
Setelah pesta berakhir Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Zayn satu kamar dengan Zayd, Faraz dengan Alia dan Zia sendiri di kamar yang terhubung dengan Kamar Papa dan Mamanya.
Zayn dan Zayd setelah membersihkan diri langsung tidur dengan setelah seharian merasa lelah dengan pesta yang Mereka adakan.
Sementara Faraz yang seakan tidak pernah merasa lelah sedang menghukum sang istri sesuai yang Ia katakan tadi sore. Ia terus menunjukkan keperkasaannya meskipun usianya sudah hampir kepala lima.
Suara desa'han memenuhi kamar hotel yang kedap suara.
Setelah tiga puluh menit bertarung akhirnya Faraz menyudahi permainan pertamanya.
"Kamu lelah?" tanya Faraz dengan mengatur nafasnya.
Alia menggeleng pelan sembari memejamkan mata menikmati sisa-sisa kenikmatannya.
"Sekarang Kamu lihat, Meskipun usiaku sudah lebih dari 40th, Tapi tenagaku untuk menghukum mu masih tidak berkurang, Jadi jangan berani macam-macam."
Alia terseyum menggelengkan kepalanya.
"Anak-anak sudah pada remaja masih tidak berkurang juga gragasnya,"
"Seperti cintaku yang tidak pernah berkurang, Gai'rah ku padamu juga tidak akan berkurang, Aku tidak bisa melihat orang lain selain dirimu, Sampai kapanpun Aku akan tetap menginginkan mu, Aku sangat mencintaimu, Aku ingin bersamamu selamanya, Sehidup sesurga bersama mu dan bersama anak-anak Kita."
Alia terseyum haru dan memeluk Faraz, Alia merasa begitu sangat beruntung memiliki suami seperti Faraz yang begitu mencintainya meskipun kini Anak Mereka telah tumbuh dewasa.
Sementara di kamar lain, Zia yang tidak bisa tidur kembali keluar dan berniat ke kamar Kakak nya untuk menganggu Mereka. Namun baru saja Zia keluar kamar, Zia menabrak salah seorang Pria hingga membuat berkas-berkas yang Pria itu bawa jatuh berantakan.
"M-m-maaf maafkan Aku, Aku benar-benar tidak sengaja." ucap Zia ikut membantu membereskan berkas-berkas itu.
"Relax, Tidak masalah," ucap Pria itu dengan senyum ramahnya.
Mendengar suara lembutnya membuat Zia ingin menatap wajahnya. Zia memperhatikan Pria itu yang tertunduk merapikan berkas-berkasnya. Sampai Pria itu mengangkat kepalanya Zia masih terpana menatapnya.
"Kenapa malam-malam masih di luar?" pertanyaan Pria itu mengagetkan Zia.
"E-e Aku tidak bisa tidur, Aku ingin ke kamar Kakak ku,"
"Baiklah, Hati-hati."
Zia menganggukkan kepalanya dan terus memperhatikan Pria itu yang masuk ke kamar sebelahnya.
"Hmmm... Ganteng banget." ucap Zia dengan ekspresi wajah meringis hingga semua indera nya berkerut.
Setelah tidak lagi melihat Pria itu, Zia mengetuk kamar Kakaknya yang sebelahan sama kamar Mama Papanya.
Tok... Tok... Tok...
Zayn yang mendengar ketukan hanya membangunkan Zayd untuk membukakan pintu, Sementara Zayd yang memang sangat penurut langsung beranjak untuk membuka pintu.
"Zia, Ngapain malam-malam?"
"Aku gak bisa tidur," ucap Zia yang langsung menerobos masuk.
"Lalu mau ngapain kemari, Aku sudah ngantuk, Kak Zayn juga sudah tidur."
"Tidurlah Aku tidak akan mengganggu Kakak."
Zayd yang memiliki sikap dingin bak kulkas berjalan pada dasarnya memiliki hati yang lebih peka daripada Zayn.
"Kakak temenin Kamu sampai Kamu tidur."
Mendengar ucapan sang Kakak membuat Zia terseyum lebar dan membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan sang Kakak.
Zayd terus menjadi pendengar yang baik untuk Adik perempuannya yang terus bercerita hingga Zia lelah dan tertidur di pangkuannya.
•••
🍃 Pagi Hari 🌻
Mereka tengah sarapan bersama di restoran hotel Mereka menginap.
Dengan canda tawa dari ketiga bersaudara itu, Menambah suasana keluarga kian terasa hangat.
Faraz dan Alia terseyum menatap ke-tiga Anaknya yang begitu dekat satu sama lain dengan karakter dan sifatnya masing-masing.
Zia yang begitu manja pada ke-dua kakaknya, Zayn yang begitu jail pada Adik-adiknya, dan Zayd yang selalu menjadi solusi masah bagi Adik dan Kakaknya.
"Ha aaaaa..." rengek Zia begitu Zayn tak sengaja menumpahkan saus di pakaiannya.
"Mama lihatlah pakaianku." rengek Zia.
"Zayn apa yang Kamu lakukan?"
"Kan gak sengaja,"
"Apaan, Jelas-jelas sengaja."
"Kakak temenin Kamu ganti baju," ucap Zayd.
"Tidak Kalian teruskan saja sarapannya, Aku bisa sendiri."
Zayd mengangguk pelan.
Zia beranjak dari duduknya dan sengaja menginjak kaki Zayn.
"Aowwh..." ringisnya.
"Hati-hati Sayang," ucap Faraz yang tidak memperhatikan ringisan Zayn .
Triiing...
Pintu lift terbuka, Zia segera keluar dari dalam lift dan kembali bertemu dengan Pria yang menabraknya semalam.
Pria itu tersenyum ramah sembari menganggukkan kepalanya dan melewati Zia masuk ke dalam Lift.
Zia menoleh ke belakang menatap Lift sampai pintu Lift tertutup menghalangi pandangannya pada Pria itu.
"Ough, Ketemu lagi." Zia masih menatap Lift yang tertutup. Entah kenapa Pria itu begitu menarik hatinya.
Bersambung...
📌 TERIMAKASIH UNTUK SEMUA PEMBACA SETIA MAUPUN PEMBACA BARU, JANGAN LUPA BACA JUGA "SUAMI YANG KU BELI DAN PESONA MAJIKAN'KU, SERTA NOVEL AUTHOR LAINNYA, DI JAMIN BODOH JUGA CERITANYA WKWKWK 🤣