
Faraz masih terdiam membiarkan Alia menangis di pelukannya,
Entah kenapa hati Faraz merasa tersentuh oleh tangisnya.
Perlahan tangan Faraz menyentuh pundak Alia.
Dengan perasaan yang tidak biasa Faraz mencoba menenangkannya.
"Tenanglah Aku tidak apa-apa, Ini hanya luka kecil Aku akan segera pulih,"
Alia yang mendengar ucapan Faraz tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.
Ia segera berdiri membelakangi Faraz, menyembunyikan wajahnya karena merasa malu, Ia begitu sangat sedih sampai tidak menyadari jika ia telah memeluknya.
"Apa yang ku lakukan," batin Alia sembari mengetuk-ngetuk keningnya.
Faraz berdiri mendekati Alia.
Ntah kenapa Ia ingin membuat Alia merasa tenang dan tidak sedih lagi.
"Kau tidak perlu khawatir ataupun merasa bersalah, Aku tidak selemah itu, Lihatlah Aku masih bisa mengangkat mu," ucap Faraz yang langsung menggendong Alia.
"Aaw! Bucin..." dengan perasaan terkejut Alia melingkarkan kedua tangannya di leher Faraz.
Faraz terdiam menatap Alia, begitupun dengan Alia yang terpaku menatap Faraz,
Setelah cukup lama saling menatap, Faraz menurunkan tubuh Alia dan membuat keduanya menjadi salah tingkah.
Faraz memutar tubuhnya dan ingin kembali ke tempat tidur, namun baru dua langkah Faraz kembali meringis kesakitan.
"Awwwhhh.... ssssstttttt....."
"Bucin... Tuh kan apa ku bilang, Kamu itu terluka, Kenapa masih berlaga sok kuat?"
"Lalu apa Aku harus ikut menangis bersama mu?"
Alia terdiam mendengar ucapan Faraz.
"Sekarang duduklah, Biar ku lihat luka mu," titah Alia.
Faraz membuka kemejanya dan menoleh kebelakang untuk meminta bantuan pada Alia.
Alia membantu melepaskan kemejanya dan menjadi canggung begitu melihat punggung kekar Faraz.
Faraz yang tidak merasa Alia melakukan apapun kembali menoleh ke belakang.
"Apa yang Kau tunggu, Kau bilang mau melihat luka ku?"
"Eee... Ya, tunggu, sepertinya luka mu kembali berdarah, Aku akan mengganti perbannya," ucap Alia mulai meneteskan obat dan mengganti perbannya.
"Aawwhhh... Pelan-pelan," ringis Faraz.
"Maafkan Aku," Alia memperlahankan pengobatannya.
Faraz menatap wajah Alia yang terlihat begitu khawatir dari cermin di depannya.
Ntah apa yang ada dalam hati dan pikirannya, sehingga membuat Faraz menyunggingkan senyum tipisnya.
"Aku sudah mengganti perban mu, Sekarang beristirahatlah," ucap Alia mengagetkan Faraz.
"Eee... Bagaimana Aku beristirahat? Aku tidak bisa berbaring?"
"Kamu bisa tidur miring atau tengkurap," ucap Alia.
Faraz pun menuruti Alia dengan tidur miring ke sebelah kanan
"Sekarang pejamkan matmu, Aku akan mengipasimu," ucap Alia.
"Tidak perlu, Kamu juga pasti merasa lelah, Beristirahatlah," ucap Faraz.
Alia terseyum mendengar Faraz yang tidak lagi mengeluh kepanasan.
Alia pun pergi mengambil karpet dan bersiap tidur di bawah.
Ia menarik selimutnya dan langsung memejamkan matanya.
Faraz yang tidur menghadap Alia terus menatap wajah cantiknya.
Faraz kembali mengingat saat Alia menangis dan memeluknya, Faraz juga tersenyum mengingat saat ia menggendong Alia untuk membuktikan jika Ia masih cukup kuat menahan lukanya.
Namun seketika Senyum itu pudar ketika Faraz kembali mengingat rasa sakit akibat penghianatan cinta yang Kavita lakukan padanya.
"Apa yang ku fikiran, Aku tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi," batin Faraz yang langsung melepaskan pandangannya dari Alia.
~~
Pagi Hari.
Alia pun berinisiatif membantu Ibunya.
Ibu menatap Alia yang tiba-tiba berdiri di dekatnya.
"Alia... Kapan kamu pulang?"
"kemarin sore Ibu, saat Aku pulang ibu tidak ada jadi kami langsung ke kamar, dan saat malam hari, Aku lihat Ibu sudah tidur jadi Aku kembali ke kamar ku," jelas Alia.
"Kemana kalian pergi? kenapa malam tidak pulang, Dan dimana motor mu, kenapa Ibu tidak melihatnya?"
"Ibu maafkan Aku, Aku meninggalkan motor ku Karena Faraz...Terluka," jelas Alia terbata.
"Apa! Memang apa yang terjadi?"
"Tiga orang preman menyerang Kami Ibu, Faraz melawannya hingga Ia di tusuk dan harus menjalani operasi kecil,"
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Ibu sambil menelisik wajah dan badan Alia dengan rasa khawatir.
"Ibu Aku tidak papa, Faraz yang terluka karena melindungiku,"
"Itu memang sudah kewajibannya sebagai suami untuk melindungi istrinya." ucap Ibu yang kembali terlihat kesal.
"Ibu kenapa berbicara seperti itu, Faraz terluka karena melindungi Putri Ibu, apa Ibu tidak merasa khawatir sedikitpun?"
"Dia itu laki-laki Dia harus kuat, dia tidak boleh manja,"
"Dia memang adakalanya manja Ibu, tapi Dia menunjukkan kedewasaannya di waktu dan tempat yang tepat, kenapa Ibu semakin tidak suka padanya?"
"Dan kenapa Ibu lihat Kau semakin suka padanya, sebelumnya kamu terlihat terpaksa menikahinya?" tanya Ibu menatap Alia.
"Ibu... Sekarang Dia adalah suamiku, seburuk apapun Dia, Dia adalah suami yang harus ku hormati," ucap Alia menundukkan pandangannya.
Ibu yang memang sejak awal tidak begitu menyukai Faraz langsung pergi meninggalkan Alia dengan kesal.
"Ibu.... Ibu...." Alia menghentikan Ibunya, namun Ibu mengabaikannya.
Alia menghelai nafas dan kembali menyiapkan sarapan untuk Faraz.
setelah selesai, Ia pun membawa makanannya ke kamar.
Alia melihat Faraz yang masih terlelap dengan posisi badan tengkurap
Alia meletakkan makanannya di meja dan mendekati Faraz.
Ia duduk dibawah dan menatap wajah Faraz, mengamati setiap inci wajahnya dan mengingat saat Faraz dengan gagah melawan para preman itu.
"Sebelumnya Aku ragu dengan perasaanku, tapi setelah kejadian semalam dan mendengar apa yang Ibu katakan barusan, Aku menyadari bahwa Aku benar-benar peduli dengan mu, Aku benar-benar merasa takut terjadi sesuatu padamu, Jika menurut mu itu cinta, Maka Aku telah jatuh cinta kepadamu," batin Alia.
Beberapa saat kemudian Alia menjadi panik ketika Faraz mulai membuka matanya.
Ia langsung berdiri menjauh dari Faraz.
Kini Faraz telah membuka matanya dengan sempurna.
Netranya tertuju pada Alia yang tengah berdiri membelakanginya.
Faraz yang mencoba berbalik badan kembali merasakan sakit di punggungnya.
"Aaawwwwhhh....." ringis Faraz.
"Bucin..." Alia langsung berlari memegang pundak Faraz.
Mereka saling menatap sesaat.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Faraz tanpa perasaan.
Alia segera mengalihkan pandangannya.
"Kenapa terdiam, bantu Aku duduk."
Alia pun mengangguk dan meletakkan tangan Faraz di pundaknya,
Faraz berhasil duduk dan melemaskan tubuhnya yang terasa begitu kaku.
"Aku akan ke kamar mandi," ucap Faraz.
"Apa Kau yakin?" tanya Alia khawatir.
"Yang sakit punggung ku bukan kaki ku?" jawab Faraz ketus.
Alia pun cemberut mendengar jawaban Faraz.
"Aku fikir setelah kejadian semalam Dia akan berubah, tapi tetap saja sikapnya seperti itu,"
Bersambung...