
"Yahhhh Harus puasa lagi," keluh Faraz menjatuhkan kepalanya di pundak Alia.
Alia tertawa memeluk punggung Faraz.
"Sabar ya, Nanti kalau udah agak gedean, Hi-hi-hi."
"Iya gak papa, Yang penting kamu dan salon bayi kita sehat."
Faraz mencium perut Alia dan menggendongnya ke ranjangnya.
"Beristirahatlah," ucap Faraz mengecup kening Alia. Kemudian meninggalkannya ke kamar mandi.
Malam kian larut Alia terlihat semakin tidak nyenyak tidur, Ia terus merasa gelisah hingga pergerakannya membuat Faraz terbangun dari tidurnya.
Faraz menyalakan lampu di atas nakas, Kemudian melihat Alia yang masih terpejam namun tubuhnya terus bergerak kesana-kemari.
"Sayang..." dengan lembut Faraz mengusap kepala Alia.
"Sayang, Kamu baik-baik saja?"
Alia membuka matanya dan melihat Faraz di sisinya.
"Ada apa? Kenapa Kamu terlihat begitu gelisah?"
"Cuaca hari ini terasa panas sekali," ucap Alia sembari menyeka keringat di lehernya.
"Ini AC nya sudah dingin banget loh, Biasanya Kamu paling tidak kuat dengan AC?"
"Iya, Tapi malam ini Aku merasa begitu kegerahan."
Faraz menggaruk-garuk kepalanya melihat Alia yang tidak seperti biasanya.
"Sayang..."
"Hmm."
"Kayaknya minum es kelapa muda seger deh?"
"Hagh! Kelapa muda?"
Alia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Faraz menoleh kearah jam dinding dan membulatkan matanya.
"Sayang ini sudah pukul 02.17 dini hari, Besok aja ya?"
"Gak mau, Aku kan gerahnya sekarang masa nunggu besok."
"Tapi sudah jam segini Sayang, Mana ada penjual es kelapa muda."
"Ya sudah, Tidak usah!" Alia langsung membaringkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Oh ya ampun Dia ngambek." batin Faraz.
Faraz terdiam sesaat, Kemudian kembali menatap Alia yang masih di bawah selimut membelakanginya.
"Apa ini yang dinamakan ngidam?" batin Faraz.
Faraz menutup mulutnya yang terbuka, Kemudian terseyum mendekati Alia.
"Ini keinginan bayi Kita ya?"
"Au Ahh."
"Baik Aku carikan dulu ya."
Alia yang mendengarnya terseyum dan langsung membuka selimutnya.
"Ikut."
"Kamu tunggu di rumah saja, Nanti takutnya kelamaan."
"Gak mau, Pokoknya Aku pingin ikut."
Faraz menghelai nafas panjang dan mengiyakan keinginan Alia untuk ikut, Padahal Ia sendiri juga bingung harus mencari kemana es kelapa muda di jam segitu.
"Baiklah, Ayo."
Alia terseyum bahagia dan turun dari ranjangnya.
•••
Faraz terus menelusuri jalan yang biasanya di gunakan oleh para pedagang kaki lima sesuai keinginan Alia.
Namun mencari es kelapa muda di jam yang hampir pukul 03.00 dini hari tentu bukan perkara mudah untuk mereka temui.
"Sayang kita cari di restoran 24jam ya, Barang kali ada."
"Nggak mau, Aku maunya di pinggir jalan, Yang masih muda seger dan tidak di campur apapun."
"Katanya es tapi gak mau di campur apapun." protes Faraz.
"Iya maksudnya cukup di kasih es aja, Ihh Mas nyebelin banget sih." ucap Alia kesal.
Setelah menelusuri jalan hampir dua jam, Faraz melihat ada penjual es kelapa muda yang terlihat hanya di sinari lampu pijar lima watt.
Faraz pun menghentikan mobilnya dan segera membuka sabuk pengamannya.
"Sayang tunggu lah di sini, Aku akan lihat dulu."
Alia mengangguk tanpa memprotes.
Faraz turun dan melihat penjual sudah tidur di kursi panjang di sebelah kelapa muda yang berserak di tanah.
"Bang..." Faraz mencoba membangunkan penjual.
"Bang..."
Karena berkali-kali memanggil tidak mendapat jawaban, Akhirnya Faraz masuk ke dalam dan membangunkan penjual.
"Niat jualan gak sih." ucap Faraz begitu penjual membuka matanya.
"E-e, Ya niat Tuan, Tapi besok lagi, Sekarang sudah tutup."
"Jika Aku ingin beli sekarang bagaimana?"
"Bisa Tuan Tapi tidak ada es nya."
Faraz yang mendengarnya kembali ke mobil untuk bertanya pada Alia.
"Sayang, Es nya sudah tidak ada, Bagaimana jika Kita beli kelapa mudanya lalu Kita bikin es sendiri di rumah?"
"Gak mau, Nanti Mas bikinnya gak enak."
"Apa bedanya Sayang, Kan kamu bilang hanya kelapa muda divamour es, Jadi siapapun yang bikin rasanya tetap sama."
"Tapi Aku maunya Abangnya yang bikin."
"Tapi es nya tidak ada Sayang,"
"Gak mau tau pokoknya harus ada."
Faraz mengacak-acak rambut belakangnya dengan geram lalu kembali ke penjual.
"Kamu punya motor?"
"Ada Tuan."
"Nomer ponsel?"
"Sebentar"
Mereka pun saling bertukar nomor ponsel.
Setelah itu Faraz mengirimkan alamat rumahnya.
"Pergilah ke rumahku dan ambil es batu secukupnya, Aku akan memberitahukan pada Orang di rumah."
"Baik Tuan." penjual pun pergi dengan motornya.
Faraz menghelai nafas dan kembali ke mobil.
"Mana Mas, Kok penjualannya malah pergi?"
"Tunggulah sebentar."
"Tapi Aku sudah tidak tahan, Aku pingin banget Mas, Bangetttt pokoknya penginya itu gak bisa di ungkapin dengan kata-kata."
"Iya, Tapi tunggulah beberapa menit lagi."
Alia cemberut memalingkan wajahnya.
"Oh ya ampun, Jadi seperti ini rasanya jika Istri sedang ngidam," batin Faraz.
Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, Akhirnya penjual kembali dan langsung membuatkan es kelapa muda untuk Alia.
Faraz mengajak Alia turun dan menemaninya minum secara langsung dari batok kelapa muda sesuai ke inginkan.
Alia memejamkan matanya menikmati segarnya kelapa muda yang mengalir ke tenggorokannya.
"Sayang..."
"Hmm."
"Biasa aja minumnya, Jangan bikin Mas pingin." lirih Faraz
"Kalau pingin tinggal pesan saja."
"Bukan pingin kelapanya, Tapi pingin Kamunya." ucap Faraz tertawa dan di balas pukulan manja oleh Alia.
Bersambung...
SEMANGAT DONG, KALAU GAK MAU CEPAT TAMAT 😀