
Meskipun luka gores dan memar di beberapa bagian anggota tubuhnya belum sepenuhnya pulih, Namun setelah tiga hari di rawat, Alia di izinkan pulang.
Alia tersentak dari lamunannya saat Faraz menghentikan mobilnya.
Ia menoleh ke luar dan merasa bingung kenapa Faraz berhenti, padahal Mereka belum sampai rumahnya.
Alia menoleh ke Faraz dengan tatapan penuh tanda tanya.
Faraz terseyum dan turun dari mobilnya, Kemudian membuka pintu untuk Alia dan mengajaknya turun.
"Faraz, Kenapa Kita berhenti disini?"
"Kamu akan mengetahuinya," ucap Faraz terseyum sembari menitah Alia masuk ke sebuah rumah yang tidak kalah megah dengan rumah yang Mereka tempati bersama orang tuanya.
"Faraz ini rumah siapa?"
"Rumah Ayah."
"Kamu ingat Ibu berkali-kali memintaku untuk menempati rumah ini?"
Alia terdiam mencoba mengingatnya.
"Kamu sudah ingat?'
"Ini yang Ibu bilang rumah di Kemang?"
"Ya, Sebelumnya Aku selalu menolaknya, Tapi kali ini Aku ingin Kita mencoba tinggal di sini, Berdua."
"Faraz..." Alia menatap Faraz tanpa bisa meneruskan ucapannya.
"Sayang, Aku ingin Kamu menikmati suasana baru, Merasakan ketenangan dan melupakan kejadian kemarin,"
Alia terus menatap Faraz dengan perasan haru.
Ia tidak pernah menduga Faraz akan memintanya tinggal jauh dari orang tuanya.
Padahal Sebelumnya Mereka tidak pernah membicarakan hal ini sama sekali.
Faraz menangkup wajah Alia dan kembali meyakinkannya.
"Sayang, Kita perbaiki semua kesalahan Kita, Kita rajut kembali impian dan harapan Kita untuk membina rumah tangga yang bahagia bersama anak-anak Kita kelak, Hem?"
"Faraz..." Alia langsung memeluk Faraz dengan haru.
"Aku ingin air mata ini menjadi air mata terakhir untukmu, Kedepannya Aku tidak ingin lagi melihat ada air mata yang menetes dari pipimu."
•••
"Sekarang bagaimana," gumam Dev sembari berkacak pinggang sementara tangan sebelahnya mengepal dan menepuk-nepukkan ke keningnya.
"Aarrghhh Sialan!!!" umpat Dev mengingat pengakuan Maya.
meskipun dengan tegas Ia menolak Maya. Namun dalam hati kecilnya Ia terus kefikiran karena akhir-akhir ini Mereka sering menghabiskan malam bersama.
Tok... Tok... Tok....
"Masuk."
"Katakan ada apa?" tanya Dev dengan nada kesal.
"Maaf Tuan, Apa Tuan sudah melihat media sosial milik account yang bernama @Maya06_ ?"
"Apa yang penting sehingga Aku harus melihatnya?"
"Account itu memberikan pernyataan jika..." Sekertaris menghentikan ucapannya.
Dev membelalakkan matanya mengingat pengakuan Maya tempo hari.
Ia segera merebut ponsel sekertarisnya dan melihat pengakuan Maya.
"Saya tidak perduli orang mau menilaiku seperti apa, Tapi di sini Saya ingin mencari keadilan untuk bayi yang tengah Saya kandung, Saya Ingin agar Ayah dari bayi ini segera menunjukkan iktikad baiknya sebelum Saya benar-benar mem-blow up siapa Ayah dari bayi ini yang tentunya akan cukup menggemparkan di kalangan pengusaha muda di negeri ini."
Begitu kata-kata Maya yang di posting di account berlogo ungu miliknya, Lengkap dengan foto dirinya dan Dev dengan mata Dev yang masih di blur.
Ia benar-benar kesal dengan ancaman Maya yang berani mengancamnya di media sosial.
"Sudah ribuan komentar yang masuk, Bagaimana jika berita ini Viral? Dan identitas Ayah dari bayi itu terbongkar, Tentu ini akan mempengaruhi saham perusahaan Kita," ucap sekertaris.
"Cindy! Kau tau betul Dia hanya gadis malam, Kemungkinan Aku bukan Ayahnya ada kan?"
"Tapi Dia terlihat sangat yakin."
"Itu karena Dia menginginkan kekayaan ku, Dia ingin memerasku."
Sekertaris yang bernama Cindy itu terdiam, Ia memang mengetahui Dev baru menggunakan jasa Maya sekitar dua bulan ini setelah Dev merasa bosan mencicipi tubuhnya.
•••
Malam Hari.
Faraz merengkuh tubuh Alia dan terus mungusap kepalanya hingga Alia tidur dalam dekapannya.
Faraz yang belum bisa tidur, Perlahan melepaskan tangan Alia yang memeluk tubuhnya.
Dengan mengendap-endap Faraz mengambil ponselnya dan melangkah ke balkon.
Faraz yang sebelumnya tidak ada rencana sama sekali untuk pulang ke Kemang, Seketika itu juga mengambil inisiatif saat di perjalanan melihat Alia yang terus melamun sedih sehingga Ia tidak memberitahu kepada siapapun.
Faraz menyalakan layar ponselnya dan mencari nama Ibunya.
Tuuuuttt....
Faraz menunggu cukup lama hingga akhirnya Ibu mengangkat ponselnya.
"Hallo..."
"Ibu..."
"Faraz, Kalian kemana, Katanya hari ini mau pulang, Kok sampai malam begini Kalian belum sampai?"
"Itu yang ingin Aku kabarkan Ibu, Aku membawa Alia pulang ke Kemang."
"Apa! Jadi akhirnya Kamu mau tinggal di sana?" tanya Ibu yang terdengar sangat bahagia.
"Ya, Aku ingin Alia mendapatkan suasana baru."
"Keputusan mu sudah tepat Nak, Dengan begini Kalian tidak akan lagi bertemu dengan Kavita."
Faraz seketika terhenyak mendengar ucapan Ibunya.
"Ee-Baiklah kirim beberapa pelayan dan Chef kemari, Rumah ini terlalu besar tidak cukup hanya dengan dua pelayan."
"Baiklah, Ibu akan urus segalanya."
Faraz pun mengakhiri panggilannya.
Ia melangkah ke pagar balkon dan mencondongkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangannya.
Ia memejamkan mata untuk mengurangi beban pikiran yang saat ini tengah Ia rasakan.
Seketika Faraz membuka matanya mendapati tangan melingkar di perutnya. Faraz segera menoleh kebelakang dan melihat Alia di depannya.
"Sayang kok bangun lagi?"
"Aku tidak menemukan mu di sisiku,"
"Sayang Aku tidak kemanapun, Aku hanya menghubungi Ibu untuk memberitahunya kalau Kita tidur disini."
Alia langsung menyusup masuk kedalam pelukan Faraz,
Faraz yang merasa sedikit kaget perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan Alia.
Sejak mengalami keguguran Alia memang lebih terlihat manja dan positif kepada Faraz.
Bersambung...