
Faraz dan Alia meninggalkan pusat perbelanjaan.
Baru beberapa meter mobil berjalan, Alia melihat Kavita yang tengah berdiri di bawah terik matahari dengan seabreg belanjaan perlengkapan bayinya.
"Faraz berhenti!" ucap Alia menepuk lengan Faraz.
Faraz segera menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Ada apa Alia?"
"Sepertinya Mbak Kavita sedang menunggu taksi," ucap Alia
"Lalu?"
"Apa lagi Faraz, Kamu tidak melihat Dia membawa begitu banyak belanjaan dengan perut besarnya seorang diri?"
Faraz menghelai nafas panjang dan mengerti maksud Alia.
"Baiklah Kita turun," ucap Faraz membuka seatbelt nya dan turun menghampiri Kavita.
"Kau sedang menunggu taksi?" tanya Faraz.
"Faraz Kau..." Kavita menghentikan ucapannya melihat Alia mendekat kearahnya.
"Ya, Aku sedang menunggu taksi," ucap Kavita.
"Andai saja Aku tidak meninggalkan mu, Tentu Aku sudah bisa menyetir dan menggunakan mobil pemberian mu," batin Kavita.
"Mbak Kavita bisa pulang bersama kami," ucap Alia mengagetkan lamunan Kavita.
"Ee... Tidak, Aku naik taksi saja," ucap Kavita sembari memalingkan wajahnya dari Alia.
"Tapi ini sangat panas, dan bawaan Mbak begitu banyak, bagaimana jika Mbak tiba-tiba jatuh pingsan?" ucap Alia yang merasa begitu prihatin melihatnya.
"Kenapa Kau terus memaksa, Apa Kau sengaja ingin menunjukan kemesraan mu dengan Faraz di depan ku?!" tanya Kavita dengan meninggikan suaranya.
"Kavita!" Faraz mengeraskan rahangnya melihat sikap Kavita kepada Alia.
"Faraz..." Alia mengusap lembut dada Faraz yang terlihat begitu emosi.
Faraz memejamkan matanya menahan amarahnya.
"Baiklah Aku tidak akan memaksa, Kami duluan, Mbak hati-hati," ucap Alia meninggalkan Kavita.
Faraz kembali melangkah kemobilnya dengan kesal.
"Kau lihat itu, Kau ingin menolongnya dengan tulus, tapi Dia.."
"Sudahlah Faraz, Tidak masalah, Sekarang hentikan taksi itu," ucap Alia yang melihat taksi tak jauh dari mereka berdiri.
"Kau masih ingin menolongnya?"
"Hanya menghentikan taksi itu dan suruh antar Mbak Kavita pulang," ucap Alia
Faraz menggelengkan kepalanya dan menuruti permintaan Alia.
Setelah itu Mereka kembali masuk ke mobilnya dan meninggalkan Kavita yang terlihat sudah menaiki taksi.
~~
Malam harinya.
Alia tengah sibuk menyiapkan semua keperluannya ke dalam koper.
Faraz juga menyiapkan keperluannya sendiri dan mendekatkannya pada Alia.
Mereka saling melempar senyum sumringahnya.
Akhirnya Hari yang mereka tunggu tiba juga.
"Selesai." ucap Alia menutup kopernya.
Faraz mengangkat koper ke dekat pintu dan kembali berdiri di depan Alia.
Ia memangkup wajahnya dan menatapnya dengan lekat.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya yang merasa malu dengan tatapan Faraz.
Alia mengernyitkan keningnya.
"Ya, Bagaimana bisa Aku mengabaikan Wanita sebaik dirimu, Demi Wanita sepertinya," Faraz kembali mengingat kejadian tadi siang.
"Faraz jangan membandingkan ku dengan yang lainnya,"
"Tidak masalah kan Kalau bandingin nya Kamu yang lebih baik,"
"Tetap saja itu tidak baik, Sudahlah Kita tidur, Jangan sampai besok kita ketinggalan pesawat," ucap Alia mengakhiri pembicaraan.
"Dia memang beda dari yang lain, Bahkan Dia tidak suka di puji seperti kebanyakan wanita lainnya," ucap Faraz dalam hati.
~~
Dev tanpa sepengetahuan keluarganya datang ke rumah Kavita.
Meskipun Dia memiliki Wanita lain, Namun rasa cintanya pada Kavita masih ada, Sehingga Ia tidak sepenuhnya bisa mengabaikannya begitu saja.
Dev menghelai nafas dan mengetuk rumah Kavita.
Tok... Tok... Tok....
Kavita yang membuka pintu terkejut melihatnya.
Ia menatap Dev, Tatapan yang tidak bisa di artikan, Pria yang dulu begitu Ia cintai, Yang Ia perjuangkan dan rela melakukan apapun demi bersamanya, Tapi kini perasaannya terasa hambar, Sikap Dev yang tak setia, Keluarganya yang selalu menghinanya, Penyesalannya meninggalkan Faraz, Seolah memudarkan cinta yang dulu begitu menggebu.
Kavita memalingkan wajahnya dengan tarikan nafas kasarnya.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Dev.
"Seperti yang Kau lihat," ucap Kavita tanpa mau menatap Dev.
Dev terdiam bingung tak tau apa yang harus Ia katakan.
"Untuk apa kemari?" tanya Kavita dengan sinis.
"Kavita Kau masih Istriku, Dan Kau mengandung Anak ku..."
"Anak mu?"
Dev terdiam mendengarnya.
"Kemana saat Ibu dan Kakak mu menolak mendoakan keselamatan Anak ku? Apa Kau membelaku? Tidak Dev! Kau malah menampar.... AAAAAA.... Ssssttt" Kavita memegangi perutnya yang terasa kram.
"Kavita Kau baik-baik saja?'
"Ssssttt Ini sakit sekali," ringis Kavita memegangi perutnya.
"Duduklah," Dev menitah Kavita duduk di kursi teras rumahnya.
"Sekarang tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan." lanjut Dev.
Kavita menuruti apa yang Dev katakan.
Perlahan Dev mengelus perut Kavita yang sudah begitu membuncit.
Dug...
"Hagh!" Dev menatap Kavita dengan perasaan takjub atas apa yang baru saja Ia rasakan saat memegang perut Kavita.
Kavita menatap Dev yang untuk pertama kalinya merasakan pergerakan bayi dalam kandungannya.
"Kavita Dia menendang?" tanya Dev yang terlihat begitu bahagia.
Kavita hanya mengangguk kecil.
"Kavita ini menakjubkan," ucap Dev yang langsung menempelkan telinganya di perut Kavita.
Kavita melihat Dev yang tengah mendengar Detakan jantung bayinya,
Perlahan tangannya mengusap kepala Dev, Hatinya seolah melunak melihat sikap Dev yang terlihat begitu menikmati pergerakan bayinya di dalam perutnya.
Bersambung...