
"Apa Kita harus terus sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Bryan sembari mengusap bibir Zia yang basah karenanya.
"Untuk sementara waktu saja Om, Setelah Zia lulus, Kita beritahu Papa."
"Itu terlalu lama Sayang, Om ingin bebas menemui mu tanpa rasa takut ketahuan."
"Lalu bagaimana dengan Anak Om?"
"Om akan bicara dengannya, Hari ini Dia pulang."
"Bagaimana jika Anak Om tidak setuju?"
"Om akan berusaha meyakinkannya, Kamu jangan khawatir."
Zia mengangguk lega dan kembali memeluk Om Bryan.
•••
Zayd menarik tubuh Alea ke atas tubuhnya yang setengah berbaring.
Alea menahan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangannya agar tidak menindih tubuh Zayd sepenuhnya.
Dengan membelai rambut Alea dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya, Zayd sudah tidak malu-malu lagi mengekspresikan perasaannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alea yang melihat tatapan Zayd begitu dalam.
"Aku sedang berfikir, Bagaimana jika Papaku tau Aku mencintai Putri dari musuhnya, Aku tidak bisa kehilangan mu Alea."
"Aku tidak tahu menahu tentang kejahatan Ayah ku di masa lalu, Aku..."
"Ya, Aku tau, Tapi Papa pasti akan merasa terkejut sepertiku."
"Dan Anda tetap mempertahankan ku?"
Zayd terseyum smirk menertawakan diri sendiri.
"Kamu membuatku tidak bisa tidur, Aku sakit mendengar kenyataan tentang mu, Tapi Aku lebih sakit saat berjauhan dengan mu." Zayd membalikkan tubuhnya dan membuat posisinya kini berada di atas tubuh Alea.
"Jangan melewati batas mu," ucap Alea.
"Aku tau, Tapi terimakasih telah mengingatkan ku."
•••
"Kamu sudah mengetahui kabar tentang Zayn?" tanya Malvin.
"Ya, Zayn telah di kirim ke Pesantren setelah malam itu."
"Apa!" Malvin melotot menatap putrinya.
"Itu benar Pah, Om Faraz sudah membatalkan semua kontrak Zayn demi menjauhkan Zayn dari pergaulan bebasnya."
"Kalau begitu cari tau dimana pesantrennya, Papah juga akan mengirim mu kesana."
"Tapi Pah..."
"Tapi Apa? Papah tidak akan membiarkan putra Faraz menjadi anak yang baik seperti harapannya."
Carissa hanya terdiam menundukkan kepalanya.
•••
Bryan sampai di rumahnya dan terkejut melihat Bella bersama Anita sedang bersenda gurau di ruang tengah.
"Bella..."
"Eh, Pah.." Bella langsung berlari memeluk Papahnya.
"Kok sama Tante Anita?" lirih Bryan.
"Loh kenapa, Tante Anita kan yang menjemput ku di bandara."
"Papah ada masalah sama Tante Anita?"
"Nanti Papah ceritain, Sekarang masuklah istirahat, Papah ingin bicara pada Tante Anita."
"Baiklah."
Setelah melihat putrinya masuk, Bryan berjalan mendekati Anita yang berdiri melempar senyum penuh arti padanya.
"Apa yang Kamu lakukan di sini?" Bryan mencengkeram lengan Anita dengan kesal.
"Kenapa Bryan, Aku menjemput putrimu, Seharusnya Kamu berterimakasih kepada ku, Kamu saja yang jadi Papahnya sibuk mengejar gadis kecil itu."
"Tutup mulutmu Anita, Aku sudah pernah mengatakan, Jangan pernah campuri urusanku dan jangan pernah lagi mendekati putriku, Hubungan Kita sudah selesai setelah Kamu berselingkuh dengan bajingan itu!"
"Itu bukan kesalahanku, Aku berselingkuh karena Kamu tidak pernah memberiku kepastian kapan Kamu akan menikahiku, Jadi..."
"Jadi untuk apa Kamu kemari? Bukankah Kamu tau selama ini Aku tidak pernah mencintaimu? Aku menjalani hubungan dengan mu karena putriku, Sekuat hati Aku menerima hubungan Kita demi putriku dan berharap Kamu bisa jadi Ibu yang baik untuknya karena Bella sangat menyayangi mu, Tapi apa kenyataannya, Kamu tidak benar-benar menyayangi Bella, Kamu hanya berpura-pura menyayanginya demi kepentingan mu, Benarkan?"
"Kepentingan apa yang Kamu bicarakan?"
"Kamu yang tau jawabannya."
"Bryan Kamu salah faham pada ku, Aku benar-benar mencintai mu, Aku juga benar-benar menyayangi Bella, Aku..." Anita menghentikan ucapannya mendengar ponselnya berdering.
Anita menjadi panik melihat layar ponselnya.
"Apa itu selingkuhan mu?" tanya Bryan terseyum smirk.
"Bryan ini hanya..."
"Keluar dari rumahku dan jangan pernah kembali lagi!"
"Bryan Aku bisa menjelaskan."
"Aku bilang keluar!" Bryan menyeret Anita dan menghempasnya dengan kasar.
"Bryan, Brhuk... Brhuk.. Brhuk..." Anita mencoba menggedor pintu namun Bryan tidak memperdulikannya.
Bella yang mendengar keributan keluar dari kamarnya.
Bryan menatap putrinya dan menoleh ke arah pintu keluar yang masih terus di gedor.
"Ada apa Pah? Kenapa Papah mengusir Tante Anita?"
"Sayang, Tante Anita tidak baik untuk Kita, Dia hanya berpura-pura baik kepadamu."
"Lalu menurut Papah gadis kecil itu yang baik untuk Kita?"
Bryan terkejut mendengar putrinya yang telah mengetahui hubungannya dengan Zia.
"Sayang... Darimana Kamu tau tentang Zia?"
"Jangan sebut namanya di depanku!"
"Bella..."
"Aku tidak pernah menyangka Papah akan lebih memilih gadis kecil itu daripada Tante Anita yang sudah bertahun-tahun Kita kenal."
"Sayang Papah bisa jelaskan."
"Tidak perlu! Tante Anita sudah menceritakan semuanya." Bella meninggalkan Papahnya dengan kesal.
"Bella... Bella..." Bryan mencoba mengejarnya namun Bella langsung menutup pintunya dengan kencang.
Bersambung...
📌 YANG BELUM MAMPIR KE NOVEL KAKAK SULUNG ZAYN, JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL "BERSAING CINTA DENGAN USTADZ" 🤗