
"Selamat malam Pa..." Zayd menghentikan langkahnya di depan pintu melihat Papanya dan Zia saling berpelukan dengan sedih.
Faraz mengurai pelukannya dan terkejut melihat Zayd membawa seorang gadis di sebelahnya.
Begitupun pun dengan Alia, Zia dan Bryan yang melihat kedatangan mereka.
"Jadi Om Bryan juga ingin meminta restu dari Papa." batin Zayd.
"Zayd kenapa berdiri saja di situ kemarilah," ucap Faraz.
"Zayd mengangguk dan meraih tangan Alea dan menggandenya masuk.
"Jadi ini kekasih mu?"
"Ya Pa."
"Duduklah." Zayn menyambut Alea dengan ramah.
Kemudian Faraz menatap Bryan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Zia memegang tangan Om Bryan dan menyuruhnya duduk.
Bryan mengangguk dan menunggu keputusan apa yang akan Faraz berikan padanya.
"A-e, Om Bryan dan Zia..."
"Bicarakan saja yang ingin Kamu bicarakan Zayd." tegas Faraz memotong pertanyaan Zayd.
Zayd terdiam menatap Adik perempuannya yang terlihat sedih menggengam tangan Om Bryan.
"Zayd, Kamu pasti memiliki maksud dengan membawanya kesini kan?"
"Ya, Kenalin Dia Alea."
"Om..." Alea menjabat tangan Faraz, Alia, Zia dan juga Om Bryan.
"Alea? Hanya beda E dan I saja ya sama Mamanya Zayd."
"Iya Om,"
"Nama panjangnya siapa?"
"Alea Andreana..."
"Hawley Harjanto." sambung Zayd.
Faraz tercengang mendengarnya. Nama itu tidak asing di telinganya.
Nama yang pernah membuatnya dalam masalah besar hingga nyaris membahayakan Istri dan Anak-anaknya.
"Pa..." Zayd menunggu reaksi Papanya yang terlihat masih mengingat sesuatu.
"Hawley Harjanto?" tanya Faraz memastikan.
"Ya, Putri dari Barry Hawley Harjanto."
Faraz langsung menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa benar-benar shock dengan percintaan Anak-anaknya yang membuatnya sesak nafas.
"Pa, Papa baik-baik saja?"
"Mas gak Papa?" tanya Alia mengusap-usap dada Faraz.
Faraz berdiri mengatur nafasnya, Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.
Dengan bercekak pinggang, Faraz menatap Zayd dan Zia bersama pasangannya masing.
Ia tidak habis pikir kenapa dunianya begitu sempit, Kenapa Anak-anaknya berpacaran dengan orang-orang yang masih berhubungan dengan nya.
Faraz mengusap keningnya dengan kasar dan mempertanyakan pilihan Anak-anaknya.
"Apa yang kalian lakukan, Tidak adakah orang lain, Tidak adakah pilihan lain?"
"Jika cinta bisa memilih maka tidak akan ada kesalahan dalam percintaan."
Suara itu mengagetkan semua keluarga.
Mereka melihat ke arah pintu dan melihat Zayn sudah berdiri di sana.
"Zayn." Faraz dan Alia setengah berlari menyambut putra sulungnya.
"Zayn Kenapa pulang tidak memberitahu kami?" dengan haru Alia mengusap pipi putra sulungnya yang kini tinggal jauh darinya.
Kemudian Zayn mengurai pelukannya dan beralih ke Papanya.
"Pa." Zayn memeluk Papanya dengan haru, Ia tidak lagi merasa Papanya tidak adil karena mengirimnya ke pesantren. Justru sekarang Ia merasa bersyukur karena dengan di pesantren, Selain bisa memperbaiki diri dan memperdalam ilmu agama, Zayn juga menemukan tambatan hatinya.
"Papa merindukan mu Zayn,"
"Zayn juga Pa."
Setelah memeluk Papa dan Mamanya,
Zayn memeluk saudara kembarnya. Hidup terpisah dengannya, Zayn baru menyadari jika saudara kembarnya begitu berarti dalam hidupnya, Bahkan Zayn telah menyadari kesalahannya jika selama ini Ia selau memanfaatkan untuk kepentingannya.
"Maafkan Aku Zayd."
"Tidak masalah Zayn, Tidak ada yang perlu di maafkan."
"Jadi kamu serius dengannya?" tanya Zayn melirik Alea.
Alea langsung menundukkan kepalanya mengingat pernah memeluknya saat di kebumen.
Zayd mengangguk pelan.
"Tapi ini tidak bisa terjadi Zayn!" ucap Faraz menyela pembicaraan Anak-anaknya.
"Kenapa tidak Pa?"
"Ayahnya pernah menjebak Papa dan juga menyebabkan seseorang menculik mu, Serta kejahatan lain yang tidak terhitung banyaknya, Orang seperti itu tidak akan berubah Zayn!"
"Pa, Setiap orang bisa berubah, Zayn juga bisa berubah seiring berjalannya waktu, Apa lagi Om Barry yang telah mendekam di penjara, Mungkin saja Dia juga sudah berubah."
"Tidak semua Zayn, Terkadang orang malah akan bertambah jahat setelah di penjara, Contohnya Malvin, Apa kamu lupa jika Carissa dan Malvin berusaha menjebakmu?"
Zayn terdiam menatap Zayd yang menggelengkan kepalanya dengan kesedihan di wajahnya.
Kemudian Zayn kembali menatap Papanya.
"Pa, Di pesantren Zayn di ajarkan untuk tidak bermusuhan apa lagi menyimpan dendam, Seperti HR Bukhari dan Muslim : Sesungguhnya lelaki yang paling dibenci Allah ialah yang paling gigih dalam permusuhan. Tentu Papa tidak ingin masuk dalam golongan itu kan?"
"Zayn..." Faraz memeluk Zayn dengan haru, Putranya yang dulunya Ia masukan dalam pesantren karena hukuman, Kini telah benar-benar belajar ilmu agama.
"Lagi pula Alea juga berselisih dengan Ayahnya Pa, Alea lari dari Ayahnya karena mereka tidak sejalan," ucap Zayd.
Zayn dan Papanya mengurai pelukannya dan menatap Zayd.
Kemudian Faraz meraih Zayd ke pelukannya bersama saudara kembarnya.
"Seburuk apapun orang Tua, Seorang Anak wajib menghormatinya, Kita sebagai pihak laki-laki, Akan menemui Ayahnya sekaligus mendamaikan mereka."
Zayd terseyum bahagia mendengar ucapan Papahnya.
Begitupun dengan Zayn yang ikut berbahagia untuk saudara kembarnya.
"Apa itu artinya Papa merestui hubungan kami?" tanya Zayd memastikan.
"Apa lagi Zayd, Tentu saja, Berterimakasih lah pada ku." saut Zayn dengan sombongnya.
Faraz tertawa menggelengkan kepalanya, Begitupun dengan Zayd yang kemudian memeluk Zayn.
"Terimakasih Zayn, Aku tidak tau apa jadinya jika tidak ada dirimu."
"Sama-sama Zayd, Berbahagialah."
"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Zayd.
"Tenang saja meskipun Aku di pesantren, Pesonaku masih tidak pudar, Aku juga sudah memiliki calon kakak ipar untuk mu, Makanya Aku pulang," ucap Zayn tertawa.
"Benarkah, Kau juga?" tanya Alia tak percaya.
Zayn menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan Zia Pa?" tanya Zia yang belum mendapat restu dari Papanya.
Bersambung...
Kisah Om Bryan dan Zia di lanjut di "MENGEJAR DUDA TEMAN PAPA"
KISAH ZAYN SILAHKAN BACA DI "BERSAING CINTA DENGAN USTADZ" DAN UNTUK ZAYD DAN FARAZ TETAP DI SINI.
YUK TERUS SUPORT SEMUA NOVEL AUTHOR 🤗❤️