
Zia keluar dari kelas dan melihat David sudah menunggunya di depan kelas. David yang memang beda sekolah dari Zia sengaja datang hanya untuk menemui Zia, Seperti Kakaknya yang mengejar Zayn, David juga terus berusaha mendekati Zia meskipun David belum berani mengungkapkannya.
"Zia."
"David, Kamu di sini?"
"Ya, Tadi Aku pulang cepet, Jadi mampir deh."
"Oh."
"Zia, Bisa Kita jalan sebentar?"
"Kemana?"
"Nonton, Kebetulan Aku ada dua tiket film nih, Sayang gak di pake."
Zia yang sedang merasa bosan dan terus teringat dengan Pria yang memikat hatinya, Menyetujui ajakan David dan menelfon Mamamya untuk memberitahu jika Ia akan pulang terlambat.
Begitu telfon dari Zia di tutup, Ponsel Alia kembali berdering,
Kali ini suami tercinta yang menelfonnya.
Faraz menghubungi Alia untuk memberitahu jika nanti malam Ia akan mengundang tiga rekan kerjanya untuk makan malam bersama di rumah.
Setelah menyampaikan niatnya menelfon, Kemudian Faraz kembali menggoda sang Istri.
"Tadi pagi keenakan ya langsung tidur nyenyak banget."
"Iih apaan sih nanya begitu, Dasar mesum."
"Emang, Hahaha."
"Iih dasar, Anak sudah remaja juga masih aja begitu."
"Tapi Kamu suka kan? Ntar malam lagi ya."
"Massss..." Alia langsung menutup ponselnya.
Faraz terseyum menggelengkan kepalanya.
🍃 Malam Hari 🌻
Tok...Tok... Tok...
Zayn mengetuk pintu kamar Zayd karena merasa bosan di kamarnya.
Zayd membuka pintu dan melihat sang Kakak yang tidak seperti biasanya selalu keluar malam.
"Tumben di rumah," ucap Zayd.
"Lagi males." Zayn langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang Zayd.
"Zayn! Apa yang Kau lakukan, Ranjangku jadi berantakan kan,
Dan... Sepatumu? Cepat lepaskan, Nanti kotor, Kuman, Banyak penyakit."
Zayn hanya tertawa melihat saudara kembarnya yang begitu menjaga kerapian dan kebersihan kamarnya.
"Masih saja Kamu Zayd, Gimana nanti kalau punya Istri, Nanti bukan hanya ranjang saja yang berantakan bahkan Kamu juga harus bertukar air liur dengannya, Hahahaha."
"Jangan katakan itu Zayn, Itu terdengar sangat menggelikan, Sekarang bangunlah dari ranjangku dan bersihkan badanmu terlebih dahulu."
Zayd menarik tangan Zayn agar beranjak dari ranjang dan memaksanya keluar.
Zayn menahan pintu yang hampir tertutup itu
JEBRETTT..!!!
Di luar pintu Zayn hanya tertawa puas setelah menggoda adiknya yang super bersih itu, Sementara Zayd merasa bergidik memikirkan apa yang di katakan oleh Zayn.
•••
Sementara di ruang makan, Faraz dan Alia tengah menjamu rekan kerjanya yang sengaja Faraz undang untuk merayakan sepuluh tahun kerjasama Mereka. Dari ke tiga rekan kerja Faraz dua diantaranya membawa istri masing-masing sementara yang satunya hanya seorang diri tanpa pendamping. Waktu yang cukup lama bagi Mereka untuk saling mengenal karakter satu sama lain sehingga suasana terasa seperti keluarga. Setelah selesai makan malam, Mereka pindah ke ruang tengah dan berbincang-bincang santai sambil menonton Tv.
Di luar rumah, Zia baru sampai di antar oleh David.
Dengan penuh perhatian David membukakan pintu untuk Zia dan mempersilahkannya turun seperti Tuan Putri.
Zia terseyum melihat perlakuan David yang begitu lembut padanya,
"Terimakasih ya," ucap Zia.
"Aku yang harusnya berterimakasih, Setelah usahaku berkali-kali mengajakmu nonton, Akhirnya kamu mau juga."
"Hehe, Maaf ya," ucap Zia singkat.
"Iya gak papa."
"Ya udah kalau begitu Aku masuk dulu, Bye..."
Zia langsung masuk tanpa menoleh lagi kebelakang, Sementara David terus menatap punggung Zia hingga Zia menghilang di balik pintu.
"Aku pulang, Eh ada tamu ya." Zia menutup mulutnya saat melihat banyak orang di rumahnya.
"Kamu sudah pulang Sayang." tanya Alia.
"Kemarilah Sayang, Kasih salam sama temen-temen Papa."
Dengan berjalan setengah membungkuk Zia menyalami Mereka.
"Ini Tuan Anton dan istrinya, Itu Tuan Andi dan istrinya dan Ini yang paling tampan Tuan Bryan Dzaky Isaac," ucap Faraz terseyum meledek Sahabatnya.
Setelah menyalami tangannya yang di tempelkan di keningnya Zia mengangkat kepalanya dan alangkah terkejutnya Zia menatap Pria yang ada di hadapannya.
Seketika Zia mematung, Jantungnya langsung berdebar kencang, Ia seakan tak percaya dengan apa yang Ia lihat, Pria yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali Ia melihatnya, Kini tepat di depan matanya, Di dalam rumahnya.
"Zia..." ucap Faraz.
Seakan ingin mengucapkan sesuatu, Namun tidak dapat keluar dari bibirnya, Zia hanya menoleh ke Papanya sebentar dan kembali menatap Pria yang telah mencuri ketenangan hatinya.
Bryan mengernyitkan kening dengan senyum tipisnya menatap aneh Zia yang mematung di depannya.
"Sepertinya Aku pernah melihat Putri mu," ucap Bryan kepada Faraz.
"Oh ya, Dimana?"
"Di Bali, Iya kan.. E-e siapa tadi Namanya?"
"Zia, E-e ya." lirih Zia kemudian melangkah mundur dan duduk di sebelah Mamanya dan terus menatap Pria pujaannya tersebut.
"Oh jadi liburan kemarin Kamu ke Bali juga, Kok gak bilang-bilang?"
"Aku juga gak tau Kamu ke Bali, Kalau tau pasti mampir, Kamar Ku sebelahan loh sama Zia," Bryan terseyum manis sambil menunjuk Zia.
Zia terus memperhatikan wajahnya, Gerak bibirnya saat Ia bicara dan senyum manisnya yang telah mencuri hatinya di hari pertama Mereka bertemu di Bali.
Bersambung...
📌 BACA JUGA "SUAMI YANG KU BELI" JIKA INGIN MENGUJI SEBERAPA BESAR KESABARAN ANDA 🤣