
Faraz sampai di rumah dan membanting pintu kamarnya.
Ia kembali mengingat saat Pria itu memasukkan cincin ke jari manis Alia.
"Aaarrrrgghhhhhh!!!" Faraz langsung membanting barang-barang yang ada di dekatnya.
"Ternyata Kau sama saja Alia!" triak Faraz sambil menendang apa yang bisa ia jangkau.
Kemudian Ia mengambil botol minuman yang di sembunyikan di laci lemari pakaiannya.
Faraz mulai menenggak minuman haram tersebut.
Tak lama kemudian Alia sampai dirumah, Alia masuk ke kamar dan begitu terkejut melihat kamar yang begutu berantakan seperti kapal pecah,
Alia yang melihat Faraz terduduk lesu di lantai langsung berlari mendekatinya.
"Faraz apa yang terjadi?" tanya Alia memegang lengan Faraz.
"Jangan sentuh Aku dengan tangan kotor mu itu!" ucap Faraz mendorong Alia.
Alia terjatuh di lantai dan merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Ada apa Faraz? Kenapa kamu tiba-tiba marah padaku?"
Faraz tak menjawab dan kembali menenggak minumannya.
"Faraz kenapa Kau minum lagi?" Alia mencoba merebut botol minuman dari tangan Faraz.
"Siapa Kau berani menghentikan ku?" triak Faraz dengan mata merah yang membulat sempurna.
"Aku adalah istrimu Faraz dan Aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Alia kembali mencoba merebut botol itu dari tangan Faraz.
"Aku baru menyebut mu istri sekali di depan Ibu ku, lalu Kau fikir Aku sudah benar-benar menerima mu sebagai istriku?" ucap Faraz mencengkeram lengan Alia.
Alia menggelengkan kepalanya seakan tak percaya melihat Faraz yang kembali kasar padanya.
"Jangan karena Aku bersikap baik padamu beberapa hari ini lalu Kau fikir Aku sudah menerima mu, karena Aku tidak akan pernah menerima wanita penghianat sepertimu.
Wanita yang berpura-pura mengurusku dengan baik padahal di belakangku berkencan dengan laki-laki lain!"
Alia yang mendengar ucapan Faraz mengangkat tangan ingin menamparnya. Namun dengan sigap Faraz memegang tangan Alia.
"Jangan pernah berani mengangkat tangan kotor mu ini kepadaku!" ucap Faraz melepas tangan Alia dengan kasar.
"Aku fikir Kau wanita baik-baik, Aku fikir Kau beda dari yang lain, Tapi kenyataannya Kau sama saja dengan mereka, sama-sama perempuan miskin yang rela jual harga diri demi..."
"Cukup Faraz..... Cukup...." ucap Alia datar dangan mata berkaca-kaca.
"Cukup atas semua penghinaanmu, Aku tidak ingin mendengarnya lagi,
Sejak kita menikah Kau selalu menghinaku, Selalu merendahkan ku, Kau tidak pernah menghargai ku sebagai istrimu, tapi Aku tetap berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, tapi hari ini Aku sudah tidak tahan lagi, Kau benar-benar sudah melewati batas mu."
Dengan tetesan air mata, Alia mengemasi pakaiannya.
Faraz hanya terdiam melihat Alia berkemas, di hatinya masih di kuasai rasa cemburu dan kemarahannya.
Alia selesai berkemas dan keluar dari kamar Faraz.
"Pergilah... Aku tidak membutuhkan wanita penghianat sepertimu!" triak Faraz melemparkan botol minumannya ke arah pintu hingga pecah berkeping-keping.
Alia menghentikan langkahnya sejenak dan nenutup telinganya
Kemudian kembali melangkah turun.
Ibu Zeenat yang melihatnya menghentikan langkah Alia.
"Alia... Ini...." Ibu kaget Alia membawa barang-barangnya.
"Alia apa yang terjadi? Kenapa kalian bertengkar, suara kalian terdengar sampai luar,"
"Maaf kan Aku Ibu, Aku telah gagal menjadi menantu yang baik," ucap Alia nenangis.
"Apa yang kamu katakan? Kamu selama ini sudah mengurus kami dengan sangat baik." ucap Zeenat sedih.
"Tapi Aku telah gagal menjadi istri yang baik Ibu, Aku tidak bisa membuat Faraz menjadi lebih baik," ucap Alia menangis memeluk Zeenat.
"Tidak sayang... Ibulah yang gagal mendidik Faraz, Maafkan Ibu untuk semua kesalahan yang Faraz lakukan kepadamu." ucap Ibu melipat kedua tangannya.
"Apa yang Ibu lakukan, Ibu tidak pantas melakukan ini, Ini semua bukan kesalahan Ibu, Ini semua salahku," tangis Alia.
"Ceritakan pada Ibu apa yang terjadi, Biar Ibu yang bicara pada Faraz,"
"Tapi ini sudah malam, kamu bisa tidur di kamar lain dulu jika kamu tidak ingin bersama Faraz." bujuk Ibu
"Tidak Ibu... Aku akan pergi sekarang."
"Baiklah jika itu keputusan mu... Biarkan supir mengantarmu."
Alia mengangguk dan meninggalkan rumah Shaikh.
Zeenat mengusap air matanya dan pergi ke kamar Faraz dengan kemarahan.
Ibu membuka pintu dan melihat kamar Faraz yang hancur berantakan,
Sedangkan Faraz terlihat terduduk di lantai dengan kepala bersandar di tepi ranjang.
Ibu melangkah mendekati Faraz dengan menghindari pecahan botol yang berserak di lantai.
"Apa Kau sudah puas Faraz!!!" triak Ibu.
Dengan tatapan yang mulai kabur, Faraz melihat Ibu yang terus memarahinya.
"Apa kesalahannya sampai Kau membuatnya pergi dari rumah ini?" Ibu memukul-mukul lengan Faraz.
"Faraz jawab Ibu, apa kesalahannya!"
"Kesalahannya adalah yang ku takutkan selama ini," ucap Faraz dengan mata memerah dan di basahi air mata.
"Apa maksudmu, Bicara dengan jelas?"
"Ya, Menantu kesayangan Ibu telah menghianatiku dengan keluar bersama laki-laki lain."
"Apa! Itu tidak mungkin, Ibu sangat mempercayai Alia,"
"Ya karena kepercayaan Ibu yang sangat besar membuatnya jadi lupa diri, Aku juga tidak akan percaya jika Aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri."
"Apa! Kau melihatnya sendiri?"
"Ya Aku melihatnya, Aku membuntutinya sampai di toko perhiasan, dan Pria itu memakaikan cincin di jari manis Alia," ucap Faraz menangis.
Ibu terdiam seperti masih tak percaya.
"Apa Kau sudah bertanya pada Alia siapa Pria itu?"
Faraz hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kenapa kamu tidak bertanya dulu, kenapa kamu langsung marah-marah, mungkin kamu hanya salah paham padanya."
"Untuk apa Ibu, Agar Aku bisa mendengar kebohongan lainnya?" ucap Faraz menjeda ucapanya.
"Bertahun-tahun Aku merasakan kesakitan di dalam hatiku, Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti ku lagi Ibu," ucap Faraz mengakhiri pembicaraan.
"Entah kenapa hati kecilku mengatakan Alia tidak mungkin melakukan ini." batin Zeenat.
*****
Alia sampai rumahnya.
Alia langsung menangis di pelukan Ibunya begitu Ibu membukakan pintu untuknya.
"Ada apa Sayang?" tanya Ibu Terkejut melihat Alia membawa tas pakaiannya.
"Faraz Ibu.... Faraz...." Alia terus menangis.
"Apa yang Dia lakukan? Apa dia mengusirmu?"
"Tidak Ibu... Aku pergi dengan kemauanku sendiri, Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya Ibu," ucap Alia di tengah tangisnya.
"Tenanglah Sayang, ini sudah hampir pagi besok kita bicarakan lagi... sekarang kamu beristirahatlah," ucap Ibu.
Alia pun mengangguk dan masuk ke kamarnya.
Alia menangis di kamarnya, Ia kembali mengingat kata-kata Faraz yang begitu menyakiti hatinya.
°°°
BERSAMBUNG...
Mohon bersabar ya ibu-ibu ini ujian 😂