Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Sayangnya Faraz


"Apa yang Ibu katakan?" tanya Alia yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ibu bilang, Aku harus menyelesaikan apa yang tadi belum selesai," Faraz langsung memeluk tubuh Alia dari belakang sembari menghirup pundaknya.


"Itu tidak mungkin," Alia langsung melepaskan tangan Faraz dari pinggangnya.


"Ibu menunggu Kita untuk sarapan, Cepatlah." ucap Faraz tertawa.


Setelah selesai bersiap Faraz dan Alia turun untuk menemui Ayah dan Ibunya.


Terlihat Ayah dan ibu sudah menunggu Mereka di meja makan.


"Ayah..." Faraz memeluk Ayahnya sesaat, Sementara Ibu memeluk menantu Kesayangannya.


"Kau terlihat lebih segar dari sebelumnya." ucap Ayah.


Faraz hanya tersenyum melirik Alia.


"Tentu saja, Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya," ucap Ibu menyentuh dagu Faraz.


"Kami tunggu kabar baiknya." sambung Ayah.


Faraz terhenyak mendengar ucapan Ayahnya.


~~


Sejak pertemuan terakhirnya, Kavita dan Dev belum saling bertemu kembali. Hanya beberapa kali telfon itu pun tidak ada titik temu untuk hubungan Mereka, Mereka tetap pada pendiriannya masing-masing.


Kavita ingin hanya tinggal bersama dengan Dev, Sementara Dev tidak ingin jauh dari keluarganya.


"Ternyata cinta mu tidak sebesar yang ku bayangkan," batin Kavita yang baru mengakhiri panggilannya dengan Dev.


"Apa Dev belum juga mau menjemputmu?" tanya Ibu yang melihat Kavita termenung dengan ponsel di tangannya.


"Dia ingin menjemput ku Ibu, Tapi Aku tidak menginginkannya jika Aku harus kembali tinggal bersama Keluarganya."


"Kavita, Seharusnya Kau lebih bersabar menghadapi Mereka, mungkin keluarga Dev hanya perlu waktu menerima mu, Mereka hanya Shock tiba-tiba memiliki menantu dan calon cucu sekaligus, Seharusnya Kau bisa lebih pintar lagi mengambil hati mereka, Bukan malah meninggalkan rumah yang membuat mereka semakin membencimu."


"Ya anggap saja ucapan Ibu benar, Tapi bagaimana dengan Dev? Seharusnya Dia mendukungku kan? Memberitahu ku bagaimana cara agar keluarganya menyukaiku, Tapi Dev tidak pernah melakukannya, Bahkan Dia tidak pernah membelaku di depan Keluarganya."


Ibu tersenyum smirk mendengarnya.


"Kenapa Ibu malah tersenyum?"


"Kau tau alasannya, jangan sampai Ibu mengingatkan bagaimana Kau lebih memilihnya.


Kavita terdiam dengan sedih.


~~


Karena masih merasa lelah, Faraz dan Alia tidak melakukan aktivitas apapun, Mereka hanya bersantai di kamarnya sambil berbincang-bincang dan bersenda gurau.


"Faraaaaz... Aku bilang berhenti!" ucap Alia yang terus di menggelitiki dirinya.


Faraz hanya tertawa dan kembali mendekap leher Alia dan menyandarkannya ke tubuhnya.


"Bagaimana menurutmu dengan pertanyaan Ayah?" tanya Faraz


"Tentang?"


"Tentang kabar baik, Apa Kau sudah memikirkan tentang anak?"


"Ya tentu, Aku rasa usia Kita sudah lebih dari cukup untuk memiliki momongan,"


"Tapi Aku masih ingin menikmati hari-hari ku bersamamu," ucap Faraz mengecup pipi Alia dari belakang.


"Kita akan menikmati hari-hari kita bersama anak Kita, Anak akan menyempurnakan kebahagiaan dalam rumah tangga Kita."


"Baiklah, Ayo kita memprosesnya." Faraz menurunkan kepala Alia ke bantalnya.


"Kita sudah seringkali memprosesnya, Kita hanya tinggal menunggu hasilnya," ucap Alia tertawa.


Faraz pun ikut tertawa menggelengkan kepalanya.


"Kerumah Ibu ku yuk, Aku sangat merindukannya,"


"Baiklah, Segera bersiap." ucap Faraz tanpa memprotes.


"Terimakasih Sayang." Alia melingkarkan kedua tangannya ke leher Faraz dari belakang dan mengecup pipinya.


"Apapun yang Kau minta." Faraz mengecup lembut punggung tangan Alia.


Alia terseyum bahagia dan segera bersiap.


Beberapa menit kemudian, Mereka bersiap meninggalkan rumah.


Faraz langsung masuk ke mobilnya, Sementara Alia yang ingin masuk terdiam memikirkan sesuatu.


"Ada apa Sayang?" tanya Faraz.


"Tunggu sebentar." Alia kembali berlari ke dalam, Sementara sambil menunggu Faraz mengeluarkan mobilnya dari garasi.


Kavita yang sudah lama tidak melihat Faraz tanpa Ia sadari mengembangkan senyumnya dan memperhatikannya tanpa sepengetahuan Faraz.


"Faraz tunggu sebentar." ucap Alia yang membungkukkan badannya untuk meminta izin pada Faraz.


"Mau ngapain lagi?"


Pertanyaan itu tidak di dengar oleh Alia karena Alia langsung pergi ke sebrang jalan.


Kavita melihat Alia semakin mendekati rumahnya.


Ia menjadi merasa canggung dan bingung apa yang harus Ia lakukan.


"Mau ngapain sih Alia menemuinya," gumam Faraz yang melihat Alia menemui Kavita.


"Hai Mbak.." sapa Alia dengan ramah.


"Hai.." ucap Kavita singkat.


"Bagaimana kabar mu?"


"Baik."


"Syukurlah, Semoga Mbak selalu di beri kesehatan dan di beri kemudahan saat melahirkan nanti," Alia mencoba mengusap perut Kavita namun segera di tepisnya.


Hal itu membuat Alia merasa canggung Dan menyadari jika Kavita tidak menyukai kehadirannya.


"Ee-Baiklah, Ini ada sedikit oleh-oleh dari Kami," ucap Alia memberikan paper bag besar berisi tas rotan khas Lombok, Manisan rumput laut, telor asin dan makanan khas Lombok lainnya.



"Apa Kau ingin sekali menunjukan jika Kau sangat bahagia hidup bersama mantan suamiku?" tanya Kavita meninggalkan suaranya.


"Apa yang Mbak Kavita katakan, Aku tidak ada maksud apapun, Bukankah ini hal wajar dalam bertetangga?" tanya Alia bingung.


"Aku tau niatmu sebenarnya, Jadi jangan berpura-pura baik di depanku!" dengan kesal Kavita meninggalkan Alia tanpa mau mengambil oleh-oleh darinya.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan," ucap Faraz kemudian turun dari mobilnya.


Alia menarik nafas panjang dan berbalik badan. Ia terkejut melihat Faraz yang sudah berdiri di depannya.


"Apa yang terjadi?" selidik Faraz.


"Ee-tidak ada, Ayo." Alia memaksakan senyumnya dan mengajak Faraz masuk kembali ke mobil.


Dengan perasaan yang masih curiga Faraz memperhatikan mimik wajah Alia.


"Apa yang Dia katakan?"


"Hehe... Apa Faraz, Dia tidak mengatakan apapun."


"Kau tidak berbakat jadi berbohong, Jadi katakan yang sebenarnya."


"Tidak Faraz, Ini salahku, Seharusnya Aku tidak terus mendekatinya jika Dia tidak merasa nyaman dengan kehadiranku." ucap Alia menahan kesedihannya.


"Jadi Kau ingin memberikan itu padanya?" Faraz melirik paper bag yang ada di bawah kaki Ali.


Tanpa menunggu jawaban dari Alia, Faraz mengambil paper bag itu dan kembali turun dari mobil.


Ia mengetuk pintu rumah Kavita.


Kavita yang membukanya terkejut melihat Faraz ada di depannya.


"Hai Kavita, Bagaimana kabarmu?" tanya Faraz dengan mengembangkan senyumnya.


"Faraz... Aku baik," ucap Kavita yang terlihat sangat bahagia dengan sapaan ramah dari Faraz.


"Aku ingin memberikan ini untuk mu,"


Kavita terdiam melihat paper bag yang sama dengan yang Alia berikan barusan.


"Aku sendiri yang membelinya, Khusus untuk mu."


"Benarkah," Kavita langsung mengembangkan senyumnya dan mengambil paper bag itu.


"Jadi ini masalahnya," ucap Faraz dingin.


Kavita menatap Faraz dengan bingung.


"Apa masalah mu dengan Istriku, Kenapa Kau selalu berfikir buruk dengan niat baiknya?"


"Jadi Dia mengadu seperti itu?"


"Dia tidak mengadu apapun, Karena dia tidak pernah menjelek-jelekakkan orang lain!" gebrak Faraz ke pintu.


"Faraz... Aa-a-Aku..." Kavita melangkah mundur melihat kemarahan di wajah Faraz.


"Bukankah Kau sendiri yang mencampakkan ku, Bukankah Kau sendiri yang memilih kehidupan yang saat ini Kau jalani? Jika sekarang Aku bahagia dengan Istriku dan Istriku bersikap baik padamu, Lalu apa masalahmu? Apa Kau ingin Kami bersikap buruk padamu?"


"**-**-tidak Faraz, Bukan begitu." Kavita menundukkan kepalanya, Ia benar-benar tidak pernah melihat Faraz marah seperti ini padanya, bahkan setelah Ia melakukan begitu banyak kesalahan di saat mereka bersama.


"Ini yang terakhir Kau membuat sedih Istriku, Jika Kau berrrani membuatnya menangis lagi, Kau akan berhadapan dengan ku!" tegas Faraz yang langsung meninggalkan Kavita.


Bersambung...