Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Menjenguk Zayn Di Pesantren


Zayd yang melihat Om Bryan beranjak pergi, Bergegas ingin mengejarnya. Namun di hentikan oleh Faraz.


"Mau kemana lagi?"


"Mau..."


"Mau apa, Kita sudah mau berangkat loh."


Zayd masih berdiri bingung melihat Om Bryan yang semakin jauh dari pandangannya.


"Papa heran deh sama kalian berdua, Kenapa akhir-akhir ini kalian seringkali kabur-kaburan gak jelas."


"Bukan Zayd Pa, Zia kali." elak Zayd.


"Kenapa limpahin ke Zia, Papa kan bilang kalian berarti Kita berdua."


"Jadi Kamu mengakui?"


Pertanyaan Zayd membuat Zia gugup.


"Sudah-sudah jangan berantem, Kita berangkat yuk, Mama udah gak sabar ketemu Zayn."


Mereka mengangguk dan beranjak dari kursi masing-masing.


Jarak dari pesantren ke hotel cukup jauh, Hingga memakan waktu hampir dua jam perjalanan dan membuat seluruh keluarga tertidur selama hampir setengah perjalanan.


Sampai di pesantren sekitar pukul 10.00 WIB


Faraz dan keluarga turun dari mobil dan merasa debaran jantungnya semakin cepat di rasakan oleh Mereka karena sudah lama tidak bertemu dengan Zayn.


"Sekarang Zayn seperti apa," batin Alia.


"Yuk." Faraz mengajak seluruh keluarga sowan ke Pak Kiai terlebih dahulu sebelum menemui putra sulungnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Eh silahkan-silahkan." sambut Pak Kiai dengan ramah.


"Terimakasih Pak Kiai."


Tak lama kemudian Bu Nyai datang dan menyapa Mereka dengan ramah. kemudian melanjutkan perbincangan hangat Mereka tentang bagaimana Zayn selama di pesantren.


"Sejauh ini kami masih bisa bersabar dengan keonaran yang Zayn buat, Tapi jika Zayn terus menerus sengaja membuat onar dan menganggu ketenangan santri lain, Dengan sangat terpaksa Kami bisa mengeluarkannya."


"Apa tidak sebaiknya di hukum saja Pak Kiai?"


"Hukuman apa yang belum kami berikan, Semua kami berikan dari


Hukuman di gundul, Berjemur di tengah lapangan, Push up, Lari jongkok, Disiram apabila sulit dibangunkan untuk shalat.


Membaca alquran sambil berendam hingga membersihkan kolam air wudhu sudah Ia jalani, Tapi Zayn sengaja melakukannya agar Kita menyerah dan di keluarkan dari pesantren."


"Saya sebagai orang tua sungguh merasa malu atas kelakuan anak saya, Saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kelakuan Zayn, Dengan itu saya menerima apapun keputusan Pak Kiai."


Setelah selesai berbincang-bincang, Faraz dan Zayd ke asrama putra.


Sedangkan Alia dan Zia menunggu di ruangan khusus untuk menjenguk para santri.


Faraz melihat Zayn yang tengah membersihkan kolam air wudhu.


Zayd sebagai saudara kembarnya merasa begitu pilu melihat keadaan Zayn yang berbanding terbalik dengan dirinya.


"Zayn." lirih Faraz sambil mendekati kolam.


Zayn mengangkat wajahnya dan menjatuhkan ember yang ada di tangannya.


Hatinya begitu sedih melihat kedatangan Papanya yang telah membuangnya ke penjara suci itu, Apa lagi melihat Zayd yang terlihat semakin segar dan tampan membuat hati kecilnya iri secara manusiawi..


"Kamu tidak merindukan Papa?" tanya Faraz yang melihat Zayn hanya diam mematung.


"Apa itu penting?"


"Zayn!"


Zayn menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.


"Kapan kamu bisa menerima kenyataan bahwa Papa melakukan ini demi kebaikan mu?"


Zayn terseyum smirk sembari memutar tubuhnya melihat Faraz.


"Benarkah? Lalu kenapa hanya Zayn Pa, Kenapa Papa tidak melakukan pada Zayd dan Zia juga, Apa papa yakin 100% Mereka suci?"


Zayd menjadi gugup mendengar ucapan Zayn.


"Heh, Di jaman sekarang tidak ada remaja yang pacaran diem-diem aja Pa, Semua hubungan antara pria dan wanita pasti di sertai nafsu ada setan di antara Mereka,"


"Papa tau hal itu, Tapi Zayd dan Zia tidak memiliki pacar, Jadi Papa..."


"Yakin?" tanya Zayn memotong ucapan Papahnya.


Zayn terseyum smirk menatap saudara kembarnya yang terlihat semakin salah tingkah.


"Sekalipun Zayd memiliki pacar, Papa yakin Dia tidak akan melewati batas,"


"Ya, Sekarang jelas, Papa memang lebih menyayangi Zayd daripada Zayn sebab itu Papa membuangku ke sini." dengan kesal Zayn kembali meninggalkan Papa dan saudara kembarnya.


"Zayn... Zayn..." pekik Zayd mengikuti saudara kembarnya.


Kehadiran Zayd ke asrama putra mengundang perhatian para santri lain karena wajah Mereka yang benar-benar mirip bak pinang dibelah dua.


"Kenapa Kamu jadi seperti ini Zayn, Kenapa kamu jadi melawan Papa dan merasa iri padaku?"


"Kenapa? Kamu tanya kenapa?!" triak Zayn.


"Coba kamu gantiin jadi Aku Zayd biar kamu tau betapa sulitnya hidup di sini, Tidur di kamar yang sempit, Panas, Banyak nyamuk, Kamar mandi mengantri, Makan dengan lauk seadanya dan sekarang bandingkan dengan kehidupanmu di Jakarta!"


"Bukankah Aku sudah mengatakan jika di perlukan Aku siap menggantikan posisimu?"


"Halah, Omong kosong, Pasti Kamu senang kan Aku tidak ada, Kamu lebih bebas dan lebih banyak di perhatiin sama Papa Mama."


"Zayn itu tidak benar, Jika kamu tidak percaya Aku siap menggantikan mu saat ini juga."


"Tidak perlu, Dengan kedatangan mu kesini, Semua udah tau Kita kembar."


Zayd melihat sekelilingnya dan melihat para santri masih memandanginya.


"Marahlah sama Papa, Tapi tolong temui Mama mu, Mama sangat merindukanmu," ucap Faraz yang menyusul Mereka.


Mendengar kata Mama membuat Zayn ingin menangis di pelukannya saat itu juga.


"Ayolah Zayn jangan membuat Mama lama menunggu."


Zayn melunakkan hatinya dan mengikuti kemana Faraz membawanya.


Sesampainya di ruang tunggu, Zayn menjadi emosional dan langsung berlari memeluk Mamanya.


"Maa..."


"Sayang... Mama sangat merindukanmu."


"Zayn juga Maa."


"Bagaimana kabarmu sayang, Kamu terlihat kurus?"


"Aku baik Maa, Zayn lagi diet Maa," ucap Zayn beralasan.


"Kak Zayn," ucap Zia yang seakan ingin menangis.


"Zia." Zayn mendekap Adik perempuannya dengan haru.


Bersambung...


📌 BEBERAPA BAB AKAN BERKAITAN BAHKAN MUNGKIN BISA SAMA DENGAN BAB DI NOVEL "BERSAING CINTA DENGAN USTADZ" JADI BACA KEDUANYA YA BIAR KALAU GAK NYAMBUNG JADI NYAMBUNG, EH GIMANA SIH, YA GITU DEH POKOKNYA 🤣