
Kavita terus asik bermain dengan ponselnya.
Sedangkan bayinya kini lebih sering di urus oleh baby sitter, Tujuan Mertuanya menyewa baby sitter adalah agar Kavita lebih fokus mengurus Dev. Namun bukannya mengurus Dev, Kavita lebih sering menghabiskan waktunya dengan gadget nya.
Dengan kursi rodanya Dev mendekati Kavita.
Kecelakaan yang menimpanya seolah membuatnya sadar dan benar-benar ingin memperbaiki hubungannya dengan Kavita.
Namun tidak seperti Kavita yang seakan sangat terpaksa menerima Dev dengan kondisinya kini.
"Kavita,"
Kavita segera mematikan ponselnya dan duduk menatap Dev.
"Apa Kamu bisa membantuku belajar berjalan?"
"Memang kemana fisioterapi mu?" ketus Kavita.
"Dia sedang makan siang, Lagian apa salahnya jika sesekali Aku ingin Kamu yang mendampingiku?"
dengan menghelai nafas panjang Kavita turun dari ranjangnya dan mendekati Dev.
Kavita terdiam menatap pergelangan tangan kanan Dev yang bergeser. Sedangkan sebelah kakinya sedikit bengkok ke dalam hingga terlihat seperti panjang sebelah.
Dev hampir terjatuh karena ketika Ia mulai berdiri Kavita belum siap menopang tubuhnya.
"Ssss Aowwh." ringis Dev memegangi lututnya.
"Kenapa memaksakan diri, Lebih baik Kamu banyak beristirahat." ucap Kavita dengan malas.
"Aku ingin cepat pulih, Aku ingin segera bisa menggendong Devita dan Aku juga tidak ingin merepotkan mu."
"Apakah bisa?" tanya Kavita tanpa perasaan.
Dev terhenyak mendengar pertanyaan Kavita.
"Ee maksudku apakah kaki mu bisa sembuh seperti sedia kala?"
"Sekalipun tidak bisa, Setidaknya Aku bisa berjalan tanpa tongkat, Aku akan melakukan semua terapi untuk mempercepat kesembuhan ku, Kamu jangan khawatir."
Kavita menghelai nafas panjang. Ia tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika Ia harus menjalani pernikahan dengan Pria yang kini terlihat sangat tidak berdaya. Terbersit dalam pikiran untuk kembali melanjutkan keinginannya untuk bercerai dari Dev. Namun Ia juga mempertimbangkan kemewahan dan masa depan untuk anaknya jika Ia keluar dari rumah Dev sebelum Ia mendapatkan pekerjaan yang memenuhi segala kebutuhannya.
•••
Setelah kembali ke rumah, Faraz langsung menghempaskan diri ke ranjang empuknya, Sementara Alia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hati-hati Sayang,"
Alia mengangguk dan masuk ke kamar mandi.
Sementara Faraz mengambil ponselnya dan mulai berselancar di dunia Maya. Iseng-iseng Ia membaca satu persatu komentar para followernya. Ada yang menarik perhatian matanya saat Ia membaca komentar dengan bunyi "Bahagia itu dirasakan bersama, Bukan selalu diperlihatkan bersama."
Faraz mengerutkan keningnya dan merasa ada sesuatu yang aneh ia rasakan dengan komentar tersebut. Ia mulai mengeklik profil akun tersebut dan hanya ada tiga postingan gambar ilustrasi tanpa keterangan.
Faraz merasa tidak asing dengan akun tersebut, Seperti Ia pernah mengenalnya meskipun Ia tidak tau siapa penggunaan akun tersebut.
"Dari sekian banyak komentar kenapa hanya akun ini yang membuat hatiku merasa terganggu." batin Faraz
"Ada apa Mas?" tanya Alia yang sudah berdiri di tepi ranjang tanpa Faraz sadari.
"Hagh!" Faraz tersentak dari lamunannya.
"Oh, Ini lagi baca-baca komentar aja dan ada yang sedikit mengganggu ku."
"Makanya jangan main sosmed kalau Baperan," ejek Alia.
"Cuma Kamu doang di jaman ini yang tidak bermain sosmed," ejek balik Faraz.
Ya, Sejak dulu Alia memang tidak pernah bermain sosial media, Makanya dulu Alia sama sekali tidak mengetahui jika Faraz adalah model yang cukup terkenal di kalangan remaja, Bahkan setelah menikah dan Faraz telah mengganti ponsel jadulnya dengan ponsel yang lebih canggih, Alia tetap tidak memiliki keinginan untuk bermain sosial media, Ia hanya menambah satu aplikasi berwarna hijau untuk melakukan panggilan video pada Faraz jika mereka sedang tidak bersama.
"Harusnya Mas bersyukur Aku tidak bermain sosmed, Jadi Mas tidak perlu khawatir ada Pria lain yang menyukai ku."
"Ihh Pede banget, Emang ada yang mau sama istri cupu ku ini," dengan gemasnya Faraz meraih tangan Alia hingga Alia terduduk di pangkuannya.
"Biar cupu, Mas juga candu kan? ha-ha-ha."
"Sangat." Faraz mencubit pipi Alia dan semakin merapatkan tubuhnya.
Wajah Mereka saling berhadapan dengan posisi Alia lebih sedikit tinggi dari Faraz.
Faraz sedikit mengangkat kepalanya dan menyatukan kening dan hidung Mereka. Sedangkan kedua tangannya menangkup wajahnya.
Dengan memonyongkan bibirnya Faraz mencoba meraih bibir Alia namun segera di tepis olehnya. Alia tertawa dan turun dari pangkuan Faraz. Faraz mengernyitkan dahi Kemudian turun mengejar Alia.
"Jangan mencoba lari dariku," Faraz merapatkan tubuhnya hingga merapat ke dinding.
Dengan kedua tangannya Faraz mengungkung tubuh Alia hingga Alia tidak bisa melarikan diri.
"Jangan coba mendekatiku,"
"Kenapa, Eummmuaaach." Faraz langsung menelusuri ceruk leher Alia hingga membuat Alia menjinjitkan kakinya menahan rasa gelinya.
"Ssshhh.. Aku tidak mengizinkannya."
"Bagaimana kalau Aku memaksa? Eummm, Ahhh."
"Ssshh.. Ahhh, Tetap saja Mas tidak akan bisa menyelesaikannya."
"Eummhhh... Eummm..." Faraz terus melu*mat bibir Alia dengan penuh gai*rah.
"Kenapa tidak bisa, Ahhh... Shhh.."
"Ssshhh... Ahhh... Apa Mas... Akhhhhh... Tidak dengar apa yang Dokter katakan? Ahhh."
"Apa, Eummm." kini Faraz telah sampai di bukit kenyal milik Alia.
"Ahhh, Jika... Ahhhh, Dokter sssstttt tidak menyarankan Kita Hhh melakukan ini di trimester pertama Ahhh."
Seketika Faraz menghentikan aktivitasnya.
Ia menatap Alia dengan menahan gair*ahnya.
Alia terseyum menaikan dagunya sekejap.
"Yahhhh Harus puasa lagi," keluh Faraz menjatuhkan kepalanya di pundak Alia.
Bersambung....
BACA JUGA "PESONA MAJIKAN'KU" YANG TIDAK KALAH UWWU DARI FALIA ☺️❤️