
Dev sampai dirumah.
Ia melihat Ibu nya yang tengah berkumpul di ruang keluarga bersama Ayah dan kakaknya.
"Ibu..." Dev mendekati Ibu nya.
"Ada apa Dev?"
"Aku ingin bicara pada Ibu, pada kalian juga... (Ucap Dev)
"Apa ini tentang gadis kampung itu?" tanya Divya.
"Kakak berhentilah menghinaya," ucap Dev kesal.
"Ini kenyataan nya Dev." ucap Divya.
"Divya berhentilah bicara, biarkan adik mu bicara terlebih dahulu," tegas Ayah.
Divya pun terdiam.
"Katakan... Apa yg ingin kamu bicarakan? tanya Ayah
"Ayah... Ibu... Kavita... Kavitaaaaa..." Dev ragu untuk mengatakannya.
"Apa yang coba ingin kamu katakan dari tadi hanya kavita kavita saja?" ucap Divya.
"Divya diamlah," bentak Ayah.
Divya kembali terdiam.
"Sebenarnya apa yang coba ingin kamu katakan Dev?" tanya Ibu.
"Ibu... kavita... Telah... Resmi bercerai." ucap Dev yang tidak jadi mengatakan jika Kavita hamil.
"Lalu apa bagusnya Dev, itu tidak akan membuat Ibu setuju dengan pernikahan kalian," ucap Ibu.
"Tapi Bu..."
"Tapi apa Dev.. keputusan ibu sudah bulat, Ibu tetap tidak akan merestui pernikahan kalian." tegas Ibu lalu bangun dari duduknya dan akan meninggalkan Dev.
"Tapi kavita hamil Ibu," ucap Dev memejamkan matanya.
Pengakuan Dev mengatakan semua orang.
"Apa! Kavita hamil?" tanya Ibu yang merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Buat Malu saja kamu Dev, Plaakkkkk." Ayah langsung menampar Dev.
Dev hanya bisa menahan rasa sakitnya di pipinya.
"Ayah kenapa Ayah menamparnya? Ini belum tentu perbuatan Dev," ucap Divya.
"Apa yg coba ingin kamu katakan Divya?" tanya Ayah.
"Apa maksudmu Divya?" sambung Ibu
"Ayah... Ibu... Maksudku siapa yg menjamin anak yang ada dikandungan Kavita itu anak Dev?"
"Apa yang kakak katakan?" tanya Dev menarik lengan Divya.
"Kenapa marah Dev? Sekarang coba kamu pikirkan, seorang wanita yg berselingkuh dari suaminya dan tidur dengan kekasihnya, siapa yang bisa menjamin Dia tidak selingkuh dengan orang lain?" hasut Divya.
"Ibu setuju dengan ucapan Divya." ucap Ibu.
Ayah hanya terdiam mencoba memahami situasi.
"Itu tidak mungkin, Itu tidak mungkin." Dev meninggalkan mereka dengan kebingungan di hati dan pikirannya.
"Ibu.... Gadis itu mencoba menipu kita dengan kehamilannya biar kita merestui pernikahannya dengan Dev," ucap Divya.
Ibu meragukan hal yang sama seperti Divya.
"Aku tidak tau apa yg harus kita lakukan." Ayah meninggalkan Ibu dan Divya.
"Jangan fikir dengan kehamilan mu membuat kami merestui pernikahan mu dasar gadis kampung." batin Divya.
Dev terus memikirkan ucapan Kavita dan hasutan kakaknya.
"Bagaimana jika ucapan Kak Divya benar? Aaarrggghhh...!!!" Dev meremas rambutnya dengan kesal kemudian membanting gelas yang ada di dekatnya.
°°°
Pagi Hari.
Ibu masuk ke kamar Faraz dan melihat Faraz masih tertidur tengkurap di sofa.
"Ya ampun anak ini, selalu saja berantakan!" ucap Ibu sambil memunguti satu persatu barang yang berserakan di lantai.
Ibu pun mendekati Sofa dimana Faraz tidur.
"Faraaaaz..." Ibu duduk di samping Faraz dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Tanpa sengaja Netra Ibu tertuju pada botol yang tergeletak di bawah meja.
Ibu mengambil botol itu dan menciumnya.
"Eemmm..." Ibu menahan bau dari botol itu.
"Faraz! Faraz Apa kamu minum lagi?" Ibu mengayunkan lengan Faraz dengan kasar.
"Faraz bangun sekarang!" tegas Ibu
"Ada apa Ibu, jam berapa ini?" ucap Faraz dengan mata yg masih terpejam.
"Bangun sekarang!" Ibu menarik Faraz sampai terduduk.
"Ibu Aku hanya minum satu botol kecil saja, kenapa Ibu berlebihan," ucap Faraz santai.
"Faraz sudah Ibu bilang, Ibu tidak ingin lagi melihat mu menyentuh minuman seperti ini lagi meskipun hanya sebotol, segelas atau setetes sekalipun!" tegas Ibu.
"Ibu kan hanya melarangku untuk tidak menyentuhnya, bukan meminumnya," kelakar Faraz.
"Faraz Kau berani berkilah?" Ibu memukul lengan Faraz.
"Aww ampun Ibu... Ampun... Aku hanya bercanda," Faraz berlari seperti anak kecil.
"Faraz berhenti!" tegas Ibu dengan menenujuk jarinya ke Faraz.
Faraz pun berhenti menatap Ibunya.
"Sekarang kamu mandi dan bersiaplah lah karena kita akan kerumah Alia,"
"Untuk apa Ibu?" tanya Faraz bingung.
"Apa kamu masih mabuk? Bukankah semalam kamu sudah menyetujui pernikahan mu dengan Alia?"
Faraz terdiam dan mengingat saat Ia mendengar Kavita hamil dan langsung setuju untuk menikah dengan Alia.
"Faraz... Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu tiba-tiba berubah?
Dan apa alasanmu tiba-tiba menyetujui pernikahan ini?" selidik Ibu.
"Ee... Tidak ada, Aku akan bersiap sekarang," ucsp Faraz lalu pergi kekamar mandi.
*****
Kavita dan Ibunya sedang sarapan bersama.
"Kavita kemarin malam Ibu melihatmu berjalan dengan Faraz, apa hubungan kalian sudah kembali membaik?"
Kavita yang mendengar pertanyaan ibu langsung tersedak.
"Ada apa kavita... Minumlah," Ibu memberikan minum kepada Kavita.
Apa Kamu baik-baik saja?"
"Ya.. aku tidak apa-apa Ibu, daaaan... hubunganku dengan Faraz, kami hanya bertemu sekali dan.." Kavita terdiam mengingat Faraz.
"Daaan...?" tatapan penuh harap terlihat jelas di wajah Bu Risma.
"Dan kami hanya berbincang sebentar Ibu,"
"Apa Dia masih mencintaimu?" tanya Ibu penuh harap.
Kavita kembali mengingat Faraz yang tidak pernah marah padanya meskipun berkali-kali Kavita menyakiti nya.
"Apa yang Ibu katakan, Faraz akan segera menikah, tidak mungkin Dia masih mencintai ku," ucap Kavita dengan pandangan mata berkaca-kaca.
"Apa! Faraz akan menikah? Kapan dan dengan siapa?"
"Aku tidak tau Ibu, dan lagi pula...." Kavita tiba-tiba merasa mual.
"Ada apa kavita..." tanya Ibu khawatir.
Kavita langsung lari ke kamar mandi.
"Kavitaaaaa... Kavita apa yg terjadi, Apa kamu baik-baik saja?" Ibu terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Kavita terus muntah-muntah hingga suaranya terdengar hingga ke luar.
"Kavita... Kavita..." Ibu pun terdiam dan berfikir.
"Apa... Kavita..?" Ibu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ya Tuhan...Keluar kavitaaaaa!" triak Ibu yang mulai marah.
"Kavita... Ibu bilang cepat keluar!" gebrak Ibu.
Kavita pun keluar dengan wajah pucatnya.
"Apa kamu hamil?" pekik Ibu mencengkeram lengan Kavita.
Kavita mulai menangis.
"Jawab Ibu, Apa kamu Hamil?"
"Maafkan Aku Ibu... hiks hiks hiks" Kavita langsung terduduk memeluk kaki Ibunya.
Ibu terdiam sejenak mendengar pengakuan Kavita.
"Apa yang sudah kamu lakukan Kavita? belum cukupkah kamu membuat malu ibu dengan meninggalkan Faraz demi laki-laki lain? dan dekarang kamu hamil sebelum menikah?" pekik Ibu mendorong Kavita menjauh dari kakinya.
"Maafkan Aku Ibu... Maafkan Aku..." Kavita terus menangis memohon pengampunan dari Ibu nya.
"Ibu tidak tau lagi denganmu Kavita, Ibu benar-benar rrasa malu memiliki Putri seperti mu!"
"Ibuuu..." Kavita kembali memegangi kaki Ibu nya.
"Lepaskan Ibu Kavitaaaaa, lepaskan!" Ibu melepaskan kakinya dengan paksa sampai Kavita jatuh ke lantai.
Ibu yang sangat kecewa dengan perbuatan Kavita, tidak memperdulikan Kavita dan pergi meninggalkan nya.
"Ibuuu... Ibuuu... Ibu maafkan Akuuuu...." Kavita terus menangis tertelungkup di lantai.
Bersambung...