
Kavita keluar dari dalam dan melihat Dev dengan Cindy yang masih duduk berbincang.
Cindy yang melihatnya langsung bangun dari duduknya dan menganggukkan kepalanya pada Kavita.
Dev yang melihat Cindy berdiri, Menoleh ke belakang dan melihat Kavita bersama bayinya sudah berdiri di belakangnya.
Dengan tatapan sinis kepada Cindy, Kavita menaruh bayinya di pangkuan Dev. Kemudian Ia duduk di sisi kanan Dev dengan posisi duduk lebih tinggi dan merangkul pundak Dev seolah ingin menunjukkannya pada Wanita yang berdiri di depan suaminya.
Dev menoleh ke Kavita dan terseyum karena sekian lama Kavita tidak bersikap demikian padanya.
Cindy yang merasa risih dengan sikap Kavita segera berpamitan untuk pulang.
"Baiklah Tuan, Saya pulang dulu."
"Baiklah, Terimakasih."
Cindy terseyum dan menganggukkan kepalanya pada Kavita kemudian pergi meninggalkan rumah Mereka.
Kavita yang melihat Cindy telah pergi, Segera turun dari kursi dan langsung memarahi Dev.
"Dengan keadaan seperti ini Kamu masih mau bermain dengan wanita lain?" tanya Kavita sembari mengambil kembali bayinya.
"Jangan salah faham, Dia hanya mengantarkan ini." ucap Dev menunjukan brosur dan alamat pengobatan alternatif untuknya.
"Itu hanya alasannya saja. Jika itu benar, Dia kan bisa memberitahukan mu melalui pesan, Tidak perlu datang kemari."
Dev tersenyum mendengar omelan Kavita.
"Kenapa Kamu malah tersenyum? Apa Kamu begitu bahagia dengan kedatangannya?"
"Tidak." ucap Dev datar.
Kavita terdiam ketika tangan Dev meraih tangannya dengan lembut.
"Aku tersenyum karena akhirnya Aku bisa melihat istriku merasa cemburu padaku setelah sekian lama Aku tidak melihatnya." ucap Dev mengecup tangan Kavita.
Kavita terdiam menatap Dev yang terlihat seperti Dev yang dulu pada saat Mereka sangat saling mencintai.
•••
Seminggu Kemudian.
Alia menunggu Faraz di sebuah restoran yang telah Mereka janjikan
Dengan resah Aliabterus menatap jam tangannya.
Sudah dua jam Alia menunggu tapi Faraz tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
"Apakah Mas Faraz melupakan hari ini?" ucap Alia kesal.
Alia kembali mencoba menghubungi Faraz. Namun Faraz tetap tidak bisa di hubungi.
"Kemana Mas Faraz, Kenapa sejak tadi tidak bisa di hubungi, Padahal dari sore Aku sudah mengatakan kalau Aku memintanya datang ke restoran ini." gumam Alia yang terus berusaha menghubunginya.
"Nyonya." ucap Pak Supir mendekati Alia.
"Ya."
"Tuan Faraz meminta Nyonya pulang sekarang."
"Apa!"
"Iya Nyonya, Tuan Faraz sudah berada di rumah."
"Aku menunggunya berjam-jam, di telfon tidak di angkat tapi Dia enak-enakan di rumah." ucap Alia kesal.
Pak supir hanya terdiam menundukkan kepalanya.
Dengan perasaan jengkel akhirnya Alia meninggalkan restoran dan masuk ke mobilnya.
Setelah setengah jam perjalanan, Akhirnya Alia sampai di rumah.
Persiapan matang yang Alia rencanakan dari jauh-jauh hari harus gagal karena Faraz tidak mau datang ke restoran tersebut.
"Hati-hati Nyonya." ucap Pak Supir yang masih mengawal Alia menaiki tangga satu persatu.
Tanpa memperdulikan Pak supir Alia terus naik ke atas dan masuk ke kamarnya dengan menutup pintu dengan keras hingga Pak supir yang di luar pintu terlonjak kaget.
Alia terdiam melihat kamarnya yang gelap gulita tanpa ada penerangan sedikitpun.
Alia pun meraba dinding kamarnya dan mulai melangkah.
Seketika lampu menyala dan membuat Alia terperangah melihat apa yang ada di depannya.
Alia kembali melangkah melewati bunga-bunga mawar yang bertabur di sepanjang lantai kamarnya hingga Ia kembali menghentikan langkahnya dan kembali terperangah melihat ranjangnya yang telah di hias dengan begitu sangat romantis.
Alia menutup mulutnya yang terbuka lebar karena rasa terkejutnya.
Kemarahannya seketika hilang melihat apa yang ada di depannya.
"Happy Anniversary." lirih Faraz yang telah berdiri di belakang Alia sembari memakaikan kalung di lehernya.
Alia kembali terkejut dan memegang kalung yang ada di lehernya.
"Mas, Ini..." Alia menoleh kebelakang dan tak bisa berkata-kata.
"Apa Kamu marah?"
"Sangat." Alia memukul-mukul dada Faraz dengan manja.
Faraz terseyum dan meraih kedua tangan Alia kemudian melingkarkan ke tubuhnya.
"Maafkan Mas." Faraz mengecup kening Alia dengan begitu mesra.
"Jadi Mas tidak datang ke restoran untuk menyiapkan ini semua?"
Faraz langsung membopong tubuh Alia.
"Ya, Karena kalau tidak begitu, Mas tidak bisa menyiapkan ini." Faraz membaringkan tubuh Alia di atas ranjang yang begitu semerbak harumnya.
"Tapi Aku juga sudah menyiapkan kejutan ku di restoran."
"Aku tidak ingin kejutan apapun, Aku hanya ingin Kita merayakan satu tahun pernikahan Kita di rumah, Tanpa ada siapapun yang bisa mengganggu kita.
Alia terseyum memainkan kerah kemeja Faraz.
"Begitu banyak yang telah Kita lalui selama satu tahun pernikahan Kita,"
ucap Alia.
Faraz yang berada di atas tubuh Alia dengan bertumpu pada lutut dan sikunya terseyum mendengarkan Alia yang mulai mengungkapkan perasaannya selama menjadi istrinya.
"Aku tidak pernah menyangka jika pernikahan yang di awali dari keterpaksaan, Kebencian, Pertengkaran, Akan berubah menjadi rasa cinta." ucap Alia mengingat saat Faraz begitu membenci dirinya.
"Teramat sangat mencintaimu," ucap Faraz mengecup kening Alia.
"Katakan, Bagaimana itu semua bisa terjadi?" tanya Alia
"Seharusnya Aku yang bertanya, Katakan bagaimana Kamu bisa membuatku begitu candu hingga dalam satu tahun Aku telah memberimu tiga anak dalam perutmu" ucap Faraz sembari menyapu tengkuk Alia.
Alia tertawa mendengar ucapan Faraz sembari meliuk menahan gelinya.
Bersambung...
MAU LANJUT UWWUAN GAK NIH?
KALAU MAU, SIAPIN KOPI BIAR GAK NGANTUK 🤪