Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Luluh


Faraz kembali ke kamar dan melihat Alia sudah tidur dengan menyu'sui Zayn. Faraz pun mendekat dan mencoba mengangkat Zayn dari sisi Alia. Dengan sangat berhati-hati Faraz berhasil melepaskan Zayn dari tautannya pada ASInya. Kemudian Faraz memindahkannya ke Box.


Faraz merapikan pakaian Alia dan mengusap kepalanya dengan lembut. Melihat wajah Alia yang terlihat begitu lelah membuat Faraz semakin bingung bagaimana cara menjelaskannya.


Faraz pun menghelai nafas panjang dan berbaring di sampingnya.


•••


Keesokan harinya Faraz sengaja tidak pergi ke kantor dan menunggu kesempatan untuk membicarakannya pada Alia.


Sedangkan Alia yang tengah sibuk dengan kedua bayinya masih mendiamkan Faraz meskipun dalam hatinya bertanya-tanya kenapa suaminya tidak bersiap untuk bekerja.


Tok... Tok... Tok....


Secara bersamaan Faraz dan Alia menoleh ke pintu yang di ketuk.


"Permisi Tuan, Nyonya." ucap Ratna Baby Sitter Mereka.


"Masuklah." Saut Faraz.


"Waktunya Mereka mandi Tuan Nyonya."


"Ajak serta Bi Asih untuk membantumu, Hari ini Nyonya Alia ingin istirahat."


Alia menatap tajam Faraz. "Apa yang di fikirkannya." batinnya.


"Baik Tuan." Ratna pun kembali ke luar untuk memanggil Bi Asih.


"Untuk apa menyuruhku istirahat."


"Kamu terlihat lelah."


"Itu tidak masalah buatku."


"Tapi itu masalah buat Mas."


"Apa Mas tidak..."


Tok... Tok... Tok...


Alia menghentikan ucapannya melihat Ratna dan Bi Asih kembali.


"Setelah mandi bawa Mereka ke kamar bayi, Jangan bawa kemari sebelum Kami yang mengambilnya." tegas Faraz.


"Mas!" Alia mencoba protes. Namun Ratna dan Bi Asih langsung keluar membawa Zayn dan Zayd.


"Apa-apaan sih Mas, Sudah gak kerja di rumah ngatur-ngatur seenaknya."


"Mas harus melakukan ini karena Kamu tidak memberi Mas kesempatan untuk bicara."


"Aku bukan tidak memberi kesempatan Mas bicara, Tapi Mas tau sendiri Aku sibuk mengurus si kembar."


"Maka dari itu Mas menjauhkan Mereka."


Alia menghelai nafas kasar dan beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" Faraz kembali menarik tangan Alia.


"Mandi!" jawab Alia sembari menghempas tangan Faraz.


"Apa yang Mas lakukan, Buka!" Alia mencoba membuka namun Faraz langsung mendekap tubuhnya.


Alia mencoba memberontak namun Faraz langsung mengunci pergerakannya dengan merapatkan tubuhnya ke dinding.


Alia menatap Faraz dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Tidak terlihat marah, Tidak juga terlihat senang.


Faraz terus mencari cara untuk melemahkan Alia dengan sentuhan-sentuhannya. Agar ucapannya bisa di terima dengan baik.


Faraz mengecup kedua pipi Alia dengan lembut.


Alia hanya terdiam menatap Faraz.


"Tidak terjadi apapun malam itu, Cup..." ucap Faraz sembari mengecup tengkuknya.


"Kamu bisa menanyakan pada Satpam dan Bibi." bisiknya lagi sembari terus menelusuri leher Alia, Hingga membuat Alia menengadahkan kepalanya ke atas.


"Kamu juga bisa memeriksa cctv rumah Kita,"


"Di kamar Kita tidak ada cctv, Ahhhh..."


"Tapi di depan kamar Kita ada, Kamu bisa liat kapan Dia masuk ke kamar Kita."


"Percuma, Aku tidak akan tau apa yang kalian lakukan di dalam, Hhhhh..." Alia meremang saat Faraz memutar tubuhnya merapat ke dinding dan langsung menelusuri punggungnya yang telah terbuka.


"Aku hanya bisa melakukannya padamu, Tidak ada seorang pun yang bisa membangkitkan gai'rah ku selain dirimu." Faraz kembali memutar tubuh Alia kemudian bertumpu pada kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di perut Alia.


"Ahhhh...." Alia meremad rambut Faraz dan menjauhkan kepalanya dari perutnya.


Faraz mendongakkan kepalanya menatap Alia.


"Jika semua itu benar, Lalu apa yang membuat Mas resah?"


Faraz kembali berdiri dan mulai menceritakan semuanya sambil terus menelusuri setiap inci tubuh Alia yang telah polos.


"Untunglah Wanita itu masih memiliki hati nurani, Bayangkan jika Dia benar-benar melakukan apa yang di perintahkan, Apa yang akan terjadi pada pernikahan Kita? Eummhhh..." ucap Faraz di sela-sela pagutannya.


"Eummmccchhh... Ahhhh..." Desa' han keduanya memenuhi kamar mandi yang kedap suara.


"Aku sangat mencintaimu, Sekalipun Wanita itu melakukannya padaku itu tanpa kesadaran ku, Di hatiku hanya dirimu tidak ada tempat untuk Wanita lain."


Alia menyerah dan memeluk Faraz dengan perasaan haru.


"Maaf kan Aku Mas, Seharusnya Aku mempercayai Mas."


"Lupakan itu, Sekarang mandilah nanti Kita putuskan pekerjaan apa yang cocok untuknya."


"Mas gak mau mandi bareng?" goda Alia.


"Nggak Akh, Ntar kalau pingin repot." ucap Faraz yang langsung keluar sembari menahan hasratnya.


•••


Bersambung...