Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Ketulusan Hati Zayd


Zayd dan Zahia sampai di rumah sakit.


Tanpa mau membuang waktu sedetikpun, Zahia langsung berlari tanpa mempedulikan Zayd yang mengantar untuk membantunya.


Zayd segera berlari mengikuti Zahia yang berlari dengan panik hingga menabrak beberapa orang yang lewat di depannya.


PRANKKKK...!!!


"Maaf-maaf," ucap Zahia yang kali ini menabrak Instrument Troli yang perawat bawa hingga menjatuhkan alat-alat medis yang ada di atasnya.


"Lain kali hati-hati Nona." saut perawat sambil memunguti alat-alat medis yang berjatuhan.


"Berhati-hatilah," ucap Zayd yang ada di belakangnya.


Zahia mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya.


Sesampainya di depan ruang dimana suaminya di rawat, Zahia yang melihat dari celah pintu terkejut melihat Dokter dan perawat sedang panik menanganinya.


"Mas Attar," lirih Zahia.


"Kemana Keluarga?" pertanyaan Dokter kepada perawat membuat Zahia tersentak dan langsung menerobos masuk ke dalam.


"Saya istrinya Dok."


"Suami Anda semakin kritis, Bahkan Dia sudah tidak bisa diajak berkomunikasi."


"Dokter lakukan apapun dan selamatkan suamiku." tangis Zahia.


"Dia perlu di operasi kan? Lakukan operasinya sekarang dan Aku akan mengurus pembayarannya." sambung Zayd.


"Tapi Tuan, Bahkan operasi pun belum tentu mampu menyelamatkannya, Ini sudah..."


"Lakukan apapun Dokter!" pekik Zahia dengan derai air matanya.


Zayd yang ikut merasa pilu mencoba menenangkan Zahia dengan memegang kedua pundaknya.


"Apapun yang terjadi nanti, Biar saja terjadi, Yang terpenting sekarang lakukan usaha terakhir Anda." tegas Zayd.


Dokter menganggukkan kepalanya dan menyuruh para perawat membawa Attar ke ruang operasi.


Zahia terus mendampingi suaminya dengan terus memegang tangannya. Sementara Zayd pergi untuk memenuhi prosedur rumah sakit.


•••


Setelah selesai, Zayd menyusul Zahia ke ruang operasi.


Zayd melihat Zahia yang terus menangis menundukkan kepalanya dengan kedua tangan sebagai penyangga kepalanya.


Zayd tidak tau apa yang harus ia lakukan kecuali menemaninya dalam diam


Zahia langsung mengangkat kepalanya begitu mendengar lampu ruang operasi padam.


Ia segera bangkit dari duduknya dan berdiri di depan pintu menunggu Dokter keluar.


Ceklekkk!


"Dokter..."


"Bagaimana operasinya?"


"Seperti yang ingin Saya katakan sebelum operasi, Kanker suami Anda sudah memasuki stadium empat, Di stadium akhir ini kanker telah menyebar keluar dari sistem limfatik dan masuk ke sumsum tulang dan organ lainnya, Seperti paru-paru atau hati, Kami sudah melakukan yang kami bisa, Sekarang tinggal menunggu keajaiban Tuhan apakah suami Anda akan pulih, Atau..." Dokter tidak bisa lagi meneruskan ucapannya.


Zahia yang mendengarnya terasa lemas tak bertulang, Tubuhnya hampir saja terjatuh ke lantai. Namun Zayd yang sejak tadi berdiri di belakangnya menahan tubuhnya agar ia tidak terjauh.


"Kamu harus kuat! Sekecil apapun harapan mu, Jadikan itu cahaya untuk menerangi langkah mu."


Zahia menangis dan berusaha kembali berdiri dengan tegak.


"Boleh Saya menemui suami Saya?"


"Biar kami memindahkannya ke ruang ICU terlebih dahulu."


Zahia mengangguk dan mengikuti Dokter yang memindahkan suaminya.


Berbagai macam alat canggih menempel di tubuh Attar untuk menyokong kesembuhannya. Namun sudah berjam-jam berlalu hingga malam semakin larut tidak ada tanda-tanda Attar akan segera siuman dalam waktu dekat.


Zayd masih ikut menunggu kembali ke ruangan dengan membawakan makanan untuk Zahia.


"Makanlah, Seharian ini kamu belum makan."


"Bagaimana Aku bisa makan jika suamiku terkapar tak berdaya?"


"Suami mu juga pasti akan sangat sedih melihat mu seperti ini, Percayalah Dia juga menginginkan mu makan dan tidak ingin melihat mu terus menangis."


Zahia menatap wajah suaminya dan melihat ada satu tetes air mata yang terjatuh di ujung matanya.


Zahia menyelipkan tawa dalam tangisnya. Secercah harapan hadir dalam hatinya melihat sang suami yang seakan merespon pembicaraannya.


Zahia langsung mengambil makanan dari tangan Zayd dan memakannya dengan terus menatap suaminya.


Zayd menghelai nafas dalam-dalam, Ia tak habis fikir kenapa ada cinta seperti itu, Wanita yang terlihat sangat cantik dengan tulus mencintai suaminya yang berparas biasa saja dalam keadaan tak berdaya. Namun ia masih begitu setia mendampinginya, Bahkan rela menawarkan ginjalnya untuk menyelamatkan suaminya yang belum bisa menjamin kesembuhannya.


"Kenapa Aku tidak menemukan wanita sepertinya, Kenapa Aku malah di pertemukan dengan Alea si gadis licik itu." terbersit pertanyaan itu dalam fikirannya.


"Ah, Apa yang kupikirkan, Mungkin saja ini belum waktunya Percayalah Zayd, Kelak kamu akan menemukan wanita yang baik seperti Papa menemukan cinta sejatinya dalam diri Mama." batin Zayd yang mencoba membujuk hatinya sendiri.


Bersambung...