
Kavita berdiri di teras rumahnya melihat balkon kamar Faraz,
Dulu setiap hari Kavita akan melihat Faraz berdiri di balkon untuk menatapnya, namun sejak Faraz kembali Kerumahnya, sekalipun Kavita tidak pernah melihat Faraz keluar dari kamarnya.
"Sepertinya Faraz telah benar-benar melupakan ku," ucapnya sedih dan kembali masuk ke rumahnya.
°°°
Tok... Tok... Tok...
"Boleh Ibu masuk?" tanya Zeenat yang perlahan membuka pintu kamar Faraz.
"Masuklah Ibu," ucap Alia.
"Heumm... Sepertinya Putra Ibu sangat menikmati rasa sakitnya." goda Ibu.
"Apa maksud Ibu?" ucap Faraz menjadi malu.
"Apa lagi, Kau tidak keluar dari kamar berhari-hari, makan minta di suapi, semua minta di layani, padahal kan yang sakit cuma kakimu, Kau ini benar-benar sakit apa mencari kesempatan untuk terus bersama istri mu?" goda Ibu lagi.
"Ibu... Apaan sih, Kaki ku benar-benar sakit, dan Aku sulit untuk melakukan apapun, jadi Aku minta Alia membantu ku, Apa salahnya, Dia kan istri ku," ucap Faraz.
Alia terhenyak mendengar ucapan Faraz.
"Jadi sekarang Kau sudah menganggapnya sebagai istrimu?" tanya ibu terseyum.
"Aa.... Ee...." Faraz menjadi gugup menatap Alia
"Baiklah, Tidak masalah, Ibu kesini hanya ingin tau keadaan mu, tapi Ibu senang kamu sudah terlihat sehat dan semakin dekat dengan Alia,"ucap Ibu tersenyum.
Faraz terseyum tipis dan melirik Alia.
"Alia, Terimakasih sudah menjaga Faraz dengan sangat baik," ucap Ibu.
"Tidak perlu berterimakasih Ibu, ini sudah tugas ku,"
Ibu terseyum kemudian meninggalkan Kamar Faraz.
Keduanya kembali merasa terdiam dan menatap satu sama lain dengan perasaan canggung.
°°°°
Hari demi Hari terus berjalan,
Alia mengurus Faraz dengan sangat baik, hingga kaki Faraz benar-benar pulih dan bisa kembali beraktivitas.
Hubungan mereka pun semakin dekat, tidak ada lagi kata cupu yang terucap dari mulut Faraz.
Hati Faraz yang semula tertutup rapat kini mulai terbuka, sepertinya Faraz mulai merasa nyaman dengan hubungannya dengan Alia.
Hingga suatu malam Faraz sedang berbaring di kursi balkon kamarnya.
Faraz menatap langit dan berfikir untuk memberi kesempatan pada pernikahannya dengan Alia.
"Ya... Mungkin Aku harus memberikan kesempatan pada hubungan ini." ucap Faraz tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika Aku akan kembali merasakan getaran cinta yang dulu pernah kurasakan, Aku fikir Aku tidak akan merasakannya lagi," ucap Faraz bahagia.
Kemudian Faraz bangkit dan berjalan ke pagar balkon.
Faraz tersenyum mengingat hari-harinya bersama Alia.
Seketika senyumnya terhenti saat melihat seseorang bicara diluar gerbangnya.
Faraz mempertajam pandangannya dan mengamati orang tersebut.
"Baju itu...? Baju itu seperti yang tadi Alia kenakan." Faraz mencoba mengingat.
"Ya.. Aku ingat, Itu baju yang Alia kenakan hari ini,
Tapi.... apa benar itu Alia? Dan.... siapa Pria yang bersamanya?" ucap Faraz terus mengamati mereka.
Faraz melihat Pria itu mempersilahkan wanita itu masuk kedalam mobilnya.
Faraz yang melihat itu langsung berlari kebawah, setelah mencapai gerbang Faraz hanya melihat tangan mereka menutup pintu mobilnya.
Faraz pun langsung bergegas mengambil mobilnya dan mengikuti mobil itu.
"Siapa sebenarnya mereka, Benarkah itu Alia? Tapi Kalau benar itu Alia, Kenapa dia keluar tidak memberitahu ku," berbagai macam pertanyaan ada di benak Faraz.
Hingga mobil itu berhenti di sebuah toko perhiasan.
Faraz semakin risau menunggu kedua orang itu turun dari mobilnya.
Dan betapa terkejutnya Faraz melihat Alia turun dari mobil itu dengan seorang Pria tampan berpenampilan rapi.
"Jadi benar itu Alia?" ucap Faraz menahan sebak di dadanya.
"Lalu siapa Pria itu? Dan kenapa mereka mengunjungi toko perhiasan?" ucap Faraz semakin penasaran
Alia dan Pria itu masuk ke toko perhiasan,
Faraz terus mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Alia jangan lakukan seperti apa yang ku bayangkan, ku mohon jangan lakukan ini kepada ku," batin Faraz yang terasa teriris-iris membayangkan penghianatan yang dulu pernah Ia alami.
Alia dan Pria itu di sambut sangat ramah oleh pemilik toko,
pemilik toko pun memperlihatkan cincin koleksinya dan Alia mulai mencoba berbagai cincin di jari manisnya.
"Coba yang ini..." ucap Pria itu memasukkan cincin di jari manis Alia.
"Tapi menurutku ini terlalu berlebihan," ucap Alia.
"Masa sih... kalau begitu coba yang ini?" ucap pria itu lagi.
"Aaah itu terlalu kecil," ucap Alia tertawa.
"Ya baiklah, Ambillah mana yang kamu suka,"
"Eummm... Sepertinya ini bagus." ucap Alia tersenyum sambil mengangkat tangan menatap cincin yang terpasang di jari manisnya.
"Apa kamu menyukainya?"
"Ya aku sangat menyukai ini, Menurutku ini benar-benar sangat bagus, modelnya unik dan terlihat elegan," ucap Alia tersenyum.
Faraz mengepalkan kedua tangannya dan pergi meninggalkan mereka dengan amarah di hatinya.
******
Bersambung...