
Faraz dan keluarganya sampai dirumah Alia.
Para tetangga yang melihat kedatangan mereka berbondong-bondong kedepan rumah masing-masing untuk melihat mereka dari jarak yang lebih dekat.
"Faraaaaz... Faraaaaz..." triak beberapa orang.
Faraz hanya bersikap cuek dengan kaca mata hitamnya.
Alia yang mendengar kegaduhan di luar menuju jendela dan melihat apa yang terjadi.
Alia pun melihat Faraz dan keluarganya udah sampai teras rumahnya.
"Ada apa Alia?" tanya Ibu.
"Faraz dan keluarganya,"
Ibu langsung melihat dari jendela.
"Mau apa lagi mereka kemari," ucap Ibu yang masih terlihat kesal.
Tok tok tok...
Ibu berjalan untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum Fareeda," ucap Zeenat begitu Fareeda membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam," ucap Fareeda datar.
"Boleh kita masuk?" tanya Zeenat.
"Ya, silahkan," ucap Fareeda.
Zeenat tersenyum begitu melihat Alia, Alia pun membalas senyum dan menganggukan kepalanya.
"Alia buatkan minum untuk mereka," ucap Ibu.
Alia mengangguk dan pergi ke dapur.
"Silahkan duduk," ucap Fareeda.
Kedua keluarga kini duduk bersama.
"Apa maksud kedatangan kalian kemari?" tanya Fareeda.
Belum sempat Zeenat menjawab Alia sudah datang dengan minumannya.
"Terimakasih Alia," ucap Zeenat.
Alia mengangguk dan akan kembali kedalam.
"Tunggu Alia... Duduklah bersama kami," ucap Zeenat.
"Tapi Nyonya..." ucap Alia ragu.
"Tidak apa-apa duduklah bersama kami," ucap Zeenat lagi.
Alia pun menatap Faraz sesaat, Faraz juga menatap Alia dengan tatapan sombongnya.
Ibu menegang tangan Alia, hingga membuatnya kaget.
"Duduklah," ucap ibu.
Alia mengangguk dan duduk di samping ibunya.
"Begini Fareeda, maksud tujuan kami kemari adalah ingin melamar Alia."
Ucapan Zeenat membuat Fareeda dan Alia terkejut.
"Apa! Melamar?"
"Ya itu benar Fareeda, kami ingin Alia menjadi menantu kami," ucap Zeenat lalu menatap Shehzad.
Shehzad pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Alia dan Ibunya saling melihat satu sama Lain.
"Apa yang Nyonya katakan?" tanya Fareeda.
"Fareeda jangan panggil Aku Nyonya, Aku masih sahabat mu yang dulu tidak ada yang berubah," ucap Zeenat.
"Semua sudah berubah Nyonya, Sekarang Anda sudah menjadi orang besar, sementara Aku hanya orang kecil," ucap Fareeda
"Di hadapan Allah tidak ada bedanya orang besar maupun orang kecil, karna Allah menilai Manusia dari imannya bukan Hartanya," ucap Shehzad.
Ibu fareeda terdiam mendengar ucapan Tuan Shehzad.
"Aku tidak menyangka ini, kalian telah memiliki segalanya tapi ketaatan kalian pada Allah sungguh mengagumkan." puji Fareeda
"Karena semua ini pemberian dari Allah, sudah sepantasnya kita taat dan bersyukur untuk semua yang telah Allah berikan kepada kami." ucap Shehzad lagi.
"Siapapun yang menjadi menantu kalian mereka sangat beruntung memiliki Mertua seperti kalian." ucap Fareeda tersenyum.
Faraz mengernyitkan dahi mendengar perkataan Ayah nya.
Ibu Zeenat tersenyum melihat ekspresi wajah Faraz.
Alia pun menatap Faraz sesaat.
"Tapiii... Putri ku tidak sepadan dengan Putra kalian, di luar sana pasti banyak gadis yang lebih cantik dan sepadan dengan kalian."
"Fareeda kenapa bicara seperti itu, Kami tidak mencari menantu yang cantik atau sepadan dengan kami, kami tidak peduli status kalian, Aku mengenalmu sejak dulu, kamu sangat baik, dan aku yakin kamu juga mendidik putrimu dengan sangat baik," ucap Zeenat mantap.
"Apa kalian melamar Alia Karena pemberitaan kemarin?" tanya Fareeda yang masih belum yakin.
"Tidak seperti itu Fareeda, bahkan sebelum ada pemberitaan itu, pertama kali Aku melihat putrimu di tempat kerjanya, akzu langsung menyukainya, selain cantik Putri mu juga sangat sabar melayani pengunjung yang sudah tua, jika dengan orang lain saja dia seperti itu, apa lagi dengan keluarga sendiri? Aku yakin Dia akan mengurus kami dengan sangat baik jika kami tua nanti." ucap Zeenat tersenyum menatap Alia.
Alia pun terseyum kecil.
Faraz menatap Alia sekejap.
"Tapi apa Putra mu setuju?" tanya Fareeda melirik Faraz.
Faraz mengalihkan pandangannya kesana-kemari mendengar pertanyaan Bu Fareeda.
"Itu tidak perlu ditanya, yang perlu ditanya apa Putri mu bersedia menikah dengan Faraz?
Alia terlihat sangat gugup dan sesekali melirik Faraz.
Faraz yang juga tengah melirik Alia membuat Netra keduanya bertabrakan.
"Alia... Apa kamu setuju dengan pernikahan ini?" tanya Zeenat.
"Ee.. Nyonya.... A... Aku... Menuruti semua perkataan Ibu ku, jika Ibu mengatakan iya,
Maka Aku akan setuju, jika Ibu ku mengatakan tidak Aku pun tidak akan menyetujuinya," ucap Alia terbata-bata.
"Naahhh... Sekarang keputusan ada di tanganmu Fareeda, sekarang apa keputusanmu?"
Ibu Fareeda terdiam dan mengingat saat pemberitaan di televisi tentang Alia,
Ibu juga mengingat saat orang-orang mulai membicarakan hal buruk tentang Alia, dan tentang kehawatiran Ibu yang khawatir jika tidak ada Pria yang mau menikahi Alia karena pemberitaan itu, Ibu terus berfikir macam-macam tentang Alia jika ia tidak menerima lamaran keluarga Shaikh.
"Fareeda...." pnggil Zeenat mengagetkan Ibu Fareeda.
"Kenapa terdiam, Apa keputusan mu?"
"Ya," ucap ibu Fareeda singkat.
"Ya...?" tanya Zeenat memastikan.
"Ya... Saya menerima lamaran ini," ucap ibu Fareeda
"Alhamdulillah..." Zeenat begitu bahagia sembari menggenggam tangan suaminya.
Shehzad pun tersenyum bahagia, Hanya Faraz yang terlihat melipat wajah nya.
Alia memperhatikan Faraz dan merasa jika Faraz tidak menginginkan pernikahan ini.
"Selamat untuk pernikahan ini Fareeda." ucap Zeenat bangun dari duduknya dan memeluk Fareeda.
Semua orang pun ikut berdiri dan saling memberi selamat.
"Selamat..." ucap Shehzad bersalaman dengan Fareeda
"Selamat untuk mu sayang." ucap Zeenat memeluk Alia.
Fareeda menatap Faraz yang masih diam saja.
"Selamat Faraz..." ucap Bu Fareeda.
"Ya..." ucap Faraz dengan anggukan kecilnya.
"Baiklah Fareeda kalau begitu kita pulang dulu, secepatnya kita akan kembali untuk membicarakan tanggal pernikahan Putra dan Putri kita," ucap Zeenat bahagia.
"Baiklah..." ucap Fareeda menganggukan kepala.
Mereka semua pun masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Alia.
Ibu dan Alia saling melihat
"Syukurlah mereka melamar mu, jika tidak entah apa yg akan terjadi dengan hidup mu,"
"Apa ibu bahagia dengan pernikahan ini?"
"Ibu tidak tau, tapi jika pernikahan ini untuk kebaikan kita semua dan membuatmu bahagia maka Ibu juga akan bahagia," ucap Ibu lalu meninggalkan Alia.
Alia terdiam memikirkan sikap sombong Faraz dan selalu marah-marah padanya.
Bersambung....