Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Melahirkan


"Siapa lagi Dia Maaasss...." pekik Alia mearik tangan Faraz hingga meninggalkan goresan luka di kulitnya


"Dia Dina Sayang."


"Aku tidak peduli namanya, Aku hanya ingin tau apa hubungan kalian?"


pekik Alia sembari menahan rasa sakitnya.


"Tenanglah Nyonya, Kami hanya pernah satu sekolah, Itu pun tidak lama, Karena Faraz sekolahnya lebih cepat dari Kami,"


"Jadi sekarang Kamu jadi Dokter?" tanya Faraz.


"Seperti yang Kamu lihat."


"Jadi kalian ingin mengenang masa sekolah Kalian dan mengabaikan ku, Aaaaaaaaa...."


"Dina, Tolong cepat tangani istriku, Aku akan mengurus administrasinya."


"Baiklah jangan khawatir."


Dokter pun menyuruh perawat membawa Alia ke ruang bersalin.


Dan tidak lama kemudian wanita yang berada di kamar Faraz datang dengan membawa pesanan Faraz.


"Ini Tuan."


Tanpa berterimakasih, Faraz langsung mengambil dan memakai pakaiannya.


"Bagaimana keadaan istri Anda?"


"Dokter baru saja menangani."


"Semoga Bayi dan Ibunya selamat,"


"Berdoalah, Karena jika tidak, Kau yang tidak akan selamat." ucap Faraz lalu pergi meninggalkannya.


Setelah mengurus administrasi, Faraz kembali ke ruang operasi.


Terlihat wanita itu masih duduk di kursi tunggu.


Sedangkan di dalam Dokter terus menginstruksikan Alia agar bisa melahirkan dengan normal.


"Tarik napas lalu hembuskan perlahan,"


Alia mengikuti arahan Dokter.


"Sekarang fokuskan perhatian Anda, Tarik napas perlahan melalui hidung, kemudian buang melalui mulut."


Alia terus mengikuti arahan Dokter.


Faraz yang benar-benar merasa khawatir dengan Alia yang harus melahirkan lebih awal dari perkiraan langsung menerobos masuk ke ruang bersalin.


"Dina, Izinkan Aku menemani istriku,"


"Aku tidak mau, Aaaaaaaaa..... Oweee... Oweee.. Oweee..."


Faraz terperangah melihat bayinya yang telah lahir begitu Ia masuk.


"Hah... Bayiku...." Alia begitu terharu melihat bayinya yang di letakkan di perutnya.


"Sayang... Bayi Kita." Faraz mengecup kening Alia bebarengan dengan mengusap bayinya.


"Kami bersihkan dulu ya," ucap Perawat mengambil bayinya dari perut Alia.


"Sayang..."


Alia yang tersadar kembali marah pada Faraz.


"Jangan sentuh Aku, Keluarlah dari sini!" pekik Alia.


"Sayang biarkan Aku mendampingimu, Kamu masih harus melahirkan satu bayi lagi."


"Tidak! Aaaaaaaaa...." Alia kembali merasakan kontraksi yang luar biasa.


"Dina cepat bantu istriku."


"Tentu, Tapi Kamu akan menghilangkan konsentrasinya, Pergilah, Tunggu istrimu di luar."


"Tidak, Aku ingin mendampinginya." Faraz bersikeras mendampingi Alia.


"Aku tidak mau melihat mu! Aaaaaa...."


"Sayang marahlah padaku, Keluarkan semua kekesalan di hati mu, Kamu tidak akan merasakan sakit saat melahirkan."


"Omong kosong! Aaaaa... Dasar penghianat!"


Di saat bersamaan Alia juga merasa bayinya Akan Segera keluar.


Dengan menggigit tangan Faraz dengan kuat tangis bayi pun kembali memenuhi ruang bersalin.


"Oweee... Oweee... Oweee...."


Dengan rasa perih di tangan dan anggota tubuh lainnya Faraz menghelai nafas lega, Akhirnya kedua bayinya lahir dengan selamat.


Alia mengatur nafasnya yang begitu bergemuruh.


"Bayi kembar laki-laki," ucap Dokter meletakkan bayi yang baru di lahirkan ke perut Alia.


Sedangkan Bayi yang telah di bersihkan di berikan pada Faraz untuk di Adzani.


Alia mengusap bayinya dengan sisa tenaganya.


Rasanya ingin langsung tidur saat itu juga.


Namun Air matanya kembali mengalir mengingat apa yang Faraz lakukan padanya.


Faraz yang melihatnya memberikan bayinya pada Suster dan mengusap lembut kepala Alia.


"Sayang... Dengar kan Aku," Faraz berlutut di lantai sambil mengusap-usap kepala Alia dan berbisik lembut di telinganya.


"Aku sering kali mengatakan padamu, Jika Aku ingin bersama mu bukan hanya di Dunia ini, Aku menginginkan mu bahkan setelah kematian Ku, Hidupku sudah begitu sempurna bersama mu, Lalu apa lagi yang kucari? Faraz terus membisikkan kata-kata cinta di telinga Alia hingga membuatnya tenang.


"Aku sangat-sangat mencintaimu Sayang, Jika ada kata yang lebih tinggi dari cinta, Itulah perasaan ku padamu."


Alia yang mendengarnya menatap Faraz dengan tatapan sendu.


"Sayang, Dia hanya mengantarku, Tidak ada yang terjadi di antara kami."


"Jika tidak ada, Kenapa Mas melarang ku masuk dan menyembunyikannya di kamar?" tanya Alia dengan nada datar.


"Mas sangat panik saat membuka mata melihat ada wanita lain di kamar Kita, Belum sempat Mas bertanya padanya, Kamu sudah pulang, Mas takut kamu salah faham."


"Wanita mana yang tidak salah faham jika ada wanita lain di kamar suaminya,"


"Mas tau, Tapi Mas benar-benar tidak tau ada wanita lain tidur di kamar Kita, Mas sangat mencintaimu, Mas tidak mungkin menghianati mu, Apa lagi di Kamar Kita."


"Lalu story' di account Mas?"


"Mas tidak tau masalah story', Mungkin salah satu dari Mereka ada yang memegang ponsel Mas dan mempostingnya."


"Itu benar Nyonya, Teman-temannya yang memaksanya minum."


Faraz dan Alia secara bersamaan menoleh ke wanita itu yang tiba-tiba masuk.


"Tuan Faraz sudah menolak untuk minum dan mengatakan tidak ingin membuat Anda menunggu terlalu lama di rumah, Tapi Mereka terus memaksanya hingga Tuan Faraz mabuk, dan karena tidak ada yang mau mengantarnya, Mas Rendy meminta Saya yang mengantarnya, Tapi percayalah tidak ada yang terjadi diantara Kami."


"Kamu dengar itu?"


"Kenapa Aku harus percaya dengan Kalian? Apa jaminannya Mas tidak melakukan apa pun, Mas kan mabuk?"


"Kamu." jawab Faraz singkat.


"Aku?" tanya Alia bingung.


"Ya, Apa Kamu tidak ingat saat Kamu membawa Mas kerumah mu saat pertama kalinya? Saat itu Mas mabuk, Kita tidur dalam satu kamar, Apa Mas menyentuh mu, Apa Mas melakukan sesuatu padamu?"


Alia terdiam mengingat hari itu.


"Tuan Faraz memang mabuk, Tapi Saya tidak, Saya juga seorang wanita, Kelak Saya juga akan menikah dan memiliki anak, Saya tidak ingin kejadian yang sama menimpa rumah tangga Saya, Saya memang salah karena tidur di kamarnya, Untuk itu Saya minta maaf."


Alia yang mendengar penjelasan Mereka, Hatinya mulai mencair.


"Tuan Faraz sangat mencintai Anda, Baik dalam keadaan sadar ataupun tidak, Tuan Faraz terus memanggil nama Alia Alia Alia.


Hanya nama itu yang terus terucap sampai Beliau tertidur.


"Anda di bayar berapa untuk mengatakan ini?" tanya Alia dengan rasa haru dan kesal.


"Saya belum mendiskusikannya, Tapi jika memang ingin membayar, Saya Akan meminta bayaran lebih tinggi dari gaji selama setahun di perusahaan." ucap wanita itu tertawa.


"Sekarang kamu percaya?"


Alia memukul dada Faraz dengan perasaan yang tak karuan.


Faraz terseyum dan memeluk Alia, Kemudian mengecup kepalanya dengan lega.


Bersambung....


HABISSSS FARAZ DI MAKI-MAKI, UDAH BACA DARI AWAL MASIH GAK KENAL MAS FARAZ AJA, DARI JAMAN KAVITA KAN BUCIN AKUT, MANA MUNGKIN FARAZ SELINGKUH DARI ALIA YANG TIDAK MEMILIKI CACAT CELA 🤣🤣