibi pertama.
Semua keluarga yang tinggal di Bogor tewas akibat ledakan ini.
Sejauh mata memandang Agler tidak menemukan satu pun bongkahan atau puing dari bangunan rumah bibinya. Dan itu artinya mereka semua hilang dan telah tiada di Dunia ini.
"Maafkan aku... A, Aku—"
Kalimat yang ingin diucapkan Agler terpotong. Dirinya merasa ada sesuatu yang menepuk bahunya dari belakang. Dia segera berbalik dan tidak melihat siapapun.
Namun saat dia mendongak ke atas, dia melihat sosok samar-samar seperti ratusan ribu orang melayang di atas langit.
Dipimpin oleh sosok sebuah keluarga, mereka semua melambaikan tangan ke arah Agler.
Setelah itu mereka semua terbang ke langit dan menghilang dari pandangan Agler.
Agler mengulurkan tangannya ke langit seolah dia sedang menggapai sesuatu sambil berlutut di tanah.
"Maaf ..."
Kata itu diucapkan oleh Agler, terdengar sangat menyedihkan.
Kepala Agler tertunduk sambil berlutut di tanah. Foto itu masih ia pegang di tangan kirinya.
Dia berdiam diri di sana tanpa adanya pergerakan selama beberapa detik.
"Sangat lemah! Kau tidak pantas melindungi Planet ini! Hanya kehilangan beberapa orang sampai sedih seperti itu ...!"
"Lebih baik kamu pulang dan tidur siang, Hahaha!"
Ciberlyps mencaci maki Agler dengan perkataannya yang meremehkan. Dia tertawa sangat puas melihat hasil dari serangannya.
Dia terus menatap Agler dari Terrain of Earth milik Agler sambil tertawa penuh kesenangan.
"Hei, Makhluk yang lem—"
"Berisik!"
Ucapan Ciberlyps terpotong oleh Agler. Kemarahan mulai naik dari dalam hati Ciberlyps.
"Apa kamu bilang?!" tanya Ciberlyps dengan nada yang tinggi.
"Aku bilang kau berisik... Bajingan!!!" balas Agler dengan niat membunuh yang tak tertahankan.
Agler bangkit dari tanah, dia berdiri tegak menghadap Terrain of Earth miliknya sendiri.
Foto keluarga yang sedikit rusak dia masukkan ke dalam ruang sistem.
"Kau sama seperti Pemimpin Draith yang bodoh itu. Berpura-pura kuat tapi nyatanya lemah!" Ciberlyps mencibir penuh ekspresi ejekan di wajahnya.
Dia menatap Agler dari tepi Terrain of Earth, sambil memegang palu di tangannya.
Agler mengangkat kepalanya dan pandangannya mengarah kepada Ciberlyps.
Mata itu menatap Ciberlyps dengan tatapan yang sangat tajam. Tubuhnya memancarkan aura yang mengerikan, bahkan melebihi aura yang dikeluarkan oleh Ciberlyps.
Tatapan itu membuat tubuh Ciberlyps bergetar tanpa sadar. Keringat keluar dari pori-pori kecil di tubuhnya. Membasahi sedikit demi sedikit bulu lebat yang tumbuh di seluruh tubuhnya.
Tidak sengaja Agler menggunakan haki-nya saat menatap tajam pada Ciberlyps.
Dan membuat Ciberlyps merasakan sesuatu hal yang mengerikan.
"Persetan denganmu, Makhluk lemah!"
Ciberlyps memaksakan diri dari rasa ketakutannya kepada Agler dengan mengucapkan kalimat itu.
"Rasakan ini untuk kedua kalinya!"
Lingkaran biru di punggungnya bergerak sekali lagi. Membidik Agler dan siap menembakkan sinar hitam pada Agler.
"Cukup! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" Agler berkata dingin.
Saat itu juga...
Tubuh Agler mulai berubah, tiga pasang sayap berwarna putih bersih tumbuh dari punggung Agler. Keenam sayap itu membentang sangat jauh, membuat tampilan Agler tampak seperti seorang malaikat yang dikirim dari langit.
Semua orang yang melihat ini langsung terkejut tidak percaya. Seketika mereka menganggap bahwa Agler adalah perwujudan dari seorang malaikat yang baik. Mereka tidak menyangka jika Agler adalah sosok yang begitu suci.
"Malaikat?!" Ciberlyps berkata tanpa sadar ketika melihat bentuk Agler seperti ini.
Semua pandangan mereka terhadap Agler itu salah. Agler sama sekali tidak memiliki garis darah malaikat, melainkan Flugel.
Tidak sampai disitu, dua pasang sayap tumbuh lagi di punggung Agler, dan kali ini berbeda.
Dua sayap berwarna biru-ungu itu direntangkan, ukuran panjang sayap ini lebih lebar dari keenam sayap yang tumbuh di awal tadi.
Perubahan terjadi pada keenam sayap berwarna putih ini. Nampak sebuah kobaran api perlahan menyelimuti keenam sayap, dan mengubahnya menjadi seperti dua pasang sayap biru-ungu.
Sepuluh sayap membentang dengan megah, menampilkan sosok Agler yang terlihat cantik dan gagah di saat bersamaan.