
Selang sehari Faraz dan keluarganya kembali ke Jakarta,
Mereka kembali beraktivitas seperti biasa.
Zayn sibuk pemotretan, Zayd kembali ke perusahaan dan Zia kembali ke sekolah.
Kini tinggal Faraz yang tengah bersiap di depan cermin dengan di bantu sang Istri memasangkan dasi.
"Setelah Anak-anak pergi dengan kesibukan masing-masing dan Mas kembali bekerja, Aku akan kembali sendiri dan kesepian di rumah,"
"Lalu apa Kita harus bekerjasama lagi untuk memberikan Adik pada Trio Z untuk menemanimu di rumah?" goda Faraz.
Alia tertawa dan mendorong tubuh Faraz menjauh darinya.
"Kita sudah terlalu tua untuk memiliki seorang Bayi, Anak-anak juga sudah terlalu dewasa untuk di berikan Adik."
"Kalau begitu biar Mas yang menemanimu." Faraz membopong tubuh Alia dan mendudukkan bo'kongnya di meja rias.
"Mas, Mas harus kerja, Pergilah jangan main-main."
"Biarkan saja, Tidak akan ada siapapun yang berani memarahi pemilik perusahaan, Eumuaach." Faraz langsung menyambar bibir Alia.
Alia membuka mulutnya saat lidah Faraz memaksa masuk ke dalamnya.
"Eummm.. Eummm..." Faraz terus mencondongkan tubuhnya hingga tubuh Alia merapat ke cermin dan membuat barang-barang di atasnya jatuh berantakan. Namun itu tidak mengganggu Mereka yang tengah menikmati pagu'tannya yang semakin lama semakin panas.
Suara esapan keluar dari mulut Faraz saat Ia mengesap kuat lidah Alia hingga kedua pipi Alia terlihat kempot. Tangannya pun tidak tinggal diam dan mulai meremad dada Alia yang masih terjaga kekencangan hanya.
"Aaahhhh...!!!" Alia mendorong tubuh Faraz karena merasa kehabisan nafas.
Faraz terseyum bangga membuktikan dirinya yang masih begitu bertenaga meskipun usianya semakin matang.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Faraz kembali melucuti pakaiannya yang sudah rapi, Kemudian Faraz menarik turun Alia dari meja rias dan muktar tubuh Alia agar membelakanginya, Alia bertumpa pada kedua sikunya ke meja rias saat Faraz menyibak dress yang Ia kenakan.
Kemudian Faraz menarik ke samping underwear yang Alia kenakan dengan jari tengahnya dan melesapkan miliknya.
"Arrrgghhhh...." erangan keduanya beriringan Ketika milik Mereka menyatu sempurna.
Faraz menatap wajah Alia yang memerah dari cermin.
Wajahnya begitu terlihat sensual saat menahan kenikmatan yang Ia berikan. Hal itu benar-benar membuat Faraz semakin berga'irah dan ingin memberikan yang lebih lagi pada sang istri.
"Akhhhhh... Akhhhhh.... Akhhhhh..." hentakan demi hentakan bebarengan dengan erangan kenikmatan yang keluar dari bibir Alia. Faraz begitu menikmati wajah istrinya dari cermin yang terus mengerang penuh kenikmatan.
Setelah puas dengan posisi itu, Faraz membopong tubuh Alia dan membaringkannya di ranjang.
Faraz membuang underwear yang masih melekat pada tubu Alia dan kembali melesapkan miliknya. Akhirnya Faraz mengakhiri permainannya setelah pelepasan keduanya.
Mereka terbaring lemas menikmati sisa-sisa kenikmatannya.
"Mas masih tidak berubah." ucap Alia yang kemudian terpejam dan tidur dengan pakaian yang masih berantakan.
Faraz terseyum dan menyelimuti tubuh sang istri. Kemudian mengecup lembut keningnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Faraz bersiap dan kembali mengecup kening Alia yang sudah tertidur pulas. Kemudian Faraz meninggalkan rumah untuk bekerja.
•••
Zayd keluar dari ruangannya. Baru beberapa langkah Ia berjalan, Seorang Office girl menabraknya hingga menumpahkan kopi panas ke jas yang Zayd kenakan.
"Aowwh..." Zayd mengangkat kedua tangannya melihat kemeja dan jasnya yang begitu kotor karena bubuk kopi yang terlihat jelas membuat dirinya begitu risih dengan dirinya sendiri, Zayd orang yang sangat memperhatikan kebersihan dalam hal apapun, Paling tidak bisa melihat sesuatu yang kotor di sekitarnya, Bahkan Ia akan membuang pakaian yang terkena noda meskipun hanya setitik saja.
"Ups, Maaf... Maaf," ucap Gadis itu yang langsung ingin mengusap jas yang Zayd kenakan.
"Stop! Jangan sentuh." Zayd menghentikan tangan Gadis itu yang akan membersihkan kemejanya.
"Tapi pakaian Anda kotor Tuan." gadis itu kembali mencoba membersihkannya.
"Aku bilang jangan sentuh, Ini kotor dan tangan mu akan kotor, Aku akan membukanya sendiri dan membuangnya," ucap Zayd yang langsung pergi meninggalkan Gadis ersebut.
Office girl itu tercengang melihat kepergian Zayd, Ia fikir Zayd akan marah-marah padanya dan memecatnya, Tapi Zayd menghentikan dirinya karena tidak ingin tangannya kotor.
"Pria yang unik." gumam Gadis itu.
•••
Zayn menyelesaikan pemotretannya dan kembali menemui seorang Gadis. Seperti sedang mencari cinta sejati,
Zayn terus berkenalan dari gadis satu ke gadis lainnya. Bahkan Ia tidak perlu repot-repot untuk mencari dimana Ia bisa menemukan gadis cantik untuk Ia dekati, Karena rata-rata gadis yang Ia dekati adalah penggemar beratnya yang terus mengirim pesan padanya.
Zayn telah sampai di sebuah restoran yang mereka janjikan.
Namun langkahnya terhenti ketika Ia melihat Devita yang menunggunya.
"Zayn..." senyum sumringah terukir dari bibir Devita saat melihat kedatangan Zayn.
"Kok Kamu yang ada disini? Tania mana?"
"Tania sebentar lagi sampai, Duduklah."
"Tania tidak mengatakan jika Dia akan mengajakmu?"
"E-e Sebenarnya..."
"Apa sebenarnya yang mengirim pesan padaku itu Kamu, Bukan Tania?"
"Zayn... E-e...."
"Berapa kali aku bilang padamu, Jangan pernah mencoba mendekatiku, Kau bukan tipeku, Terlebih lagi Kau Anak dari Wanita yang menyakiti Papa ku." Zayn kembali meninggalkan restoran tersebut tanpa menghiraukan Devita.
Devita terdiam sedih melihat kepergian Zayn, Padahal sejak satu tahun lalu Devita terus berusaha mendekati Zayn dengan berbagai cara. Namun Zayn terus bersikap acuh padanya.
Bersambung...
📌 BACA JUGA "SUAMI YANG KU BELI" YANG PASTINYA BUAT KALIAN INGIN HUJAT JUGA, SAMA HALNYA KALIAN BEGITU BERSEMANGAT MENGHUJAT FARAZ 🤣