Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Usaha Faraz Meminta Maaf.


Alia yang tak lagi mendengar suara Faraz memanggilnya mengintip dari tirai jendela untuk melihatnya. Namun Alia tidak lagi melihat Faraz berada di sana.


Alia membuka jendela untuk memastikan, Baru saja Alia menatap keluar terdengar suara Ibu mengetuk kamarnya.


"Alia... Alia..."


"Ya..." Alia segera menutup kembali jendelanya dan melangkah membuka pintu.


"Kenapa di kamar terus, keluarlah, makan bersama Paman dan Bibi mu."


Alia menganggukan kepalanya dan keluar mengikuti Ibunya.


Dan betapa terkejutnya Alia melihat Faraz sudah duduk diantara paman dan Bibinya.


"Faraz!" lirih Alia.


Faraz terseyum menaik turunkan alisnya.


Alia memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Oh ya ampun lihatlah Alia, Suami mu begitu tampan," ucap Bibi sambil mencubit pipi Faraz.


"Dan lihatlah matanya juga sangat indah," sambung Paman.


"Ya Kau benar, manik matanya berwarnaaa... Agak kebiruan," saut Bibi.


"Apa yang Kau katakan, ini warna biru langit," ucap Paman.


"Warna langit tidak begitu," ucap Bibi.


"Ee tunggu-tunggu coba bulatkan matamu," ucap Paman pada Faraz.


Faraz membulatkan matanya.


"Setelah ku amati sepertinya ini warna abu-abu," ucap Paman.


Faraz terseyum menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan Paman dan Bibinya.


"Faraz benar-benar membuatku kesal, Dia bukannya merasa bersalah malah asik-asikkan duduk bersama Paman dan Bibi sambil tertawa tanpa dosa." gumam Alia


"Ini namanya warna Hazel Bibi," ucap Faraz sambil terus menatap Alia,


"Oh ya Ampun Bibi baru tau ada yang namanya warna Hazel," ucap Bibi tertawa.


"Alia... Kenapa Kau berdiri saja, duduklah, dan makan bersama Kami," ucap Paman.


"Ee... Tidak Paman, Aku tidak lapar," Alia yang melihat piring kotor di meja makan, membawa piring-piring kotor ke dapur.


Alia meletakkan piring kotor di tempat cuci piring.


Dan alangkah kagetnya Alia saat kembali memutar tubuhnya Faraz sudah berdiri di depannya.


"Kau?!" ucap Alia kesal.


Alia menghindari tatapan Faraz dan berniat keluar dari dapur. Namun Faraz menghentikannya.


"Kita harus bicara." ucap Faraz merapatkan tubuhnya.


"Menjauh dariku!" ucap Alia kesal.


"Alia... Apa ada masalah?" tanya Bibi yang masuk ke dapur.


"Ee... Tidak ada Bibi, Faraz hanya terus saja menggangguku,"


"Ooh... Mungkin suamimu merindukanmu Dia kan baru saja datang." ucap Bibi terseyum.


Alia dan Faraz hanya tersenyum tipis.


"Temani Suami mu, Biar Bibi yang mengerjakan ini,"


"Tapi Bi..."


"Tidak apa-apa, pergilah,"


Alia mengangguk dan meninggalkan dapur.


Faraz terus mengikuti Alia hingga ke kamarnya.


Alia kaget melihat Faraz mengunci pintunya.


"Kenapa Kau mengunci pintunya?" Alia berusaha membuka kembali kuncinya. Namun Faraz menarik Alia kepelukannya.


"Lepaskan Aku!" Alia berusaha melepaskan diri dari pelukan Faraz.


"Tidak akan ku lepaskan!" Faraz memegang kedua tangan Alia kebelakang.


Posisi seperti ini membuat keduanya saling berhadapan dengan sangat dekat.


"Apa Begini caramu meminta maaf? Alia terus berusaha melepaskan tangannya.


"Ya! Karena Aku tau Kau tidak akan begitu saja memaafkan ku,"


"Baguslah kalau Kau tau, memang Aku tidak akan memaafkan mu!" Alia menginjak kaki Faraz. Sontak Faraz melepaskan tangannya.


"Aaawwhhh... Alia Kau!"


Alia naik ke ranjangnya sambil menatap Faraz dengan sinis.


"Alia Kita harus bicara,"


Alia mengabaikan Faraz dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Aliaaa...." Faraz menarik kembali selimutnya.


"Faraz berhenti menggangguku! Sudah ku bilang Aku tidak ingin bicara denganmu." Alia kembali duduk dan menarik kembali selimutnya.


Saling tarik menarik selimut pun terjadi.


"Faraz lepaskan!"


"Tidak akan!"


"Faraz Aku bilang lepaskan!"


"Aku bilang tidak!"


"Faraz Kau benar-benar membuatku semakin Kesal."


Mereka terus tarik menarik selimutnya dengan sekuat tenaga.


"Aawwhhh..." Alia hampir terjatuh karena Faraz melepaskan selimutnya.


"Aliaaaaaa....." Faraz mencoba menggapai tangan Alia. Namun Faraz malah terjatuh di atas tubuh Alia.


"Hah!" Faraz terdiam melihat wajah Alia yang tepat berada di depan matanya.


Alia mengalihkan wajahnya dan coba mendorong tubuh Faraz.


Namun Faraz tetap diam tak bergerak.


Alia terdiam dan kembali merasakan jantungnya berdebar karena Faraz terus menatapnya dengan lekat.


Alia semakin gugup saat Faraz mengisi jari jemari Alia dengan jarinya.


Perlahan Faraz mendekati pipi Alia,


Alia memalingkan wajahnya dan memejamkan mata dengan tegang.


Faraz tersenyum melihat ekspresi wajah Alia.


"Kenapa Kau merasa takut, Ini bukan yang pertama kalinya," ucap Faraz tertawa.


Alia langsung membuka matanya dan kembali merasa kesal.


°°°


Di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya Kavita terus menangis mengingat penghianatan Dev.


Kavita tidak pernah menyangka, pengorbanan yang Ia lakukan demi Dev sampai rela meninggalkan Faraz, malah di balas penghianatan olehnya.


Dev melepaskan tangan Wanita itu dari lengannya.


di hatinya ada sedikit rasa nyeri melihat Kavita melihat penghianatannya.


"Apa Dia istri mu?" tanya Wanita itu.


"Ya." ucap Dev singkat.


"Jadi bagaimana, Bisa kita pergi sekarang?" tanya Wanita itu.


"Aku rasa hari ini cukup," ucap Dev.


"Tapi masih ada dua jam lagi,, Aku tidak ingin Kau memotong bayaran ku karena Aku tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai perjanjian," ucap Wanita itu.


"Aku tidak Akan memotong bayaran mu," Dev masuk kembali ke dalam dan beberapa menit kemudian kembali ke luar.


"Ambil uang mu, itu sesuai kesepakatan kita," ucap Dev memberikan uangnya.


"Baiklah, hubungi Aku jika Kau membutuhkan ku lagi," ucap Wanita itu mengedipkan matanya.


Dev menghelai nafas panjang mengingat Kavita.


Bersambung...