Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Beralaskan Tikar


"Oh Ssssiiiitttttt..!!!" umpat Faraz antara kesal dan ingin tertawa.


Alia menutup wajah dengan tawanya karena merasa malu dengan apa yang terjadi.


"Aarrrgh! Padahal sedikit lagi," keluh Faraz.


Alia mulai menggerakkan tubuhnya dan merasa seluruh tubuhnya terasa sakit.


"Aowwh Sssstttt," ringis Alia.


"Kau tidak papa?" tanya Faraz mencoba membantu Alia bangun.


Belum juga mereka bangun dari ranjang Ambruknya suara Ibu terdengar memanggil namanya.


"Alia apa yang terjadi?"


"Hagh! Ibu," lirih Alia panik.


Faraz pun tak kalah panik dan melangkah kesana kemari.


"Faraz bajuku," lirih Alia yang melihat Faraz hanya bingung.


"Alia, Ibu mendengar ada suara yang jatuh, Apa Kau baik-baik saja?"


"Ya, Aku baik-baik saja Ibu, Hanya ranjangnya saja yang ambruk, mungkin tidak kuat untuk tidur kami berdua, Ibu tau kan kalau ranjangnya sudah tua?" pekik Alia yang sambil memakai bajunya.


Ibu yang mendengar jawaban Alia terdiam dan langsung meninggalkan kamarnya.


Faraz dan Alia menunggu jawaban Ibu. Namun sampai beberapa menit, mereka tidak lagi mendengarnya.


"Huft!" Keduanya menghelai nafas lega.


Alia kembali mencoba berdiri. Namun Ia kembali merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Apakah ini yang di namakan sudah jatuh ketimpa tangga?" ucap Alia yang tak henti-hentinya meringis sakit dan menahan tawa secara bersamaan.


"Jadi Kau menganggap suami mu ini tangga?" ucap Faraz sembari membantu Alia turun dari ranjang ambruk itu.


"Aku rasa Kau lebih berat dari tangga," ucap Alia tertawa.


"Awhhh," Alia hampir saja terjatuh saat Ia mencoba berdiri.


"Sekarang Kita tidur di mana?" tanya Faraz sembari menopang tubuh Alia.


"Dimana lagi, Kita harus tidur di lantai beralaskan tikar," ucap Alia.


Tenntu ini akan menjadi pengalaman pertama untuk Faraz yang harus tidur di lantai beralaskan tikar. Namun rasa cinta yang kini tumbuh subur di hatinya, Tidak lagi membuatnya mengeluh.


Alia meletakkan dua bantal di atas tikar.


Faraz terlebih dahulu membaringkan tubuhnya.


di ikuti oleh Alia yang menyusup masuk ke lengan Faraz sembari memeluk Faraz yang bertelanjang dada.


Alia mendongakkan kepalanya menatap Faraz.


Faraz terseyum membelai rambut Alia dan menhecup keningnya.


"Masih ingin melanjutkan?" goda Faraz.


"Cck tidak, Badanku sakit semua," ucap Alia menaikan kepalanya di dada Faraz dengan manja.


Faraz terseyum mempererat pelukannya. Kemudian mereka sama-sama memejamkan matanya.


Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang.


Alia mulai membuka matanya.


Ia yang tidur berbantal lengan Faraz tersenyum mengingat apa yang terjadi semalam.


perlahan Alia menurunkan tangan Faraz dari pundaknya dan beranjak bangun untuk membersihkan diri.


Faraz yang mendengar suara pintu terbuka mulai membuka matanya dan melihat Alia tidak ada di sisinya.


Ia menggelengkan kepalanya dan terseyum sendiri, Ini kejadian yang sangat menjengkelkan. Namun membuatnya tertawa jika diingat kembali.


°°°


Teeeettttt...


Suara klakson mobil mengagetkan Mereka yang tengah menikmati sarapan pagi.


Alia dan Ibu saling memandang. mereka sama-sama merasa suara mobil itu ada di depan rumahnya.


Sementara Faraz terlihat santai menikmati sarapannya.


"Apa Ibu merasa mobil itu ada di depan rumah kita?" tanya Alia.


"Ya, Ibu rasa juga begitu."


Belum sempat mereka beranjak dari duduknya, Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Ibu dan Alia segera bangkit dari duduknya dan melangkah membuka pintu.


"Permisi Ibu, Kami ingin mengantar pesanan dari Tuan Faraz," ucap Pria itu.


Alia melihat ke pelataran rumahnya dan melihat spring bed berukuran sedang di atas mobil pick up itu.


"Spring bed?" tanya Alia memastikan.


"Ya," saut Faraz yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alia.


"Faraz Kau..."


"Kau apa, Ranjang mu sudah tidak bisa di gunakan lagi," ucap Faraz memotong ucapan Alia.


"Ee... Kalian bisa mengeluarkan ranjang di kamar kami dan memasukan Spring bed ini ke dalam, Bawa kemanapun ranjang ambruk itu, Aku akan membayarnya lebih," ucap Faraz.


"Baiklah Tuan," ucap Dua orang Kurir yang mengantar Spring bed itu.


"Ibu, Aku akan segera memperbaiki rumah Ibu dan mengganti seluruh perabotan yang sudah tua, Tapi Aku butuh waktu untuk mengurus ini semua," ucap Faraz.


"Tidak perlu Faraz, Rumah ini kan masih ngontrak." ucap Ibu yang langsung masuk kedalam.


"Alia, Jadi rumah ini masih ngontrak?" tanya Faraz terkejut.


"Iya, Kami kan hanya perantau dan Kamu tau Aku hanya kerja menjadi pelayan jadi mana mungkin Aku bisa membeli rumah di Jakarta," jelas Alia.


"Kenapa selama ini Kau tidak menceritakan ini padaku, Lalu rumah Ibu mu yang sebenarnya?"


"Rumah Ibu ya... yang sekarang di tempati Oleh Sahid dan keluarganya, biasa kan kalau orang Jawa Anak lelaki bungsu yang berhak menempati rumah pokok,"


Faraz terdiam mendengarnya.


"Setelah menikah Anak gadis akan mengikuti suaminya, Begitupun dengan Ibu, Namun setelah kematian Ayahku, Ibu merasa tidak nyaman hanya tinggal bersama Ayah mertua dan istri barunya, Jadi Aku mengajak Ibu untuk ikut bersama ku, Ya hanya ini yang bisa ku berikan pada Ibu," ucap Alia terseyum sedih.


Faraz mengusap punggung Alia kemudian memeluknya.


"Sekarang Kau tidak perlu khawatir, Aku akan mengurus segalanya," ucap Faraz mengecup ujung rambut Alia dengan penuh kasih.


"Permisi Tuan," ucap Dua orang Kurir yang keluar menggotong ranjang yang ambruk.


Faraz melepaskan pelukannya dan merah tangan Alia untuk menepi.


Dua orang Kurir itu kembali masuk dengan membawa spring bed itu sebagai gantinya.


Faraz dan Alia saling menatap dan tertawa mengingat apa yang terjadi semalam.


"Setelah ini Kita pulang ke rumahku, Aku harus menyelesaikan yang semalam terhenti gara-gara ranjang ambruk itu" ucap Faraz terkekeh geli.


Alia kembali tertawa menutup wajahnya.


Bersambung...