Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Menemukan Bukti


Faraz sampai di rumah Wanita itu dengan dua pengawal pribadinya.


Terlihat rumah yang cukup mewah namun nampak sepi seperti tak berpenghuni. Kemudian Faraz menyuruh pengawalnya masuk untuk memeriksanya. Namun hanya beberapa menit pengawalnya kembali dengan tangan kosong.


"Sial... Kemana Dia pergi," ucap Faraz kesal.


Kemudian Faraz menghubungi Alia untuk menanyakan tentang Nindi.


"Apa Nindi sudah mengangkat ponselnya?"


"Belum."


"Wanita itu juga tidak ada di rumah, E-e Sayang, Boleh Aku ke rumah Nindi, Mungkin Dia ada di rumah."


"Tapiii..."


"Sayang Aku bersama pengawal, Kamu tidak perlu khawatir."


"Baiklah, Cepatlah kembali."


Faraz pun menutup ponselnya dan menuju rumah Nindi.


Sesampainya di sana, Rumahnya juga nampak sepi, Hanya di sinari lampu pijar di teras rumahnya.


Faraz mendekati pintu dan mengetuknya.


Tok... Tok... Tok...


Seorang Anak remaja Pria sekitar umur 14th membuka pintu.


Diikuti oleh remaja Putri yang terlihat lebih muda berdiri di belakangnya.


"Hai, Apa benar ini rumah Nindi?" tanya Faraz.


"Ya benar, Tapi kak Nindi gak ada."


"Kemana?"


"Lagi antar Ibu ke rumah sakit."


Tidak mau membuang waktu, Faraz segera menuju rumah sakit.


Ia benar-benar sudah merasa lelah dengan masalah yang tengah Ia hadapi, Faraz ingin segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.


•••


Sesampainya di rumah sakit Faraz yang lupa menanyakan nama Ibunya Nindi, Membuat Ia harus mencari setiap lorong dan kamar rumah sakit tanpa bisa menanyakan ke bagian informasi.


Di dalam usahanya mencari di mana Ibu Nindi di rawat, Faraz terus mencoba menghubungi Nindi. Namun Nindi tetap tidak bisa di hubungi.


"Kemana Dia." ucap Faraz meremad rambutnya dengan kasar.


Di dalam keputus asaannya Faraz berniat melanjutkan pencariannya besok, Faraz berniat meninggalkan rumah sakit. Namun baru saja Ia memutar tubuhnya Ia menabrak seseorang hingga hampir membuatnya terjatuh.


"Maafkan Aku..." ucap Faraz meraih tangannya.


"Nindi..."


"Tuan Faraz."


"Akhirnya Aku menemukan mu."


"Ada apa mencari Saya?"


"Aku butuh bantuan mu, Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?"


"Oh, Ponsel Saya mati dan Saya lupa tidak membawa charger, Memang apa yang bisa Saya bantu?"


"Kamu adalah sekertaris Barry, Kamu juga berada di pesta saat Mereka membuatku mabuk, Apa Kamu mengetahui Wanita yang membuatku minum? Atau Kamu memiliki bukti saat Barry menyuruhmu menjebakku?"


Nindi menghelai nafas panjang. Tersirat ada rasa takut di wajahnya.


Kedua tangannya meremad dress sebawah lutut yang Ia kenakan.


"Nindi, Apa Barry mengancam mu?" selidik Faraz yang memperhatikan gestur tubuh Nindi.


"Semua yang Saya tau sudah ku ceritakan, Saya tidak memiliki bukti, Tapi yang Saya katakan adalah kebenarannya."


"Jika Kamu takut karena Dia mengancam mu, Akan ku pastikan keselamatan mu, Aku akan memberikan keamanan kepadamu, Kepada Ibu mu, Kepada adik-adik mu, Tidak akan ku biarkan Dia mendekati keluarga mu."


Nindi yang mendengarnya mengangkat kepalanya menatap Faraz.


Rasa takut yang tadinya terlihat di wajahnya seketika hilang mendengar ucapan Faraz.


"Ambilah memori ini." Nindi membuka ponselnya dan memberikan memorinya pada Faraz.


"Semua bukti ada di situ,"


"Kamu yakin?"


"Ya, Saya merekamnya untuk berjaga-jaga jikalau Tuan Barry berbuat macam-macam pada Saya, Tapi ternyata Saya tidak memiliki keberanian untuk balik mengancamnya saat Ia menyingkirkan Saya dari kantornya."


"Terimakasih banyak Nindi, Aku tidak akan melupakan kebaikan mu,


Sekarang Kamu tidak perlu khawatir masalah ke amanan dan biyaya rumah sakit Ibumu, Aku akan mengurus segalanya."


"Terimakasih, Semoga masalah Anda cepat selesai."


Faraz mengangguk dan meninggalkan rumah sakit.


Di perjalanan Faraz menghubungi Ayahnya dan menceritakan apa yang terjadi, Kemudian meminta Ayahnya untuk mengurus keamanan Nindi sesuai yang Ia janjikan padanya. Setelah itu Faraz memasukkan memori milik Nindi ke ponselnya, Kemudian Ia mencari-cari video yang membuktikan kejahatan Barry.


Dan benar saja rencana penjebakan dari di pesta hingga di rumah sudah Barry rencanakan dengan matang.


Bahkan bukan itu saja, Kejahatan lainnya untuk mengurangi perusahaan Faraz juga ada di sana, Sehingga tidak mau membuang waktu lagi, Faraz langsung menuju kantor polisi.


Bersambung...