Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Sampai Hotel


Zia berjalan ke arah mobilnya dan mengagetkan Papanya dari belakang agar tidak merasa curiga padanya.


"Door!"


Faraz begitu kaget dan menoleh kebelakang.


"Zia..."


Zia hanya menertawakan Papanya.


"Dari mana sih Papa tunggu nggak datang-datang, Di cariin nggak ada?"


"Sembunyi, Biar bisa kagetin Papa."


"Dasar nakal." dengan gemas Faraz mendekap putrinya. Namun Faraz merasa mencium parfum pria pada tubuh putrinya.


"Zia kok bau parfum pria sih?"


"Masa sih," Zia pura-pura mencium bau badan sendiri.


"Bener kan?"


"Ini bau Papa kali,"


"Beda Sayang, Parfum Papa nggak begitu." Faraz kembali mengendusnya dan mengingat-ingat bau parfum yang tidak begitu asing di hidungnya.


"Iih Apaan sih Papa, Udah yuk ke dalam, Zia lapar." Zia langsung menarik Papanya untuk menghentikan kecurigaannya.


"Tapi ngomong-ngomong Zayd kemana?"


"Ntah lah mungkin ke toilet."


•••


Zayd sedang menemui Alea di dalam mobil yang Ia sewa untuk mengikuti dirinya, Zayd mengajak Alea agar Ia merasa tenang karena tidak meninggalkan Alea sendirian di apartemennya, Selain itu Zayd juga tidak ingin ketika Ia kembali, Orang-orang suruhan Ayahnya menangkap Alea dan memisahkan Mereka berdua.


"Kamu tidak ingin ke toilet?" tanya Zayd.


"Pingin sih, Tapi nanti ketinggalan gimana?"


"Kayaknya masih lama, Aku juga belum makan."


"Baiklah." Alea bersiap turun sembari mengikat rambutnya yang tergerai panjang.


"Kita ketemu lagi di hotel." ucap Zayd.


Alea menganggukkan kepalanya dan bergegas turun.


Zayd juga bergegas turun dan masuk ke restoran untuk bergabung dengan keluarganya.


"Hey! Zayd, Darimana saja?" tanya Faraz.


"Cari angin Pa, Oh ya Mama mana?" tanya Zayd yang langsung mengalihkan pembicaraan.


"Mama ke toilet."


"Ke toilet?"


"Iya, Ponselnya ketinggalan."


"Kok bisa!"


"Kata Mama mungkin di taruh di wastafel atau dimana gitu."


Zayd terdiam dan berfikir bagaimana jika Alea bertemu dengan Namanya.


"Coba Kamu bantu telfon biar Mama denger ponselnya di mana."


Zayd mencoba menelfon.


Alea yang sedang bercermin di depan wastafel terkejut mendengar ada ponsel berdering di sebelahnya, Alea menoleh kanan kiri dan tidak melihat orang sama sekali, Kemudian Alea mengambil ponsel itu dan melihat layar ponselnya bertuliskan nama Zayd memanggil.


"Zayd, Ponsel ini?"


"Ponsel ku..." ucap Alia yang baru masuk mendengar Alea bertanya Ponsel siapa.


"Oh, Alea memberikan ponselnya pada Alia yang Ia duga Mama dari Bos sekaligus kekasihnya, Alea terus menatap Alia dan menatapnya dengan kagum, Meskipun telah memiliki Anak-anak yang telah dewasa, Alia masih terlihat begitu cantik dan kencang.


Pembawaannya yang ramah dan murah senyum membuat Alia terlihat semakin cantik di mata Alea.


"Terimakasih," ucap Alia mengagetkan lamunan Alea.


"E... Sama-sama."


"Mari..." Alia terseyum dan mengangguk ramah kemudian meninggalkan toilet.


Alea melihat punggung Alea sampai menghilang dari pandangannya.


Setelah makan selesai Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Zia melihat-lihat ke belakang dan bertanya-tanya apakah Om Bryan masih mengikutinya atau tidak. Zia yang di apit oleh Papa dan Mamanya membuat Ia tidak bisa menghubungi Bryan sama sekali.


"Zia sayang, Ada apa dengan mu, Kenapa kamu bersikap seperti itu pada Om dan kenapa Kamu tidak mau menghubungi Om sama sekali sejak kemarin," ucap Bryan yang terus mengikuti Mereka dengan keresahan di hatinya.


•••


Menjelang subuh, Mereka sampai di hotel bintang lima di kota yang di juluki kota beriman tersebut.


Faraz memesan tiga kamar untuk dirinya dan kedua anaknya.


Di belakangnya Bryan juga memesan kamar yang kebetulan di kasih kamar tidak jauh dari kamar Mereka, Dengan tidak membawa satu pakaian pun Bryan yang menggunakan kacamata hitamnya mengikuti Keluarga Faraz yang menuju kamarnya.


Di belakangnya lagi, Alea juga memesan kamar yang tidak jauh dari Zayd dan bergegas ke kamarnya.


Bryan melihat Zia masuk ke kamar yang ternyata berjarak satu kamar dari kamar yang Ia tempati karena sebelahnya di tempati Faraz dan Alia. Sedangkan Zayd beradadi kamar sebelahnya Zia.


Bryan masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Namun Ia tidak bisa memejamkan mata karena terus kepikiran sikap Zia padanya.


Cinta yang tengah tumbuh subur di hatinya seakan tergores dengan sikap Zia yang tiba-tiba berubah padanya.


"Aku harus meminta penjelasan padanya, Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." ucap Bryan yang langsung keluar dari kamar dan menuju kamar Zia.


Dengan sangat pelan, Bryan mengetuk pintu kamarnya. Sampai beberapa kali Zia baru membukakan pintunya.


"Om Bryan..." Zia kembali terkejut melihat Om Bryan yang mengikutinya hingga ke hotel yang sudah jauh dari kota Jakarta.


"Hsssttt!" Om Bryan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri dan mendorong tubuh Zia masuk.


Ceklekkk...


Faraz keluar melihat kanan kiri kamarnya.


"Seperti ada yang mengetuk pintu." ucap Faraz.


Bersambung...


📌 AYO TINGGALKAN KOMENTAR PENYEMANGAT BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT UP 😀


KAKAK SULUNG ZAYN SUDAH UP DI "BERSAING CINTA DENGAN USTADZ" DAN CARISSA SUDAH MASUK KESANA 😀