
Sekuel dari MENGEJAR DUDA TEMAN PAPA
(Anak Zia dan Om Bryan, Cucu dari Papa Faraz) 😂
Sepenggal bab 10
•••
Keesokkan harinya setelah pulang kuliah Belva kembali ke hotel untuk melihat pria idamannya. Tidak seperti biasanya yang menemui secara langsung, Kali ini Belva hanya menunggunya di dalam mobil.
Memantau kapan pria idamannya itu akan keluar dari hotel dan membuntuti kemana ia akan tinggal.
Satu jam berlalu, Belva belum juga melihat batang hidungnya.
Belva pun masih tetap sabar menunggu. Hingga tiga jam berselang ia tidak juga melihat Haidar keluar.
"Aku tidak sabar lagi," ucap Belva yang kemudian turun dari mobil.
Namun baru saja ia menapakkan kakinya Haidar dengan kacamata hitamnya keluar dari hotel. Hal itu pun membuat Belva kaget dan kembali masuk kedalam mobilnya.
"Hampir saja ketahuan," ucap Belva mengusap dadanya yang berdebar kencang setelah melihat pria matang itu.
Mendapati Haidar meninggalkan hotel dengan mobilnya, Belva pun bersiap membuntutinya dari belakang. Tanpa halangan berarti, Belva dengan lancar mengikuti Haidar hingga memasuki pemukiman yang padat penduduk.
"Untuk apa King Haidar ke tempat seperti ini," ucap Belva yang tak menduga jika setelah keluar dari hotel berbintangnya mendatangi pemukiman yang terbilang sangat sederhana. Belva kembali di buat bingung ketika Haidar menghentikan mobilnya di sebuah rumah kecil yang hanya memiliki satu pintu dan dua jendela di sebelahnya. Membuat gadis remaja itu semakin merasa penasaran apa yang Haidar lakukan di rumah itu.
Menunggu cukup lama, Haidar tidak juga keluar sehingga tidak sabar lagi dan turun untuk mencari tau apa yang Haidar lakukan di dalam rumah itu.
Dengan langkah mengendap-endap Belva menempelkan wajahnya di jendela untuk melihat suasana di dalam rumah. Tidak melihat siapapun, Akhirnya Belva memutuskan untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok... Tok... Tok...
Berkali-kali Belva mengetuk pintu, Tapi tidak ada siapapun yang membukakannya.
"Sebenarnya kemana King Haidar itu, Aku tidak salah lihat jika dia masuk ke rumah ini," ucap Belva sembari mencoba membuka pintu.
Ckleekkk...
Belva jadi terkejut ketika pintu rumah terbuka. Padahal ia mengira pintunya di kunci. Karena sudah terlanjur terbuka, Perlahan Belva melangkah masuk ke dalam.
Karena tidak ada siapapun di ruang utama, Belva melangkah masuk ke ruang tengah. Di saat bersamaan Haidar yang baru keluar dari kamar mandi pun merasa terkejut dengan kedatangan Belva.
"Kau!"
"M-maafkan Aku."
"Sedang apa kamu di sini?!" dengan kesal, Haidar menarik lengan Belva hingga tubuhnya memutar menghadapnya.
"A-aku... Sedang... E-Hanya... Hanya..." Belva tak dapat melanjutkan ucapannya dan begitu susah payah menelan salivanya karena Haidar terus melangkah maju hingga tubuhnya menabrak dinding.
Belva melihat tangan kekar Haidar yang di sandarkan ke dinding sehingga dirinya tidak bisa lari kemanapun.
"Kamu menginginkan ku?"
"Hah?" pertanyaan itu membuat Belva tercengang.
"Sejak tiga hari lalu kamu begitu agresif kepada ku, Ayolah lakukan yang kamu inginkan, Sekarang Aku di depan mu, Tidak ada siapapun."
"Sialll... Jika pria lain yang bicara seperti itu maka akan ku tendang alat reproduksinya, Tapi kenapa tidak dengan nya, Aroma tubuh nya..." Belva membatin dalam hati sembari menikmati aroma tubuh Haidar yang di rasanya begitu segar menusuk hidungnya.
"Aroma tubuhnya benar-benar membuatku candu." batinnya lagi.
Haidar melihat tangan Belva yang sudah berada di dada kirinya entah sejak kapan. Seperti baru menyadari hal tersebut, Belva langsung mengangkat tangannya. Namun langsung di tahan oleh Haidar.
"Aku tidak keberatan."
Belva menatap Haidar bingung "Tiga hari lalu dia begitu dingin dan pemarah, Tapi mengapa hari ini berbeda?" batin Belva menatap lekat pria matang itu.
Haidar pun membiarkan Belva terus menatapnya hingga semakin lama Belva semakin mendekatkan wajahnya dan ingin menci'umnya. Namun Haidar langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Belva.
"Jangan pernah lakukan hal seperti ini kepasa seorang pria."
"Hah!"
"Dengar, Kamu adalah seorang wanita, Hargailah dirimu agar kamu berharga di depan kaum pria. Kehormatan jauh lebih penting di bandingkan perasaan cinta yang mungkin hanya sebatas rasa penasaran. Nasib baik kamu melakukan ini kepada ku, Jika kamu melakukan ini kepada pria yang salah, Maka habislah."
Belva tertunduk malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Gelora cinta yang sungguh menggebu-gebu membuat dirinya mengesampingkan harga dirinya.
"Aku tau kamu masih muda, Tapi jika kamu benar-benar menginginkan ku, Maka menikahlah denganku."
"Hah! A-a-apa?" Belva sampai tak bisa berkata-kata. Meskipun ia begitu tertarik dengan pria matang itu. Namun tawaran itu terlalu cepat baginya.
Bersambung...
📌 Baca dari bab pertama di Novel "SUAMI SEPERTI PAPA" Terimakasih 🤗❤️