
Faraz dan Alia masih terdiam dan menatap satu sama lain.
Perasaan cinta yang yang sulit keluar dari mulut keduanya seolah di ungkapkan oleh mata Mereka.
Alia yang tersadar dari pandangannya mencoba melepaskan tangan Faraz dari pinggangnya.
Namun Faraz tidak melepaskan begitu saja, Kini Ia memutar tubuh Alia hingga Alia berdiri membelakanginya.
Alia memejamkan mata merasakan desiran yang mengalir dalam dirinya ketika jari-jemari Faraz bermain di punggung Alia yang saat ini hanya mengenakan pakaian dalam.
Tidak berhenti sampai disitu dengan nakalnya Faraz menurunkan tangannya dan memainkan jari-jemarinya di panggul Alia.
Alia terus memejamkan mata dan meremas rok panjang yang Ia kenakan.
Faraz memakaikan baju kepada Alia hingga membuat Alia terkejut dan kembali membuka matanya.
Faraz berjalan ke depan Alia, satu persatu kancing baju di tutup olehnya, Faraz tersenyum tipis saat melihat Alia mengalihkan pandangannya dan terlihat begitu tegang.
Faraz mengangkat dagu Alia yang sejak tadi tertunduk malu.
Alia kembali memalingkan wajahnya dan berusaha menjauh dari Faraz, namun lagi-lagi Faraz merapatkan tubuhnya hingga Alia mentok di dinding.
Alia mengalihkan pandangannya kesana-kemari melihat Faraz yang terus menatapnya dengan lekat,
Faraz memegang dagu Alia untuk menghentikan pergerakannya, menggunakan ibu jarinya Faraz mengusap bibir Alia yang begitu menggoda di matanya.
Alia kembali memejamkan mata merasakan sentuhan lembut tangan Faraz.
Faraz mendekatkan wajahnya dan bersiap mencium bibir Alia yang sudah membuatnya tidak tahan,
Semakin lama semakin dekat hingga bibir keduanya nyaris menyatu. Namun belum sempat bibir itu menyatu, mereka di kagetkan oleh Bibi yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Faraz apa Kau sudah siap?"
Faraz dan Alia terperanjat dan saling menjauh satu sama lain.
Keduanya merasa tegang dan malu, jikalau Bibi mengetahui apa yang mereka sedang lakukan.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa terlihat tegang seperti itu?"
"Sepertinya Bibi tidak melihat apa yang sedang kami lakukan," batin Faraz.
"Ee... Tidak ada Bibi, Kami hanya berbincang,"
"Aah sudahlah lupakan itu," ucap Bibi lalu mendekati Faraz.
"Hey Handsome, Apa Kau sudah siap?" tanya Bibi sambil mencubit pipi Faraz.
"Ee... Aku akan segera bersiap Bibi,"
"Baiklah Handsome... Cepatlah keluar jangan sampai kita terlambat," ucap Bibi lalu meninggalkankan mereka.
Faraz kembali terdiam menatap Alia dari pantulan cermin,
Begitu pun dengan Alia yang terdiam menatap Faraz dari cermin yang sama.
"Apa yang tadi Faraz lakukan, Kenapa sejak di sini Faraz terus membuatku terbuai dengan sikapnya, Apa Faraz sudah mulai mencintaiku, Atau... Dia hanya mempermainkan emosiku?" ucap Alia dalam hati.
"Aku yakin Kau sudah tidak lagi marah padaku, Rasa marahmu padaku tidak sebesar rasa cintamu padaku, Kini Aku sudah benar-benar yakin dengan cinta mu dan juga perasaanku,
Aku janji padamu Aku akan mengatakan semuanya dan membuat mu jadi wanita yang paling bahagia," bagi Fataz.
"Ee... Aku akan mengantar Paman dan Bibi ke bandara, apa Kau mau ikut?"
"Tidak." jawab Alia dengan cepat.
"Baiklah, Aku pergi dulu."
°°°
Setelah memikirkan nasib bayi yang ada di kandungannya, Akhirnya Kavita kembali ke rumah Dev, meskipun di hatinya masih merasa sakit hati padanya, Namun Ia tidak memiliki pilihan lain.
Dev membukakan pintu mobil untuk Kavita.
Ia meraih tangannya dan menggandeng mesra memasuki rumahnya.
Kavita menatap heran Dev sampai masuk ke kamarnya.
"Apa keluarga mu belum ada yang pulang?"
"Belum," ucap Dev mendekati Kavita dan mengusap pipinya.
Kavita memalingkan wajahnya dengan masam.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Dev mencoba mencium Kavita.
Kavita memejamkan mata mencoba merasakan kecupan agresif dari Dev.
Dev membuat Kavita berbaring di ranjangnya, dengan penuh gairah Dev memagut bibir Kavita yang sudah beberapa bulan ini tidak ia rasakan.
Tangannya mulai membuka dress yang Kavita kenakan.
Namun Kavita menghentikan aksinya hingga membuat Dev terlonjak.
"Kita tidak bisa melakukan ini," ucap Kavita.
"Kenapa?" tanya Dev kecewa.
"Aku sedang tidak enak badan."
"Apa Kau coba menipuku?"
Kavita hanya terdiam mengalihkan pandangannya.
"Ada apa dengan mu, kenapa Kau berubah?"
"Kau yang berubah Dev, Kau yang menghianatiku!"
"Aku tidak akan menghianati mu jika Kau mau melayani ku," ucap Dev meninggalkan Kavita dengan kesal.
Kavita yang mendengar jawaban Dev bergegas mengejarnya.
"Jadi Kau memanggil wanita itu hanya untuk melayani hasrat birahi mu?" tanya Kavita yang seakan tak percaya.
"Lalu apa yang harus ku lakukan? Aku laki-laki normal sedangkan istri ku tidak mau melayani ku!"
Kavita terdiam mendengarnya.
"Sebelum kita menikah Kau rela menyerahkan tubuh mu pada ku, Padahal ketika itu Kau sudah menikah dengan Pria lain, Tapi kenapa saat Kita menikah, Kau jadi tidak mau melayani ku, Apa ini sudah jadi kebiasaan mu, Menikah dengan Pria lain lalu melayani Pria lainnya?"
"DEEEEVVVVV..... PLAAKKKKK!!!"
"Kau berrrani menamparku?" Dev menarik rambut bagian belakang Kavita.
"Aaaaa..." Kavita menahan rasa sakit akibat tarikan itu.
"Dengar! Meskipun Aku mencintaimu Aku bukanlah laki-laki bodoh seperti Faraz, Aku tidak akan tinggal diam jika Kau berani macam-macam padaku, jadi Jika Kau masih menginginkan bayi yang ada di perut mu memiliki Ayah, Berhenti membantah, Turuti semua keinginan ku sebelum cintaku padamu benar-benar lenyap dari hatiku," Dev melepaskan Kavita dengan kasar hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
Dev yang sudah di kuasai oleh kemarahan meninggalkan Kavita tanpa memperdulikannya.
Bersambung....
Ayo para Reader harus sportif, dulu pas Faraz di sakiti segala bodoh bego dan kawan-kawannya keluar semua, giliran Kavita yang di sakiti pada kasian mengatasnamakan sesama wanita 🤣