
"Kak Zayd." Zia menjadi tegang, Takut Zayd melihat dirinya dan Om Bryan.
"Apa yang Kamu lihat, Cepet masuk."
Zia mengangguk ragu dan masuk ke mobil Kakaknya.
Tidak sampai sepuluh menit Mereka sampai di depan rumahnya.
Zia merasa lega karena Zayd tidak bertanya apa-apa padanya dan segera membuka pintu mobil. Namun Zayd langsung menghentikannya.
"Zia tunggu."
Zia menoleh ke Kakanya dengan perasaan tegang.
"Dengan siapa tadi?"
"Tadi..." Zia merasa ragu untuk mengatakannya.
"Ziaaa..."
"E-e tadi hanya temen Kak,"
"Temen?"
"Ya,"
"Dia terlihat jauh lebih dewasa Zia, Dia tidak terlihat seperti teman sebayamu."
"Iya, Dia memang bukan teman sekolah Zia dan memang usianya bukan sebayaku, Tapi Dia hanya teman saja Kak."
"Zia, Kakak tidak mau Kamu pacaran sebelum menyelesaikan sekolahmu, Kamu harus bisa menjaga diri, Jangan sampai membuat malu Papa sama Mama, Kamu mengerti kan maksud Kakak?"
Zia menganggukkan kepalanya.
•••
PLAAKKKKK...!!!
"Jadi Kau gagal menjebak Zayn?" hardik seorang Pria berusia hampir setengah abad menampar sang gadis remaja di depannya.
"Maafin Carissa Pah, Ini semua karena gadis itu, Jika gadis itu tidak datang menyelamatkan Zayn, Sekarang Zayn pasti sudah di tangkap polisi beserta barang bukti."
Pria itu berdiri dengan mengeraskan rahangnya. Kedua tangannya mengepal penuh kemarahan. Peristiwa yang hampir 19 tahun berlalu di Kalimantan, Dimana dengan sadisnya Faraz mencambuk miliknya menggunakan gesepernya.
"Sssstttt..." rasa pedih itu masih terasa hingga kini jika Ia mengingatnya, Apa lagi setelah hari itu keperkasaanya tidak lagi bisa menegang dengan sempurna hingga Ia tidak lagi bisa menyalurkan hasratnya. Karena hal itu juga setelah Ia keluar dari penjara, Ia merawat Carissa dari keluarga miskin untuk membalaskan dendam nya kepada Faraz.
Ya, Pria itu adalah Malvin, Pria yang hampir saja menodai Alia saat Mereka di Kalimantan.
"Aku akan menyusun rencana berikutnya, Jika Kau sampai gagal lagi, Aku akan kembali membuangmu ke jalanan," ucap Malvin mencengkeram kedua pipi Carissa dan menghempasnya dengan kasar.
🍃 Pagi Hari 🌻
Semua keluarga tengah sarapan bersama setelah malam harinya tidak saling bertemu.
Faraz memperhatikan ke-tiga Anaknya yang terlihat sarapan degan malas-malasan tanpa menatap makanan di piringnya.
Kemudian Faraz menyenggol Alia untuk melihat ke-tiga Anaknya.
Alia pun menatap Faraz dan melihat Faraz mengangkat dagunya untuk memberinya isyarat.
Alia pun menatap ke-tiga Anaknya.
"Ada apa, Apa yang sedang kalian pikirkan?" tanya Alia.
"Tidak ada," ucap ke-tiganya bebarengan.
Faraz dan Alia saling menatap, Begitupun dengan Si kembar dan Adiknya.
"Aku juga Pa," sambung Zayd.
"Zia juga." Zia langsung mencium pipi kedua orang tuanya dan beari menyusul kedua Kakaknya.
"Ada apa dengan Anak-anak?" tanya Faraz.
"Ntah lah, Semoga Mereka tidak menyembunyikan sesuatu pada Kita."
"Baiklah Sayang, Mas berangkat dulu ya." Faraz mengecup pucuk kepala Alia dan mengusap bahunya.
Alia mengangguk dan mengantar Faraz sampai ke pintu.
•••
Di tengah kemacetan Zayd melihat Alea dengan penampilan berbeda.
Dengan rambut panjang bergelombang serta dress memayung sebatas lutut, Berlengan pendek brukat, Membuat penampilannya kian terlihat feminim dan cantik.
Zayd melihat Alea masuk ke taksi dan terus mengikutinya hingga berhenti di depan kantornya.
Zayd terus mengikuti Alea hingga ke ruang ganti. Entah kenapa kali ini Ia tidak bisa menahan diri untuk terus mengikuti gadis itu.
Alea terkejut melihat Zayd yang yang telah berdiri di depan pintu.
"T-t Tuan Zayd, Sedang apa di sini?"
"Menunggu mu."
"Menunggu ku?"
"E-e, Ya, Aku menunggu untuk menghukum mu karena kemarin Kamu tidak masuk tanpa izin."
"Kemarin Aku..."
"Ikut dengan ku."
"Tuan mau kemana? Aku harus bekerja."
"Kamu bekerja dengan siapa?"
"Dengan Anda."
"Jadi jangan lagi membantahku, Kembali dan ganti pakaian mu."
Tanpa membantah lagi Alea kembali masuk dan mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, Alea kembali keluar dengan dress yang tadi Ia kenakan, Dengan rambut di ikat ke belakang.
Zayd yang selama ini tidak pernah tertarik pada gadis manapun. Kali ini Ia menatap lekat Alea dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alea benar-benar terlihat berbeda dari gadis manapun yang pernah Ia temui.
"Tuan..."
"E-e, Ya." Zayd tersadar dan meraih rambut Alea yang terikat dan kembali menggerai nya.
Alea memegangi kepala bagian belakang dan menatap Zayd heran.
"Ayo." ucap Zayd yang langsung melangkah di depan Alea.
Setelah beberapa langkah, Zayd yang tidak mendengar suara langkah Alea kembali menoleh ke belakang. Ia menatap Alea yang masih berdiri tak bergerak langsung menarik tangannya.
Tidak memperdulikan para karyawan lain yang menatap Mereka, Zayd terus menarik tangan Alea kembali keluar dari Kantornya.
Bersambung...
MAAF BUAT YANG NUNGGU-NUNGGU LAMA, DAN MAAF JUGA JIKA CERITA BELUM MAKSIMAL, AUTHOR SUPER SIBUK NIH LAGI PULANG KAMPUNG DAN NGUMPUL BARENG KELUARGA, JADI SABAR YA, UNTUK UP SELANJUTNYA 🤗