Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Rempongnya Faraz


Alia masih terlihat gugup karena pertanyaan Faraz.


Ia menyembunyikan wajahnya ketika Faraz berusaha menatapnya.


"Kenapa Kau menyembunyikan wajah mu? Jawab Aku?"


"Omong kosong," Alia langsung berdiri dan kembali terpleset.


Faraz yang baru berusaha bangun dengan sigap menangkap tubuh Alia.


Mereka terdiam dan kembali saling menatap.


"Baiklah tidak perlu kamu jawab, karena Percuma saja, meskipun kamu menyukai ku, Aku tidak akan pernah menyukai mu," ucap Faraz.


Alia langsung menyikut perut Faraz dan meninggalkannya dengan kesal.


°°°


Malam Hari.


Ibu memanggil Faraz dan Alia untuk makan malam,


Setelah mereka duduk, Ibu kembali ke dapur.


Faraz yang tidak biasa makan makanan yang Ibu sediakan di meja melihatnya bingung.


"Makanan apa ini?" tanya Faraz melihat satu persatu lauk yang Ibu sajikan.


"Apa kamu tidak suka makanan seperti ini?" lirih Alia.


"Bukan begitu Cupu, ... Tapi lihatlah, ini sayur apa, Aku tidak pernah melihatnya," ucap Faraz bingung.


"Apa kamu tidak menyukai makanannya?" tanya Ibu yang baru datang.


"Eee... Bukan begitu Bibi.... Ee... Maksud ku Ibu... Aku hanya...."


"Ibu tau.. sejak remaja kamu sudah tinggal di luar negeri, pasti kamu tidak suka masakan kampung," ucap Ibu yang langsung mengangkat semua makanan yang ada di meja.


"Ee... Ibu... Mm... Mau dibawa kemana makanannya?" tanya Faraz bingung.


"Kamu tidak suka kan?" Ibu langsung membawa semua makanannya.


Faraz terperangah melihat sikap Ibu mertuanya.


"Sekarang tidurlah dengan perut kosong!" ucap Alia meninggalkan Faraz dengan kesal.


"Ibu dan anak sama-sama keras kepala," gerutu Faraz kesal.


Faraz pun meninggalkan meja makan dan menyusul Alia ke kamar.


Faraz melihat Alia sudah berbaring di tempat tidurnya.


Faraz menghelai nafas kasar dan bingung apa yang harus ia lakukan.


Faraz pun melangkah dan duduk di sabelah Alia.


"Cupuuu... Sekarang Aku harus tidur dimana? Tempat tidur mu hanya cukup untuk satu orang, Dan lagi pula kita tidak mungkin tidur bersama kan?"


Alia duduk kembali dan melihat Faraz dengan kesal.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu berharap ingin tidur bersama ku?"


"Kenapa kamu selalu membuatku kesal?" Alia memberikan bantalnya dengan kesal.


Alia segera turun dan mengambil karpet untuk tidur di lantai.


Faraz mencebikan bibirnya sembari mengangkat kedua bahunya.


Ia pun bersiap untuk tidur.


°°°


Malam semakin larut namun Faraz belum juga bisa tidur.


Selain Ia merasa kepanasan Ia juga merasa sangat kelaparan.


Ia menatap Alia yang sudah terlelap.


"Gadis cupu ini enak-enak kan tidur dengan pulas sementara aku merasa begitu lapar dan kepanasan," gumam Faraz yang langsung membuka bajunya dan mengibas-ngibas kan pada tubuhnya.


"Cupu... Tidak adakah kipas di kamar mu?" .


"Cupuuu.... hegh gadis ini benar-benar membuat ku kesal," Faraz yang tidak mendengar jawaban Alia turun dari tempat tidurnya, namun baru beberapa langkah Kaki Faraz tersangkut karpet hingga terjatuh menimpa Alia.


"Awwhhh....!" Alia terlonjak dan menatap Faraz yang tepat berada di atas wajahnya.


Untuk beberapa menit Keduanya saling menatap di dalam cahaya lampu dari luar kamarnya.


Alia berusaha mendorong tubuh Faraz dan menyadari Faraz hanya bertelanjang dada.


"Apa yang akan Kau lakukan?" Sekuat tenaga Alia mendorong tubuh Faraz.


"Apa yang kamu katakan? Apa kamu fikir Aku akan melakukan itu padamu?"


"Lalu untuk Apa kamu tidak memakai bajumu dan berada di atas ku?" ucap Alia sambil menurunkan pandangannya


"Disini panas sekali... Apa sekedar kipas saja kamu tidak punya?" tanya Faraz kesal.


"Aku tidak punya dan Aku sudah terbiasa tidak memakai kipas apa lagi AC." jawab Alia kesal


"Lalu sekarang bagaimana... Aku tidak akan bisa tidur sepanjang malam ini, perutku sangat lapar, Aku juga begitu kepanasan," keluh Faraz.


Alia menarik nafas panjang, dan beranjak dari duduknya.


"Sekarang pakai bajumu dan ikut dengan ku," ucap Alia mengajak Faraz ke dapur.


Faraz mengikuti Alia sembari memakai kaosnya.


"Apa yang akan kita lakukan?"


"Kamu bilang kamu kelaparan, maka duduk diam biar Aku membuatkan sesuatu untuk mu," ucap Alia sembari mengeluarkan bahan makanan dari kulkasnya.


"Apa yang akan kamu buat?" tanya Faraz penasaran.


"Lihat saja pasti kamu akan menyukainya," Alia mulai memotong-motong sayuran yang akan di masak.


Faraz terdiam menatap Alia yang terlihat fokus memasak.


"Kalau di perhatikan si Cupu lumayan juga," batin Faraz.


"Awwwhhh," rintih Alia.


"Apa Kau tidak papa?" tanya Faraz yang langsung meraih tangan Alia.


"Tidak masalah, Aku hanya kaget kecipratan minyak panas,"


Faraz langsung melepaskan tangannya.


"Sebenarnya kamu bisa masak atau tidak?" ucap Faraz kembali kesal.


"Sebenarnya kamu bisa diam atau tidak, Aku kan menyuruh mu duduk diam untuk apa memperhatikan ku?"


"Kau...! Aarghh..." Faraz kembali duduk dengan kesal.


Alia menahan tawanya melihat Faraz.


Beberapa menit kemudian Alia selesai memasak dan menghidangkannya kepada Faraz.


"Bubble and squeak," ucap Alia tersenyum.


"Cupu... Kau bisa masak seperti ini?" tanya Faraz tersenyum lebar.


"Apa kau lupa jika Aku bekerja di restoran internasional?" tanya Alia tertawa.


"Ya Aku tau, tapi bagaimana bisa kamu tau Aku suka makanan seperti ini?"


"Sebenarnya Aku tidak tau, tapi Aku tau kamu kuliah di Inggris, dan di kulkas hanya ada bahan itu, jadi Aku putuskan untuk membuat Bubble and squeak, apa kau menyukainya?"


"Lumayan," ucap Faraz sambil memakan dengan lahap.


Alia tersenyum melihat Faraz yang terlihat seperti orang kelaparan.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar.


"Sekarang naiklah ke tempat tidur, Aku akan mengipasi mu," ucap Alia sembari mengambil buku.


"Benarkah sepanjang malam Kau akan mengipasi ku?"


"Sampai kamu tertidur," ucap Alia.


Faraz tersenyum dan naik ketempat tidur.


"Kenapa kamu membuka kaos mu lagi, Aku kan sudah mengipasi mu?" tanya Alia yang terkejut melihat Faraz langsung membuka kaosnya.


"Kipsan tangan mu tidak cukup untuk mendinginkan tubuh ku," ucap Faraz yang langsung berbaring tanpa rasa canggung.


Alia mencuri pandang, melihat tubuh sixpack Faraz yang terbentuk dengan sempurna.


"Apa kau takut tergoda?" tanya Faraz mengedipkan matanya dengan nakal.


"Apa Kau sengaja?" tanya Alia kesal.


"Sebelumnya Kau mengatakan tidak tertarik menyentuh ku kan? lalu apa bedanya Aku sengaja atau tidak," ucap Faraz tersenyum.


Aliapun mengalihkan pandangannya dengan kesal.


"Cepat kipasi lagi," ucap Faraz sembari memejamkan matanya.


Alia kembali mengipasi Faraz sampai ia merasa ngantuk, dan terjatuh di dada Faraz.


Bersambung...