
Faraz yang terus terjaga menunggu Alia tersentak oleh dering ponselnya.
Ia pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke balkon agar tidak menganggu Ali.
"Hallo Ayah."
"Ada apa Faraz, Kok suaranya terdengar lain?"
"Tidak Ayah, Aku hanya tidak ingin membangunkan Alia, Dia sudah tidur."
"Oh... Ayah fikir terjadi sesuatu."
"Tidak Ayah."
"Oh ya, Bagaimana dengan pekerjaan mu?"
"Tidak terjadi kesepakatan Ayah, Mungkin besok Kami akan pulang."
"Kenapa? Apa Mereka mengajukan syarat yang rumit?"
"Tidak Ayah, Aku hanya tidak ingin melanjutkannya."
"Baiklah terserah Kamu saja, Kamu sudah dewasa, Tentu kamu mengambil keputusan ini sudah mempertimbangan dengan baik."
"Lepaskan-lepaskaaaaaaaaaan...!!!"
Faraz tersentak mendengar teriakkan Alia.
"Faraz Ayah seperti mendengar suara Alia?"
"E-e nanti Aku hubungi lagi." Faraz langsung berlari kedalam dan melihat Alia yang masih memejamkan mata dengan bertriak histeris.
"Sayang... Sayang tenanglah, Buka Mata mu." Faraz menepuk-nepuk pipi Alia untuk menyadarkan.
"Lepaskan-lepaskaaaaaaaaaan...!!!"
"Sayang ini Mas, Buka mata mu!" Faraz menaikkan nada bicaranya sampai Alia tersentak dan membuka matanya.
Keringat dingin bercucuran, Nafas naik turun Alia menatap Faraz yang kini tengah mendekapnya.
"Tenanglah, Ini Mas."
Alia kembali mengalihkan pandangannya dan kembali mengingat bagaimana Malvin menamparnya dengan begitu keras hingga dirinya tersungkur dan membentur meja.
Tanpa mengeluarkan suara, Tanpa menangis, Alia memegangi pipinya sembari memejamkan mata mengingat bagaimana Malvin menampar dan melemparnya dengan begitu sangat kasar.
"Sayang..."
"Hagh!"
"Besok Kita pulang, Zayn dan Zayd sudah sangat merindukanmu."
"Zayn... Zayd...." Alia mulai menangis mengingat kedua Putra kembarnya.
Faraz mengangguk dengan sedih. Kemudian menunjukkan Video perkembangan Si Kembar yang tadi Faraz minta pada Ibunya.
Alia menatapnya dengan tangis dan tawa secara bersamaan.
Melihat Si Kembar yang kini sudah dapat menegakkan kepala dan dadanya ketika dalam posisi tengkurap membuat Alia lebih tenang dan mau menyandarkan kepalanya dalam dekapan Faraz.
•••
Pagi Hari.
Alia mulai membuka matanya dan melihat dirinya tidur dalam dekapan Faraz yang setengah berbaring bersandar di sandaran ranjangnya.
Melihat Faraz yang masih tertidur, Alia melepaskan diri dengan sangat perlahan. Namun Faraz tetap bisa merasakannya dan membuka matanya.
"Sayang, Kamu sudah bangun?"
Alia hanya mengangguk pelan.
Faraz terseyum karena melihat Alia yang terlihat lebih tenang.
"Mau di temani ke kamar mandi?"
Alia menggeleng pelan.
"Baiklah hati-hati."
Tanpa menjawab, Alia turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi.
Ia berdiri di wastafel dan menatap dirinya dalam cermin.
melihat luka kebam di pipi dan ujung bibirnya membuat Alia kembali mengingat tamparan itu. Alia memejamkan mata untuk mengalihkan pikirannya. Kemudian Ia kembali membuka matanya dan langsung membulatkan matanya melihat bayangan Malvin tengah menyeringai dari dalam cermin. Alia langsung histeris dan melemparkan pasta gigi yang sedang ia pegang ke arah cermin hingga pecah berkeping-keping.
PRAAAANNNNNNKKKKKKK....!!!
Suaranya yang terdengar sampai keluar membuat Faraz menerobos masuk kedalam.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat..!!!" Alia memejamkan mata sembari memegangi kedua telinganya.
"Jangan mendekat... Jangan mendekat." dengan memeluk kedua kakinya yang terlipat Alia duduk di bawah wastafel dengan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Sayang..."
"Lepaskan!"
"Ini Mas!" Faraz mengangkat wajah Alia untuk menatapnya.
"Ini Mas, Ayo Kita bersiap, Zayn dan Zayd pasti sudah menunggumu."
Mendengar nama kedua Putranya membuat Alia kembali tenang dan menganggukkan kepalanya.
Perlahan Faraz menarik tangan Alia untuk berdiri.
"Aowwh..." ringis Faraz.
Alia tersentak dan melihat di bawah telapak kaki Faraz berlumuran darah.
"M-m Mas terluka?"
"Tidak apa-apa." Faraz mengangkat sebelah kakinya dan mencabut pecahan cermin yang menusuk telapak kakinya.
Faraz menahan rasa sakit dengan tidak mengeluarkan suara saat merasa betapa sakitnya saat cermin di cabut dari telapak kakinya.
"Beres, Ayo Kita mandi." Dengan langkah yang meninggalkan jejak darah, Faraz menuntun Alia ke bawah shower.
"Mas mandiin?" tanya Faraz menunggu persetujuan.
Alia mengangguk pelan dan membiarkan Faraz membuka satu persatu pakaiannya.
"Kamu ingat saat Kita pertama kali Kita bertemu?"
Alia mengangguk pelan.
"Dan saat pertama kali Mas mengatakan cinta padamu?" Sambil memandikan Alia Faraz terus mencoba membuat Alia mengingat masa-masa indah Mereka berdua.
Alia mulai mengukir senyum tipisnya mengingat betapa sulitnya Faraz mengucapkan kata maaf pada dirinya.
"Dulu Aku begitu sulit mengatakannya, Namun sekarang, Sehari saja Aku tidak mengatakan cinta padamu maka hari ku akan terasa tidak lengkap." Faraz yang mulai menyabuni tubuh Alia merasakan yang di bawah sana mulai memberontak. Namun melihat kondisi Alia tidak mungkin meminta Alia melayani hasratnya.
Faraz segera membilas tubuh Alia dan membalutnya dengan handuk. Kemudian membopong tubuh Alia keluar.
Dengan penuh kelembutan Faraz mengeringkan rambut Alia dengan handuk. Bahkan Faraz tidak mempedulikan kakinya yang masih berdarah hingga meninggalkan jejak di seluruh kamar hotel.
Setelah selesai memakaikan baju pada Alia Faraz meminta izin untuk mandi sebentar, Sambil menunggu Dirinya mandi Faraz melakukan Video call pada Ibunya untuk memperlihatkan kedua bayinya.
"Mas mandi dulu ya." Faraz mengusap lembut kepala Alia dan meninggalkannya.
Alia melihat ke-dua Bayinya yang terlihat makin bergerak aktif dan menunjukan perubahan pada tubuh dan pipinya yang terlihat semakin embul seperti bakpao. Tanpa Alia sadari Ia mengukir senyum di bibirnya. Namun senyumnya seketika terhenti saat mendengar bel pintu berbunyi. Ketakutannya seketika kembali mengingat peristiwa mengerikan itu.
"Alia... Alia..." terdengar suara Bu Zeenat yang tidak lagi di hiraukan oleh Alia. Alia terus menatap pintu sembari beringsut mundur memeluk kedua lututnya.
"Tidak... Tidak..."
"Sayang..."
"Dia datang lagi... Dia datang lagiii..."
"Tidak Sayang, Dia sudah di penjara, Dia tidak akan pernah datang lagi."
"Dia datang, Dia tadi menekan bel."
Faraz turun dan membukakan pintu.
"Sarapannya Tuan." ucap pelayan hotel.
"Bawa masuk."
Pelayan mendorong masuk troli dan menatap aneh kamar yang terlihat seperti kapal pecah.
"Apa yang Kau lihat! Lakukan pekerjaan mu dan segera pergi dari sini!"
Pelayan pun mengangguk dan meletakkan sarapan di meja kemudian bergegas pergi.
Faraz Kembali mengunci pintu dan mendekati Alia.
"Kamu lihat, Itu hanya pelayan, Dia tidak akan pernah kembali, Kita juga akan segera kembali ke Jakarta, Hem?"
Alia menganggukkan kepalanya dan memeluk Faraz.
Faraz menarik nafas dalam-dalam dan mengusap lembut kepala Alia kemudian mengecupnya.
Bersambung...
KALIAN KALAU AUTHOR LAMA GAK UP PADA NYARIIN GAK SIH?
PENGIN DEH ADA YANG NYARI-NYARI AUTHOR DI FB MENANTIKAN MAS BUCIN GRAGAS UP, TAPI SEJAUH INI GAK ADA YANG NYARIIN,
YO WES LAH SLOW AEE POSTINGE, WONG GAK ADA YANG KANGEN INIH 😌