Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Mencari Kesibukan


Shehzad dan Zeenat bersiap untuk sarapan.


Mereka terkejut melihat Faraz turun dengan penampilan yang terlihat begitu segar dan rapi,


Seperti tidak terjadi apapun Faraz melangkah dengan penuh semangat.


"Good Morning Ayah, Good Morning Ibu," ucap Faraz dengan senyuman manisnya.


Faraz langsung duduk mendahului mereka.


Ayah dan Ibu ikut duduk menatap Faraz dengan heran.


"Ada apa? Kenapa Ayah dan Ibu menatapku seperti itu?' tanya Faraz.


"Ee... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu ragu.


"Aku baik-baik saja, Ayah dan Ibu tenanglah, Aku tidak akan kembali terpuruk seperti dulu lagi," ucap Faraz terseyum.


"Lalu Kau mau kemana dengan penampilan seperti ini?" tanya Ayah.


"Aku akan mencoba peruntungan ku disini, Aku akan mendatangi beberapa perusahaan modeling untuk mencari kesibukan sampai Aku lupa dengan masalahku," ucap Faraz yang menunduk sedih.


"Faraz Kau tidak perlu susah payah mendatangi perusahaan untuk casting dan sebagainya, Ayah bisa menjadikan mu model profesional tanpa harus susah payah ikut seleksi.


"Tidak Ayah, itu namanya Nepotisme, curang, dan Aku tidak ingin itu, karena Aku ingin semua yang ku dapatkan dari kerja kerasku sendiri," ucap Faraz penuh semangat.


"Ayah bangga padamu, Tapi jika Kau membutuhkan bantuan, Katakan saja pada Ayah,"


"Terimakasih Ayah tapi pengalaman ku di London dan di Malaysia cukup untuk bekal berkarirku disini." ucap Faraz terseyum..


"Baiklah Ayah, Ibu, Aku pergi sekarang,"


"Hati-Hati Sayang," ucap Ibu.


Shehzad dan Zeenat terseyum lega menatap Faraz berniat untuk berubah.


"Kamu lihat itu Shehzad Putra ku tak selemah yang Kau bayangkan," ucap Zeenat terseyum bangga.


"Ya, Syukurlah... Apa yang ku takutkan tidak terjadi." ucap Shehzad.


Zeenat terdiam, dan mengingat sikap Faraz, Zeenat yakin, meskipun Faraz berusaha tegar namun Ibu yakin didalam hati Faraz tersimpan kesedihan yang mendalam.


Perlahan Mobil Faraz keluar dari gerbang rumahnya, di saat bersamaan Faraz melihat Kavita di sebrang jalan yang tengah menatapnya.


Faraz langsung mengalihkan pandangannya dan kembali fokus mengeluarkan mobilnya.


Dengan sikap sedingin es Faraz menutup kaca mobilnya. Namun belum sepenuhnya kaca tertutup Kavita menghentikannya.


"Faraz.." Kavita berlari menghampiri pintu mobil Faraz.


"Ada apa?" tanya Faraz dingin.


"Maafkan Aku, bukanya Aku ikut campur tapi semalam aku tanpa sengaja melihat Alia pergi dari rumah mu, Ee... Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Kavita dengan rasa ingin tahunya.


"Itu tidak ada urusannya dengan mu," ucap Faraz dengan sinis.


"Tidak perlu! Aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan mu," tegas Faraz.


"Faraz Kau..."


"Apa? Apa yang Kau fikirkan, biarpun Aku ada masalah dengan istri ku, Aku tidak akan pernah lari kepadamu." ucap Faraz menatap Kavita penuh kebencian.


Kavita merasa shock mendengarnya.


"Lagi pula ada apa dengan mu? Kenapa Kau tetap di rumah mu? Apa Kau merasa menyesal menikah dengannya dan berharap kembali padaku?" tanya Faraz terseyum smirk.


Kavita menggelengkan kepalanya sambil menarik diri, Ia seakan tak percaya laki-laki yang dulu begitu mencintainya yang begitu tergila-gila padanya kini telah berubah seratus delapan puluh derajat.


"Jangan mimpi!" tegas Faraz lalu meninggalkan Kavita dengan mobilnya.


°°°


Sedangkan di rumahnya Alia masih merasa sedih dan tak beranjak dari tempat tidurnya.


Rasanya kata-kata Faraz terus terngiang-ngiang di telinganya.


Ya Alia memang menyadari jika Ia pergi tanpa pamit pada Faraz, tapi Ia tidak sengaja melakukannya.


"Apa Kau akan terus menangis seperti ini? Apa Kau tidak ingin menemui Paman dan Bibi mu?" tanya Pria itu.


"Paman dan Bibi juga kemari?" tanya Alia bersemangat.


"Ya, Sekarang ayo kita keluar," ucap Pria itu.


Alia menganggukan kepalanya dan mengusap air matanya.


"Paman Bibi..." ucap Alia langsung berlari memeluk Paman dan Bibinya.


"Kapan Paman dan Bibi datang?" tanya Alia.


"Semalem, Bagaimana kabarmu Sayang?" tanya Bibi.


"Aku baik-baik saja Bibi," ucap Alia tersenyum.


"Kamu sendiri kapan datang? Daaan.... Dimana suamimu?" tanya Paman.


Alia terdiam sedih.


"Ayah... Ibu.... Kenapa mencari suami alu, Suami alu kan seorang Putra konglomerat di negara ini, pasti Dia sangat sibuk, Iya kan Ali?"


"Ya Sahid benar." saut Bu Fareeda tersenyum masam.


"Baiklah tapi kami ingin, sebelum kami kembali ke jogja kami ingin bertemu suamimu, apa suamimu begitu sibuk sampai tidak bisa menemui Paman dan Bibimu yang datang jauh-jauh dari Jogja ke Jakarta?" ucap paman lagi.


Alia dan Sahid saling memandang bingung.


°°°


Bersambung....