Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Menyelesaikan Masalah


Faraz kembali kerumah setelah membuat laporan secara resmi di kantor polisi, Akhirnya Faraz bisa sedikit bernafas lega karena masalahnya sedikit demi sedikit akan segera teratasi.


Alia menyambut kedatangan Faraz dengan pelukan hangatnya.


Meskipun jam telah menunjukkan pukul 02.18 dini hari tapi Alia yang merasa cemas dengan Faraz tetap terjaga menunggu kepulangannya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Faraz mengurai pelukannya.


"Bagaimana Aku bisa tidur, Jika Mas masih sibuk mengurus masalah yang tengah Kita hadapi."


"Sekarang Kamu tidak perlu khawatir, Mas sudah melaporkan ke polisi, Jadi sebaiknya Kamu tidur dan semoga saat Kita bangun mendapat kabar baik "


Alia mengangguk dan naik ke ranjangnya


•••


Setelah 1x24 jam, Akhirnya Faraz mendapat telepon dari pengacaranya dan mengabarkan jika Polisi telah menangkap Barry. Kini Faraz benar-benar merasa lega karena akhirnya Mereka bisa kembali menjalani kehidupan dengan normal tanpa harus was-was dengan ancaman di luar sana.


"Akhirnya masalah Kita selesai, Dengan ini Mas bisa meninggalkan mu dan Si Kembar dengan tenang." ucap Faraz sembari mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


"Loh, Kenapa pergi sendiri Faraz?" tanya Zeenat yang langsung masuk karena pintu kamar yang tidak di tutup.


"Apa maksud Ibu, Apa Ibu ingin ikut bersamaku?"


"Bukan Ibu, Tapi Alia."


"Alia?"


"Iya, Ajak Alia bersama mu, Sejak Alia melahirkan dan timbul masalah, Kalian tidak pernah menghabiskan waktu bersama, Jadi luangkanlah waktu di sela-sela pekerjaan mu dengan membawa Alia bersama mu."


"Itu ide bagus Ibu" ucap Faraz bersemangat.


"Tapi Mas, Bagaimana dengan Zayn dan Zayd?"


"Kamu jangan khawatir Sayang, Ibu yang akan mengurusnya."


"Aku akan mencari Baby Sitter untuk bergantian dengan Ibu, biar Ibu tidak kelelahan."


"Sayang, Daripada Mas cari Baby Sitter yang belum Kita kenal, Bagaimana jika Mas suruh Nindi saja untuk bantu Ibu selama kita pergi,?"


"Kamu yakin?"


"Ya."


"Nindi loh Sayang, Wanita yang membuatmu begitu marah sama Mas."


"Itu kan hanya salah faham, Pada kenyataannya Dia baik kan, Dia tidak mau melakukan yang Tuan Barry lakukan, Dia juga telah menyelamatkan Zayn dari penculikan dan terakhir, Dia membantu Mas dengan memberikan bukti kejahatan Tuan Barry, Apa itu masih belum cukup untuk menilai Dia orang baik?"


"Menurut Ibu itu sudah cukup, Lagi pula ini untuk sementara kan? Hanya selama Kalian pergi, Jadi daripada mencari orang baru, Lebih baik orang yang sudah kita kenal."


"Baiklah, Jika kalian merasa ini yang terbaik, Aku akan mencoba menghubungi Nindi, Apakah Ibunya sudah sembuh atau belum."


Setelah menghubungi Nindi dan menawarkan pekerjaan sementara untuknya, Faraz meminta supir untuk menjemput Nindi karena Nindi mengatakan Ibunya telah keluar dari rumah sakit dan bersedia membantu menjaga Si Kembar selama kepergian Faraz dan Alia ke Kalimantan.


"Sekarang Kamu juga harus berkemas, Berikan Zayd pada Ibu."


"Zayn Oma." ucap Alia sambil memberikan bayinya.


"Oh Zayn, Oma suka susah bedain, Habis kembar banget." ucap Zenaat tertawa.


"Tidak ada yang bisa membedakan Mereka jika tidak melihat tanda itu." saut Faraz.


"Aku mah bisa, Mas aja yang gak bisa." protes Alia.


"Ya wajar saja, Kamu kan yang menyu'sui."


"Sudah-sudah Ibu bawa Zayn keluar, Kamu siap-siap gih."


"Terimakasih Ibu."


"Bersiaplah, Kita akan menikmati bulan madu kedua Kita," bisik Faraz mendekat ke telinga Alia.


"Jangan sampai Mas tidak fokus bekerja karena ingin terus bersama ku."


"Tentu kehadiranmu akan menambah semangatku dalam bekerja." Faraz memeluk Alia dari belakang sembari menciumi pundaknya.


"Aku sangat merindukanmu Sayang..."


"Tahan dulu, Sekarang Aku harus bersiap."


Faraz terseyum dan melepaskan Alia untuk berkemas. Kemudian Faraz yang sudah selesai berkemas keluar dari kamarnya.


Ia ke kamar bayi dan melihat Ratna yang tengah memberi Asi perah untuk Zayd.


"Ratna, Apa stok ASI masih ada?" tanya Faraz sembari membuka kulkas khusus ASI perah yang rutin Alia penuhi untuk bergantian dengan Kalau salah satu dari si kembar membutuhkannya.


"Ya tinggal segitu Tuan."


Faraz melangkah mendekati Zayd yang terlihat sudah mulai memejamkan mata meskipun masih menyedot botol su'su yang ada di mulutnya.


"Selama Aku dan Alia pergi, Jaga Zayd baik-baik ya, Kalau kamu mau tinggal bilang ke Ibu, Pokoknya jangan sampai biarkan Ia sendiri."


"Baik Tuan."


Faraz pun mengangguk dan keluar dari kamar bayi, Kemudian turun ke bawah karena mendengar suara seseorang datang.


Faraz mendekati pintu yang telah di buka oleh Ibu yang sudah berdiri di luar bersama Zayn.


Faraz melihat Nindi turun dari mobil dengan menenteng tas pakaian di tangannya. Nindi mengukir senyum manisnya melihat Faraz dan Bu Zeenat berdiri menyambut kedatangannya. Dengan penuh sopan santun Nindi mencium tangan Bu Zeenat dengan membungkukkan badannya. Kemudian melipat kedua tangan untuk memberi salam pada Faraz tanpa saling bersentuhan.


"Jadi Kamu yang namanya Nindi?" tanya Zeenat.


"Ia Nyonya."


"Berapa usia mu, Masih muda banget, Memang bisa jaga bayi?"


"22 Nyonya, Insyaallah bisa, Meskipun Saya tidak pernah ada pengalaman menjadi Baby Sitter, Tapi sejak usia Saya 10 tahun Saya sudah terbiasa membantu Ibu mengasuh adik-adik Saya."


"Syukurlah kalau begitu, Kalau begitu masuk yuk."


Bersambung...


KIRA-KIRA APA LAGI KOMENTAR PEDAS DARI KALIAN?


CERITA KOK GAK BOLEH ADA MASALAH, GAK BOLEH INI GAK BOLEH ITU, TRUS APA YA YANG HARUS AUTHOR TULIS KALAU MASALAH GAK BOLEH NGANU JUGA GAK BOLEH 🤣