
Setelah menggali informasi dari Papanya, Zia yang kini berada di kamar Mereka mengambil ponsel Papanya secara diam-diam dan menyembunyikan di belakang badannya.
"E-e Papa, Mama, Zia kembali ke kamar ya, Udah ngantuk."
"Baiklah, Selamat malam Sayang." saut Faraz yang langsung naik ke tempat tidur. Sementara Zia langung berlari ke kamarnya dan membuka ponsel Papanya. Zia mulai mencari kontak Om Bryan diantara ratusan kontak yang tersimpan.
"Sayang ponsel Mas mana sih?" tanya Faraz sembari mencari-cari di bawah bantalnya.
"Tadi ada di situ deh,"
"Gak ada."
"Coba cari di luar, Kali aja ketinggalan di luar."
"Baiklah, Bentar ya." Faraz keluar dari kamar untuk mencari ponselnya.
Sementara Zia telah berhasil menyalin nomor Bryan di ponselnya.
Ingin rasanya Zia berteriak saat itu juga. Namun Ia masih memikirkan harus mengembalikan ponsel Papanya, Ia pun segera keluar dan begitu terkejut melihat Papanya sudah berdiri di depan pintu.
"Pap-pa.."
"Zia, Mau kemana lagi?"
"E-e mau, Mau ke-ke kamar Papa, E-e ini, Ponsel Papa ketinggalan." Zia menyodorkan ponselnya.
"Pantas saja Papa cari gak ada, Taunya di kamar mu."
Zia menghelai nafas lega karena Papanya tidak curiga kepadanya.
Namun baru saja Zia melangkah masuk, Faraz kembali menghentikannya
"Tunggu!"
Zia kembali menoleh ke belakang.
"Bagaimana bisa ponsel Papa di kamarmu?"
"A-e... Tadi kan Papa ke kamar Zia."
Faraz mengernyitkan keningnya mengingat-ingat.
Sementara Zia langsung menutup pintunya.
"Perasaan Aku gak bawa ponsel deh." batin Faraz Kemudian mencebikan bibir sembari mengangkat kedua bahunya.
•••
Zayd dan Alea mulai merasa kepanasan dan mulai merasa sesak.
Namun belum ada tanda-tanda teknisi maupun seseorang membantunya. Zayd kembali berdiri dan melepaskan jas dan beberapa kancing kemejanya untuk mengurangi rasa panas yang membuatnya seakan ingin pingsan.
Sedangkan Alea masih terlihat tenang dengan memainkan musik di ponselnya.
Zayd menatap Alea dan mulai memperhatikannya.
"Padahal tadi Aku sudah memegang ponselnya tapi kenapa Aku baru menyadarinya." batin Zayd.
"Sepertinya sebelum bekerja disini gajimu cukup besar."
Ucapan Zayd mengagetkan Alea dan segera mematikan musik di ponselnya. Ia menjadi sedikit gugup dan segera menyembunyikan ponselnya.
Zayd masih menatapnya penuh curiga.
"E-e ini, Ponsel ini sebenarnya Aku beli bekas dan masih kredit, Biasalah untuk gaya-gayaan." Alea terseyum menaik turunkan alisnya.
Tidak mau ambil pusing Zayd pun kembali duduk dan mengibaskan jaketnya untuk mengurangi rasa panasnya.
"Apa Anda merasa bosan?"
Zayd hanya melihat Alea sekilas dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku akan membuat Anda tidak bosan, Sekarang dengarkan Aku bercerita." Alea kembali menyalahkan senter ponselnya dan mulai bercerita, Diikuti oleh gerakan tangannya yang aktif mengekspresikan keseruan cerita yang Ia sedang sampaikan.
Bibir yang tidak bisa berhenti bicara dan sesekali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya membuat Zayd terus menatap wajahnya tanpa mendengar ceritanya.
•••
Zayn dan Clarissa baru selesai menikmati makan malam.
Mereka meninggalkan restoran dan kembali ke mobilnya.
Dengan tatapan yang saling tertarik satu sama lain membuat keduanya langsung menyatukan bibir Mereka di dalam mobil yang terparkir di depan restoran tersebut.
Bertukar air liur seperti yang Zayn katakan, Mereka terus melakukannya dengan penuh gai'rah remaja yang membara. Bahkan tangan Zayn mulai berani meremad gundukan kenyal yang sejak tadi menggoda karena model dress yang memperlihatkan sebagian dadanya.
Clarissa pun dengan mahirnya membuat Zayn semakin menikmati sapuan bibirnya yang sudah turun ke tengkuk lehernya.
"Ssshhh..." Zayn mulai mende'sah saat tangan Clarissa dengan berani meraba miliknya yang telah menegang.
Namun aksi Mereka terhenti saat seseorang mengetuk pintu mobilnya.
Zayn menoleh ke luar jendela dan melihat seorang gadis berdiri di luar mobilnya, Kemudian Zayn membuka kaca mobilnya dan Clarissa kembali ke tempat duduk merapikan Dirinya yang begitu berantakan.
"Kau!" ucap Zayn kesal saat yang mengetuk pintunya adalah Devita.
Devita menatap Clarissa yang tengah memoles bibirnya dengan menatap cermin kecil di tangannya.
"Apa yang Kau lihat dan kenapa Kau mengetuk pintu mobilku?"
"E-e Mobil mu menghalangi mobilku, Aku tidak bisa keluar."
Dengan kesal Zayn kembali menutup pintu mobilnya dan meninggalkan parkiran.
Devita melihat kepergian mobil Zayn dengan sedih.
Bersambung...
📌 BUAT YANG MASIH SUKA IKUTI, BUAT YANG SUDAH TIDAK SUKA BOLEH UNFAVORIT, SIMPLE KAN?"