
Dev kembali berdiri mengalihkan pandangannya kesana kemari.
Bertemu Pria yang dulu pernah memenjarakannya karena lari dengan istrinya membuat Dev merasa malu dan canggung dengan situasi yang tidak Ia duga.
"Hai!"
Sapaan Faraz membuat Dev mengangkat kepalanya.
Benarkah Faraz menyapanya, Dev seakan tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
"Bagaimana kabar kalian? Apa yang kalian lakukan di Kalimantan?"
Dev kembali melihat Faraz, Ternyata benar. Ia tidak salah dengar.
Faraz benar-benar mengajaknya bicara.
"E-e.. Kami baik, Kami kesini untuk liburan." ucap Dev yang kembali menundukkan kepalanya.
"Pertemuan yang tidak terduga bukan?" tanya Faraz menoleh ke Kavita.
Dev hanya tersenyum tipis. Sementara Kavita terdiam tanpa ekspresi.
Kemudian Faraz melihat Dev dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Kakinya yang tidak lagi sempurna membuat Dev tidak bisa berdiri dengan tegap.
Dev yang melihat tatapan mata Faraz merasa Insecure hingga Ia hampir terjatuh ke belakang. Namun dengan sigap Faraz meraih tangannya.
"Kamu tidak papa?" tanya Faraz.
Dev menggelengkan kepalanya, Ia seakan tak percaya melihat Faraz yang terlihat tidak lagi menaruh dendam padanya.
"Terimakasih."
"Tidak masalah, Oh iya berapa usia gadis Putri Kalian, Dia terlihat masih sangat kecil tapi sudah bisa berjalan." Faraz berjongkok di depan Devita. Menatap gadis kecil yang saat Ia lahir di Adzani olehnya.
Alia menatap Faraz dengan perasaan aneh, Ia tidak menyangka Faraz akan bersikap demikian kepada mantan beserta suami dan anaknya.
"19 Bulan." saut Kavita.
Faraz yang mendengar Kavita yang menjawab menoleh ke arahnya dan teringat pertemuan terakhir Mereka di kantor.
Kemudian Faraz kembali berdiri dengan langkah kebelakang.
"Dia terlihat sangat menggemaskan kan Mas?" ucap Alia yang melihat raut wajah Faraz seketika berubah dan tidak lagi menjawab ucapan Kavita.
"Ya." saut Faraz dengan seulas senyum.
"Baiklah, Kalau begitu Kami duluan ya, Bye..." Alia melambaikan tangan pada Kavita dan menganggukkan kepalanya pada Dev.
"Bye Sayang..." Alia menempelkan kelima jarinya yang telah mengerucut ke pipi Devita dengan gemas, Kemudian menarik tangan Faraz meninggalkan jembatan tersebut.
Kavita dan Dev melihat punggung Mereka hingga hilang di telan pekatnya malam.
"Kita kembali ke hotel." ucap Dev pada Kavita.
Kavita mengangguk dan menggendong Putri kecilnya.
Sedangkan di perjalan Alia memperhatikan Faraz yang tidak mengajaknya bicara.
Kemudian Alia mengisi Jari-jemari Faraz dengan jarinya hingga membuat Faraz tersentak.
"Mas tidak apa-apa?"
"Hm! Tidak, Kenapa memang?"
"Mas tidak terpengaruh bertemu masa lalu Mas?"
"Untuk apa, Mas sudah punya Kamu, Punya Zayn dan Zayd yang melengkapi kebahagiaan Kita." Faraz merangkul Alia dan menyandarkan kepalanya di bahunya.
•••
HOTEL 🏨
Faraz dan Alia turun dari mobil.
Mereka berdiri di depan lift menunggu lift terbuka.
Kebiasaan saat bosan bermain ponsel, Faraz meraba saku untuk mencari ponselnya. Namun Ia tidak menemukannya.
"Ada apa Mas?"
"Ponsel Mas kayaknya ketinggalan deh."
"Ketinggalan di mobil nggak?"
"Mas liat dulu ya, Kamu tunggu sini."
Alia mengangguk. Sementara Faraz keluar mencari ponselnya.
Trrriinng...
Pintu Lift terbuka. Alia melihat ke dalam Lift sekilas dan kembali menoleh ke lorong pintu masuk melihat Faraz yang belum juga kembali.
"Nona Alia."
Alia menoleh kebelakang dan melihat Malvin di belakangnya.
"Tuan Malvin." Alia cukup terkejut melihat Malvin berada di hotel yang sama dengannya.
"Jadi Anda menginap di sini?"
"Ya."
"Lalu dimana Tuan Faraz, Kenapa Dia meninggalkan istri cantiknya sendirian?"
Alia yang mendengar pujiannya bukannya bahagia malah merasa risih dengan perkataan Malvin.
"Nona Alia?" Malvin masih menunggu jawaban dari Alia.
"E-e Mas Faraz sedang mencari ponselnya di mobil."
"Oh, Jadi Dia meninggalkan istri cantiknya demi ponselnya?"
"Bukan seperti itu Tuan Malvin, Mas Faraz hanya meninggalkan ku disini, Bukan di tengah jalan atau di tengah laut, Tidak perlu membesarkan masalah." ucap Alia memaksakan senyumnya.
"Tetap saja, Jika Saya mempunyai istri cantik seperti Anda, Saya tidak akan meninggalkannya walau sedetikpun."
Alia mengalihkan pandangannya kesana kemari. Perkataan Malvin semakin membuatnya tidak nyaman, Bagaimana bisa Ia mengatakan itu kepada Istri dari rekan kerjanya.
"Oh ya, Sedang apa Anda disini?" tanya Alia mengalihkan pembicaraan.
"Saya..."
"Tuan Malvin."
"Hey! Tuan Faraz."
"Anda menginap disini juga?" tanya Faraz.
"Ya, Saya baru masuk tadi sore."
"Wah kebetulan sekali, Kalau begitu meeting besok Kita bisa adakan di hotel ini." ucap Faraz.
"Ya tentu. Saya akan memberitahukan kepada Tuan Handoko dan yang lainnya."
"Baiklah, Kalau begitu Saya duluan."
"Ayo Sayang." Faraz merangkul pundak Alia dan menitahnya ke lift.
Malvin terus melihat Alia yang terlihat semakin cantik di matanya.
Niatnya ke hotel itu hanya untuk bersenang-senang dengan sekertarisnya sebagai pelampiasannya, Malah membawa dirinya kepada target utamanya.
"Bagaimana rasanya menikmati tubuh indahya, Sssshhh Ahhh." Malvin memejamkan mata dengan pikiran kotornya.
Bersambung...
BACA JUGA PESONA MAJIKAN'KU 🤗