
Faraz terus mengejar penculik Zayn di tengah ramainya kendaraan yang melintas. Tangisan Zayn yang kian melengking membuat Faraz mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkap penculik Putranya.
"Seseorang tolong tangkap Dia, Dia menculik Bayi ku." pekik Faraz pada Orang-orang yang di sekitarnya.
Beberapa orang yang melihat aksi kejar-kejaran Mereka langsung ikut berlari mengejar penculik itu.
Setelah cukup jauh berlari, Akhirnya Faraz berhasil menarik kerah jaket penculik itu. Namun penculik itu segera membuka jaketnya, Kemudian menendang perut Faraz dan kembali berlari dengan cepat.
"Hey! Kau, Shiiittt..."
"Tuan Anda tidak papa?"
"Jangan pedulikan Aku, Kejar penculik Bayi ku!"
"Baiklah." Orang-orang pun kembali berlari. Begitu pun dengan Faraz yang mengabaikan rasa sakitnya dan kembali mengejarnya.
Alia telah menghubungi Polisi, Kini Ia menghubungi Ayah mertuanya untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Cucunya.
"Apa!" pekik Shehzad yang begitu sangat terkejut mendengar bahwa cucunya di culik.
"Ya Ayah, Sekarang Mas Faraz tengah mengejarnya, Aku takut sekali." tangis Alia.
"Katakan! Sekarang kamu dimana?"
"Aku akan mengirimkan lokasinya."
"Baiklah, Tetap di mobil sampai Ayah sampai kesana."
Shehzad segera meninggalkan kantor dan mengajak empat orang penjaga keamanan untuk ikut bersamanya.
Penculik masih berlari seiring tangisan Zayn yang semakin tidak terdengar suaranya. Hingga kemudian penculik sampai di halte bus dan tanpa sengaja Ia menabrak pedagang asongan hingga Zayn terlepas dari tangannya. Namun secepat kilat seseorang menangkap tubuh mungil Zayn tepat sebelum Zayn jatuh ke aspal.
Faraz dan orang-orang yang ikut mengejar penculik, Bahkan penculik itu sendiri terperangah melihat gadis yang nyaris telungkup demi melindungi Zayn jatuh ke aspal.
"Tangkap Dia!" triak salah satu orang yang ikut mengejar penculik.
Mereka pun menangkap penculik dan ada beberapa yang memukulnya dengan kesal.
Faraz mendekati gadis yang menyelamatkan Putranya. Perlahan iya berjongkok dan menyingkap rambut yang menutupi Zayn dan wajah gadis itu. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya, Kedua tangannya yang terkena aspal membuatnya kesulitan untuk mengangkat tubuhnya.
Faraz yang melihat gadis itu kesakitan memegang kedua bahunya dan membantunya duduk. Faraz fokus melihat Zayn yang masih menangis dalam tangan gadis itu.
"Berikan padaku," ucap Faraz mengulurkan tangannya.
Gadis itu menoleh ke Faraz untuk memberikan Zayn padanya.
Keduanya terkejut melihat wajah masing-masing.
"Nindi..."
"Tuan Faraz..."
Belum sempat mereka bicara, Suara sirine polisi datang ke lokasi.
Faraz segera berdiri dan di ikuti oleh Nindi yang terlihat dengan susah payah mencoba berdiri.
"Kau baik-baik saja?" tanya Faraz meraih tangan Nindi yang hampir terjatuh kembali.
"Ya, Terimakasih." Nindi meniup-niup sikunya yang terlihat tergores aspal cukup panjang.
"Bawa ke mobil." tegas polisi meringkus tersangka.
"Saya akan ke kantor jika Saya sudah menyelesaikan urusanku." saut Faraz.
"Baiklah."
Polusi pun pergi meninggalkan lokasi.
"Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Faraz lagi.
"Tidak papa, Ini hanya luka kecil."
"Faraz..." pekik Ayah yang tiba ke lokasi. Di ikuti oleh Alia di belakangnya.
"Ayah." Faraz langsuzmemeluk Ayahnya.
"Mas..."
"Sayang..." Faraz mendekap Alia ke sisinya.
"Zayn..." dengan perasaan haru, Alia mengambil alih Zayn dari tangan Faraz. Di ciuminya wajah Zayn bertubi-tubi. Faraz yang tak kalah sedihnya mengusap kepala Alia dan kembali mendekapnya kemudian mengecup pucuk kepalanya.
"Syukurlah cucuku baik-baik saja."
"Ya dan ini semua berkatnya." ucap Faraz melepaskan Alia dan melihat Nindi.
"Nindi?" ucap Alia terkejut.
"Ya, Dia yang menyelamatkan Bayi Kita."
"Bagaimana bisa?" tanya Alia yang seakan tak percaya.
"Ini hanya kebetulan Nyonya, Saya tengah menunggu Bus, Tiba-tiba Saya melihat Seorang Pria hampir melepaskan bayi dalam gendongannya, Spontan Saya berlari menangkapnya." jelas Nindi.
Alia melihat kedua lutut Nindi yang lecet, Kemudian melangkah mendekatinya.
"Kamu terluka?"
Nindi hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya.
Alia meraih tangan Nindi dan melihat tangan hingga sikunya juga terluka.
"Ikutlah bersama Kami, Kami juga akan mengantar Ratna ke rumah sakit."
"Tidak perlu Nyonya, Ini hanya luka kecil dan akan sembuh dengan sendirinya."
"Aku tidak tau bagaimana nasib Putra ku jika Kamu tidak menyelamatkan nya."
"Ini hanya kebetulan Nyonya, Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama."
Alia yang awalnya begitu cemburu dan curiga pada Nindi begitu tersentuh dengan sikap tulus yang Nindi tunjukkan.
"Terimakasih." Alia memeluk Nindi sejenak.
"Terimakasih banyak telah menyelamatkan Cucu ku." sambung Shehzad.
Nindi menganggukan kepala di barengi senyum tipisnya.
"Sekali lagi terimakasih, Aku akan menyuruh Supir mengantarmu, Kami pergi dulu." ucap Faraz yang kemudian meninggalkannya.
Bersambung...