Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Kehawatiran Faraz pada Alia


Alia terpaku menatap Faraz yang masih terus menggendongnya.


Dengan tatapan lurus kedepan Faraz masuk ke rumahnya.


Ibu yang tengah duduk di ruang tamu langsung berdiri menatap kedatangan mereka.


Seketika senyumnya terukir melihat Putra dan menantunya kembali dengan begitu mesra.


"Wah... Wah Faraz..... Apa Kau begitu mencintai istrimu sampai Kau terus menggendongnya?" goda Ibu.


"Ee..." Faraz yang terlihat baru menyadari apa yang Ia lakukan langsung menurunkan Alia dan menggaruk-garuk kepalanya.


Ibu menahan tawanya melihat sikap Faraz.


"Apa kabar Sayang?" tanya Ibu yang langsung memeluk Alia.


"Aku baik Ibu, bagaimana kabar ibu?"


"Ibu juga baik Sayang," ucap Ibu tersenyum.


Tanpa mengatakan apapun Faraz langsung berlari ke ka atas.


"Susul suami mu, Kamu juga pasti lelah,"


"Baiklah Ibu, Aku ke kamar dulu,"


"Iya Sayang, selamat istirahat," ucap Ibu tersenyum.


°°°


"Kavita apa Kau masih mempunyai perasaan padanya?" tanya Dev kesal.


"A... Aa... Akuuuu.... Ee... Aku hanya melihatnya saja, tidak lebih," ucap Kavita terbata-bata.


"Kavita, Aku bisa membedakan mana tatapan yang biasa, mana tatapan yang memiliki rasa,"


Kavita menundukkan kepalanya.


"Apa Kau menyesal meninggalkan nya?"


"Itu tidak benar Dev,"


"Hegh! Sepertinya Kak Divya benar, Seorang istri yang rela meninggalkan suaminya den tidur dengan laki-laki lain tidak menutup kemungkinan Dia juga akan melakukan hal yang sama di masa mendatang."


"DEEEEVVVV.... PLAAKKKKK!!!


Dev memegangi pipi yang terasa begitu perih karena tamparan Kavita.


"Kau mengatakan itu pada wanita yang kini telah menjadi istri mu? Pada wanita yang rela meninggalkan suaminya demi tidur bersama mu? Ingat Dev Aku tidur dengan mu, bukan pria lain!" triak Kavita.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Dev kembali masuk ke mobil dengan kesal.


"Deeeevvvv..." Kavita mengetuk-ngetuk pintu mobil yang telah tertutup rapat.


"Dev Kamu belum menemui Ibu ku!" triak Kavita.


Namun Dev tidak memperdulikan Kavita, Dev meninggalkan rumah Kavita dengan kemarahan di hatinya.


Faraz melihat mereka dari balkon kamarnya.


Ia dapat melihat dengan jelas pertengkaran Kavita dan Dev.


Dalam hatinya Ia begitu menikmati pertunjukan itu,


Orang yang selama ini menyakitinya kini merasakan efek dari perbuatannya.


"Ini tidak seberapa dibanding penderitaan yang sudah ku Alami karena penghianatan kalian berdua, lihat saja kedepannya, meskipun Aku tidak membalas perbuatan kalian, Kalian pasti akan menuai apa yang telah kalian tanam," ucap Faraz mengepalkan tangannya.


Kemudian Faraz berbalik badan dan melihat Alia sudah berdiri di depannya.


Faraz memalingkan wajahnya dan melewati Alia begitu saja tanpa bicara apapun.


"Saat Dia meminta ku kembali ke rumahnya berbagai alasan Dia ucapkan, setelah Aku ikut dengannya Dia kembali ke sifat asalnya, Huft!" desah Alia kesal.


°°°


Kavita menangis melihat mobil Dev yang semakin lama semakin jauh meninggalkannya.


Bu Risma yang mendengar suara Kavita keluar dari dalam rumahnya.


Ia begitu terkejut melihat Kavita yang menangis terduduk di tanah.


"Dev marah padaku Ibu, Dia pergi... Hiks hiks hiks..."


"Kita masuk ke dalam dulu, jangan menangis di jalan seperti ini, nanti jadi buat tontonan tetangga," ucap Ibu sambil membantu Kavita berdiri.


Kavita pun mengusap air matanya dan masuk ke rumahnya.


°°°


Malam Hari.


Faraz dan Alia masuk ke kamar setelah selesai makan malam bersama dengan Ayah dan Ibunya.


Keduanya terdiam menatap dengan canggung.


Faraz mengalihkan pandangannya dan mengambil bantalnya.


"Aku akan tidur di sofa, Kau bisa tidur di sini," ucap Faraz.


"Ee.... Tidak, Kau sudah terbiasa tidur di ranjang besar, Kau tidak akan bisa tidur, jadi biar Aku saja yang tidur di Sofa,"


"Sofa ku sama besarnya dengan ranjang di rumah mu, bahkan lebih empuk , jadi tidak masalah buat ku," ucap Faraz kembali melangkah.


"Kau sebenarnya sedang mengasihani ku atau sedang menghinaku?" tanya Alia kesal.


"Kenapa Kau tersinggung, memang begitu kenyataannya," ucap Faraz terseyum smirk.


"Baiklah, Ambil saja ranjang dan juga Sofa besar mu itu, Aku tidak akan tidur di keduanya," ucap Alia yang langsung menggelar kain jarik yang Ia bawa.


Faraz terperangah melihat Alia.


Alia menatap Faraz kesal, dengan berbantal tas pakaian miliknya Alia tidur membelakangi Faraz.


"Cupu.... Kenapa Kau begitu cepat tersinggung, Aku mengatakan itu agar Kau mau tidur di ranjang ku, apa susahnya?"


Alia memejamkan matanya dan mengabaikan ucapan Faraz.


"Dasar keras kepala," gerutu Faraz lalu naik ke ranjangnya.


Faraz berbaring menatap Alia yang terlihat sudah benar-benar tidur.


Perasaan aneh dalam hatinya muncul ketika mengingat kebersamaannya dengan Alia.


Saat Ia menikmati wahana di pasar malam, saat Ia rela bertarung demi Alia, saat Ia menggendong Alia hingga mencium bibirnya.


Semua seperti terputar kembali di kepalanya,


Faraz menghelai nafas panjang dan mengalihkan pandangannya.


"Apa yang ku pikirkan," ucapanya sembari memijit pelipisnya.


Malam semakin larut, Faraz yang baru memejamkan matanya kembali di kagetkan oleh suara petir yang menggelegar, Derasnya hujan disertai angin membuat lampu tiba-tiba padam.


Faraz yang mengingat Alia tidur di bawah beranjak duduk dan merasa khawatir padanya.


Faraz meraba-raba di area sekitarnya untuk mencari ponselnya, belum sempat Ia menemukan ponselnya, Faraz mendengar rintihan Alia,


"Cupu..." lirih Faraz.


Ia kembali mencari ponselnya dan akhirnya Ia menemukannya,


Faraz pun menyalakan senter dan mengarahkan cahayanya pada Alia.


Faraz yang melihat Alia menggigil kedinginan langsung berlari mendekatinya.


"Cupu..." Faraz memegang pipi Alia yang terasa begitu dingin.


"Cupu, Kenapa Kau keras kepala dengan tidur di lantai seperti ini, lihat apa yang terjadi dengan mu sekarang, di luar hujan sangat deras dan Kau hanya tidur beralaskan kain ini tanpa memakai selimut mu,"


Alia terus merintih kedinginan tanpa menjawab omelan Faraz.


Faraz berlari menutup jendela yang terbuka karena kencangnya angin.


Kemudian segera kembali ke Alia dengan khawatir.


Faraz pun memegang telapak kaki Alia.


"Kakinya juga sangat dingin, Sekarang apa yang harus kulakukan?" ucapnya dalam hati.


Bersambung.....